Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Saling mengikhlaskan


__ADS_3

Tania pamit keluar dari kamar Maysa gadis itu juga merasa lapar karena belum sempat makan, kuah nya sudah tumpah mengenai rok Maysa.


Tania berjalan melewati depan kamar santriwati ketika ia melewati sebuah kamar yang pintu nya sedikit terbuka gadis itu mendengar suara tawa yang begitu keras, Tania pun penasaran, ia memberanikan diri untuk mengintip nya.


"Kalian lihat nggak ekspresi nya tadi?" Tanya Ika yang langsung di sambut dengan gelak tawa ketiga teman nya "Ahahhahhaha... " Suara mereka begitu terdengar bahagia.


"Tapi harus nya tadi itu kuah nya kena wajah nya aja sekalian biar dia nggak bisa lagi tu sok cantik di depan ustad Rayyan" Ucap Nur.


"Sabar dulu dong bestie, itu rencana selanjut nya, kita kan masih banyak rencana" Suara Ika terdengar jelas di telinga Tania.


Gadis itu menutup mulut nya dan berjalan mundur tanpa sengaja ia menabrak vas bunga dan terjatuh hingga pecah "PRANG!!" Suara itu membuat Nur and the genk tiba-tiba menghentikan tawa nya dan melihat ke luar untuk memastikan siapa yang ada diluar, namun dengan cepat Tania berlari kembali ke kamar Maysa, karena kamar itu lah yang paling dekat dengan kamar Nur, hanya berjarak 3 pintu dan satu gang.


Tania yang tiba-tiba masuk lagi ke kamar Maysa dengan nafas yang ngos-ngosan langsung mendapat pertanyaan dari Maysa.


"Ada apa Tan?" Tanya Maysa yang heran melihat Tania tiba-tiba kembali masuk kedalam kamar nya dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Aku... aku mendengar, Nur..." Dengan nafas yang belum stabil Tania berusaha menyampaikan apa yang baru saja ia dengar.


"Nafas dulu Tan" Saran Fasha dengan memberikan segelas air mineral.


"Nih minum dulu" imbuh Fasha dengan menyodorkan minum untuk Tania, Tania segera meraih segelas air mineral itu dan langsung meneguk nya, setelah tenang gadis itu baru menceritakan semua apa saja yang ia dengar sampai kenapa ia berlari kembali ke kamar Maysa dan Fasha.


"Oh jadi benar kak Nur kah pelaku nya?" Maysa seolah tak percaya, karena ia pikir Nur tidak akan senekat ini.


"Apa ku bilang!" Fasya berkata dengan nada dingin nya.


"Mau cari bukti cctv-nya?" Rayyan menawarkan cara untuk membuktikan kalau Nur yang bersalah.


Maysa, Fasha dan juga Tania saling berpandangan.


"Kita siap membantu mu kok May" Ucap Fasha


"Boleh deh, tapi jangan langsung sekarang, kita nunggu dulu, kalau dia ngerjain aku lagi, minimal kita punya dua bukti, ok" Maysa mau menerima bantuan dari teman-teman nya, namun Rayyan kurang setuju.


"Kenapa harus nunggu kamu di kerjain lagi? nanti kalau lebih parah gimana? kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" Ucap Rayyan yang penuh perhatian, mendengar itu Maysa tersenyum senang,


"Tenang aja pak ustadz, saya bukan tipe gadis yang cengeng kok" Jelas Maysa yang berusaha meyakinkan Rayyan.


"Ya jelas nggak cengeng lah, orang naik motor gede aja diafjgfstehjdjz... " Fasha hampir saja keceplosan namun dengan cepat Maysa membungkam mulut nya.


Rayyan yang penasaran dengan apa yang akan di ucap kan Fasha pun langsung bertanya.


"Dia apa Fa? May? kenapa kau membungkam Fasha?" Tanya Rayyan yang membuat kedua gadis itu terdiam dan saling berpandangan.


"Fa? May? kalian ini kenapa sih? ditanya kok malah pada diam" Rayyan yang ekspresi nya berubah membuat Tania tidak enak hati dan gadis itu pamit untuk keluar dari kamar Maysa.

__ADS_1


"Pak ustadz, May, kak Fa, saya ijin pamit ya, Assalamu'allaikum" Pamit Tania.


"Waalaikumussalam" Jawab mereka bertiga.


Fasha memutar otak nya mencari alasan yang tepat agar Rayyan tidak curiga, Maysa yang serba salah pun akhir nya melepaskan bungkam an nya dari mulut Fasha, dan kembali duduk di ranjangnya.


"Dia kan berani naik motor gede kak dan bocah pecicilan begini masa iya cengeng kan nggak mungkin" Ucap Fasha yang akhir nya membuat Maysa menghembuskan nafas lega.


"Oh... kalau itu saya kan sudah tau, kenapa kamu harus membungkam Fasha May?" Kali ini Rayyan bertanya kepada Maysa, gadis itu memandang ke arah Rayyan dan tersenyum.


"Yaaaa saya kan juga punya rasa malu mas" Ucap Maysa yang tidak sadar memanggil Rayyan dengan panggilan yang berbeda, namun itu malah berhasil membuat Rayyan teralihkan perhatian nya.


"Coba panggil sekali lagi!" Rayyan dengan senyum yang sumringah meminta Maysa untuk mengulangi nya


"Hah? apa? memang nya saya panggil siapa? pak ustadz kan? iya kan?" Ucap Maysa


"Hadeh... bibit bibit bucin mulai tumbuh nih, dah ah kakak keluar dari sini, Maysa harus istirahat!" Fasha mendorong kakak nya agar keluar dari kamar nya.


"Iya iya ih sebentar" Ucap Rayyan yang masih duduk di tempat nya walau pun didorong-dorong adik nya.


"May saya pamit ya? Assalamu'allaikum" Dengan senyum yang mengembang Rayyan berpamitan begitu juga dengan Maysa dengan pipi yang memerah dan senyum yang merekah ia menjawab salam dari pujaan hati nya.


"Iyah Waalaikumussalam" Mendengar dan memperhatikan kedua insan yang tengah dimabuk cinta ini Fasha menepuk kening nya sambil geleng-geleng "sungguh kekuatan cinta dapat merubah segala nya dan tentu nya atas izin Allah SWT" Batin Fasha.


Di kantor Sasya masih terngiang-ngiang ajakan Rahmat yang mengajak nya untuk memperbaiki hubungan mereka.


"Pak ijin kan saya masuk, saya teman nya bu Sasya ada perlu!" Dengan ngotot Rahmat ingin menemui Sasya.


"Maaf pak bu Sasya memang cantik maka nya tidak sembarang orang bisa menemui nya, hanya orang yang ada janji dengan beliau yang bisa masuk" Ucap satpam itu tidak kalah tegas.


"Tapi pak ini penting, sangat penting menyangkut masa depan saya!" Rahmat masih saja ngotot mau masuk


"Sekali lagi maaf mas! saya tidak bisa melanggar aturan yang di buat oleh bu Sasya!" Ucap Satpam itu.


"Ada apa ini?" Sasya yang sudah tiba di samping mereka berdua yang tengah berdebat pun bertanya dengan suara khas nya, lembut dan anggun.


Kedua nya pun menoleh ke arah Sasya, gadis itu pun terkejut bukan main melihat Rahmat lah yang tengah berdebat dengan satpam nya.


"Mas Rahmat?" Dengan mengerutkan Kedua alis nya Sasya memanggil Rahmat.


"Iya Sya ini saya, bisa kita bicara sebentar?" Rahmat meminta waktu untuk berbicara dengan Sasya secara pribadi, satpam itu paham dengan situasi saat ini, ia langsung meninggalkan Sasya yang bersama Rahmat.


"Mau ngomong apa mas?" Tanya Sasya.


"Bisa kita bicara tapi jangan disini?" Dengan sangat hati-hati Rahmat meminta.

__ADS_1


"Sepenting apa sih?" Sejenak Sasya melihat raut sendu wajah Rahmat dan itu membuat gadis itu luluh.


"Baik lah, pakai motor mas saja, sekalian kita cari makan" Ucap Sasya yang membuat Rahmat serasa mendapatkan air di tengah gurun pasir.


Mereka pun melaju mengendarai motor milik Rahmat, Sasya dengan canggung duduk di belakang Rahmat tanpa menyentuh nya sedikit pun, ia paham posisi nya saat ini adalah calon istri orang walau pun belum tapi ketetapan itu sudah disetujui ayah nya.


Sesampai nya di sebuah kafe Rahmat memarkir kan motor nya dan mengajak Sasya untuk masuk dam duduk di dalam.


Setelah memesan makanan Rahmat memulai pembicaraan nya.


"Sya janji dulu ya, sebelum selesai saya bicara jangan lari" Pinta Rahmat, Sasya hanya mengangguk kan kepala nya.


"Sya saya tadi pagi setelah bertemu dengan mu dipanggil Abah, dan saya ditawari untuk di jodohkan" Rahmat menghela nafas nya sejenak


"Tapi saya menolak nya, Sya sekali lagi, kita perbaiki hubungan kita ya, kamu masih menyimpan rasa itu kan?" Dengan lekat Rahmat menatap Sasya yang masih menunduk kan wajah nya.


" Kalau memang sudah dijodohkan kenapa tidak diterima saja? bukan kah Abah yang telah menolong kehidupan mu sampai kau menjadi seorang ustadz sekarang, turuti saja mas, Sasya juga akan menerima perjodohan dari Ayah, karena Sasya tidak mau menjadi anak yang melawan kehendak orang tua" Dengan suara yang lembut Sasya telah tanpa sengaja menggores harapan di dalam hati Rahmat.


Rahmat hanya terdiam, suasana menjadi canggung.


"Mas, mbak ini pesanan nya, selamat menikmati" Ucap seorang pelayan kafe itu.


"Makasih ya mbak" ucap Sasya karena Rahmat hanya diam saja, mereka pun menghabiskan makanan dengan saling berdiam diri hanya dentingan piring bersama sendok dan garpu yang mengisi keheningan diantara kedua nya.


"Baiklah jika ini keputusan mu, saya juga akan menerima perjodohan dari Abah" Ucap Rayyan setelah kedua nya selesai makan, Sasya dengan menunduk kan Kepala nya gadis itu diam-diam menitik kan air mata dan segera menyeka nya.


"Iya mas, berbakti untuk orang yang selalu mendukung dan juga mengurus kita itu tidak salah, semoga kau bahagia mas" Ucap Sasya


"Iya, kau juga jangan lupa bahagia" Ucap an itu adalah ucapan perpisahan untuk pertemuan hari itu.


Rahmat mengantarkan Sasya kembali ke kantor nya untuk mengambil mobil nya,


"Kamu hati-hati di jalan ya saya pamit, Assalamu'allaikum" Pamit Rahmat tanpa mematikan mesin motor nya.


"Iya Waalaikumussalam, mas juga hati-hati" Dengan senyum kecut kedua nya berpisah.


Rahmat mengendarai motor nya dengan hati yang sakit bagai ditusuk seribu duri.


Sesampai nya di Pondok Rahmat langsung menuju ruangan Abah, tak mau ia menunda-nunda lagi, demi apa dia telah mengecewakan orang yang telah berbesar hati menolong nya dan menjadikan nya ustadz seperti sekarang ini, hanya demi di tolak oleh Sasya sang pujaan hati yang selama ini di damba nya.


"Assalamu'allaikum Abah" Rahmat mengucap salam, ia langsung bersimpuh di hadapan Abah, namun Abah tidaklah marah beliau tersenyum hangat seperti biasa nya.


"Waalaikumussalam, ada apa? bangun lah jangan seperti ini, Abah minta maaf jika Abah terlalu mengatur ini dan itu" Ucap Abah


"Tidak Abah, Abah tidak bersalah, Rahmat mohon maaf tadi pagi sudah menolak permintaan Abah" Rahmat bangun dari duduk nya dan duduk di sofa di samping Abah yang saat itu tengah bersantai di sofa.

__ADS_1


"Rahmat menerima perjodohan yang Abah tetapkan untuk Rahmat...


bersambung...


__ADS_2