
Pagi-pagi sekali Rayyan sudah rapi, ia keluar dari pondok menggunakan mobil nya.
Di rumah Maysa sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, gadis itu memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
"Kak Sasya mana ya bun? kok belum keluar dari kamar?" Tanya Maysa yang celingukan mencari keberadaan kakak nya.
"Kakak kamu masih di kamar belum keluar" Jawab Zulfa sambil mengoleskan selai coklat keatas roti tawar.
Maysa pun mengurungkan niat nya untuk sarapan, gadis itu kembali berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju kamar Sasya.
"TOK-TOK-TOK" Maysa mengetuk pintu kamar kakak nya yang langsung mendapat sahutan dari dalam "Masuk" Suara Sasya terdengar seperti baru bangun tidur, Maysa membuka pitu kamar itu dan mendapati kakak nya baru saja melipat selimut dengan raut wajah yang tidak semangat.
"Kakak kenapa? kok kaya nggak semangat?" Maysa berjalan mendekati kakak nya, Sasya melihat Maysa,
"Sini dek duduk" Ajak Sasya dengan menepuk ranjang di samping nya, Maysa pun menurut, gadis itu duduk di samping kakak nya.
"May emang nya kamu beneran suka sama ustadz Rayyan?" Sasya membuka pertanyaan pertama nya dengan kalimat itu.
"Awal nya sih aku cuma kaya iseng in dia gitu kak, tapi ternyata dia malah memendam rasa pada Maysa, tapi dia baik kok, keliatan nya aja dingin, tapi kalau sama May dia hangat dan perhatian" Jawab Maysa yang berhasil membuat Sasya tersenyum.
"Ya sudah kakak jadi lega kalau memang kalian bisa bahagia, kakak nggak mau adik kakak yang comel ini menikah hanya karena terpaksa" Ucap Sasya dengan mengelus kepala Maysa.
"Nggak kok kak, May belajar untuk menerima Ustadz Rayyan, walau pun memang sebenarnya sudah ada sesuatu yang tumbuh disini" Ucap Maysa dengan menepuk dada nya.
"May sendiri belum memahami apakah ini rasa cinta yang tulus atau kah hanya sekedar mengagumi, maka nya May mau belajar berkomitmen dan bertahan juga mempertahan kan calon nya May, karena ustadz Rayyan banyak sekali penggemar nya" Jelas Maysa dengan senyum bangga nya.
"Ya sudah, kakak juga akan belajar menerima perjodohan ini, demi kamu, kamu jangan sampai sakit hati ya karena kakak sudah mengorbankan masa lajang kakak untuk mu" Ucap Sasya
"Siap ndan! hehe kakak juga harus yakin dan positif thinking, kalau ustadz yang akan di jodohkan dengan kakak pasti seorang ustadz yang baik, sabar, penyayang, tentu nya tampan hehehe... " Goda Maysa dengan menoel pipi kakak nya dan gadis itu segera berlari keluar dari kamar kakak nya.
"MAYSAAAAAAA! Dasar bocah!" Umpat Sasya yang melihat Maysa menggoda nya kemudian berlari sebelum diri nya membalas nya.
Di ruang makan Maysa baru saja meminum segelas susu nya "TIN-TIN-TIN" suara klakson mobil terdengar dari luar, Maysa segera melihat nya dari balik jendela.
"Kayak mobil ustadz Rayyan" Gumam Maysa dengan memperhatikan seseorang yang tengah membuka pintu mobil nya.
Rayyan keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati pintu, sebelum Rayyan mengetuk pintu Maysa lebih dulu membuka nya,
"Assalamu'allaikum, calon imam ku" Ucap Maysa setelah membuka pintu, Rayyan yang terkejut karena tiba-tiba Maysa muncul dibalik pintu itu tersenyum dan membalas salam dari Maysa.
__ADS_1
"Waalaikumussalam, calon bidadari surga ku" Ucap Rayyan dengan mencolek hidung Maysa, kedua nya pun tertawa.
"Siapa May? kok nggak diajak masuk?" Terdengar suara Zulfa dari ruang makan.
"Pak ustadz mau masuk dulu atau langsung saja?" Tanya Maysa
"Pamit dulu sama camer" Ucap nya yang langsung di setujui oleh Maysa, mereka berdua pun berpamitan dengan kedua orang tua Maysa.
"Nanti May sudah balik ke pondok ya bun, jangan rindu, karena kata Dylan rindu itu berat, hehehe... " Maysa kemudian memeluk Zulfa.
"Iya, kamu hati-hati ya sayang, jangan lepas kendali, karena pada dasaranya orang yang emosi pikiran nya di kuasai oleh syetan" Zulfa dengan senyum nya melepas kepergian putri bungsu nya untuk kembali ke pondok pesantren.
Maysa berangkat ke sekolah bersama dengan Rayyan, sedangkan Sasya yang berangkat ke kantor kesiangan gadis itu mampir di warung makan karena tidak sempat sarapan dirumah, tanpa di sengaja Sasya bertemu dengan Rahmat yang saat itu sedang mengantri untuk membeli sarapan juga.
"Sasya?" Panggil Rahmat yang melihat Sasya berdiri di hadapan nya.
"Mas Rahmat?" Sasya terkejut ketika melihat Rahmat yang sudah berdiri di belakang nya.
"Mau sarapan bareng?" Rahmat dengan senyum manis nya menawarkan diri.
"Bo... boleh" Dengan tertunduk malu Sasya menyetujui nya.
"Sya? bisa kah kita melanjutkan hubungan kita yang sempat tertunda?" Pertanyaan Rahmat sekali lagi membuat Sasya bimbang, karena mendengar itu Sasya merasa senang namun di samping itu Sasya teringat kalau diri nya sudah menerima perjodohan nya semalam, ia juga sudah berkata kepada Maysa bahwa dia akan berusaha untuk menerima perjodohan itu.
"Maaf mas, Sasya seperti nya tidak bisa, karena baru saja semalam Ayah sudah merencanakan perjodohan Sasya" Jelas Sasya dengan suara yang pelan.
"Tapi Sya, aku tidak bisa memikirkan gadis lain selain diri mu" Ucap Rahmat.
"Lalu? selama ini kau kemana saja? kenapa tidak mencari ku?" Ucap Sasya
"Aku... " Baru saja Rahmat akan menjelaskan nya namun Sasya tiba-tiba mendapat panggilan.
"Derrrrtttt.... drrrrrtttt... drrrrttt... "
"Sebentar ya mas Ada telfon" ucap Sasya yang langsung mengangkat telfon tanpa meninggalkan tempat duduk nya.
"Iya hallo?" Ucap Sasya.
"Bu, pagi ini klien sudah menunggu untuk meeting, kenapa bu Sasya belum sampai di kantor, pak Moza sudah marah-marah bu" Ucap suara yang terdengar dari panggilan.
__ADS_1
Setelah selesai menerima panggilan itu Sasya pun mematikan panggilan itu.
"Maaf mas, Sasya duluan ya karena ada meeting dadakan" Pamit Sasya yang langsung meninggalkan Rahmat, sedangkan Rahmat tidak mampu mencegah Sasya karena gadis itu langsung berlari keluar dari warung makan itu.
Setelah selesai makan dengan kondisi hati yang tidak baik-baik saja Rahmat kembali ke pondok pesantren.
"Assalamu'allaikum ustadz Rahmat" Udin seorang santriwan menyapa Rahmat yang baru saja memasuki area pondok.
"Waalaikumussalam, ada apa Din? sepertinya kamu menunggu saya?" Rahmat bertanya kepada Udin yang memang sengaja menunggu Rahmat di depan masjid.
"Iya ustadz, Abah menyuruh saya menunggu ustadz disini" Jawab Udin.
"Abah? ada apa Din?" Rahmat bertanya.
"Maaf ustadz saya kurang tau, tapi Abah berpesan agar ustadz Rahmat sowan ndalem" Ucap Udin yang langsung mengajak Rahmat berjalan menuju ruangan Abah.
"Assalamu'allaikum?" Rahmat mengucapkan salam ketika ia sudah berada di ambang pintu masuk ruangan Abah.
"Waalaikumussalam" Jawab Abah yang menunggu Rahmat dengan duduk di kursi kebesaran nya. Rahmat pun masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Maaf, ada apa Abah memanggil saya?" Dengan sopan Rahmat bertanya.
"Begini nak, umur mu kan sudah pantas untuk berumah tangga, bagaimana jika kau Abah jodohkan dengan putri teman Abah, dia gadis yang baik, penampilan nya pun juga tertutup" Ucap Abah yang langsung membuat Rahmat terkejut.
"Kebetulan macam apa ini? kenapa di saat aku akan mendekati Cinta ku malah, dia sudah di jodohkan oleh keluarga nya, sedangkan aku disini juga tengah ditawari untuk di jodoh kan" Batin Rahmat.
"Bagai mana nak?" Tanya Abah karena Rahmat tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Maaf Abah, saya sudah mempunyai pilihan saya sendiri, saya mohon pamit, Assalamu'allaikum" Rayyan yang tidak mau menerima perjodohan itu langsung pamit undur diri dan meninggalkan ruangan Abah dengan suasana hati yang sangat kacau.
"Waalaikumussalam" Sahut Abah dengan raut yang sedikit kecewa.
"Sudah lama ku pendam dan sekarang saat bertemu akan dipisahkan oleh perjodohan, aku tidak akan membiarkan diriku atau pun diri mu menikah dengan yang lain Sya, aku akan memperjuangkan nya...
bersambung...
Yuk like dan komentar kalian penting untuk kesehatan semangat author, biar author update nya makin semangat kasih bunga mawar boleh kopi secangkir juga boleh๐
Duh maaf kan author yang maruk ini ya gaes ๐ค๐ค๐ค
__ADS_1