Mengejar Cinta Pak Ustad

Mengejar Cinta Pak Ustad
Tidak bisa menolak


__ADS_3

Di ruang tamu, semua orang tengah berbincang mengenai lamaran malam itu.


"Jadi begini pak Moza, nak Rahmat bersedia di jodohkan dengan putri sulung bapak, jadi kalau waktu itu putri sulung bapak sudah setuju dengan rencana kita, maka sekalian kita adakan sesi lamaran dan tukar cincin, wong ya semua nya terjadi begitu cepat" Ucap Abah panjang lebar.


"Iya Bah, jadi nak Rahmat yang mana ini?" Tanya Moza karena yang bersama Abah ada tujuh pemuda.


"Saya pak" Rahmat berkata sambil mengangguk kan kepala nya, Abah tersenyum melihat sikap sopan dari Rahmat.


"Oh iya iya iya... Jadi nak Rahmat siap untuk melamar putri saya?" Tanya Moza secara langsung,


"Insya Allah saya siap, jika putri bapak juga mau menerima lamaran dari saya" Ucap Rahmat yang terdengar tenang namun dalam hati nya penuh dengan rasa yang campur aduk, asam, pedas, manis jadi satu seperti permen nano-nano kali ya.


"Ya... Saya juga tidak bisa memutuskan, diterima atau tidak nya, biar putri saya sendiri yang menentukan jawaban nya" Ucap Moza, ia langsung melihat ke arah Maysa yang sedari tadi duduk dengan berdiam diri.


"May, panggil kakak mu nak!" Dengan lembut Moza meminta tolong kepada Maysa.


"Iya Ayah" Maysa segera berdiri dan naik ke lantai dua untuk memanggil Sasya.


Tak perlu menunggu terlalu lama, langkah kaki seseorang yang tengah menuruni tangga pun mulai terdengar.


Rahmat yang awal nya menunduk kan kepala nya, pemuda itu pun kini mendongak kan kepala nya dan menatap kearah gadis yang baru saja memasuki ruang tamu itu, betapa terkejut nya mereka berdua yang tengah bertatap muka.


"Sasya?"


"Mas Rahmat?" Ucap kedua nya dengan waktu yang bersamaan, tanpa disadari Rahmat berdiri dari duduk nya.


"Abah? apakah gadis ini yang hendak dijodohkan dengan saya?" Tanya Rahmat tanpa melepaskan pandangan nya dari Sasya yang masih berdiri. Melihat raut wajah Rahmat yang tiba-tiba berubah menjadi cerah, Abah pun tersenyum.


"May? Dia kah lelaki yang akan melamar kakak malam ini?" Pertanyaan yang sama meluncur juga dari mulus Sasya.


"Iya kak, duduk dulu yuk" Ajak Maysa yang setia menuntun kakak nya untuk duduk di hadapan Rahmat.


Setelah semua nya duduk dengan nyaman, Abah pun mulai memperkenalkan satu sama lain.

__ADS_1


"Nak Rahmat, kenal kan ini nak Sasya putri sulung dari pak Moza" Ucap Abah yang disambut senyuman oleh Rahmat.


"Nak Sasya, kenal kan ini Rahmat yang akan melamar nak Sasya malam ini" Sambung Abah, dan Sasya hanya mengangguk kan kepala nya.


"Kalau di lihat dari gelagat mereka sepertinya sudah saling kenal ya Bah?" Cetus Moza yang langsung membuat kedua sejoli itu memerah pipi nya.


"Ekhem... jadi begini pak, em... Dulu waktu kita masih satu pondok, kita sudah menjalani ta'aruf dan akan merencanakan pernikahan setelah kita sama-sama sukses mengejar cita-cita kita masing-masing, namun belum sempat pak Kiyai menyampaikan niat baik nya kepada pak Moza, tiba-tiba saja Sasya hilang tanpa kabar, kata pak Kiyai, Sasya keluar dari pondok, di sekolah pun kita jadi jarang bertemu, susah sekali mencari keberadaan nya, dan selang beberapa bulan pak Kiyai yang menjodohkan kami, beliau sakit-sakitan dan berpulang ke Rahmatullah" Rahmat menceritakan kisah nya bersama Sasya.


"Masya'Allah sungguh kebetulan sekali" Ucap Haidar yang sedari tadi mendengarkan cerita dari Rahmat.


"Terimakasih Abah, Abah benar, saya tidak akan menyesal" Ucap Rahmat dengan menggenggam tangan Abah.


"Sama-sama nak, sudah tanggung jawab Abah untuk memilihkan jodoh untuk mu" Ucap Abah dengan senyum hangat nya.


"Jadi sekarang lamar lah gadis yang sudah lama kau tunggu itu ustadz Rahmat" Ucap Rayyan yang menyenggol lengan Rahmat dengan siku nya.


"Sasya?" Dengan sorot mata yang penuh dengan kerinduan, Rahmat menyebut nama gadis pujaan nya itu.


Sasya yang awal nya menunduk dengan pipi yang memerah pun mendongak kan kepala nya dan menatap kearah Rahmat.


"Maaf mas, Sasya tidak bisa... " Ucap Sasya yang kembali menunduk kan wajah nya.


"Maksud kamu?" Tanya Rahmat dengan raut wajah berubah sedih, begitu juga semua orang yang ada di ruangan itu, mereka melihat ke arah Sasya. Sasya pun memberanikan diri untuk menatap kearah Rahmat dengan senyuman nya yang mengembang menghiasi wajah nya.


"Tidak bisa menolak ajak kan mu" Ucap Sasya dengan tersipu malu, bagaimana tidak gadis yang biasa nya serius itu mencoba bercanda di tengah-tengah ketegangan.


"Alhamdulillah" Ucapan syukur pun terucap dari mulut semua orang yang menyaksikan nya.


Setelah itu Rahmat dan Sasya pun melakukan acara tukar cincin, Rasa bahagia di dalam hati kedua nya pun juga dirasakan oleh semua orang yang menghadiri acara malam itu.


"May, bantu mbok Ijem sama bunda mengeluarkan makanan yuk nak" Zulfa menarik tangan Maysa untuk di ajak nya ke dapur.


Sedangkan diluar mereka sudah berbincang seperti biasa, mereka tengah merencanakan acara pernikahan Rahmat dan Sasya.

__ADS_1


"Jadi jika di siapkan dua minggu lagi, terlalu cepat tidak pak?" Ucap Abah yang mencari waktu dan tanggal untuk acara pernikahan.


"Dua minggu lagi? bagaimana Sya, proyek mu bisa selesai sebelum acara pernikahan mu?" Tanya Moza kepada Sasya.


"Sudah ayah, tadi tinggal menunggu hasil rekapan saja, besok atau tidak lusa, sudah selesai kok" Sasya menjelaskan kepada Moza.


"Syukurlah kalau begitu, jadi dua minggu lagi kalian siap untuk melaksanakan ijab qobul?" Tanya Abah kepada Rahmat dan Sasya.


"Insya Allah siap" Jawab kedua nya serempak.


"Alhamdulillah, jadi agar semua nya berjalan lancar mari kita kerja kan sama-sama saja bagaimana?" Moza menawarkan.


"Maksud pak Moza bagaimana?" Tanya Abah tidak memahami maksud dari Moza.


"Maksud saya, pernikahan atau pun resepsi nya kita ada kan di satu tempat saja, untuk mempersingkat waktu dan juga menghemat biaya" Moza dengan sabar menjelaskan semua nya.


"Oh begitu, saya malah berpikir untuk ijab qobul saja, karena berpikir nak Sasya kan sangat sibuk" Ucap Abah yang sudah paham maksud Moza.


"Tidak bisa begitu dong pak, lha rekan bisnis saya dan juga para kolega, nanti malah berpikir yang negatif kalau tidak di adakan acara resepsi, untuk yang Maysa bisa ijab qobul dulu nanti resepsi nya nunggu setelah lulus dari sekolah" Jelas Moza.


"Ooo baik lah, begitu juga tidak apa-apa" Ucap Abah dengan mengangguk tanda mengerti.


Acara malam itu pun berjalan dengan lancar, setelah selesai semua nya dan keputusan untuk menikahkan Rahmat dan Sasya dua minggu lagi sudah disetujui oleh kedua belah pihak, keluarga pondok pesantren Darussalam pun pamit untuk kembali pulang ke pondok.


"May? kamu nggak nginep di rumah?" Tanya Zulfa kepada Maysa yang hendak keluar dari pintu rumah.


"Tidak bun, nggak enak sama teman-teman pondok, nanti mereka berpikir kalau May nggak betah di pondok" Ucap Maysa.


Zulfa pun tersenyum karena putri nya sudah mulai berpikir secara dewasa, mereka berpelukan sebelum Maysa keluar dari rumahnya.


"Hati-hati di sana ya nak" Ucap Zulfa melepas kepergian Maysa.


"Iya bun, bunda tenang saja ada saya yang akan menjaga Maysa" Ucap Rayyan yang masih menunggu Maysa.

__ADS_1


Akhirnya rombongan pondok pun masuk kedalam mobil dan kembali pulang ke pondok...


bersambung...


__ADS_2