
Moza merasa diri nya ingin buang air kecil, dan keluar dari ruang UGD tempat dimana Sasya dirawat.
Setelah selesai dengan kegiatan nya Moza pun kembali ke ruang UGD, di sana saat ia hendak membuka pintu UGD, tak sengaja Moza mendengar nama Rahmat yang dipanggil.
Moza pun mengurungkan niat nya dan kembali menguping pembicaraan menantu nya itu dengan seorang perawat.
"Pak Rahmat? " Sontak Rahmat langsung menghentikan langkah nya dan menolehkan kepala nya.
"Iya saya?" Sahut Rahmat.
"Operasi caesar istri bapak sudah selesai dan semua berjalan normal, dan sekarang saat nya bapak mengadzani bayi bapak" Jelas perawat itu.
"Bayi??" Rahmat mengulangi kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh suster itu.
Sama hal nya dengan Moza yang diam-diam menguping, Rahmat yang langsung mendengar juga kaget.
"Iya pak, bayi, bukan kah anda tadi yang ikut mendorong brankar ibu hamil yang saat ini ada di ruang operasi?" Tanya suster.
"Iya sus tapi dia... "
"kalian ini pasangan yang sudah cukup umur kenapa harus malu-malu? mari pak ikuti saya" Suster itu berkata kemudian berjalan menuju ruang operasi, terpaksa Rahmat harus mengikuti nya, dengan mengusap wajah nya kasar ia berjalan dibelakang suster.
Moza yang bersembunyi di balik tembok pun diam-diam mengikuti nya.
Dan betapa terkejut nya Moza ketika mendapati menantu nya tengah menggendong bayi dan mengadzani nya di depan seorang wanita yang tertidur namun wajah wanita itu tidak jelas karena Moza berdiri cukup jauh dari mereka berdua.
"Astagfirullah... Rahmat, kau tega sekali, padahal istri mu sedang terbujur lemah di sana, dan kau... " Moza tidak sanggup berkata-kata ia menutup mulut nya dan berbalik ke ruang UGD dimana putri nya dirawat.
Terlihat bulir bening yang mengintip di ujung mata kepala keluarga itu, berkali-kali Moza mengedipkan mata nya agar ia tidak keluar dari pelupuk mata.
Tak kuasa ia menahan sesak di dalam dada setiap kali melihat Sasya, putri sulung nya yang bekerja keras membantu nya dalam mensukseskan perusahaan milik nya sedari ia masih duduk di bangku SMA.
Dan sekarang ketika ia telah mempercayai Rahmat sebagai suami Sasya yang di kira bakal melindungi dan menyayangi, bahkan sebagai sandaran Sasya ketika ia rapuh, kepercayaan itu kini berubah menjadi duri dalam daging yang mana jika dicabut akan menyakiti Sasya dan jika di biarkan mau di bawa kemana kehidupan rumah tangga putri sulung nya itu.
Tersadar dari lamunan nya Moza teringat putri bungsu nya yang kini tengah berada di kota Y.
"Ayah tinggal sebentar ya?" Ucap Moza sebelum keluar dari ruang rawat, Zulfa hanya mengangguk tanpa menoleh kearah suaminya yang hendak keluar dari ruangan itu.
Diluar ruangan Moza merogoh saku celana nya dan mengeluarkan gawai tipis yang akan ia gunakan untuk menghubungi putri bungsu nya.
Tuuuuutttt...
__ADS_1
Tuuuuuutttt...
Tuuuuutttt... Suara sambungan telfon itu tak sedikit pun mengalihkan rasa gundah di dalam hati Moza.
"Halo Ayah, Assalamu'allaikum?" Terdengar suara Rayyan berbicara di dalam sambungan telfon.
"Waalaikumussalam, Maysa nya ada nak?" Ucap Moza mencari putri nya.
"Ada ayah, sebentar" Rayyan memberikan ponsel nya kepada Maysa yang baru saja akan memejamkan mata nya.
"Iya ayah? ada apa" Terdengar suara Maysa sedikit serak karena ia sudah sangat mengantuk.
"Kamu sudah tidur nak?" Tanya Moza.
"Belum ayah ada apa? ayah terdengar kurang baik-baik saja, ayah sakit?" Tanya Maysa yang selalu paham kondisi ayah nya walau pun hanya mendengar suara nya saja.
"Tidak nak bukan ayah, tapi kakak mu" Sahut Moza dengan berusaha tetap tegar dengan cara menahan agar tangis nya tidak pecah.
"Kakak? kak Sasya kenapa?" Tanya Maysa dengan mata yang terbelalak, bahkan rasa kantuk yang menyerang pun kembali hilang.
"Kakak mu di rawat di rumah sakit nak, dia terjatuh dan mengalami pendarahan, kalau bisa pulang lah dulu nak" Ucap Moza dengan suara yang bergetar.
Seletah itu kedua nya pun saling mengucap salam dan sambungan telfon terputus, mengetahui putri nya akan segera pulang Moza sedikit lega paling tidak Maysa lebih bisa di ajak nya diskusi tentang masalah Rahmat.
Keesokan pagi nya di kota Y,
Didalam tenda Maysa mengumpulkan semua team nya yang dari SMA mau pun dari pondok.
"Ada May? kenapa kita semua kau kumpulkan pagi-pagi begini?" Ucap Haidar.
"Maaf kak saya mau pamit" Ucap Maysa yang membuat semua anggota team terkejut termasuk juga Rayyan, karena semalam setelah Moza mengakhiri panggilan nya Maysa langsung terbang ke alam mimpi.
"May? yang benar saja kau mau meninggalkan kami disini?" Fasha akhir nya bersuara.
"Maaf Kak Fa, aku tidak bermaksud begitu tapi keadaan nya ini lo, aku sendiri juga bingung" Sahut Maysa.
"Ya sudah kalau begitu semua bahan sandang dan pangan juga obat-obat an ini kita serahkan kepada pak lurah saja, biar di bagi kan nanti nya" Iko selaku ketua OSIS selalu membuat keputusan dengan tepat.
"Gimana?" Tanya Rayyan kepada semua team nya.
"Setuju!" Sahut semua nya serempak.
__ADS_1
Akhir nya mereka pun langsung menuju rumah pak Lurah untuk menyerahkan semua barang bantuan.
"Pak tolong ini di bagikan kepada seluruh warga yang membutuhkan ya pak, mohon maaf kita tidak bisa lama disini, mohon maaf jika selama kami disini melakukan banyak kesalahan" Ucap Haidar.
"Oh iya nak, sama-sama, bapak mewakili seluruh warga, juga minta maaf atas segala kekurangan kami dalam menyambut kalian semua ya, terimakasih atas keperdulian kalian, terimakasih atas bantuan yang kalian berikan, semoga menjadi berkah barokah, semoga kalian sehat selalu dan dilancarkan segala sesuatu yang menjadi cita-cita kalian"
Ucap pak lurah sembari menepuk pundak Haidar.
"Amiiiiinnn" Ucap mereka serempak.
Setelah pamitan mereka pun langsung menuju mobil dan bis yang ada di depan masjid.
"May kau ikut Rayyan saja, anak pondok biar ikut naik bus rombongan SMA" Ujar Haidar, dan Maysa menganggukkan kepala nya tanda ia setuju dengan usulan Haidar.
Maysa dan Rayyan memasuki mobil dan mulai melajukan mobil nya untuk kembali ke kota.
Perjalanan kurang lebih lima jam itu berhasil ditempuh Rayyan dengan menjadi empat jam perjalanan.
Sesampai nya di rumah sakit Maysa dan Rayyan langsung mencari kamar dimana Sasya di rawat.
Rayyan terkejut ketika mereka berdua melewati sebuah ruang bayi, didalam sana ada Rahmat yang tengah berdiri di samping box bayi.
"Ustadz Rahmat?" Batin Rayyan namun ia kembali mengikuti langkah Maysa yang langsung belok dan memasuki sebuah kamar pasien.
"Assalamu'allaikum" Maysa mengucap salam sembari melangkahkan kaki nya melewati ambang pintu.
"Waalaikumusslaam" Jawab Zulfa yang duduk di samping ranjang pasien, yang mana di sana terlihat Sasya tengah tertidur pulas.
"Bunda? Kak Rahmat nya mana? kok bunda sendirian? ayah juga dimana?" Pertanyaan beruntun itu terlontar dari mulut Maysa setelag ia menjabat tangan ibu nya dan mencium nya sekilas.
" Ayah mu ada meeting penting sejak pagi tadi nak, dan Rahmat kata nya tadi dia mau cari sarapan" Ucap Zulfa dengan mengembangkan senyuman nya.
"Mencari sarapan?" Ulang Rayyan, karena ia yakin yang dilihat nya tadi adalah Rahmat tapi di ruang bayi bukan sedang mencari sarapan.
"Iya nak, tadi pamit nya begitu maka nya bunda sendiri di sini jaga in kakak kalian" Ucap Zulfa.
"Tapi tadi saya melihat ustadz Rahmat ada di ruang bayi...
bersambung...
Jangan lupa jempol kalian buat klik like and komentar juga favorite...
__ADS_1