
"Dokter Andre?" Ucap Maysa dengan senyuman mengembang di sudut bibir nya, Andre pun berjalan mendekat dengan merentangkan kedua tangan nya, namun belum sampai partner kerja Zulfa itu memeluk Maysa, dengan kasar tangan Andre di tepis oleh Zulfa.
"Hayo mau apa?!" Hardik Zulfa setelah menepis tangan Andre.
"Aduh, apa an sih dok? saya kan hanya may menyapa adik kecil yang sekarang sudah tumbuh besar ini" Kilah Andre sambil mencubit gemas pipi Maysa.
"Haish kau ini selalu memperlakukan nya seperti anak kecil" Zulfa berkata sambil menggelengkan kepala nya.
"Dia itu sudah besar dan kalian itu sudah sama-sama dewasa, jadi nggak boleh lah main peluk-peluk sembarangan" Ucap Zulfa, sedangkan Maysa hanya terkekeh melihat nya.
"Iya iya" Sahut Andre dengan wajah kusut nya.
"Oh iya dok, pas beberapa bulan yang lalu itu saya ketemu dokter Andra lo, di kota Y" Ucap Maysa.
"Iya, sudah lama dia menetap di sana, makan yuk May?!" Ajak Andre dengan tangan yang merangkul pundak Maysa.
"Boleh, bunda sekalian yuk!" Maysa menoleh kearah Zulfa yang sudah siap mengantar nya pulang.
"Lah kata nya kamu mau pulang?" Tanya Zulfa kepada Maysa.
"Hehe... Makan bentar doang nggak papa kali bun" Sambil nyengir ala pepsodent Maysa mengajak lagi bunda nya itu.
"Ya sudah ya sudah, di kantin depan aja ya!" Ucap Zulfa.
Setelah semua nya setuju mereka bertiga pun berjalan menuju kantin yang ada di depan klinik.
Setiba nya mereka di kantin, mereka segera duduk di salah satu meja yang masih kosong.
Baru saja mereka akan memesan makanan mobil Rayyan terlihat tengah memasuki halaman klinik.
"Eh bun, May gak jadi ikut makan deh ya, itu mas Rayyan sudah jemput" Ucap Maysa yang langsung beranjak dari duduk nya.
"Eh kok gitu? ya sudah hati-hati ya!" Ucap Zulfa dengan meraih tangan Maysa yang sudah terulur kepada nya.
Maysa pun berjalan dengan setengah berlari keluar dari kantin dan mendekati Rayyan yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Sayang!" Teriak Maysa sambil berlari dan "Hap!" Maysa melompat ke dalam pelukan Rayyan.
"Kok dari sana?" Tanya Rayyan setelah menangkap Maysa yang melompat kearah nya.
"Tadi mau makan sama bunda tapi gak jadi hehe" Maysa terkekeh dengan tangan yang memeluk leher Rayyan.
CUP!
"Ayo pulang aku sudah merindukan mu" Ucap Maysa setelah mengecup pipi Rayyan sekilas.
Rayyan pun segera mengikuti Maysa yang masuk kedalam mobil dan duduk manis di tempat nya.
Dari dalam kantin Zulfa menepuk kening nya melihat kelakuan putri bungsu nya itu, "Dasar bocah! nggak bisa lihat tempat apa?!" Gumam Zulfa.
"Hahahaha... biasa anak muda jaman sekarang memang begitu dok, tapi dokter Zulfa harus menjaga nya dengan ekstra, karena pergaulan anak jaman sekarang sungguh mengkhawatirkan" Jelas Andre dengan tatapan mata yang tertuju ke arah Maysa.
"Tenang saja dokter Andre karena Maysa itu sudah..."
"Ya memang Maysa anak nya pandai membela diri pandai berkelahi dari sejak kecil malah, tapi yang nama nya anak gadis ya harus di jaga dengan ekstra kab dok" Andre menyela pembicaraan Zulfa.
__ADS_1
"Bukan itu maksud saya Maysa..."
"Permisi mau pesan apa ya dok?" Seorang pelayan kantin tiba-tiba berdiri di samping Zulfa dan bertanya, lagi-lagi Zulfa tidak dapat menyelesaikan kata-kata nya.
"Dua Soto ayam minum nya teh hangat dua" Ucap Zulfa, Setelah pelayan pergi, Andre kembali menanyakan maksud Zulfa.
"Maksud dokter Zulfa tadi apa ya? gimana maksud nya?" Tanya Andre.
"Maksud saya tadi Maysa itu sudah... "
drrrtttttzzzz...
drrrtttttzzzz...
"Sebentar dok ada panggilan" Ucap Andre memotong pembicaraan Zulfa untuk yang kesekian kali nya dan Zulfa hanya menganggukkan kepala nya.
Di tengah perjalanan Maysa masih belum sadar jika di jok belakang ada trio santriwan yang duduk dengan tenang.
Ia masih saja menyandarkan kepala nya di lengan Rayyan yang masih fokus menyetir, "Sayang?" Panggil Maysa dengan suara manja nya.
"Hem?" Rayyan menyahuti nya dengan sekilas melirik Maysa yang memasang wajah yang tidak biasa itu.
"Jangan menampilkan ekspresi seperti itu" Ucap Rayyan dengan bahasa kode namun mata tetap fokus ke jalanan di depan nya.
"Kenapa? hem? kau tidak merindukan ku?" Maysa berucap dengan setengah berbisik dan itu di dekat leher Rayyan.
Wahyu, Zainal, dan Zainudin yang ada di jok belakang pun menutup mata mereka masing-masih melihat pemandangan didepan nya.
Rayyan sedikit menunduk kan kepala nya, "Sayang... "
CUP!
Sedikit terkejut Rayyan dengan ciuman dadakan itu sampai truk di depan yang sedang berhenti di pinggir jalan tak terlihat oleh nya, dan ketika bemper depan mobil hampir menabrak truk di depan, ketiga santriwan yang duduk di jok belakang itu tiba-tiba berteriak bersama.
"AWAAAAAAAAASSS!!!" Teriak ketiga nya sampai membuat Rayyan dan Maysa melihat kearah depan.
Dan untung nya Rayyan segera menginjak pedal rem mobil nya sehingga bemper mobil nya masih aman dan hanya menempel sedikit pada bagian belakang truk.
"Alhamdulillah" Ucap ketiga santri yang terkejut sampai setengah berdiri dengan berpegangan sandaran kursi di depan mereka.
Perlahan Maysa menoleh kearah kursi belakang dan betapa terkejut nya ia ketika melihat ketiga santri yang sangat ia kenal tepat ada di belakang nya.
"Kalian?" Ucap Maysa dengan mata yang membulat sempurna.
"Hehehe... Iya May" Ucap ketiganya bersamaan dengan meletakkan kembali bokong mereka di atas kursi.
"Mas? apa ini?" Pertanyaan Maysa kini beralih ke pada Rayyan yang ada di samping nya.
"Iya mereka mau main ke rumah kita, sekalian bantu buat benerin tirai di ruang ganti" Ucap Rayyan dengan tersenyum.
"Kok nggak ngomong kalau ada mereka?" Maysa memalingkan wajah nya untuk menyembunyikan rasa malu nya.
"Sudah lah May, nggak usah malu-malu, sudah sah ini" Ucap Wahyu yang masih anteng duduk di kursi belakang.
Rayyan hanya tersenyum dan segera melajukan mobil nya kembali, namun berbeda dengan Maysa, ia begitu malu setiap mengingat kelakuan manja nya barusan.
__ADS_1
Mobil Rayyan melaju dengan kecepatan sedang dengan canda dan tawa yang mengisi di dalam nya.
Rayyan berhenti di halaman depan rumah nya, dan mereka segera turun dari mobil.
"Selamat datang di rumah kami" Ucap Rayyan yang langsung di sambut dengan gelak tawa.
"Assalamu'allaikum" Ucap ketiga santri itu ketika hendak memasuki rumah Rayyan.
"Waalaikumussalam" Sahut Rayyan dan Maysa bersamaan.
Mereka berempat pun segera masuk dan duduk di ruang tengah. Sedangkan Maysa masuk kedalam kamar untuk membersihkan tubuh nya.
Setelah Maysa keluar dari kamar nya ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Rayyan mengajak ketiga santri itu untuk membenahi pipa gorden yang terjatuh.
"Ayo kita mulai saja" Ajak Rayyan.
"Dimana pak ustadz?" Tanya Zainal.
"Di Sana" Ucap Rayyan menunjuk kan kamar yang ada di lantai dua, dan kemudian berjalan menyusuri tangga yang langsung di ikuti oleh ketiga santri itu.
Betapa terkejut nya mereka ketika melihat kondisi pipa gorden dan tirai yang sobek itu.
"Astagfirullah, sebrutal itu kah kalian?" Tanya Wahyu dengan menutup mulut nya.
"Haish itu tidak seperti yang kau pikirkan!" Sahut Rayyan.
"Lalu?" Tanya Zainudin yang ternyata sangat penasaran.
"Sudah-sudah!! jangan dibahas lagi!" Rayyan segera masuk dan mengajak ketiga nya segera memperbaiki tirai beserta pipa nya.
Setelah selesai mereka pun makan malam bersama, dan setelah selesai Rayyan pamit untuk mengantarkan ketiga santri itu pulang ke pondok, sedangkan Maysa kini tengah membereskan meja makan.
Pukul 23.00 WIB...
Bolak balik Maysa melirik kearah jam dinding dengan hati yang resah ia pun meraih gawai tipis yang ada di meja, saat ini ia tengah duduk di depan tv.
Di geser nya layar ponsel itu dan mencari nama suami nya yang akan di telfon nya.
tuuuuuuuttt...
tuuuuuuuttt...
tuuuuuuuttt...
Beberapa kali suara sambungan itu berdengung di telinga nya namun tak sekali pun ada harapan untuk di angkat.
"Kok nggak di angkat sih?" Gumam Maysa dengan hati yang gundah.
Selang setengah jam terdengar deru mobil yang berhenti di garasi mobil, dan tak lama kemudian masuk lah Rayyan kedalam rumah nya, tak lupa ia mengunci pintu utama itu.
Ia berjalan menuju kamar dan betapa terkejut nya ia saat melihat kamar nya kosong, "Sayang?" Teriak Rayyan, ia mengecek kamar mandi, ruang ganti dan balkon, namun tidak ada siapa pun di sana.
"Dimana kau May?" Gumam Rayyan ketika ia tak mendapati Maysa dimana pun.
__ADS_1
Mulai panik Rayyan kembali turun ke lantai satu, diruang tengah ia mendengar suara orang tengah berbincang, "Sayang? kau kah itu? May jangan bercanda!...
bersambung...