
Setelah kepergiaan Abimana, Aruna berjalan dengan tergesa menuju kantor showroom. Security yang berjaga di pos segera siaga untuk mengatur jalan yang memang tak seberapa ramai saat Aruna akan menyebrang.
Aruna dan Nina memasuki lobi kantor yang kelilingi kaca dengan beberapa merk mobil yang berjajar.
"Selamat siang, Mbak Aruna." sapa resepsionis.
"Selamat siang. Oh ya, apa saya bisa bertemu dengan Pak Fadhil?" tanya Aruna.
"Oh iya, Mbak Aruna bisa menunggu beliau di ruangan VIP dulu. Saya akan memberi tahu Pak Fadhil." ujar gadis itu sambil menunjukkan sebuah ruangan kaca yang dalamnya terdapat sofa.
Saat Aruna akan melangkah menuju ruang tamu VIP, ternyata Fadhil sudah menghampirinya.
"Selamat siang, Mbak Aruna dan Mbak Nina." sapa Fadhil.
"Siang, Pak Fadhil. Apa kita bisa memulainya sekarang?" tanya Aruna.
"Oh bisa, kita bisa melakukan di ruangan VIP. biar nanti karyawan akan saya minta ke sana."
"Oh ya untuk Mbak Aruna diminta untuk langsung ke ruangan Pak Sabda. Saya yang akan mengantar sendiri." lanjut Fadhil.
Seketika Aruna mengernyitkan dahinya. Sabda? Sabda tetangga sebelahnya? Jika iya kenapa harus dia. Gadis yang mengenakan dress dengan model pinterest itu hanya tersenyum kecut.
"Puspita, antar Mbak Nina ke ruang VIP. Dan beritahu yang lain untuk membuat ukuran baju seragam! " jelas Fadhil yang sedang memerintahkan sales girl yang sedang duduk di belakang meja counter.
"Baik, Pak." jawab Puspita.
"Mari, Mbak Aruna, ikut dengan saya." ajak Fadhil membuat Aruna mengangguk ragu.
"Kenapa tidak pesan di konveksi saja, atau bisa menggunakan ukuran standar saja." tanya Aruna saat mereka sedang menaiki tangga. Keduanya sedang berjalan menuju ruangan sabda yang ada di lantai dua.
"Oh, itu maunya Pak Sabda." jawab Fadhil. Aruna semakin tidak mengerti. Menurutnya memang ada yang aneh.
Fadhil mengetuk beberapa kali pintu, kemudian membukanya. " Silahkan, Mbak Aruna!" ucap Fadhil mempersilahkan Aruna masuk. Dia merasa Aruna memang tamu istimewa bosnya.
__ADS_1
Seketika Aruna terhenyak kaget meski sudah mengira jika lelaki yang kini duduk di kursi kebesaran itu adalah Sabda Megantara, tetangga sebelahnya yang menyebalkan dan... entahlah.
"Pak Sabda, Mbak Aruna datang." ucap Fadhil saat Aruna sudah berada di sebelahnya. Sabda menatap Aruna, masih tatapan dingin tanpa senyum sedikitpun.
"Silahkan tinggalkan kami!" pinta Sabda.
Lelaki yang kini berdiri dari kursi kebesarannya itu pun bisa melihat Aruna yang menatapnya dengan keberatan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." ujar Fadhil kemudian melangkah keluar dan menutup kembali pintu ruangan Sabda.
Sementara, Aruna menatap heran lelaki yang kini berjalan mendekatinya dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku. Sungguh, Aruna tak habis pikir, jika ternyata Sabda inilah orang yang memesan seragam itu.
"Kita bisa memulai sekarang." jawab Sabda tanpa basa- basi, bahkan tatapannya pun begitu datar.
"Kenapa tidak menggunakan ukuran standar saja?" tanya Aruna dengan wajah yang terlihat tegang. Gadis itu memang sedikit gugup saat lelaki yang punya tinggi badan maksimal itu berdiri di depannya. Bahkan, jarak keduanya begitu dekat.
"Aku ingin hasil yang rapi dan nyaman." jawab Sabda mencari jawaban yang logis. Padahal lelaki itu tidak pernah mengenakan seragam seperti yang lainnya.
"Bisa mundur sedikit?" Aruna meminta Sabda memundurkan posisinya yang cukup dekat bersamaan dengan kakinya yang bergerak selangkah ke belakang.
Semua terjadi karena Aruna yang ingin memundurkan tubuh, terpentok kursi hingga high heels yang dia kenakan membuat tubuh mungil Aruna limbung.
"Maaf... " Aruna melepaskan kedua tangannya, saat menyadari kedua tangannya memeluk pinggang Sabda dan merasakan rengkuhan tangan berotot Sabda.
"A-aku tidak sengaja! " gugup bercampur malu saat dia berusaha memberi jarak pada Sabda. Bahkan, saat ini dia enggan menatap wajah yang tersenyum tipis di depannya. Sekali lagi keadaan memihak pada lelaki itu, pertamanya Aruna memeluk laki- laki.
"Bagaimana mungkin tidak sengaja?" tanya Sabda menggoda Aruna. Tapi lelaki itu memasang wajah yang seolah Aruna sengaja mencari kesempatan.
"Aku tidak tahu jika di belakangku ada kursi, lagi pula Mas Sabda terus mendekat seperti mengintimidasi." jelas Aruna yang tidak ingin Sabda salah faham.
"Kenapa malah sewot? Seharusnya kamu berterima kasih bukannya menyalahkanku?" lanjut Sabda yang ingin memojokkan Aruna, hingga terjadi perdebatan kecil.
"Aahhh... sudahlah, Aku akan mengukurmu." Aruna tidak ingin berdebat lagi karena percuma. Dia mengambil meteran dan menyiapkan ponselnya untuk membuat catatan.
__ADS_1
Aruna mulai mencari lingkar dada dan meletakkan meteran pada tubuh tinggi tegap di depannya. Mau tidak mau kini keduanya berdiri dengan jarak yang begitu tipis. Saat wangi parfum maskulin yang terhidu di hidung Aruna, membuat kegugupan menyerang dirinya.
"Apa kamu tidak ingin berterima kasih atau gimana gitu... " Aruna menghentikan kegiatannya dan mendongak menatap wajah yang menunduk menatapnya. Sabda menatapnya dengan intens.
Sabda Megantara, lelaki yang mampu membuat ketegangan dalam diri Aruna, hingga gadis itu merasa gugup setiap kali menatap mata tajam miliknya. Tapi, kata-katanya terkadang membuat sebuah ketenangan. Ya, seperti itulah perasaan Aruna ketika berhadapan dengan lelaki di depannya.
"Maksudnya... " tanya Aruna yang sudah mengendus sesuatu yang menyulitkannya.
"Ya, beberapa kali kamu berhutang padaku. Malam itu, di saat hujan, membawamu ke klinik, lumpia itu juga dan kejadian barusan. Jika aku tidak sigap kamu bisa terjatuh ke lantai dan membentur sesuatu." jelas Sabda, dia berusaha mengingat semua hingga Aruna merasa berhutang. Gadis itu punya gengsi yang tinggi otomatis dia tidak ingin berhutang pada seseorang.
Aruna mendesah, tatapan tajam dia tujukan pada lelaki yang masih berdiri di depannya. Entah, apa yang dipikirkan Sabda, lelaki yang selalu memojokkan situasinya.
"Tidak mungkin aku membayar dengan cara menikah denganmu. Kamu seperti menekanku dengan segala kebaikan yang tidak aku minta." Aruna terlihat kesal, baginya Sabda benar- benar konyol.
"Aku tidak menekanmu, tapi aku hanya mengingatkanmu pada sebuah etika. Oke jika menolak menikah denganku, aku ingin kamu membayarnya dengan makan siang bersamaku setelah ini."
Perdebatan kecil terjadi diantar keduanya. Bukan Sabda Megantara jika cepat menyerah. Dia akan tetap pada pendiriannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, meski terkesan buruk, karena mengungkit kebaikan yang dia lakukan pada Aruna.
"Baiklah, tapi setelah makan siang ini. Aku sudah tidak punya hutang apapun padamu." ujar Aruna membuat kesepakatan. Dia berharap tidak berhubungan lagi dengan lelaki yang kini tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
"Baiklah..."
Aruna mempercepat kegiatannya, dia ingin sekali ini berakhir. Sabda memang lelaki yang menarik, tapi segala tingkahnya yang ternyata menyebalkan membuat Aruna merasa kesel.
"Baiklah, aku akan ke kafe seperti biasa terlebih dahulu. Mas Sabda menyusulku." ucap Aruna yang ingin memberikan jarak.
"Tidak, aku tidak ingin makan di sana. Aku punya tempat sendiri untuk makan siang." Mendengar jawaban Sabda Aruna mendadak lemas. Iya, Sabda selalu saja membuat Aruna tidak bisa berkutik dan enggan untuk menolak lagi.
"Ayo...!" Sabda menarik tangan kecil Aruna keluar dari ruangan. Dia membuat Aruna mengikutinya meski dengan terpaksa.
Keduanya menuruni tangga, setiap kali orang yang melihat keduanya menatap heran, termasuk Nina yang melihat Sabda dan Aruna keluar dari gedung Showroom tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu.
Sabda membukakan pintu mobil untuk Aruna, terkesan bukan menagih hutang. Tapi, lelaki itu seolah memuja gadis yang saat ini enggan bicara karena percuma.
__ADS_1
Sekali lagi Sabda berhasil, dia kembali menang. Siang dengan matahari terik, Sabda meluncurkan mobilnya menuju suatu tempat yang sudah dia pilih. Tentu saja dengan perasaan senang. Meskipun bagi Aruna ini yang terakhir, tapi lelaki itu berfikir untuk mencari seribu cara untuk bisa mengikat gadis di sebelahnya.