
Sabda masuk ke dalam mobil. Aruna sudah merasa enggan untuk melihat lelaki yang kini meletakkan dua kotak lumpia di bangku belakang. Bukan karena tidak menyukai Sabda, tapi Aruna merasa lelaki itu sudah mempermainkan sisi emosionalnya.
"Mas, kamu sengaja membuntutiku?" tanya Aruna kemudian membuka layar ponselnya. Gadis itu mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
"Untuk apa?" jawab Sabda dengan santai.
Padahal memang kenyataannya seperti itu, bahkan lelaki itu sudah stalking media sosial Aruna. Media sosial yang hanya berisikan promosi produk di butiknya membuat Sabda tahu Aruna tipe orang yang sedikit tertutup.
Aruna terdiam karena tidak mendapat jawaban yang tepat. Lelaki di sebelahnya itu memang paling pintar mengobrak abrik moodnya.
Tidak dipungkiri Sabda memang lelaki matang yang cukup menarik. Wajah tampannya dan sikap tegasnya dapat menyihir kaum Hawa di dekatnya. Apalagi tampilannya yang maskulin dengan aura yang terpancar begitu kuat, membuat pesonanya seolah paripurna.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Sabda dengan menghidupkan mesin mobilnya. Sikap acuhnya memang sering membuat orang di dekatnya merasa kesal.
"Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban." jawab Aruna. Aruna sadar pertanyaan lelaki itu selalu menjebak.
Suasana kembali menjadi hening. Sesekali Sabda melirik Aruna yang masih memainkan ponselnya.
"Kita mampir ke apartemen temanku dulu!" ucap Sabda dengan membelokkan mobilnya
"Loh, turunkan aku saja, Mas. Aku bisa naik taxi." ucap Aruna terhenyak kaget menyadari jika mobil sudah melaju berlawanan dari arah pulang.
"Tidak, sebentar saja. Aku cuma mengantarkan lumpia titipan Hendriko." jelas Sabda mencari Alasan padahal lelaki itu hanya ingin mengulur waktu untuk bisa bersama Aruna.
"Iya, kalau begitu turunkan aku!" sentak Aruna begitu kesal. Lelaki di sebelahnya selalu saja membuat emosinya labil.
Mendadak, Sabda menginjak pedal rem. Dia pun menoleh ke arah Aruna, " sebentar saja!" desak Sabda membuat Aruna menyentakkan nafas.
"Kamu takut?" pancing Sabda. Suasana sudah tidak nyaman untuk Aruna, Gadis itu memang jarang pergi dengan lelaki yang tidak begitu dia kenal.
"Tentu saja. Aku tidak mengenalmu." ketus Aruna membuat Sabda terkekeh. Dia melirik gadis yang wajahnya cemberut tapi begitu menggemaskan.
__ADS_1
"Takut aku culik? atau aku perk*sa? Aku tidak kekurangan uang hingga menculik wanita dewasa, aku juga tidak perlu memperkosa untuk menuntaskan hasratku. Bahkan banyak wanita meminta untuk aku perk*sa." Mendengar jawaban yang begitu sombong dan mesum membuat Aruna menelan ludahnya. Wajah putih itu memerah menahan malu, Sabda terlalu vulgar untuk mengatakan itu pada gadis yang berusaha menjaga jarak dengan lawan jenis.
"Ehmmm .. bukan itu... "
"Kamu takut kekasihmu cemburu?" sela Sabda dengan menatap tajam manik mata coklat Aruna.
"Aku tidak punya kekasih." jawab Aruna. Gadis itu semakin salah tingkah. Senyum samar menghias di wajah tampan Sabda.
"Cowok yang sering mendatangimu?" selidik Sabda kemudian menginjak pedal remnya. Mobil sedan itu berhenti tepat di pinggir jalan yang cukup lenggang.
"Aku belum menjawab pernyataan cintanya." Aruna balas menatap manik mata coklat yang sudah mengintimidasinya.
"Benarkah?" pertanyaan Sabda sebagai bentuk kemenangan, dalam hati lelaki itu tersenyum, umpannya sudah mengena sasaran. Dia tahu gadis polos seperti Aruna memang lebih senang berkata jujur.
Aruna terdiam, dia menyesal kenapa harus mengatakan itu pada lelaki yang seolah bisa menguasai semuanya.
"Kenapa diam?" desis Sabda yang semakin mendekat, hingga jarak mereka begitu tipis.
Aruna semakin gugup, dia berusaha menjauh hingga tubuhnya terpentok pintu mobil. Nafas keduanya saling menyapu membuat degupan jantung Aruna semakin tidak karuan.
Tangan Aruna kembali bergetar saat mengambil ponsel dari tangan Sabda. Gadis itu benar- benar kabar dengan pikiran buruknya, dia takut Sabda akan berbuat kurang ajar.
"Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat kurang ajar padamu." ujar Sabda. Dia tidak tega melihat Aruna takut padanya, meski dalam hatinya ingin menggoda Aruna.
Menggoda Aruna adalah hal yang menyenangkan, hanya Aruna. Dia tidak akan melakukan hal itu pada wanita lain, karena bisa saja akan berakhir di tempat tidur.
"Aku menunggu di sini!" ujar Aruna saat berada di baseman. Dia enggan ikut Sabda.
"Yakin?" Sabda menatap Aruna dengan tajam. Dia bahkan menghela nafas panjang. Tapi tetap saja Aruna hanya menganggu menjawab Sabda.
"Bagaimana jika ada brandalan melihatmu, atau seseorang tanpa kepala yang mengetuk pintu mobil?" Aruna langsung melotot ke arah Sabda. Lelaki yang berhasil membuat Aruna menciut itupun terkekeh.
__ADS_1
"Lihatlah basemen ini sangat sepi, bahkan security hanya peduli dengan keberadaan mobil." lanjut Sabda.
"Aku ikut!" Sabda pun langsung keluar, diikuti Aruna.
Aruna berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Sabda. Bahkan, dia menarik kain lengan baju lelaki yang kini tersenyum tipis.
Sabda memencet bel, dia sudah mengirim pesan pada Hendriko tentang lumpia yang sebenarnya tidak Hendriko pesan. Hendriko pun mengerti.
Pintu terbuka, muncul sosok lelaki berkulit putih yang kini tengah tersenyum. Hendriko pun melirik Aruna kemudian tersenyum penuh arti pada Sabda.
"Silahkan Masuk!" ucap Hendriko.
"Mas Sabda." Aruna menahan lengan Sabda membuat Sabda menoleh. Kali ini panggilan Aruna terdengar seperti rengekan.
"Aku ingin pulang." lirih Aruna, Kali ini tatapannya penuh permintaan. Sabda pun mengangguk.
"Aku pulang dulu, Hen. Dia takut bertemu manusi tanpa kepala." goda Sabda membuat Aruna mengerucutkan bibir. Sementara Hendriko hanya tersenyum, dia tahu Sabda pasti baru saja menakuti gadis bertubuh mungil di sebelahnya.
Permohonan berhasil meluluhkan Sabda. Aruna tahu, lelaki keras kepala seperti Sabda tidak mungkin dia tekan, jadi kali ini Aruna yang menurunkan egonya untuk memohon.
"Jangan seperti itu! Orang akan melihat Aneh." Sabda mengambil tangan Aruna yang memegangi kain bajunya. Lelaki itu melingkarkan tangan kecil itu di lengan besarnya.
"Tapi... " Sabda menahan tangan Aruna, saat gadis itu akan menariknya.
"Kamu ingi orang melihat kamu jijik denganku?" lirih Sabda dengan menatap tajam Aruna.
"Aku bukan jijik. Aku... " Aruna malah tidak enak hati dengan Sabda. Serba salah memang menghadapi lelaki di sampingnya itu.
Sabda terus saja memegangi tangan Aruna yang melingkar di pergelangan tangannya. Meskipun jantungnya terus berdebar saat menyentuh kulit lembut itu, tapi dia juga tidak bisa mengelak jika saat ini dia sangat bahagia.
Begitupun Aruna, jantungnya seperti hampir melompat lompat ingin keluar. Entah kenapa di dekat lelaki bertubuh tinggi tegap itu membuatnya gugup bercampur rasa nyaman.
__ADS_1
Sejenak di dalam mobil, keduanya terdiam. Mereka sama- sama bermain dengan pikiran masing- masing.
Hening, sepanjang perjalan mereka terdiam. Tidak ada sepatah katapun yang terucap hingga suara notifikasi dari ponsel Aruna berbunyi.