
"Kamu dimana, Run?" tanya Tita saat menelpon Aruna.
"Aku ada di butik. Ada apa, Ta?" Aruna balik bertanya. Dari suaranya, Aruna bisa tahu jika ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Tita.
"Oke, aku jemput kamu di sana!" sahut Tita langsung menutup panggilannya.
Aruna hanya mendengus saat panggil itu terputus tanpa mau mendengar jawaban darinya. Dari dulu, Tita seperti itu. Dia sudah tidak akan sabar untuk menyampaikan sesuatu yang dirasa penting.
Aruna yang akan pulang pun berjalan keluar mendekat jendela. Tatapannya menerawang jauh keluar. Saat ini, dia berada pada titik dimana dia merasa otaknya tak mampu berfikir.
Kehidupan rumah tangganya sudah terasa hambar padahal baru beberapa bulan dia menjalani semuanya. Aruna kembali mengelus perutnya yang masih datar. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang kehamilannya saat ini. Hanya dirinya dan dokter Obgyn.
Air matanya kembali menetes, tidak bisa dibayangkan jika anaknya akan lahir tanpa sosok ayah jika dia memilih berpisah. Tapi, bertahan dengan situasi yang seperti ini terus menerus, itu akan membuatnya gila secara berlahan.
Sesekali dia masih menarik nafas, menghembuskannya secara berlahan agar sesak di dadanya sedikit terurai.
Entah sampai kapan dia mampu bertahan dalam situasi seperti ini? Perasannya begitu rumit untuk di gambarkan.
Cukup lama Aruna menatap keluar jendela dengan pikiran- pikiran yang belum mendapatkan ujungnya.
"Tok- tok...caklek." terlihat Amanda berdiri di depan pintu membuat Aruna tersadar dari lamunannya.
"Mbak Runa, aku mau balik dulu!" pamit Amanda. Gadis itu berbicara dengan hati-hati, dia bisa merasakan kondisi Aruna yang tidak baik-baik saja untuk akhir- akhir ini.
"Eh, iya. Aku masih menunggu teman yang akan mampir." Aruna pun berjalan ke arah Manda, dia akan menunggu Tita di sofa tamu saja.
Wanita yang saat ini membenarkan posisi jilbabnya itu melirik jam yang menggantung di dinding. Pukul empat sore, dia masih enggan pulang. Lagi pula sudah hampir dua bulan Sabda memang sering pulang terlambat. Aruna tahu, jika suaminya terlambat bukan semata-mata karena pekerjaan saja, tapi mengurus cinta lamanya yang belum usai.
"Nin, kamu bisa pulang dulu, biar butik aku yang jaga!" ucap Aruna. Nina masih sibuk membereskan laporan harian. Butik semakin ramai, dua anak buahnya itu sangat bersemangat untuk mempromosikan produk mereka.
__ADS_1
Sebulan terakhir butik Aruna lebih produktif dengan fashion kelas menengah dan brand yang berbeda tapi masih di bawah naungan butik yang sama. Banyak mahasiswa dan karyawan biasa yang lebih tertarik dengan brand baru mereka yang lebih murah.
"Iya sebentar, Mbak." Nina mempercepat pekerjaannya dia juga masih harus menjemput adiknya di tempat les.
[Mas aku pulang terlambat. Ada Tita di butik]
Aruna mengirim pesan pada Sabda. Tapi ternyata centang, ponsel Sabda sedang tidak aktif. Wanita yang kini mendudukkan tubuhnya di sofa itu pun tersenyum miris.
"Ah, seperti itukah kesibukanmu, Mas?" Pertanyaan itu membuat Aruna tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca, karena dia yakin meskipun dia pulang tetap saja Sabda akan lebih terlambat.
"Mbak Runa, jika aku pulang duluan tidak apa?" tanya Nina.
"Nggak apa, Nin. Lagian sebentar lagi Tita datang ke sini." jawab Aruna dengan tersenyum. Senyum yang selalu membuat Nina kagum. Bagi Nina Aruna gambaran wanita dengan karakter yang cukup elegant. Sesulit apapun tetap tenang menanggapinya.
Saat ini sampai di depan pintu utama, gadis itu berpapasan dengan Tita yang akan masuk, " Mbak Aruna sudah menunggu, Mbak Tita." Nina seolah menyapa Tita. Dia memberi tahu Tita karena butik sudah dipasang tulisan 'Close'.
Tita pun tersenyum dan mengangguk. Gadis dengan pakaian kerja itu pun segera masuk untuk bertemu dengan sahabatnya.
"Runa... " panggil Tita dengan langkah cepat menghampiri Aruna.
"Ada apa, Ta. Pulang kerja langsung ke sini. Tadi udah izin Om dan Tante?" tanya Aruna dengan menegakkan tubuhnya saat Tita mengambil duduk di samping sahabatnya itu.
" Udah, Run." ucap Tita dia masih memikirkan kalimat yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di benaknya saat ini.
"Run...Apa kabarmu? Kamu terlihat sangat lesu." ucap Tita dengan menatap wajah yang sedang menampilkan senyum palsu.
"Baik, aku baik- baik saja, Ta. Sebenarnya apa yang membuatmu tiba-tiba ingin bertemu denganku?" selidik Aruna dengan menatap tajam Tita.
"Aku bertemu Mas Sabda dengan seorang wanita di depan kantor Bank. Dan anehnya, wanita itu menggandeng lengan Mas Sabda dengan manja. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pernikahanmu, Run?" tanya Tita dengan nada lemah. Dia tau ini kabar yang menyakitkan buat Aruna tapi saat dia tidak memberi tahu sahabatnya, dia pasti tidak akan tenang.
__ADS_1
Aruna cuma tersenyum. Senyum yang sangat hambar. Bahkan Tita melihat tatapan sahabatnya itu kosong. Tapi berita yang dibawa Tita bukanlah sesuatu yang membuat dirinya terkejut. Dia mulai biasa bergelut dengan rasa sakit yang seperti ini.
"Aku sudah tahu, Ta. Wanita itu mantan pacarnya Mas Sabda. Kemarin mereka juga ada acara bersama hingga dua hari. Mereka menjadi sponsor acara club mobil." jelas Aruna dengan air mata yang berlahan menetes. Lintasan- lintasan bayangan buruk tidak luput dari pikirannya.
Terkadang dia merasa lelah, tapi untuk melangkah ke depan dia masih berada pada dilema yang besar. Karena jika sudah mengambil keputusan, dia tidak akan menoleh kebelakang lagi.
"Bagaimana bisa? Kenapa kamu membolehkannya? Mereka mantan, lo!" Seketika Tita tersulut emosi. Dia saja yang tidak ada hubungannya dengan Sabda begitu geram. Bagaimana dengan Aruna sebagai istrinya? Itu yang dipikirkan Tita.
"Aku harus bagaimana? Itu bagian dari program kerjanya Mas Sabda." jelas Aruna. Rasanya Aruna tak ingin membayangkan apa yang mereka lakukan di sana.
"Sudah seperti itu kenapa tidak berpisah saja? Kenapa kamu justru memilih bertahan? Ini terlalu menyakitkan, Run! Hubunganmu hanya toxic." Entah kenapa Tita merasa hubungan Aruna dan Sabda sangar miris.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Tita merasa dirinya begitu jahat karena meminta sahabatnya untuk berpisah, yang artinya rumah tangga mereka akan gagal. Tapi, hubungan seperti itu terlalu menyakitkan untuk dijalani, apalagi untuk Aruna.
Tita sejenak terdiam, dia kembali pada logika. Dia mungkin melihat dari sudut pandang orang lain. Bukan dari yang orang yang sedang menjalaninya.
Aruna terdiam. Otaknya selalu berkata seperti itu, tapi hatinya begitu sulit untuk menerimanya. Yang Aruna sesali, kenapa dia sangat mencintai Sabda.
Sejenak suasana menjadi hening. Mereka saling menatap, berlahan Tita melihat wajah Aruna mulai berubah. Mata sayu terus berair, wajah putih itu pun menjadi merah dan suara mulai terisak tanpa ada kata yang terucap lagi.
Melihat sahabatnya seperti itu membuat Tita menarik Aruna dalam pelukannya. Mengusap punggung yang mulai bergetar hebat.
"Luapkan semuanya hingga kamu merasa lega." lirih Tita yang semakin mendengar isakan Aruna berganti dengan raungan.
"Sakit, rasanya sangat sakit. Sungguh aku ingin mati saja rasanya." kalimat Aruna terjeda dengan isakan. Wanita itu masih dalam pelukan sahabatnya.
"Hatiku merasa sakit, Ta. Sungguh, aku rasanya tidak tahan, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." lanjut Aruna dengan suara terbata- bata. Saat ini rasanya dia ingin menuntaskan semua tangisnya. Hingga air matanya tidak akan pernah keluar lagi.
Tita membiarkan Aruna menangis di pelukannya. Ini pertama kalinya, dia melihat sahabatnya begitu terpuruk.
__ADS_1
Runa melepaskan pelukannya Tita. Dia menatap sahabatnya dengan sorot mata sendu.
"Aku hamil, Ta." Tita semakin terkejut saat mendengar pengakuan Aruna. Ini artinya posisi Aruna semakin sulit. Dia pasti akan memikirkan nasib calon anaknya juga.