Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Kepanikan Sabda


__ADS_3

"Aku sudah memikirkanya lama. Dan berkali-kali aku sudah meyakinkan keputusan ini." sela Aruna di antara kalimat yang akan dilontarkan Sabda. Aruna memang sudah tidak ingin dibujuk.


Mata yang sudah memerah dan berkaca- kaca itu menatap sendu wanita yang ada di depannya. Dia tidak menyangka saja Aruna mengatakannya.


"Aku tidak ingin bercerai, Run." tolak Sabda.


"Aku hanya ingin mengatakan ingin bercerai denganmu, Mas. Jika Mas Sabda tidak ingin mengurusnya biar pengacara saja yang mengurusnya." ucap Aruna dengan beranjak dari duduknya. Dia seolah tidak memberi kesempatan lagi pada Sabda.


"Hari ini aku akan pulang ke rumah Mama Hesti, Mas." lanjut Aruna. Saat dia melangkah melewati Sabda, lelaki itu langsung saja menariknya dan mendekapnya.


Sabda mendekap tubuh mungil itu dengan begitu erat, seolah dia tak akan rela sedikit pun Aruna menjauh. Selain merasa sesak karena pelukan Sabda yang begitu kuat, rengkuhan Sabda membuat matanya kembali basah. Padahal, dia yang sudah memutuskan untuk pergi.


"Maafin, Mas!" Suara Sabda terdengar serak. Bahkan, Aruna yakin saat ini lelaki yang sedang memeluknya itu sedang menangis.


Keputusan Aruna memang sudah bulat. Tidak hanya butuh waktu sehari atau dua hari. Atau tidak cuma merasakan kecewa dan marah sekali dua kali saja untuk bisa memutuskan semua ini.


Saat ini dia merasa lelah. Hatinya yang pernah rapuh karena broken home, sekarang harus kembali merasakan rasa sakit karena sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya.


"Aku sudah lelah, Mas." sambut Aruna.


Sabda melepaskan pelukannya dengan tetap memegang bahu kecil itu. Matanya yang masih basah menatap Aruna dengan penuh permohonan.


"Kita hanya butuh waktu untuk memperbaiki semuanya." bujuk Sabda, suaranya benar-benar lemah. Tatapannya pada Aruna merupakan bentuk penyesalannya.


"Selama ini aku sudah memberimu waktu hingga berbulan- bulan, Mas. Bahkan hampir empat bulan. Aku juga sudah berusaha mengingatkanmu dan aku sudah menahan rasa kecewa hingga berkali-kali. Dan saat ini aku lelah." ucap Aruna, wajahnya terlihat tegas. Tapi, hatinya masih tetap rapuh.


"Maafin, Mas. Mas sempat terbawa perasaan di masa lalu." Kalimat Sabda seolah pengakuan dari lelaki itu atas segala kesalahannya.


Aruna hanya bisa tersenyum, senyum getir yang menandakan hatinya masih tetap terluka, "Hari ini aku akan pulang. Aku akan memesan taxi." lanjut Aruna. Di balik keanggunan dan ketenangan wanita itu menyimpan sifat keras dan tegas.


"Run, pulang besok saja! Mas akan mengantarmu." ucap Sabda membuat Aruna kembali menoleh.


"Mas, mohon izinkan Mas mengantarmu pulang." pinta Sabda matanya memerah dengan sorot mata sayu.


"Baiklah. Aku akan ke butik dulu, Mas." ucap Aruna kembali melangkah naik.


"Mas antar, Run!" pinta Sabda, membuat Aruna menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Nggak usah, Mas! Kita harus terbiasa melakukan sesuatu sendiri." ucap Aruna tanpa menoleh pada lelaki yang masih menatap punggungnya dari belakang.


Aruna kembali berjalan menaiki tangga, dia mengelus perutnya yang masih datar. Kehamilannya sudah memasuki usia dua puluh minggu, tapi perutnya belum terlihat jelas karena selalu ditutupi dengan baju longgar, membuat Aruna memilih untuk tetap membungkam.


Sabda menghela nafas panjang. Aruna solah menutup segala akses komunikasi untuk hubungan mereka. Hal itu semakin membuat Sabda merasa putus asa.


###


Di dalam ruangannya Aruna mempersiapkan pengalihan sistem kerja di butik, karena sebentar lagi dia harus bekerja dengan jarak jauh. Dia merencanakan pulang ke rumah Mama Hesti bukan untuk sementara, tapi dia juga aka membuka cabang di sana. Seperti pertama dia membuka butik, dia akan memulai dari butik kecil.


Memikirkan dia akan menetap di sana membuat Aruna kembali mengingat janinnya. Janin yang akan lahir tanpa di ketahui ayahnya.


Bila dia bisa terlihat lebih tegar, tapi tidak dengan hatinya. Sama-sama rapuh. Selain memikirkan nasib calon anaknya, dia juga masih mencintai Sabda.


"Jaga kesehatan, Ibu Aruna. Jangan sampai stress dan banyak mengkonsumsi makanan sehat ya!" pesan dokter seperti memperingatkan dirinya saat kemarin melakukan pemeriksaan bulanan.


Aruna berfikir, dia harus berusaha membuang hal buruk yang sangat berpengaruh pada perkembangan bayinya.


Tiba-tiba Aruna teringat akan sesuatu yang belum sempat dia kembalikan pada Sabda. Dia mengambil beberapa kartu debit yang pernah diberikan Sabda dan memasukkannya ke dalam amplop putih.


"Mbak, mau kemana?" tanya Nina saat melihat Aruna berjalan melewatinya.


"Mau ke depan, Nda." jawab Aruna. Dia kembali berjalan menuju showroom.


Saat memasuki loby kantor yang dikelilingi dinding kaca itu, Aruna menghampiri sales counter yang duduk di depan. Kebetulan mereka sedang follow up para customer yang menjadi target mereka.


"Mbak, Mas Sabdanya ada?" tanya Aruna pada Puspita. Gadis yang menatap Aruna itu seolah ragu menjawab.


"Ada di ruangannya, Mbak." jawab Puspita. Aruna yang masih menunggu jawabannya pun membuat gadis itu tak ada pilihan.


"Terima kasih." ucap Aruna, kemudian berjalan menaiki tangga menuju ruangan Sabda.


Dengan hati- hati Aruna berjalan menuju ruangan Sabda. Kebetulan ruangan itu sedikit terbuka membuat Aruna bisa mengintip, keberadaan Sabda di dalam sana.


Terlihat wanita itu menggenggam dan menarik tangan Sabda. Hingga berlahan wanita yang kini berdiri di dekat Sabda itu semakin mengikis jarak diantara keduanya.


Bahkan, wajah Aninditha begitu hampir saja menempel di bahu Sabda. Mereka yang sedang berdiri di dekat jendela menghadap keluar itu terkaget dan menoleh ketika derit suara pintu terdengar terbuka.

__ADS_1


Aruna sengaja tidak mengetuk pintu. Wanita berhijab coklat itu tersenyum saat melihat wajah Sabda yang terkejut menatapnya.


"Mas, aku lupa mengembalikan ini." ucap Aruna yang kemudian meletakkan amplop putih kecil di meja tamu yang posisinya dekatnya. Dia pun bergegas keluar tanpa menunggu reaksi Sabda.


"Run, Runa...!" panggil Sabda yang mengejar langkah Aruna. Sabda pun berlari mengikuti Aruna yang sudah membuka pintu utama Showroom.


Dia tidak lagi memanggil Aruna karena tidak ingin terjadi kehebohan di kantornya. Laki-laki itu mempercepat langkahnya saja hingga terlihat setengah berlari.


Security yang biasanya melayani tamu di gerbang paling depan pun tidak berani berkutik karena mereka yakin ini urusan pribadi bos dan istrinya.


Sabda menoleh ke kanan ke diri saat sudah keluar mengejar istrinya. Wajahnya terlihat panik dengan jantung yang berdetak dengan sangat menggila saat melihat Aruna yang hampir melewati jalan di depan yang terlihat sepi itu. Padahal sebuah mobil sedan melaju begitu kencang ke arah Aruna.


"Aruna..." pekik Sabda dengan berlari cepat ke arah Aruna.


"Aaaakhhh.... " suara keras Aruna disusul dengan suara dentuman keras dan kemudian menimbulkan kehebohan di sekitar jalan itu.


Sabda berhasil menarik lengan Aruna hingga tubuh itu membentur dadanya begitu keras dan itu yang membuat Aruna memekik kaget.


Aruna merasa detak jantungnya berhenti berdetak. Wajahnya terlihat ketakutan, saat Sabda menariknya begitu kuat. Tangannya meraba perutnya yang mulai terasa kram hingga tembus ke punggung bawahnya. Saat ini dunianya terasa berhenti berputar.


Tidak ada yang mampu diucapkan Aruna, kecuali air matanya yang terus menetes dengan wajah menengadah dalam rengkuhan lengan suaminya.


"Perutku... " lirih Aruna dengan rasa takut yang begitu hebat, saat kakinya merasakan sesuatu yang mengalir.


"Run... " Sabda melepaskan rengkuhannya. Dia merasa Aruna hanya terkejut dengan kejadian tadi, tapi mata bulat itu menunjukkan rasa takut yang begitu hebat.


Mata tajam Sabda mengikuti gerakan mata Aruna. Wanita yang masih menangis itu mengangkat sedikit rok plisket panjang yang Aruna kenakan. Isakan Aruna terdengar keras saat melihat darah merembes dan mengalir dari di kakinya.


"Aruna..." Sabda yang juga melihatnya kembali panik. Dia tahu apa yang terjadi dengan istrinya.


Sabda mengangkat dan menggendong Aruna yang masih terisak, membuat dua security yang sedari tadi memperhatikan, salah satunya datang menghampiri dan lainnya memanggil sopir kantor karena Sabda pasti akan membutuhkannya.


"Sabar, Sayang... " ucap Sabda saat dia membawa masuk Aruna ke bangku belakang.


"Klinik bersalin terdekat." titah Sabda saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Sabda memeluk istrinya yang terus menangis sesekali juga meraung. Lelaki itu tak kalah panik bahkan tubuhnya terasa gemetar saat dia melihat wajah kesakitan Aruna.

__ADS_1


__ADS_2