
Aruna meminta waktu sebentar pada Abimana untuk mencari Mama Rosa. Iya, dia juga belum menyapa orang tua Tita yang sedari tadi sibuk beramah tamah dengan para tamu undangan.
Gadis mungil dengan gaun sederhana yang bermotif batik itu berjalan dengan anggunnya menuju sebuah meja besar yang diduduki oleh para wanita-wanita paruh baya yang terlihat begitu elegant dengan tampilan yang cukup glamour dan mewah.
"Byuuuhhhh... "
"Aaahhhh.... " pekik Aruna begitu kaget saat seseorang menyiram air minum ke arahnya. Perasaan kaget dan gugup membuatnya dengan cepat mengusap bajunya.
"Bisa tidak, berhenti menggoda tunangan orang!" suara lantang itu menarik perhatian banyak orang di sana.
Aruna menghentikan tangannya mengusap lengan baju yang sebagian sudah basah. Wajah cantik itu memerah menahan malu saat semua orang tertuju padanya.
"Maksudnya apa?" Aruna tidak bisa lagi mengendalikan rasa malu dan gugupnya. Dia begitu tercengang dengan apa yang di lakukan oleh Mariska.
"Berhentilah mengejar Mas Abi!" teriak Mariska dengan mendorong tubuh mungil itu hingga terhuyun ke belakang.
"Berhentilah membual!" suara bariton itu menggelegar, membuat suasana menjadi hening dari sebelumnya.
Sabda sudah berdiri di belakang Aruna dengan menatap nyalang gadis yang masih di penuhi kecemburuan.
Sabda yang sedang dirundung emosi itu memegangi tubuh mungil yang mungkin bisa saja jatuh tersungkur jika tidak menghantam dada bidangnya.
Rasa malu membuat Aruna tidak bisa berbuat apapun, dia menyembunyikan wajahnya dalam rengkuhan tubuh tinggi tegap Sabda, lelaki yang saat ini kebetulan mengenakan batik yang sama dengannya.
"Dia adalah ****** kecil!" tuding Mariska matanya memerah, kemarahan gadis itu tidak bisa lagi ditahan. Dia sudah benar-benar murka sejak dia melihat datangnya Aruna, hingga Aruna bicara berdua dengan Abimana.
"Jaga ucapanmu! Jika tidak, akan aku merobek mulut busukmu itu!" bentak Sabda hingga semuanya kembali menjadi hening dan semua mata tertuju padanya.
Sabda sudah dibuat sangat murka, apalagi melihat Aruna yang sangat shock dengan tubuh bergetar. Sabda menatap tajam dengan sorot mata membunuh ke arah gadis yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Tak ingin banyak bicara lagi, Sabda membawa Aruna keluar dari acara pesta. Sedangkan, Abimana yang baru faham kejadian itu pun berlari mengejar Aruna yang ternyata sudah menjauh bersama Sabda.
Lelaki itu memandang punggung sepasang kekasih yang mengenakan batik couple dengan perasaan kecewa. Kemudian tatapannya beralih pada Mariska yang masih berdiri dengan kemarahan dan air mata yang terus mengalir.
"Gila!" lirih Abi pada Mariska. Kata-katanya penuh dengan penekanan. Abi tidak menyangka jika Mariska melakukan hal bodoh seperti itu.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Mas." mohon Mariska, tatapannya yang begitu memelas malah semakin membuat Abimana semakin muak.
Keadaan mulai terkendali setelah MC mendapat intruksi dari Mama Rosa. Wanita yang belum sempat menghampiri Aruna itupun langsung mendatangi MC agar kondisi pesta bisa kembali normal.
Di dekat mobil, Sabda berusaha menenangkan Aruna yang masih menangis.
"Aku malu, di sana banyak teman Tita yang juga temanku, Mas. " ucap Aruna masih dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jika mereka temanmu, mereka tidak akan percaya begitu saja, Sayang." bujuk Sabda, dia tidak tega mendengar isakan Aruna.
"Sayang, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Percayalah, Mama akan menyelesaikan situasi di sana!" ujar Sabda sambil mengusap pelan punggung tubuh mungil itu.
"Untung saja batik kita couple. Mereka tidak akan percaya dengan ucapan wanita itu." lanjut Sabda membuat isakan Aruna terhenti. Gadis itu memberi jarak pada Sabda, kemudian memperhatikan kemeja yang di kenakan kekasihnya itu.
"Kok bisa, Mas?" ucap Aruna dengan sedikit terbata karena isakan. Kemudian mengamati kemeja dengan bahan batik yang sama dengan gaun yang dia kenakan.
Gadis itu mendongak, mata bulat nan indah itupun menatap Sabda penuh tanya. Tapi, yang ditatap justru hampir tergelak, padahal Sabda sudah berusaha menahannya.
"Ayo masuk mobil dulu!" Sabda membuka pintu mobilnya dan sedikit memaksa Aruna untuk masuk.
"Lihat wajahmu dengan ponsel, kamu sangat cantik, Sayang." Setelah membisikkan kalimat itu, Sabda kemudian berjalan memutar. Lelaki itu ingin ketawa, tapi takut akan membuat mood wanitanya semakin buruk.
"Kenapa diusap semua, Sayang?" goda Sabda, setelah Aruna membersihkan sebagian coretan make up yang berantakan.
__ADS_1
"Kenapa Mas tidak bilang?" tanya Aruna dengan mendesah lemah.
"Mau dibikin apapun kamu tetap cantik, kamu tetap wanita terbaik, Mas?" balas Sabda dengan mengusap pipi Aruna. Dia memang mengatakan semuanya dengan sedikit menggombal tapi lebih banyak jujur. Karena, tanpa make up pun Aruna akan tetap cantik.
Aruna hanya terdiam. Dia merasa Sabda sedang menghiburnya saja karena kejadian memalukan barusan. Tapi, hatinya masih saja di rundung rasa gelisah. Gelisah tentang apa yang terjadi dengan hari- hari yang akan dia hadapi, jika orang-orang atau teman temannya percaya jika dirinya adalah pelakor.
"Ikut Mas, yuk!" ajak Sabda dengan menghidupkan kembali mesin mobilnya.
"Kemana, Mas?" tanya Aruna dengan malas. Dia benar- benar ingin pulang saja.
"Makan. Dari tadi siang Mas belum makan." jawab Sabda kemudian melajukan mobilnya dengan pelan.
"Kemana? Ini sudah mulai hampir petang, Mas. Kita pulang aja, Yuk!" bujuk Aruna yang merasa enggan.
Tapi ponsel Aruna yang terus saja berbunyi membuat Aruna segera membuka aplikasi berlogo hijau. Beberapa chat dari beberapa temannya terlihat begitu ramai. Tentu saja karena kejadian tadi. Bahkan, ada beberapa yang mengambil gambar saat Mariska mendorong Aruna.
Ada beberapa yang tidak percaya dengan semuanya, meskipun begitu ada pula yang tetap berfikir negatif tentang Aruna. Merasa sikap Aruna yang tertutup hanyalah sebuah kepura-puraan.
Aruna kembali mendesah setelah membaca chatingan mereka. Gadis itu kemudian menyandarkan kepalanya dengan lemah. Meskipun, ada yang menjelaskan detail kejadian dan kesalah fahaman, tetap saja Aruna merasa moodnya buruk.
Sabda kembali melirik Aruna. Dia bisa mengerti, disiram seseorang dengan orange jus di depan banyak orang hingga jadi pusat perhatian dan perbincangan tentu saja itu membuat Shock Aruna.
"Jangan terlalu terbawa sosial media. Jika tidak kuat mental tutup saja, nggak usah dibaca! " Sabda akhirnya kembali berkata, membuat Aruna menoleh ke arah Sabda dan mengangguk lemah.
Kejadian ini mungkin butuh beberapa waktu untuk melewatkannya begitu saja. Untung saja, dia sudah tidak punya hubungan apapun dengan Abimana.
"Oh ya, Mas dari mana dapat batik itu? Motif ini termasuk limited edition di butikku." tanya Aruna.
"Dari Nina dan Manda." jawab Sabda dengan santai. Sementara Aruna terhenyak kaget. Sejak kapan Nina dan Manda dekat dengan Sabda.
__ADS_1