
Sebuah pesan masuk membuat Aruna menghentikan pekerjaannya. Dia pun menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Berhasil melepas semua rasa lelahnya, Aruna kembali membaca pesan dari Mariska dengan serius.
Gadis yang sudah beberapa kali memesan baju di butiknya ingin bertemu. Aruna sendiri merasa bingung kenapa harus bertemu di kafe yang jauh dari butiknya?
Beberapa pertanyaan memang memenuhi kepalanya. Tapi, dia tidak ingin dirundung rasa penasaran. Gadis itu pun memutuskan untuk Shalat Dhuhur dahulu, sebelum pergi menemui Mariska.
Aruna berjalan keluar dari ruangannya. Terlihat Nina masih sibuk dengan pelanggan, sementara Amanda masih sibuk di depan laptop dan ponselnya.
"Ah, mereka memang bisa aku andalkan." gumam Aruna sambil melangkah menghampiri Amanda.
"Mbak Runa, mau kemana? Kok bawa tas dan cantik banget." tanya Amanda saat menyadari Aruna berdiri dengan wajah segar, rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepit rambut yang cantik menghiasi bagian sebelah saja.
"Aku mau keluar, manda. Mungkin aku nggak balik ke sini lagi. Pamitin ke Nina ya!" ucap Aruna. Gadis dengan dress berwarna biru navy dengan panjang di bawah lutut itu berjalan meninggalkan Amanda yang hanya mengangguk, karena sesaat kemudian ada pesan masuk dari pelanggan.
Kafe di sebelah butiknya yang cukup ramai membuat Aruna menoleh. Sekali lagi, pandangannya tertuju pada bangku pojok yang biasa di tempati Sabda. Bangku itu seperti magnet bagi Aruna.
Tapi kosong, ada yang hilang saat sosok yang dicarinya tidak ada. Rasa kecewa menyelinap masuk ke dalam hatinya, Aruna pikir pilihannya memang tepat. Saat ini dia menganggap Sabda hanya bermain dan sekedar gimick.
Saat dirinya sedang sibuk dengan pikirannya, sesaat kemudian taxi yang sudah dia pesan berhenti di depannya. Gegas Aruna pun masuk ke dalam tanpa tahu jika seseorang sudah mengamati dirinya dari tempat yang berbeda.
Sabda memang sudah tidak ingin mengganggu Aruna. Karena gadis itu dengan tegas memberi jarak diantara mereka. Hal itu yang membuat Sabda berhenti untuk sejenak.
###
Aruna turun dari taxi. Dia memasuki sebuah kafe dengan desain yang cukup elegan. Dinding yang terbuat dari kaca membuat restoran bisa terlihat, pengunjung di dalamnya saat ini lumayan penuh.
Aruna melangkah masuk, sosok yang dicarinya sudah melambai. Mariska, kini sudah duduk di dekat sebuah pot bunga besar yang ada di dekat dinding kaca.
"Selamat siang, Mbak Aruna." sapa Mariska saat Aruna sudah berdiri di depannya. Mereka saling bersitatap.
__ADS_1
"Silahkan duduk." lanjut gadis yang sudah hampir lima belas menit menunggunya.
Aruna pun duduk di depan Mariska. Dia menunggu apa yang akan dibicarakan gadis yang sudah beberapa kali dia temui di butiknya.
Keduanya berusaha tenang, meski ketegangan mulai menyeruak saat mereka saling menatap. Mariska berusaha bicara se-elegan mungkin.
"Rasanya aku sudah tidak bisa berbasa- basi lagi, Aruna." ujar Mariska, dia merasa aneh jika memanggil Aruna dengan sebutan 'Mbak'
"Langsung saja, mungkin akan lebih baik." sambut Aruna saat gadis di depannya memainkan jari jari kedua tangannya yang menjulur di atas meja. Bukan hanya Mariska yang tegang tapi Aruna pun demikian saat melempar tatapan penuh selidik.
"Aku ingin kamu menjauhi Mas Abi." Kalimat Mariska memang terdengar kalem tapi itu mampu membuat Aruna tersentak kaget. Aruna belum mengerti apa yang akan dibicarakan gadis di depannya.
"Kami sudah dijodohkan, Aku juga mencintai Mas Abi. Jadi berilah kesempatan gadis lain untuk mendapatkan cinta seorang Abimana jika kamu tidak benar-benar mencintainya." Kalimat Mariska memang penuh permohonan, tapi tatapan gadis itu mengandung tekanan pada Aruna yang masih terdiam karena menahan Shock.
Sejak Mariska tahu jika Abimana berusaha mengelak terus dengan perjodohan itu. Gadis yang tiga tahun di atas Aruna itu pun memutuskan untuk mencari tahu, siapa sosok yang mampu membuat Abimana sebegitu kuat dengan penolakannya.
Deg!
"Beri kesempatan pada Mas Abi untuk mendapatkan cinta gadis lain. Lagi pula, kami dari keluarga kami yang sepadan." Aruna menatap Mariska dengan tatapan yang entah....
"Jangan terlalu egois, Aruna!" Aruna masih saja terdiam. Dia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Tidak disangka Abimana memberi harapan, sekaligus surprise yang cukup membuat Aruna kecewa.
"Jika masalahnya seperti itu, jangan khawatir! Diantara kami belum ada hubungan apapun!" jawab Aruna. Yang membuat Aruna kecewa adalah, Abimana tidak berterus terang padanya tentang semua ini.
"Terima kasih, jika kamu bisa mengerti." tambah Mariska.
"Carilah, lelaki yang sepadan denganmu! Jangan terlalu berharap muluk-muluk. Karena, sejatinya Cinderella hanya ada dalam dongeng!" ujar Mariska. Kalimatnya seolah merendahkan Aruna.
Kemudian, gadis itu pun beranjak dari duduknya dan akan pergi. Dia merasa sudah mengatakan segalanya.
__ADS_1
"Maaf, meskipun aku bukan Cinderella tapi aku tidak akan memohon pada orang lain untuk dicintai dan mendapatkan cinta." setelah mengatakan itu, Aruna mulai menyesap minumannya. Dia bukan tipe orang yang mudah diintimidasi.
Hati Mariska terasa panas ketika mendengar jawaban itu. Tapi, gadis dengan tubuh tinggi semampai itu pun melangkah pergi. Baginya yang penting Abimana akan menjadi miliknya.
Aruna masih terdiam di sana. Dia butuh waktu untuk mengurai rasa kagetnya. Tatapannya menerawang keluar.
###
Malam hari, Aruna baru saja kembali setelah menemui Tita. Iya, rasa kecewa membawanya menemui sahabatnya itu untuk sekedar ingin di dengarkan.
"Ikuti kata hatimu aja, Run. Tapi setidaknya kamu tahu ini lebih awal." Itu yang dikatakan Tita saat mereka bertemu.
Taxi online yang ditumpangi Aruna sudah sampai pada gang dari rumahnya. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Terlihat sebuah mobil Pajero putih terparkir di pinggi jalan depan rumahnya.
Sementara itu, lelaki berwajah oriental berdiri di dekat gerbang. Aruna pun turun setelah memberikan uang pada sopir taxi dan melangkah menghampiri Abimana yang sudah menatapnya.
"Ada apa, Mas Abi?" tanya Aruna. Mereka berdiri di depan gerbang rumah dengan halaman yang sangat sempit.
"Baru saja. Ada yang ingin aku bicarakan, Run."
"Aku juga, mari silahkan masuk!" Aruna pun membuka pintu gerbang dan kemudian mempersilahkan Abimana duduk di teras depan.
"Apa Mariska menemuimu?" tanya Abimana dengan sedikit panik.
"Iya, dia mengatakan kalian dijodohkan." Aruna pun tidak ingin berbasa- basi lagi.
"Tapi, aku tidak menerima perjodohan itu. Aku mencintaimu." Tatapan sendu itu membuat Aruna mengalihkan pandangan dari mana. Dia begitu dilema dengan situasi ini. Tapi, menentang sebuah keluarga besar itu tidaklah mudah.
"Run... " Saat Abimana akan menarik tangan kecil itu dalam genggaman Aruna segera menariknya. Gadis itu memang berusaha menjaga jarak pada lelaki yang tidak ada hubungan apapun dengannya.
__ADS_1
Dan seketika terdengar pecahan pot dari balkon rumah sebelah hingga Aruna dan Abimana pun menoleh ke atas. Keduanya memang tidak melihat keberadaan Sabda. Tapi, di balkon, Sabda bisa melihat keduanya dari layar ponsel yang terhubung dari CCTV.
Sejak kedatangan Abimana, Sabda terus saja memantaunya.