Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Marahnya Sabda


__ADS_3

Berada di ruang kerja selama dua jam membuat lelaki itu merasa cukup lelah. Sabda akhirnya memutuskan untuk melihat Aruna yang sempat mengatakan akan membuat kue.


Lelaki bertubuh tinggi tegap itu pun menuruni tangga mencari keberadaan Aruna. Tidak ada aroma kue, tidak ada suara di dapur, padahal rencananya, sepulang konseling Aruna akan membuat kue. Wanita itu bahkan sempat mengajak Sabda untuk membeli loyang dan bahan kue.


"Sayang... " panggil Sabda sambil berjalan menuju dapur tapi nyatanya tidak ada istrinya di sana.


"Kemana? Perasaan di kamar tidak ada." gerutu Sabda, kemudian berjalan untuk melihat keluar rumah.


Tapi belum sampai membuka pintu, dia sudah melihat Aruna tertidur di sofa santai dengan memeluk ponselnya.


Sabda menatap sejenak wajah mungil itu. Permasalahan kemarin membuatnya iba setiap menatap wajah istrinya kala sedang tertidur.


Bagi Sabda, Aruna masih terlalu muda mengalami permasalahan yang cukup menguras emosi. Dan itu karena dirinya. Dirinya yang memilih Aruna, dirinya pula yang menginginkan Aruna untuk menjadi istrinya dan ternyata dia juga yang menyakiti perasaan istrinya.


Tapi, karena hal ini Sabda bisa menyadari betapa dia sangat mencintai Aruna. Membayangkan berpisah dengan Aruna, rasanya dia tidak sanggup. Jika dia sempat terlena dengan orang di masa lalu, itu karena rasa penasaran karena cinta yang belum usai tanpa alasan yang jelas. Sekarang semuanya sudah selesai, cinta yang dulu pernah ingin dia genggam selamanya, kini sudah berakhir.


"Sayang... " Sabda kini sudah duduk di samping Aruna. Mata indah itu kini mengerjap, menatap sosok yang sudah duduk di sebelahnya.


"Katanya bikin kue?" tanya Sabda membuat Aruna tersenyum kaku.


"Nyari resepnya ternyata malah ketiduran, Mas." jawab Aruna kemudian bangkit dari duduknya.


"Ya, sudah beli jadi saja." jawab Sabda dengan santai.


"Ah tidak, aku akan membuatnya sekarang, Mas. Kemarin aku sudah membeli alat dan bahannya." Aruna pun berusaha menggeser tubuh agar bisa menurunkan kakinya dari sofa, tapi sabda malah menahannya dan meletakkan dua kaki itu di atas pangkuannya.


"Kalau kamu mau, kita beli! Nggak usah dipaksain. Kamu pasti lelah, kan?" lanjut Sabda sambil menatap Aruna di sebelahnya.


"Iya, mungkin karena aku terlalu terbawa emosi jadi aku mudah merasa lelah saat ini" Jawaban Aruna membuat Sabda tersenyum. Dia berharap apa yang dilakukannya selama ini mendapat hasil.

__ADS_1


"Jadi kita beli saja?" tanya Sabda, tapi Aruna masih terdiam. Dia masih merasa bingung karena sudah membeli bahan dan peralatan untuk membuat kue.


"Kamu bisa membuat kuenya kapan-kapan." lanjut Sabda saat Aruna masih terlihat bingung.


"Ayo kita keluar. Di depan ada banyak orang yang nongkrong!" ajak Sabda. Menurut Sabda, dia juga bisa olahraga dan Aruna bisa ngobrol dengan ibu- ibu muda yang sedang menemani anaknya bermain.


"Nggak Ah, nanti Mas bisa tergoda. Ibu-ibu di sana masih cantik-cantik." jawab Aruna dengan melihat keluar, di mana pintu gerbang terbuka lebar hingga dia bisa melihat beberapa wanita berada di taman sebrang.


Sabda menatap tajam Aruna, tatapan yang menunjukkan sebuah protes. Tapi, Sabda memang tidak ingin membantah Aruna.


"Kalau begitu, kita saja yang bermain bersama!" Sabda langsung mengangkat tubuh Aruna, menggendong ala bridal membuat Aruna menggeliat dan tertawa minta di turunkan.


Mereka masih berusaha membuat kebahagiaan diantara hubungan yang hampir kandas. Rasa cinta yang ada mampu membuat seseorang berjuang untuk bisa memaafkan dan dimaafkan.


###


"Motorku sudah siap, Mas? " Aruna keluar dengan celana kain yang senada dengan blues floral yang membuatnya terlihat lebih segar.


"Sudah, Sayang." jawab Sabda yang sudah rapi dengan kemeja kerja dan celana bahan.


Setelah Salat Subuh, Sabda menyiapkan dua motor yang akan digunakan olehnya dan Aruna. Semalam saat Sabda mengatakan jika besok akan berkunjung ke kantor cabang, Aruna ingin berangkat ke butik dengan naik motor.


"Mas akan ngantar kamu ke butik dulu." ucap Sabda kemudian mengenakan helm di kepala Aruna. Meskipun Aruna sudah mengatakan tidak perlu diantar, tetap saja Sabda akan mengantarnya.


"Jika ada apa-apa, hubungi Mas saja. Mas pulang agak malam, sekitar jam delapan." lanjut Sabda.


"Iya, Mas." jawab Aruna.


Aruna mulai mengendarai motor matic miliknya. Sementara, Sabda berada di belakangnya dengan motornya sendiri. Beberapa kali dia menawari Aruna untuk memilih mobil kesukaannya tapi wanita itu merasa enggan dengan Alasan. Nggak punya waktu untuk latihan nyetir.

__ADS_1


Jalanan dari rumah menuju butik memang selalu lenggang dan rindang. Itulah yang membuat pengguna jalan merasa nyaman untuk mengendarai kendaraannya dengan santai.


Aruna menghentikan motornya di depan butik. Di sana ternyata sudah ada Abimana yang berdiri di dekat mobilnya.


"Assalamu'alaikum, Mas Abi... " sapa Aruna sambil membuka helmnya.


"Walaikum salam. " sahut Abi dengan pandangan mengarah pada Sabda yang saat ini menghentikan mobilnya.


"Untuk administrasi barang masuk sudah aku alihkan ke Nina, Mas. Jadi Mas Abi bisa langsung kontak Nina jika untuk urusan barang yang masuk." ucap Aruna.


Sabda yang melihat kehadiran Abimana, membuat lelaki itu turun dari motornya. Dia yang awalnya hanya mengantar pun terpaksa turun karena tidak akan memberikan celah pada Abi untuk mendekati istrinya. Yah, seperti itulah Sabda, dia selalu merasa insecure dengan kehadiran Abimana.


"Aku sudah tahu, Run. Tapi kenapa, kamu membatasi diri untuk berkarir, apa karena dia?" tanya Abimana dengan menunjuk Sabda yang sudah berdiri di dekat Aruna dengan tatapan matanya.


"Apa salah jika suami melarang istrinya? Toh, aku bisa mencukupi istriku." sela Sabda wajahnya sudah memerah dengan sorot mata mengintimidasi. Kedua lelaki itu seolah bergulat dengan sorot mata masing-masing.


"Suami yang juga mencukupi kebutuhan wanita lain. Bahkan, memberikan kehangatan pada wanita lain." sahut Abimana dengan tatapan tajam ke arah Sabda.


Aruna menahan tangan Sabda yang sudah siap melayang ke wajah Abimana. Kali ini tidak hanya Sabda yang terpengaruh dengan kalimat Abimana tapi juga Aruna. Wajah wanita itu seketika memerah dan memanas. Meskipun, sudah mengetahui semuanya tapi, saat orang lain kembali mengungkitnya tetap saja masih mempengaruhi emosinya.


"Maaf Mas Abi, kami masuk dulu!" pamit Aruna dengan menarik tangan Sabda. Dia membawa Sabda masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa tidak membiarkan Mas menghajarnya saja?" tanya Sabda saat mereka berada di ruangan Aruna. Dia masih merasa kesal.


"Terus dapat apa? Kenyataannya memang seperti itu. " Sabda terdiam dia hanya bisa menatap Aruna yang sedang memberinya air minum.


"Mas Abi tidak salah, dia masih berjuang karena dia tahu gadis yang pernah dia cintai disakiti suaminya." Sarkas Aruna, membuat Sabda mendesah. Dia tidak dapat mendebat Aruna lagi karena tidak ingin memperpanjang masalah.


Setelah emosinya mereda Sabda kini beranjak dari duduknya," Mas berangkat dulu!" ucap Sabda dengan suara dinginnya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan." jawab Aruna kemudian mencium punggung tangan Sabda. Wanita berwajah mungil itu pun kembali mengantar suaminya hingga sampai ke depan.


__ADS_2