
Abimana berdiri di dekat mobil. Dia memang tidak pernah menunggu Arimbi seperti saat ini. Kalau pun pergi ke kampusnya Arimbi, itupun hanya sebatas mengantar adiknya dan tidak pernah sempat turun dari mobil.
Sesekali Abi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir setengah jam dia berdiri dengan pandangan mengedar kesana-kemari mencari munculnya adik tersayangnya itu.
Abimana hampir tidak percaya ketika melihat Adiknya berjalan dengan seseorang yang cukup familiar baginya.
Amanda. Gadis yang mengenakan kerudung biru itu seperti sedang menjelaskan sesuatu pada Arimbi saat mereka berjalan ke arah parkiran.
"Loh, Mas Abi...??? " ucap Amanda dengan pertanyaan dan wajah yang terlihat kaget saat berhenti di depan Abimana. Dia tidak menyangka akan bertemu lelaki itu di sini.
"Dia abangku, Nda!" jawab Arimbi membuat Amanda manggu-manggut.
"Kalian sudah kenal?" lanjut Arimbi.
"Sudah. Dia yang bekerja di butik Aruna." sahut Abi.
"Ohh... ternyata kamu bekerjanya di butik milik Mbak Runa?" Arimbi seolah baru mengerti, wajah gadis itu terlihat begitu lucu.
"Kita makan siang dulu, ya!" ajak Abimana membuat Amanda seolah berfikir berungkali.
"Alah, kebanyakan gaya kamu! Padahal juga senang, kan, bisa ngirit sedikit! Hahaahaha..." tawa Arimbi pecah membuat Amanda mengerucutkan bibirnya.
"Ya Allah...Ari, Aku kan lagi gayaan dikit. Jaim jugalah, agar nggak kelihatan nyari makan gratis." sambut Amanda dengan wajah cemberut. Abimana yang melihat dua gadis yang sangat kekanak-kanakan itu hanya bisa menggeleng.
Iya, dia kenal Amanda memang sedikit tengil, bahkan sangat cerewet. Tapi, nggak sampai seperti saat bersama adiknya yang tengilnya sampai kebangetan.
"Ayo kita berangkat, Abang masih ada kerjaan setelah ini!" Abimana pun masuk ke dalam mobil di susul dengan kedua gadis tengil yang duduk di jok belakang. Saat ini Abimana lebih seperti sopir untuk Arimbi dan Amanda.
Abimana memilih rumah makan dengan menu rumahan, seperti menu sayur asem dan pepes yang menjadi andalan rumah makan yang saat ini mereka kunjungi.
Mereka bertiga memesan menu yang sama, cuma Amanda memilih jus alpukad dan Arimbi jus Strobery.
"Kamu cuma pesen satu? Ini mumpung ada yang traktir lo!" ledek Arimbi.
"Nggak apa- apa deh. Ini aku udah ngelunjak biasanya minumnya es teh sekarang kan jus alpukad." sahut Amanda membuat Arimbi tergelak. Dia baru nyadar jika saja temannya tidak mengatakan itu.
Arimbi memang sering meledek Amanda. Tapi, gadis itu sangat baik pada Amanda. Dia sering membawakan kue- kue yang dibuat mamanya untuk Amanda. Karena Arimbi tahu perjuangan Amanda untuk bisa kuliah.
Abimana hanya menggelengkan kepala, menganggap adiknya sudah keterlaluan meledek temannya itu. Tapi, berhubung Amanda yang masih menanggapinya santai, Abi pun hanya cukup memperhatikan dua bocah yang cukup menghibur itu.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Aruna? " tanya Abimana membuat keadaan menjadi serius.
"Mbak Runa masih di rumah mamanya. Jangan tanya lagi kenapa, Mas. Nanti aku keceplosan." ucap Amanda yang tidak ingin ikut campur terlalu dalam urusan pribadi mereka.
"Aku sudah tahu, mereka akan bercerai. Masalah mereka sudah sangat rumit!" jelas Abimana membuat Amanda hanya nyengir. Sumpah, dia tidak ingin mengeluarkan informasi apapun, karena itu adalah hal yang sangat sensitif.
"Mas masih mengejar, Mbak Runa?" tanya Arimbi yang tidak suka, dia sebenarnya menyukai Aruna tapi dia tidak ingin abangnya terluka lagi.
"Mas masih mencintai Aruna." jawab Abimana.
"Semangat, Mas Abi!" ucap Amanda dengan mengangkat tangannya yang mengepal sambil tersenyum.
"Dodol Alias bloon!" Arimbi memukul kepala Amanda pelan.
"Kamu nyumpahin abangku dapat janda?" tanya Arimbi dengan mata mendelik.
"Ih, mana mungkin aku dodol alias bloon. Kamu tahu kan IPKku selalu comloud? Apalagi kamu juga sering nyontek aku." Amanda memang sengaja mengalihkan pembicaraan, dia benar-benar tidak ingin terlibat urusan perasaan itu.
Pelayan membawa pesanan mereka. Mereka kembali fokus dengan makan siang tanpa ada lagi obrolan tentang Aruna. Amanda mengerti perasaan Abimana tapi semua di luar kapasitasnya untuk menceritakan pribadi orang lain.
###
"Emang, Nak Sabda nggak datang, Run?" tanya Malam Hesti. Biasa Sabtu pagi Sabda sudah muncul.di rumahnya. Tapi hari sudah sore tapi lelaki itu belum juga muncul.
"Mama, ke kamar dulu, ya! Badan Mama pegal-pegal." pamit Hesti.
Aruna pun mengiyakan kalimat Mama Hesti. Dia sendiri masih menyelesaikan pekerjaannya sudah hampir jatuh deadline.
Seharian Arun berkutat dengan pekerjaannya. Untung saja dia punya kerjaan yang mengalihkan semua kesedihannya.
Aruna melirik jam yang bergantung di dinding, pukul lima lebih seperempat sore. Tapi, Sabda tidak datang itu artinya dia memang sudah lelah untuk mengunjunginya.
Ah biarkan saja, dia juga tidak berharap Sabda akan datang. Setiap keputusan yang Aruna ambil memang selalu Aruna pikirkan dan jika pun dia memberi Sabda kesempatan, itupun pasti sudah dia mempertimbangkan sepenuhnya, begitulah Aruna.
Ponsel yang tergeletak di meja itu berbunyi ternyata Tita yang sedang menghubunginya.
"Halo, assalamu'alaikum, Ta." ujar Aruna saat mengangkat panggilan dari Tita.
"Waalaikumsalam salam. Run, kamu nggak balik ke sini? Kata mamaku, Tante Rosa sedang sakit." jelas Tita. Gadis itulah yang selalu memberi kabar apapun pada Aruna.
__ADS_1
"Apa, Mama Rosa sakit?" ulang Aruna.
"Iya, katanya tekanan darah tinggi." jawab Tita membuat Aruna khawatir. Mama Rosa tidak punya anak kecuali Sabda. Dan Sabda pun entahlah, Aruna tidak bisa berfikir tentang suaminya.
"Oh ya, menurut ceritanya Mas Bagas, Mas Sabda mulai menjauhi si Kuntilanak itu."
"Tapi, beneran kayaknya, Run. Bahkan, Mas Sabda tidak lagi mengantar pulang Anin. Padahal kalian sedang LDR an." Aruna menelan ludahnya. Entahlah, dia sendiri sudah tidak bisa langsung merespon berita itu. Hatinya begitu gamang saat ini.
"Ta, petirnya bikin ngeri. Nanti kalau hujannya sudah reda aku telpon balik, ya! " ujar Aruna. Kemudian menutup panggilan Tita.
Sejenak Aruna terdiam, tapi suara petir membuatnya tersadar. Hujan yang deras dan angin yang kencang membuatnya segera menutup pintu dan dan jendela rumah.
Saat akan menutup jendela depan, terlihat mobil Sabda berhenti. Lelaki itu berlari dengan membawa beberapa paper bag menerjang derasnya hujan.
Melihat Sabda yang berlari terkena tetesan hujan membuat Aruna langsung membuka pintu depan.
"Mas kemalaman, Run." ucap Sabda dengan mengelus lengan kemejanya yang sudah basah. Lalu menyodorkan paper bag yang berisi makanan kesukaan Aruna.
Aruna menatap lelaki di depannya. Dia mulai Tersadar, wajah Sabda yang semakin tirus dan jambang yang tebal kini sudah menghiasi rahangnya. Lelaki di depannya memang terkesan tidak merawat dirinya.
"Run... " panggil Sabda menyadarkan Aruna dari lamunan.
"Mama ada di kamar, Mas." jawab Aruna sekenanya agar tidak terlihat salah tingkah.
"Sebaiknya, Mas, mandi dulu!" ujar Aruna kemudian melangkah meletakkan bawaan Sabda di meja makan dan kemudian pergi ke kamarnya untuk menyiapkan baju ganti Sabda.
"Kamu sudah salat?" tanya Sabda.
"Belum... " lirih Aruna.
"Kita Salat Magrib berjamaah ya! Mas sudah bisa menjadi Imam salat." tawar Sabda yang diikuti anggukan Aruna. Lelaki itu membuka kemejanya, sedangkan Aruna mengambil sajadah, mukena dan sarung untuk Sabda.
"Rambutmu kamu potong?" tanya Sabda saat melihat rambut Aruna dengan potongan bob ketika Aruna membuka bergo.
Sabda memperhatikan istrinya yang terlihat makin cantik dengan gaya rambut yang baru dilihatnya. Wajah mungil dengan mata indah itu sangat cocok dengan rambut barunya.
"Iya, Mas... " Aruna merasa sungkan karena dulu Sabda selalu melarangnya setiap kali ingin memotong rambut. Dan saat ini dia memotong rambutnya tanpa sepengetahuan Sabda.
"Maaf, tidak bilang dulu sama Mas." gumam Aruna dalam hati dia sadar jika dirinya memang masih istri Sabda. Tapi, Aruna enggan mengeluarkan kalimat itu.
__ADS_1
"Tidak apa, kamu makin cantik. Meskipun seperti anak SMA." lanjut Sabda saat melihat Aruna terdiam. Dia sudah hafal Aruna, wajahnya saat ini menunjukkan rasa bersalah padanya.
"Mas Mandi dulu." Sabda pun meninggalkan Aruna yang kemudian mengambil air wudu di kran belakang.