Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Cinta


__ADS_3

Aruna Pov


sebenarnya aku sudah malas bertemu dengan Mas Sabda. Bukan tanpa alasan, tapi setiap ada di dekat lelaki yang sulit di tebak itu, jantungku selalu tak bersahabat, hingga rasa gugup menyerang tiba -tiba.


Aku tidak mau perasaanku berkembang, diantara kegamanganku padanya. Jika memang ini cinta biar saja aku genggam erat saja. Sejak dia aku memutuskan untuk menjauh darinya, dia pun seolah hilang bak ditelan bumi. Bahkan, saat kita harus bertemu, menatapku saja enggan. Aku selalu ragu jika dia menginginkanku meskipun hati ini tak bisa mengingkari, aku senang jika dia menatapku seperti dulu.


Coba saja perasaan itu seperti Matematika atau Fisika. Hanya menghitungnya dengan rumus, kita sudah bisa menemukan jawabannya. Tapi sayang perasaan bukan hal yang se-simple itu, meski tak berwujud.


Hari ini aku begitu dilanda dilema, saat ingin menghindarinya tapi ternyata dia sakit, ingin tak peduli tapi aku tak tega.


Author Pov


Aruna mengaduk bubur yang sudah hampir matang dengan memikirkan banyak hal. Bimbang, apa perhatiannya pada Sabda itu berlebihan? Jika bukan dengan Sabda dia tidak akan mempertimbangkan dengan begitu sangat.


Saat dia tersadar dari pikiran - pikiran yang dilematis. Aruna menatap sejenak bubur yang sudah matang dan siap diangkat.


"Cuma sekali saja! Lagian sesama tetangga wajarlah jika saling membantu." gumam Aruna meyakinkan niatnya. Dia hanya tidak ingin orang lain salah faham dengan niatnya.


Setelah Salat Subuh dia langsung memutuskan memasak bubur karena setelah di periksa oleh dokter, Sabda terkena gejala typus.


Di tengah kegiatannya Aruna sempat bingung, tapi pada akhirnya dia sudah menuangkan bubur ke mangkuk rantang.


Pukul enam pagi, masih mengenakan piyama, Aruna pergi keluar dengan menjinjing rantang yang berisi bubur menuju rumah sebelah.


Aruna mengedarkan pandangan dan berjalan dengan hati-hati. Takut ada yang memergokinya berkunjung ke rumah Sabda pagi- pagi buta. Dan itu akan menimbulkan opini yang buruk.


"Assalamu'alaikum... " ucap Aruna dengan melihat pagar terkunci atau tidak.


Saat pagar tidak terkunci, Aruna memutuskan untuk membukanya berlahan, agar suaranya tidak berisik.


"Assalamu'alaikum... " ucap Aruna dengan suara yang meninggi karena beberapa kali dia berucap salam belum juga ada yang membukakan pintu utama.


"Apa Mas Sabda sakitnya tambah parah ya?" gumam Aruna dengan rasa yang semakin dikuasai rasa gelisah. Pikirannya semakin menerka hal buruk yang telah terjadi pada Sabda.

__ADS_1


"Mas Sabda... Assalamu'alaikum...!"


"Tok... tok... Mas... " Aruna semakin panik karena tidak ada tanda tanda orang yang membukakan pintu. Dan itu malah membuat Aruna tidak lagi mengetuk tapi menggedor pintu bercat putih itu.


"Mas... " suaranya melemah saat tangannya terangkat untuk menggedor pintu, tapi pintu sudah terbuka dengan sosok yang kini hanya mengenakan handuk di pinggang itu sudah berdiri di tengah pintu.


"Maaf... " ucap Aruna dengan wajah merona.


Malu karena kepanikannya dan lelaki dalam keadaan shirtless. Tubuh dengan otot milik Sabda yang terlihat keras apalagi masih ada tetesan air yang membuat kesan semakin seksi.


"Runa... ada apa?" tanya Sabda dengan menatap kesal Aruna. Kehebohan Aruna membuat dirinya harus menyelesaikan mandi paginya dengan lebih cepat.


"A-aku mau ngantar bubur ayam buat Mas Sabda." Aruna semakin gugup dan salah tingkah padahal dia sudah menundukkan pandangannya.


"Ayo masuk!" ajak Sabda.


"Tapi... aku langsung balik saja, Mas." ucap Aruna. Masih menunduk dia mengulurkan tantang yang dia bawa pada Sabda.


"Kenapa terburu-buru?." ujar Sabda spontan membuat Aruna mendongak menatap wajah yang ditumbuhi bulu halus itu.


"Tolong letakkan di dalam. Aku akan ganti baju sebentar." sela Sabda saat Aruna masih mencari alasan.


Sabda meninggalkan Aruna begitu saja untuk masuk ke dalam Kamar. Gadis yang saat ini menyapukan tatapannya pada ruangan yang mampu terjangkau dari pandangan


Tapi, saat melihat beberapa gelas dan mangkuk sup miliknya yang masih di atas meja makan membuat Aruna melangkah untuk mendekati meja makan.


"Maaf, aku belum sempat mencucinya.Masih kotor semua." Suara bariton itu membuat Aruna menoleh, kini Sabda sudah berada di sampingnya. Lelaki yang sudah rapi dengan kaos polos berwarna putih dan celana pendek itu merasa canggung dengan keadaan rumahnya.


" Ibu yang bersih bersih rumah anaknya sedang sakit. Jadi untuk beberapa hari ini, kondisi rumah memang kurang rapi." lanjut Sabda kemudian memilih duduk di kursi makan.


Aruna meletakkan rantang di meja makan. Dia langsung membawa beberapa gelas dan mangkuk sup yang masih separo itu ke dapur.


" Kenapa tidak dihabiskan, Mas?" tanya Aruna dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Aku tidak nafsu makan." jawab Sabda membuat Aruna mengambil sendok dan diberikannya pada Sabda.


Niatnya yang akan mencuci gelas dan mangkuk kotor di tahan oleh Sabda, "temani aku makan ya! Aku masih malas makan!" pinta Sabda dengan mencekal lengan Aruna.


"Please, Run!" pinta Sabda tatapan sendu dan mata yang masih terlihat satu membuat memilih mengalahkan egonya. Berlahan dia duduk di depan Sabda. Dan menyiapkan buburnya di depan Sabda.


Sejenak keadaan menjadi Hening. Meskipun masih sakit tapi Sabda merasa bahagia karena perhatian kecil Aruna. Dia mengunyah pelan makanan di mulutnya, rasanya dia ingin waktu berhenti agar bisa selalu begini dengan Aruna.


"Nggak enak ya?" tanya Aruna dengan wajah miris, takut buburnya nggak enak karena lupa untuk dicicipi.


"Bukan... " jawab Sabda dengan lemah.


" Buburnya enak, tapi mungkin lebih enak lagi jika disuapin." Wajah Sabda yang menunduk melirik ke atas, menunggu reaksi apa yang ditunjukkan wajah cantik itu tersenyum.


Aruna hanya mencebikkan bibir dan menatap tajam lelaki yang kini tersenyum tipis.


"Mas Sabda ini sakit atau pura- pura sakit?" tanya Aruna yang sedikit kesal. Orang model Sabda memang terkadang menyebalkan.


Aruna meninggalkan Sabda yang sedang menghabiskan buburnya. Meski hari ini Sabda tidak masuk ke kantor, tapi lelaki itu sudah menyiapkan untuk melakukan Zoom.


"Run, nggak usah cuci piring! Besok Bu Ninik sudah datang." teriak Sabda, Bu Ninik orang yang selalu datang setiap hari untuk membersihkan rumah Sabda.


Tidak ada jawaban dari Aruna membuat Sabda mempercepat sarapannya. Dia tidak ingin Aruna melakukan semua pekerjaan itu.


Sabda kini berdiri di dekat Aruna. Lelaki itu menatap Aruna dengan lekat, Gadis yang sudah menyelesaikan kegiatannya itu kini tengah mematung. Dia tidak berani menoleh, bersitatap dengan Sabda hanya membuatnya salah tingkah.


"Terima kasih sudah peduli. Jika seandainya cinta aku akan sangat bahagia. Tapi, jika belum bisa merasa cinta, Aku akan menunggumu." Kal ini kalimat Sabda terdengar serius di telinga Aruna.


Hening sejenak, keduanya kini mematung dengan posisi Sabda di belakang Aruna.


"Aku lelaki dewasa yang sudah tidak ingin main- main lagi atau berbasa - basi soal cinta dan pernikahan." ucap Sabda meyakinkan.


"Akan aku pikirkan, Mas." jawab Aruna. Jika diminta menjawab saat ini tentu saja dia tidak bisa. Dia butuh untuk meyakinkan hati dan perasaannya.

__ADS_1


"Aku balik sekarang, ya! Cepat sembuh." ucap Aruna dengan memberanikan diri berbalik menghadap Sabda. Dia merasa harus pergi sebelum setan setan yang begitu menggoda membuat tipu muslihat untuk dosa yang semakin menumpuk.


__ADS_2