Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Perhatian Aruna


__ADS_3

"Kamu ini bisanya cuma intap-intip saja." gerutu Andrean. Selama mengenal Sabda, Andrean tahu jika Sabda selalu melangkah dengan pasti. Apalagi untuk urusan cewek, Sabda tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkannya.


Tapi Aruna, gadis itu membuat Andrean penasaran. Karena Arunalah, pertama kali Sabda terlihat kalang kabut hanya karena wanita.


Andrean selalu mengulik cerita tentang Sabda dari Fadli. Andrean bagai Intel yang tak perangkat. Entah untuk siapa dia bekerja, yang pasti bukan untuk Sabda.


"Lalu?" sambut Sabda dengan meletakkan ponselnya. Keduanya kini tengah duduk di sebuah kafe dengan menikmati secangkir kopi.


"Kamu pikir aku akan mempertaruhkan harga diriku tanpa memikirkannya dengan matang?" tanya Sabda merasa begitu kesal dengan Andrean. Bagi Sabda tidak mungkin menceritakan penolakan Aruna pada siapapun. Jika memang ada yang mencoba menebak, terserah saja.


"Sabar, Bro! Aku cuma takutnya diambil orang. Gadis itu seperti barang antik." Sabda terkekeh. Andrean tidak ingin menambah lagi kadar emosi sepupunya itu.


"Bagaimana penjualan bulan ini? Tutup tahun setidaknya kita sudah habiskan stock." tutur Sabda. Mereka mulai membahas pekerjaan. Di akhir tahun seperti ini, Sabda memang harus fokus pada kerjaan.


"Beres, Bos. Tutup tahun kita aman. Customer juga udah banyak yang inden Innova keluaran model baru." jawab Andrean membuat Sabda manggut- manggut. Sabda berharap awal tahun Innova keluaran terbaru bisa diandalkan untuk mengantisipasi awal tahun yang biasanya grafik penjualan merosot.


Keduanya pun terlihat begitu asik menikmati sore dengan secangkir kopi, dan berbagai topik pembahasan.


###


Setelah mengambil keputusan, Aruna merasa lebih nyaman. Bukan Sabda Megantara atau Abimana Biantara, tapi dia sedang fokus dengan pekerjaannya.


Terserah mau nikah kapan, biar itu urusan Tuhan. Bagi Aruna menikah bukanlah membuat seseorang langsung bisa menggenggam surga, menikmati hidup tanpa sebuah permasalahan.


Untuk perasaan? Biarlah dia menggenggam rasa cinta untuk orang tepat. Lelaki yang mampu buatnya yakin untuk melanjutkan dan berjalan bersama hingga tanpa batas waktu.


"Eh kalian mau kemana? Kok boncengan?" tanya Aruna saat melihat Amanda dan Nina berboncengan padahal kos Amanda dan tempat tinggal Nina berlawanan arah.


"Kita mau nonton." jawab Manda yang sudah membonceng di belakang Nina.


"Gaya banget. Lagi banyak duit ya?" tanya Aruna. Jika saja dia tidak lelah dia akan ikut dengan mereka.


"Hahaha... semoga selalu datang pelanggan baru yang baik hati dan tidak pelit. " celetuk Amanda diiringi kepergian mereka.


"Pelanggan?" gumam Aruna berlahan. Sepertinya besok dia wajib untuk menatar kedua anak buahnya itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian, sebuah taxi online berhenti di depan butik. Gadis itu pun masuk ke dalam taxi dan berharap akan segera sampai di rumah. Aruna sudah tidak tahan lagi dengan kondisi tubuhnya yang terasa lengket.


Hanya sepuluh menit taxi pun berhenti. Aruna keluar dan disambut oleh Pak Andar yang sudah berdiri di antara rumahnya dan rumah Sabda.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Aruna saat Pak Andar terus menatapnya dengan membawa beberapa sesuatu di tangannya. Terlihat rumah Sabda yang sepi. Aruna yakin jika Sabda belum pulang.


"Mari silahkan masuk, Pak! " ucap Aruna dengan membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Pak Andar masuk.


"Gini, Mbak Runa, ini ada pengadaan rapat untuk acara tahun baru- an. Saya harap Mbak Aruna bisa hadir." pinta Pak Andar.


"InsyaAllah, Pak." jawab Aruna.


"Oh ya, tolong nitip, sampaikan undangan ini untuk Mas Sabda."


"Tapi,. Pak... " sela Aruna masih bingung mencari alasan untuk menolak.


"Tolong, ya! Soalnya ini masih banyak yang belum saya sampaikan." Lanjut Pak Andar. Sabda memang belum pulang dan undangan masih banyak yang belum di sampaikan pada yang lainnya.


"Baiklah, Pak." ucap Aruna. Meski dengan berat hati tapi dia tidak punya alasan untuk menolaknya.


"Terima kasih, Mbak. kalau begitu saya pamit dulu." ujar Pak Andar.


Dengan wajah segar dia membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa dia masak. Aruna sengaja ingin memasak sendiri, karena bosan dengan makanan di luar.


Sup merah kayaknya enak. Dia mengambil beberapa sayuran, bakso, sosis dan sepotong daging untuk kaldunya.


"Sepertinya makan malam yang cukup lezat." gumam Aruna sambil menggelung rambut panjangnya. Tangannya mulai terampil mengexecusi bahan hingga beberapa menit sudah tercium aroma harum.


"Sup merah ala Aruna. Hemmm.... " ucapnya sambil meletakkan sup yang sudah dia tiriskan di sebuah mangkuk besar.


Tapi saat akan kembali mengambil mangkuk dan sendok untuk menikmati sup. Matanya tertuju pada kertas undangan yang dia letakkan begitu saja di atas meja.


Terdengar helaan nafas yang begitu berat dari Aruna. Kenapa juga harus berurusan dengan Sabda? Hal yang membuat Aruna merasa enggan. Tapi, dia juga harus bertanggung jawab atas kesanggupannya menyampaikan undangan yang sudah dititipkan oleh Pak Andar.


"Permisi!" ucap Aruna sedikit berteriak di depan gerbang yang sudah terbuka separo.

__ADS_1


Memang tidak biasa gerbang itu terbuka, membuat Aruna penasaran. Apalagi tidak ada sambutan padahal motor dan mobil si empunya terparkir rapi di garasi.


"Permisi." sekali lagi Aruna berteriak, karena tidak ada jawaban berlahan Aruna masuk dan Aruna dibuat penasaran karen pintu rumah terbuka lebar.


Rumah dengan desain minimalis itu nampak sepi, Aruna mendekati ke arah pintu. Kemudian mengetuk pintu bercat putih itu dengan sedikit ragu. Tapi, tidak juga mendapat jawaban.


Dia melongok ke dalam, bahkan Aruna sempat memperhatikan ruang tamu dengan beberapa interior yang terkesan etnik menghadirkan nuansa yang cukup cantik.


"Permisi." Aruna semakin dibuat penasan hingga dia memberanikan untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan melihat lebih ke dalam.


Deg


Terlihat Sabda duduk dengan mata terpejam. Bahkan, punggung dan kepalanya bersandar pada sofa.


"Permisi, Mas Sabda." Aruna membawa pelan langkahnya untuk mendekati sosok yang terlihat lemah.


"Mas Sabda, baik- baik saja, Kan? " tanya Aruna dengan mengeraskan suaranya berharap Sabda membuka matanya.


"Aku baik - baik saja." jawab Sabda. Berlahan dia membuka matanya dan melihat ke arah sosok yang berdiri di dekatnya.


"Ada apa?" lanjut Sabda, sedikit acuh.


"Mas Sabda kenapa?" Bukannya menjawab Aruna malah balik bertanya.


Gadis yang kini mendekat dan mengulurkan tangannya, menyentuh kening Sabda pun merasa kaget karena suhu tubuh Sabda yang cukup tinggi.


"Aku tidak apa- apa, Runa." jawab Sabda dengan menangkap tangan Aruna dari keningnya. Ya, ada rasa yang berbeda saat mereka saling bersentuhan. Desir di dada yang membawa mata mereka saling menatap kemudian Aruna membuang pandangan dari mata tajam itu.


"Mas Sabda, Demam. Sudah ke dokter." tanya Aruna berusaha menarik lengannya yang masih ditahan oleh Sabda. Tapi usahanya sia-sia, karena Sabda menggenggamnya begitu erat.


"Dalam perjalanan." jawab Sabda. Tak ingin mengalihkan tatapan dari sosok yang kini salah tingkah di depannya.


"Sudah makan?" lanjut Aruna berusaha setenang mungkin. Sabda hanya menggeleng pelan.


"Aku akan membawakan makanan buat Mas Sabda. Kebetulan aku baru saja masak." ujar Aruna membuat Sabda berlahan melepas tangan Aruna.

__ADS_1


Belum juga Aruna kembali ke rumah, seorang yang terlihat cukup muda itu datang. Otomatis Aruna menyapa dan mempersilahkan terlebih dahulu.


"Silahkan masuk. Mas Sabdanya ada di dalam." Lelaki itu mengangguk dan tersenyum pada Aruna sebelum masuk ke dalam.


__ADS_2