Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Resepsi


__ADS_3

Aruna dan Sabda kembali masuk ke dalam kamar hotel setelah pesta resepsi mereka. Mereka menggunakan ballroom dari ngorek. terbaik di kota itu.


Masih dengan mengenakan gaun pengantin lengkap dengan hijabnya, Aruna menjatuhkan diri di atas kasur.


Acara berlangsung hampir lima jam dan itu membuat semua tulang Aruna terasa remuk. Apalagi kakinya yang hampir saja mati rasa karena terlalu lama berdiri.


"Sayang, kita makan dulu!" ujar Sabda sambil membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, Mas. Rasanya tubuhku sudah mati rasa." jawab Aruna yang kini menatap Sabda dengan wajah memelas.


"Ya sudah, Mas, mandi dulu nanti. Kamu bisa istirahat sejenak." Sabda pun beranjak pergi ke kamar mandi.


Dia sengaja menyewa beberapa kamar untuk persiapan tamu jauh yang ingin menginap atau untuk sekedar istirahat jika diperlukan. Lelaki itu memang selalu saja memikirkan hal apapun dari jauh - jauh hari.


Entah berapa lama Aruna memejamkan mata, ternyata Sabda sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Lelaki itu tersenyum saat Aruna menatapnya.


Sabda memang selalu menawan, tubuhnya yang masih terlihat basah dengan tetesan air. Lelaki itu terlihat sangat seksi.


Ah, kenapa Aruna merasa jantungnya tak mau diam. Sabda memang selalu memberikan debaran- debaran aneh, apalagi saat melihatnya shirtless. Otaknya pun mendadak traveling tak tentu arah.


"Kenapa?" tanya Sabda menatap curiga Aruna saat memergoki wanitanya menatap dirinya tak berkedip.


"Nggak apa-apa. Hanya merasa lapar." Aruna berusaha mencari alasan. Meskipun, hanya di balas Sabda dengan tawa sumbang, karena dia tidak percaya.


"Kita pulang atau menginap di sini, Mas?" tanya Aruna masih menatap suaminya yang sedang berganti baju.


"Terserah kamu, Sayang. Mas hanya nurutin kamu saja." ujar Sabda, dia memang membebaskan Aruna.


Mendengar jawaban Sabda, Aruna malah merasa bingung. Dia masih ingin disini menikmati suite room tapi dia juga ingin pulang. Aruna hanya bisa menghela nafas panjang dan itu membuat Sabda semakin gemas.


"Eh Mas, tau nggak jika anaknya Pak Rt suka sama, Mas?" Mendengar pernyataan Aruna Sabda malah menautkan kedua alis, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan istrinya.

__ADS_1


"Iya beneran. Dulu, aku sih tidak percaya, gadis itu masih sangat muda kalau nggak salah baru lulus SMA. Sedangkan, Mas sudah berumur. Tapi, aku bisa melihat dia sangat kesal saat tadi menghadiri resepsi bersama kedua orang tuanya." Mendengar penjelasan Aruna, Sabda pun berjalan dan duduk di dekat Aruna berbaring.


"Kamu mandi saja, nggak usah ngelindur kayak gitu." jawab Sabda.


" Ih, beneran, Mas." Aruna langsung bangkit. Dan duduk berjajar dengan Sabda. Dia masih ingat gadis remaja itu bilang sendiri pada teman- temanya yang lain jika menyukai Sabda. Saat itu ada acar di komplek mereka.


"Ya sudah, kan, wajah jika Sabda Megantara jadi idola kaum wanita dari berbagai kalangan." jawaban Sabda membuat wanitanya mengerucutkan bibir.


"Cup... "


Dan itu malah memberikan Sabda Akses untuk menciumnya. Lelaki itu tersenyum menatap wanitanya, Aruna memang lucu. Wanita polos yang tegas dengan prinsipnya.


"Gih, mandi! Dari siang tadi kamu belum makan, setelah kamu mandi kita makan." Sabda mengelus puncak kepala istrinya dan beranjak menuju meja di dekat jendela yang sudah ada secangkir kopi yang disediakan pihak hotel.


Dengan menikmati kopi, Sabda kembali mengecheck ponsel yang sejak tadi dia matikan. Dia memang tidak ingin terganggu saat acara resepsi mulai berlangsung.


Aruna masih di dalam kamar mandi, tapi ponselnya terus saja berbunyi membuat Sabda merasa penasaran dan mengambil ponsel milik istrinya.


Hatinya bergemuruh dengan penuh kemarahan. Wajahnya merah padam dengan otot-otot di pelipisnya bermunculan.


"Mas, ada apa?" tanya Aruna saat melihat Sabda mematung seolah memikirkan sesuatu dengan memegang ponsel miliiknya.


"Ada yang kurang ajar. " jawab Sabda kemudian menatap Aruna. Jelas saja dia mengkhawatirkan istrinya. Pesan tadi seolah sedang memberikan ancaman pada Aruna mesti gambar itu tanpa caption.


Aruna berjalan ke arah Sabda dengan rambut basahnya. Dia merasa Sabda di penuhi emosi. Baru pertama kali ini dia melihat wajah Sabda semarah ini.


"Biarkan saja, Mas. Aku memang sering mendapatkan pesan seperti itu." jawab Aruna dengan cuek. Sejak dia dekat dengan Sabda dia memang sering mendapatkan pesan misterius. Tapi tidak juga dia peduli dan tak ambil pusing.


"Kamu sering mendapatkan pesan seperti itu? " selidik Sabda, dia semakin merasa cemas dengan Aruna. Dia pikir pesan itu bukan sekedar iseng, tapi lebih ke target.


"Kenapa nggak bilang ke Mas, sayang." desah Sabda karena Aruna menganggap itu hal sepele.

__ADS_1


"Aku ngerasa nggak punya musuh, Mas. Jadi buat apa aku peduli." Aruna memeluk Sabda. Dia bisa merasakan detak jantung suaminya sedang memburu.


"Mas...Kita makan, yuk! Aku sudah lapar." ajak Aruna masih dengan memeluk tubuh tinggi atletis itu. Hingga akhirnya, Aruna meregangkan pelukannya ketika Sabda tidak menjawab atau cukup bergeming.


"Mas... " Aruna menatap Sabda dengan tatapan penuh permohonan. Dia tidak ingin Sabda memperpanjang masalah ini.


"Aku tidak akan membiarkan orang jahat menyentuhmu. Sedikit saja kamu lecet, aku akan membunuhnya." ucap Sabda, dia mulai berfikir untuk mencari jawaban atas orang yang sudah meneror istrinya.


" Kita cari makan sekalian pulang saja, Mas. Aku memutuskan untuk pulang saja." ucap Aruna. Dia rasanya sayang sekali karena kamar yang sudah di sewa suaminya tidak berguna. Padahal Sabda sudah menyewanya dengan sangat mahal.


###


Anindita merasa gelisah setelah mendengar Sabda sudah menikah. Sebenarnya dia masih berharap bisa bersama dengan lelaki itu. Cinta masa lalu yang belum usai membuat dirinya berharap masih memiliki hati lelaki itu.


"Aku masih mencintaimu, Da." gumamnya dalam hati. Tangannya masih memegang kertas undangan yang sudah terlewatkan tanggalnya.


Pikirannya menerawang, mengingat masa terindah yang mereka lalui selama tiga tahun. Tapi bayangan indah itu harus hancur saat Rosa mengantarnya kembali ke Batam. Dimana tempatnya berasal.


"Eh Diska, kamu tahu Sabda Megantara?" tanya Anin pada teman satu kantornya yang duduk di sebelah mejanya.


"Semua orang finance dan Asuransi pasti tahu. Dia kan akan buka cabang Showroom baru?" jawab Diska.


Anin memang belum lama tinggal di sini. Jadi dia belum tahu pasti keadaan kantor barunya. Anin menyadari ternyata bukan cuma dirinya yang melihat Sabda sebagai sosok lelaki yang penuh dengan pesona. Tapi dari cara Diska, temannya bicara, Anin yakin dia juga mengagumi Sabda.


Sabda memang tidak bisa membuatnya move on. Apalagi, setelah kegagalannya berumah tangga, Anin semakin yakin jika Sabda masih yang teristimewa di hatinya.


"Halo, Mbak Anin." sapa Puspita yang mampir ke kantor Anindita. Dia memang dekat dengan Anin karena setiap kali penjualan mobil dilakukan dengan pembayaran kredit, maka Puspita akan memberikan pada Anin sebagai finance-nya.


"Bawa apa, nih?" tanya Anin sambil melirik kotak makanan yang dibawa Puspita.


"Gado- gado. Kita makan bareng, yuk!" ajak Puspita. Anin yang sering memberinya hadiah khusus karena banyak customer Puspita yang jatuh pada Anindita. Sebagai salah satu karyaman finance dan sales counter membuat Kedua wanita itu berteman sangat baik.

__ADS_1


__ADS_2