Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Nasi Uduk


__ADS_3

Amanda menolak ajakan Abimana untuk makan dengan alasan kosnya akan ditutup sebentar lagi.


"Kamu yakin bisa menahan lapar? Sementara cacing di perutmu sudah berbunyi." tanya Abimana dengan menatap layar benda pipihnya saat dia berhenti di depan rumah makan yang awalnya menjadi tujuannya.


"Nggak apa, Mas. Dari pada aku tidak dibukakan pintu gerbangnya." jawab Amanda. Akhirnya Abimana mengklik sebuah kolom di Aplikasi dari go food.


Lelaki yang kini meletakkan kembali ponselnya itu pun kembali melajukan mobilnya dengan tenang. Sesekali dia melirik dua gadis tengil yang tengah duduk di bangku belakang. Kali ini keduanya terlihat tenang, karena Arimbi yang sudah mengantuk berat.


Hanya butuh sepuluh menit mobil Pajero itu berhenti tepat di depan gerbang yang terbuka separo.


Terlihat sebuah motor seorang grab food pun juga tiba di sana. Abimana turun bersamaan Amanda yang juga ikut turun. Tapi, lelaki itu menghampiri driver yang sudah berdiri di depan gerbang.


Amanda mengernyit, menatap aneh Abimana yang kini berjalan dan menenteng paper bag ke arahnya.


"Aku pesankan makan malam untukmu." Abimana menyerahkan paper bag yang ada di tangannya pada Amanda.


Gadis itu terlihat malu- malu karena setiap kali bersama Abimana pasti akan mendapatkan makan gratis.


"Terima kasih." lirih Amanda.


"Oh ya, sebenarnya aku bisa beli makan malam sendiri, Mas. Angkringan di depan itu, biasa buka sampai malam." Abimana hanya tersenyum mendengar penjelasan Amanda. Gadis itu tiba-tiba saja berubah menjadi sangat serius.


"Nggak apa- apa. Aku balik dulu! Arimbi udah di alam mimpi." ujar Abimana dengan menoleh ke arah mobil dimana Arimbi sudah tertidur di bangku belakang mobil.


Amanda hanya mengangguk, lelaki itu membuatnya sangat canggung. Gadis itu memang tidak terlalu dekat dengan lelaki manapun hingga dapat perhatian sedikit saja bisa membuatnya salah tingkah.


Amanda hanya menatap Pajero putih yang telah melesak jauh dan menghilang dari pandangan. Gadis dengan wajah bulat itu tertegun sejenak.


"Sabar, Nda. Kamu masih harus berjuang dan prihatin agar orang tidak perlu kasihan padamu. Suatu saat kamu yang akan memberi makan pada orang lain." gumam Amanda. Meskipun hidupnya terasa tertatih, gadis itu tidak pernah menyerah untuk meraih cita-citanya menjadi seorang dosen.


Suara riuh anak kos yang ada di dalam membuyarkan lamunan Amanda. Gadis itu pun bergegas masuk ke dalam.


###

__ADS_1


"Pagi , Sayang." Sabda mengecup pelan pipi Aruna. Lelaki itu sudah rapi dengan kemeja kerjanya.


Aruna baru saja menikmati secangkir susu dan di depannya ada sepiring pisang bolen yang masih hangat.


"Beli dari mana, Sayang?" tanya Sabda kemudian mengambil satu pisang bolen dan kemudian menghampiri secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Sabda memilih duduk di depan Aruna.


"Buat sendiri, saat Mas Sabda olahraga aku membuat pisang bolen" ujar Aruna.


Setelah Salat Subuh berjama'ah Aruna sempat membeli nasi uduk untuk sarapan dan pisang. Sedangkan memutuskan untuk berolahraga sejenak.


"Mas, nggak sarapan?" ucap Aruna saat Sabda menghabiskan satu pisang bolen dan menyesap kopinya.


"Hmmm... boleh." ucap Sabda kemudian Aruna berdiri mengambil piring dan sendok. Dia mulai menyiapkan makanan yang sempat dia beli sepulang jamaah subuh. Sebungkus nasi uduk yang disajikannya di depan Sabda.


Sabda menatap nasi uduk di piringnya kemudian beralih pada Aruna yang masih berdiri di sampingnya. Sebenarnya, dia mulai bosen dengan nasi uduk, telur balado dan rendang.


Sudah seminggu setiap hari hanya itu menu sarapan yang Aruna suguhkan. Padahal Sabda sudah merindukan masakan istrinya. Sup merah, tahu campur, atau sekedar nasi goreng.


"Hmmm... iya, Mas makan ini." sambut Sabda terlihat begitu enggan. Dia mulai menyuap pelan makanannya, tanpa bisa menikmatinya.


"Run... " panggil Sabda membuat Aruna menoleh.


"Kenapa, Mas?" tanya Aruna dengan penasaran.


"Mas kangen masakanmu." Akhirnya Sabda berujar dengan hati- hati.


"Mas bosan ya?" tanya Aruna dengan lirih. Dia mulai menebaknya.


"Sudah seminggu kita sarapan dengan menu yang sama. Mas ingin sarapan tahu campur buatanmu." wajah Sabda menegang menanti reaksi Aruna. Kehamilan Aruna membuat wanita mungil itu begitu sensitif. Bisa jadi istrinya akan marah.


"Iya- ya, sudah seminggu?" gumam Aruna dengan termenung sejenak untuk mengingatnya.


Wanita itu kemudian tersenyum, ternyata benar jika dia sudah memberikan Sabda menu sarapan yang sama selama seminggu.

__ADS_1


"Maaf, besok aku masakin tahu campur, Mas." melihat senyum Aruna, Sabda terlihat lebih tenang.


Sabda memang pernah mengatakan pada Aruna jika setiap hari dia akan sarapan dan makan malam di rumah. Bukan masalah uang, dia hanya ingin membedakan ketika bujang dan sudah berkeluarga.


"Maafkan aku , Mas. Istrimu ini bawaannya emang lagi malas banget." lanjut Aruna sambil tertawa kecil. Bukannya tidak bisa memasak seperti ibu hamil kebanyakan, tapi Aruna merasa dia paling malas memasak lauk pauk.


"Nggak apa-apa. Mas ngerti, tapi nggak juga jika hampir satu minggu nasi uduk terus." ujar Sabda. Dia melanjutkan sarapannya, meskipun rasanya sudah mabok dengan nasi uduk.


"Oh ya, Sayang. Nanti Mas pulang terlambat. Mau mampir ke tempatnya Bagas karena di sana nanti ada Andrean dan lainnya."


"Jadi kamu tidur duluan saja." ucap Sabda. Setelah menghabiskan makanan di piringnya.


"Run, boleh Mas tanya sesuatu?"


"Apa?" tanya Aruna jadi penasaran.


"Anin berapa kali menemuimu?" tanya Sabda membuat Aruna mendongak dan menatapnya.


"Dua kali, Mas."


"Apa yang dia katakan?" lanjut Sabda.


"Intinya dia hanya mengatakan Mas tidak pernah mencintaiku. Mas sangat mencintainya dan dia meminta agar aku meninggalkan Mas karena aku orang ketiga diantara kalian. Mas juga masih mencintainya hingga saat ini dan terbukti kalian melakukan hubungan badan hingga beberapa kali." ujar Aruna. Sementara Sabda menatapnya dengan begitu tajam.


Lelaki itu kemudian menghela nafas. Dia tidak menyangka saja Anin melakukannya. Dia memutar balikkan semuanya. Mungkin Mama benar dia bukan wanita yang patut diperjuangkan. Ternyata, wanita itu tidak seperti yang dia pikirkan.


"Aku harap kamu percaya dengan Mas. Kamu mengenal Mas, kan? Jika Mas masih mencintainya pasti Mas akan mengejarnya." ujar Sabda.


Aruna pun hanya menjawab Sabda dengan anggukan. Dia sudah lelah, biarkan saja itu urusan mereka. Dia yakin jika suatu saat akan terbuka sendiri kebenarannya.


Sabda baru mengetahui jika sedalam itu Anin merongrong Aruna. Wanita itu begitu tajam membolak balikkan keadaan yang sebenarnya. Dia sudah tidak mengenal Aninditha yang dulu lagi.


"Mas, kalau bisa jangan pulang larut!" pinta Aruna. Sabda mengangguk, dikecupnya kening Aruna sebelum masuk ke dalam mobil. Dia akan berusaha pulang secepatnya karena mungkin Aruna takut di rumah sendirian.

__ADS_1


__ADS_2