
Sabda Megantara Pov
"Pyaaarrr.... " Aku melempar salah satu pot ketika melihat lelaki itu akan menyentuh gadis yang aku inginkan. Rasanya aku ingin menyeret Aruna untuk menjauh.
Hatiku menjadi gelisah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, keduanya nampak serius.
Kebetulan sekali, hari ini aku pulang lebih awal. Kepalaku ingin meledak saja mencari cara untuk mendekati Aruna tanpa menjatuhkan harga diri.
Dan sialnya, aku melihat mobil putih yang sering mendatangi butik Aruna pun berhenti di depan. Aku sudah tahu jika yang datang adalah lelaki bermata sipit itu.
Sebenarnya malam ini aku ingin sekali pergi ke club tapi moodku rusak gara-gara lelaki itu. Aku tau dia pesaing terberatku. Posisinya membuatku sedikit khawatir hingga membuat hatiku semakin riuh di dalam sana.
Author Pov
Setelah kepergiaan Abi, Aruna dibuat gelisah dengan keputusan lelaki itu, bahwa dia akan menunggunya. Seberapa kecewa Aruna menjadi alasan penolakannya pada perasaan Abimana.
"Aku tidak bisa berkomitmen denganmu, Mas. Maafkan aku." ujar Aruna saat berhadapan dengan lelaki yang kini menatapnya sendu.
Abimana tidaklah buruk bahkan dia lelaki yang lembut dan penuh perhatian. Setiap wanita akan mudah jatuh hati pada perhatian yang diberikan Abimana. Tapi, kali ini Aruna tidak ingin berjalan di atas bara.
Dengan menerima cinta Abimana berarti menikah dengan lelaki itu. Aruna memang tidak suka bermain dalam hubungan yang beresiko yang mungkin bisa terjebak dalam lingkar perzinaan.
Dia memang bukan seorang yang religius, bahkan di pun belum siap berhijab. Tapi, sedikit ilmu agama yang dia tahu, benar-benar menjadi pegangan untuknya.
"Menerima cinta Mas Abi, berarti siap menentang orang tua Mas Abi dan bisa jadi bermusuhan dengan Mariska. Ah, itu tidak benar." gumam Aruna dengan tatapan menerawang dan tangannya memasukkan popcorn dari toples yang sejak tadi dipangkunya.
Bukan karena tidak mau berjuang bersama Abimana. Aruna memutuskan untuk sendiri saja. Menikah, memang bukan prioritasnya. Setidaknya, saat ini dia bisa melakukan banyak hal sebelum bertambah tugas dan tanggung jawab setelah menikah.
###
"Apa yang kamu lakukan pada Aruna, Ris?" bentak Abimana dengan wajah yang terlihat memerah menahan amarah.
Setelah bertemu Aruna, keesokan harinya Abi menemui Mariska di kantornya. Gadis yang bekerja sebagai akunting di salah satu perusahaan asing itu pun mulai menatap lemah Abimana. Dia tak menyangka Abi bisa membentaknya hanya karena gadis yang tidak jelas asal usulnya.
"Aku hanya ingin kamu fokus sama perjodohan kita,
__ADS_1
Mas Bi." jawab Mariska dengan suara lirih.
"Tapi, dari awal aku sudah mengatakan padamu jika aku tidak ingin melanjutkan perjodohan ini." Abimana menghela nafas panjang. Sudah dari awal dia mengatakan pada Mariska jika dia hanya mencintai Aruna. Bahkan, dia meminta Mariska untuk menjelaskan semuanya pada orang tua mereka.
"Aku mencintai Aruna sejak lama." lanjut Abinama.
Mariska hanya menatap Abimana dengan tatapan sendu. Rasa kecewanya bahkan nyaris membuat hatinya terasa nyeri. Gadis yang hanya terduduk lemah tak mampu lagi berkata. Isak tangis yang masih dia tahan membuat Mariska membisu.
" Mas ABi, tapi aku ingin kita mencobanya dan... kamu membuka hatimu untukku." suara Mariska terdengar lirih tapi penuh dengan penekanan.
"Aku tidak bisa. Aku akan menolak perjodohan kita dan jangan ganggu Aruna." ucap Abimana memperingatkan. Lelaki itu kemudian berdiri dan menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di meja kerja Mariska, sebelum dia keluar dari ruangan itu.
"Mas Abi, Please. Aku mohon, berhentilah mengejar Aruna. Dia hanya gadis biasa." Mariska berusaha mengejar Abimana. Tapi Abimana hanya mempercepat langkahnya keluar.
Keduanya menarik perhatian beberapa orang hingga Mariska memutuskan memelankan suaranya dan mengikuti Abimana hingga sampai parkiran.
"Ingat, Ris! Sebaiknya jangan mengharap apapun dari perjodohan kita. Aku tidak mencintaimu." tegas Abimana.
"Adanya Aruna atau tidak, aku memang tidak ingin dijodohkan." Kalimat Abimana seperti menghentikan perdebatan itu.
Lelaki yang masih menahan emosi itu segera masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang bisa dilakukan gadis itu kecuali menatap mobil itu penuh dengan rasa kecewa, mobil putih yang kini berlahan menjauh dan menghilang.
###
Aruna baru saja membawa dua gelas jus alpukat untuk Nina dan Amanda. Dia sengaja membeli dari penjual pinggir jalan yang kebetulan sepi.
"Nia, Manda, aku bawakan jus." ujar Aruna membuat keduanya yang sedang berbincang itu pun menoleh.
"Tumben, Mbak Runa, pengertian?" jawab Amanda dengan ceplas ceplos.
"Kamunya saja yang baru nyadar." balas Aruna dengan meletakkan dua cup gelas itu di meja Amanda.
Butik, memang baru senggang. Nina dan Amanda sedang memperbincangkan masalah produk baru yang baru saja di siapkan.
"Mbak Aruna, produk terbaru kita sudah siap. Tapi, Aleta lagi KKN. Jadi gimana kalau diganti Mbak Aruna saja sebagai model peraga." ujar Amanda. Hal ini yang barusan di bahasnya dengan Nina.
__ADS_1
Butik memang baru saja memproduksi busana muslim. Makin kesini permintaan busana muslim, gamis dan scrafnya memang melonjak tinggi.
"Kalian nggak sedang ngerjain aku, kan?" cebik Aruna yang merasa aneh saja. Tubuh dengan tinggi yang cukup minimalis membuat Aruna sangat tidak percaya diri.
"Tentu saja tidak." sahut Nina.
"Makanya jangan nyari pekerja anak kuliahan, repot kalau sudah begini." sambut Amanda.
"Kok kami jadi ngomelin aku, dasar tidak sopan." cebik Aruna menyambut perkataan Amanda. Hanya dengan meributkan sesuatu yang tidak penting itu membuat suasana begitu ramai meski hanya dengan tiga orang saja.
Mereka berhasil membujuk Aruna, bahkan keduanya langsung menyiapkan pemotretan di salah satu sudut ruangan yang menampilkan jajaran baju sample. Sementara mereka tidak menggunakan studio , bahkan fotografernya pun diambil alih Amanda yang punya keahlian memotret dan mengedit.
"Astaga, kalian emang ya ngerjain aku." gumam Amanda yang keluar dari ruang ganti dengan gamis kekinian dan sebuah scraf yang terpasang dengan apik di tubuh mungil itu.
"Ya Allah, cantik amat! Kenapa tidak berhijab saja, si Mbak." pekik Amanda yang begitu mengagumi tampilan Aruna.
"Asli, Mbak Aruna cantik banget berhijab." Nina mencoba meyakinkan Aruna. Sebenarnya Aruna sudah ingin menggunakan hijab, tapi belum ada yang membuat niatnya mantap untuk merealisasikannya.
"Sudah, jangan ribut saja. Ayo selesaikan pekerjaan kita." lanjut Aruna membuat Amanda mengambil kamera yang yang memang sudah dia siapkan.
Langkah mereka terhenti saat pintu depan butik dibuka. Saat Aruna menoleh, dia menangkap sosok Fadhil dan Sabda di sana, disusul dua OB untuk mengambil pesanan seragam mereka.
Seketika itu Sabda terkesima melihat tampilan Aruna yang begitu anggun dengan balutan busana muslim. Aruna pun sempat terkejut, meski keduanya berusaha menjaga jarak tapi tatapan mata mereka tidak bisa dipungkiri jika ada keterikatan diantaranya.
"Pak Fadhil... Mbak Aruna cantik ya!" ujar Nina membuat Aruna salah tingkah saat akan memulai pemotretan.
"Jangan tanyakan itu pada saya yang sudah beristri Mbak Nina, tentu saja yang terlihat cantik dimata saya hanya istri saya." Mendengar jawaban Fadhil membuat Nina terkekeh sambil menyiapkan orderan mereka yang siap diambil.
"Kalau Pak Sabda mungkin bisa berkomentar apa adanya." ujar Fadhil mencoba menggoda Sabda yang masih asyik dengan ponselnya. Padahal konsentrasinya sudah pada Aruna.
"Iya kan, Pak Sabda?" tanya Fadhil membuat Sabda menoleh. Amanda dan Aruna menghentikan persiapan dan menunggu tamunya pergi.
"Apa?" tanya Sabda.
"Mbak Aruna cantik, kan?" Mendengar pertanyaan Itu Sabda melirik sejenak Aruna. Dalam hatinya memang mengagumi kecantikan Aruna mengenakan jilbab, Aura gadis itu terpancar begitu kuat.
__ADS_1
"Hem... " jawab Sabda singkat. Lelaki itu kembali disibukkan dengan ponselnya. Meski pikirannya berkelana tentang sosok cantik itu.
Sabda yang ingin membeli baju batik untuk acara pertunangan Bagas itu pun mulai memilih beberapa motif yang di sodorkan Nina.