Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Penyesalan


__ADS_3

"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Sabda. Lelaki yang terlihat cemas itu mencoba untuk meneliti keadaan Aruna.


"Nggak apa- apa, Mas."


"Untung saja yang jatuh tissu jadi tidak harus tercecer." lanjut Aruna dengan meminta Sabda untuk meletakkan kembali beberapa tissu dan barang yang ikut terjatuh.


"Maaf, Mbak. Keponakan saya tidak sengaja menabrak, Mbak. Dia memang tidak mau diam anaknya." sahut seorang wanita yang masih berdiri di dekat Aruna.


Terlihat gadis kecil berusia sekitar dua tahunan mengintip di balik tubuh wanita itu. Wajah manisnya terlihat begitu ketakutan dengan sorot mata merasa bersalah.


"Ayo Sil, minta maaf sama Tante dan Om." ucap wanita yang umurnya sedikit di atas Aruna itu menarik pelan keponakannya yang bersembunyi di balik tubuhnya.


Aruna tersenyum menatap gadis kecil dengan rambut dikuncir kuda, "Maafkan Sisil, ante. Sisil tidak sengaja." ucap gadis kecil itu dengan menautkan kedua jari telunjuknya dan wajah menunduk.


"Nggak apa- apa, Sayang. Lain kali hati-hati, ya." balas Aruna sambil mengelus pipi cabi gadis kecil itu.


Mendengar ucapan Aruna yang tulus gadis kecil itu mendongak, menatap Aruna yang kini tersenyum padanya. Kemudian menatap Sabda yang masih terdiam merangkul bahu Aruna.


"Om tidak marah, Sayang." lanjut Aruna saat mengerti tatapan gadis kecil yang tertuju pada Sabda.


Mendengar kalimat Aruna, Sabda pun tersenyum pada gadis kecil yang menyambut senyuman tipis Sabda dengan tepuk tangan dan binar di matanya.


"Ayo, Sil! Kita cari Mama." ujar wanita itu mengajak keponakannya mencari keberadaan mamanya. Setelah beberapa langkah, gadis itu menoleh dan melempar senyum polosnya pada Sabda dan Aruna. Sepasang pengantin baru itu memutuskan pulang setelah troli mereka penuh.


"Mas Sabda, mau kopi?" tanya Aruna saat mereka masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Boleh. Mas, akan membawa semua belanjaan masuk dulu."


Sabda masih mengangsur beberapa barang yang dia letakkan di dapur agar nanti bisa di tata kembali oleh Aruna sesuai tempatnya.


"Sayang, kamu mau bulan madu di mana? " tanya Sabda saat berdiri menatap Aruna yang sedang merebus air untuk membuatkan kopi Sabda.


Sambil menunggu jawaban, Sabda melipat lengan kemejanya hingga ke siku, "Mama yang ingin mengurus bulan madu kita Tinggal kita saja yang mau menentukan di dalam negeri atau di luar negeri?" lanjut Sabda masih menatap tubuh mungil itu. Wanita yang masih mengenakan dress bermotif floral itu tidak langsung menjawab.


"Aku bahkan tidak memikirkan itu, Mas. Rasanya kita sudah sering berbulan madu." jawab Aruna sambil membawa cangkir yang berisi kopi panas yang masih mengepulkan asap itu.


Aruna meletakkannya di meja makan, di dekat Sabda berdiri saat ini," Kita menikah secara mendadak, bahkan aku sampai kewalahan dengan banyak kerjaan yang menumpuk." sambut Aruna. Dia berfikir akan tidak tenang jika harus liburan dengan meninggalkan banyak pekerjaan yang masih terbengkalai.


Persiapan resepsi meskipun sudah ditangani oleh Mama Rosa tapi tetap saja Aruna masih punya andil dan itu membuatnya akhir- akhir ini dirinya mudah cepat lelah.


Sabda menarik lengan Aruna dan melingkarkannya tangan kecil itu di perut kerasnya. Posisi in*im yang masih membuat Aruna berdebar, apalagi saat tatapan mereka saling bertemu, Aruna selalu dibuat panas dingin oleh sosok di depannya.


"Maaf, Mas. Aku belum bisa melepaskan butik. Tapi, aku akan membicarakannya pada Nina dan Manda tentang masalah ini agar aku punya banyak waktu untuk suamiku tercinta." Aruna berjinjit, niatnya mencium singkat bibir tipis yang memeluknya itu, tapi malah di tahan oleh Sabda.


Lelaki berhidung mancung itu malah membuat ciuman Aruna yang singkat menjadi sebuah ******* yang begitu dalam hingga Aruna harus terengah meraup nafas setelahnya.


"Kamu semakin nakal, ya!" ujar Sabda melanjutkan umpan Arun untuk lebih in*im dan penuh cinta. keduanya kembali terbuai surga dunia secara spontan di tempat yang tidak direncanakan.


Aruna yang berniat hanya untuk meluluhkan hati Sabda malah keterusan. Setelah selesai mereguk nikmatnya cinta, keduanya tersenyum. Mereka tidak menyangka bisa melakukannya di dapur.


"Kamu yang membangunkan singa lapar, sayang. Jadi jangan salahkan Mas, jika kita melakukannya di sini." ucap Sabda tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Aruna bergegas berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Astaga, kenapa harus di situ." gumam Aruna, dia tidak menyangka suaminya langsung meresponnya secepat itu dan mengenalkannya cara yang baru.


###


Seorang wanita menatap foto masa lalunya bersama lelaki yang mampu mengikat hatinya hingga saat ini. Dia tidak menyangka jika beberapa kali tidak sengaja melihat kembali cinta pertamanya itu.


Sabda Megantara, lelaki itu terlihat semakin matang dan mapan. Di mata Anin, Sabda terlihat lebih menarik dari sebelumnya, berbeda saat mereka masih kuliah. Dia tidak menyangka, lelaki yang tidak peduli dengan urusan kuliahnya itu kini berhasil dengan usaha sendiri. Tidak sulit bagi Anin mencari tahu sosok Sabda Megantara dari rekan terdekatnya.


Selain ada rasa cinta di hati, dulu dia mengagumi Sabda hanya karena wajahnya yang tampan. Tapi, saat ini lelaki itu terlihat sempurna.


Tujuh tahun waktu yang tidaklah singkat, tapi Anin masih saja memikirkan Sabda. Lelaki yang merajai hatinya dengan cerita indah yang pernah mereka lalui membuat Anin tak bisa move on meski sudah mencoba hidup baru bersama lelaki yang malah membuat hidupnya semakin buruk.


Seandainya saja, waktu bisa terulang. Dia akan bertahan untuk memperjuangkan cintanya untuk Sabda. Tapi, pengaruh Rosa begitu kuat. Wanita yang dominan itu seolah menyeretnya untuk menjauh dari putra semata wayangnya.


Kembali pada kehidupannya sebelum bersama Sabda tidaklah mudah bagi Anin. Meskipun sudah menikah dan mempunyai satu putri tapi justru hidupnya semakin berantakan. Kadang dia merasa Tuhan tidak adil padanya.


Aninditha Pov


Aku tidak menyangka akan kembali ke kota ini setelah bertahun tahun menjauh secara paksa. Melihat kembali kenangan yang dulu dia lalui bersama Sabda.


Tante Rosa membuatku tidak berkutik, bahkan, wanita itu membuatku harus menerima apa yang sudah menjadi keputusannya.


Aku tahu Sabda mati- matian mencari keberadaanku. Saat itu, aku masih bersembunyi dengan rasa bersalahku pada keluarga itu.


Tapi saat ini aku merasa bukan aku yang bersalah sepenuhnya. Semuanya punya andil salah, bahkan Tante Rosa pun juga tidak bisa dikatakan benar.

__ADS_1


Seandainya saja, aku tidak menuruti Tante Rosa pasti aku bisa bahagia bersama Sabda. Banyak cinta yang dia berikan padaku, hingga aku sulit untuk move on darinya.


Tapi siapa wanita yang selalu bersama Sabda? Anin masih dibuat penasaran karena dua kali melihat Sabda, dua kali itu juga gadis mungil bermata indah itu bersama Sabda.


__ADS_2