
Sudah lama Sabda menunggu Aruna turun, karena gadis itu meminta untuk pulang sore. Tapi hingga jam menunjukkan setengah lima, tidak juga Aruna turun dari lantai atas.
"Ma, Sabda akan melihat Aruna." ucap Sabda setelah dia menghabiskan waktu bersama Mama Rosa dengan obrolan ringan.
"Iya." jawab Rosa dengan membiarkan Sabda bangkit dan berjalan menaiki tangga.
Dengan sedikit berlari, Sabda melangkah menuju kamar, diketuknya beberapa kali hingga lelaki itu berlahan membuka pintu dengan sangat pelan.
Benar saja, Aruna masih terdiam di sofa dekat jendela dengan tenang. Dan saat Sabda berjalan mendekat, dia tahu jika Aruna masih memejamkan mata. Aruna memang mudah sekali tertidur.
"Sayang... " Dengan Pelan, Sabda membangunkan Aruna, Sabda mengelus pelipis gadis cantik di depannya.
"Sayang, jadi pulang, nggak?" tanya Sabda membuat Aruna mengerjap. Dia baru sadar jika dia telah tertidur.
"MasyaAllah... jam berapa ini, Mas?" tanya Aruna, kemudian tatapannya tertuju pada jam yang menggantung di dinding kamar Sabda.
"Aku akan Salat Ashar dulu, Mas!" gegas Aruna bangkit dari rebahan. Dia kemudian menyisir rambut panjangnya dengan jari tangan dan kemudian mencepolnya ke atas.
Spontan tindakannya itu membuat Sabda tertegun, wajah cantik itu begitu seksi dengan rambut dicepol ke atas.
"Mas... " panggilan Aruna membuat Sabda kembali tersadar.
"Ayo... kita ke musala saja." ajak Sabda kemudian membawa Aruna turun dengan lift karena Aruna masih terlihat lesu.
"Mas Sabda kenapa memilih tinggal di perumahan? Rumah sebesar ini tidak ada orangnya." Aruna merasa penasaran. Rumah Sabda yang bersebelahan dengannya memang yang paling bagus dikomplek, tapi itu tidak seberapa dengan rumah kedua orang tuanya yang sepi.
"Sayang, Mas, ingin mandiri. Dan Mas lebih senang di sana, kan ramai punya banyak tetangga. Terus bisa ketemu kamu." jawab Sabda masih tersenyum menggoda Aruna.
Mereka sampai di musala yang ada di bagian samping rumah, tepatnya di dekat sebuah taman kecil dengan suara gemericik air yang mengalir di kolam.
"Mas akan menunggumu di sini." ujar Sabda dengan menoleh pada bangku panjang di dekat taman.
"Kenapa tidak bersama saja?" lanjut Aruna yang sebenarnya ingin mengajak Sabda berjamaah.
"Mas harus belajar jadi imam dulu." Aruna kemudian meninggalkan Sabda sendirian. Dia tidak akan memaksa Sabda, tapi setidaknya dia sudah mengingatkan.
__ADS_1
Setelah Salat Ashar dan merapikan kembali tampilannya. Aruna memang selalu tampil sederhana, tapi gadis itu selalu terlihat rapi dan menawan. Sungguh, akan membuat siapapun akan jatuh hati pada kecantikannya meskipun gadis itu bertubuh mungil.
"Kamu sangat cantik." puji Sabda tak begitu jelas ditelinga Aruna, hingga gadis itu menoleh bermaksud bertanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Ayo, pamitan sama Mama." ajak Sabda.
Mereka berpamitan, meski dengan berat hati dan sempat ingin menahannya tapi Rosa merasa ini sudah lebih dari cukup untuk kunjungan mereka.
Mobil sedan itu, kembali meluncur keluar dari halaman rumah megah yang penuh sejarah. Di dalamnya Aruna merasa segar, entah berapa lama dia tertidur. Kamar Sabda memang di desain cukup mewah dan nyaman.
"Apa besok Mas antar saja ke tempat acara temanmu itu?" tanya Sabda saat mereka berada dalam perjalanan.
"Nggak usah, Mas. Besok aku juga belum pasti ke sananya jam berapa. Terus aku juga masih ada janji sama orang juga yang mau order baju." ucap Aruna. Sabda tidak memaksa karena besok di kantor dia juga banyak jadwal yang harus dia isi.
Senja yang terlihat dari ufuk barat kini terlihat kemerahan. Sabda membunyikan klakson saat melewati pos security. Untung saja kaca film yang gelap membuat seseorang tidak terlalu faham siapa yang ada di dalam mobil bersama Sabda.
"Terima kasih makan siangnya, Mas." ucap Aruna saat mobil berhenti di depan rumah Sabda.
"Malam nanti masak apa? Mas tunggu delivernya." sambut Sabda sambil tersenyum. Sejak merasakan masakan Aruna, Sabda mulai sering menanyakan makan malam pada Aruna.
"Awal bulan Mas transfer bayarannya." jawab Sabda dengan wajah serius.
"Nggak usah, Mas. Lagian aku seneng ada yang bantu ngabisin masakanku. Ntar, aku deliv... " Aruna pun segera membuka pintu mobil tapi tangannya ditahan oleh Sabda.
"Deliverinya masuk rumah! Jangan cuma dicentelin di pagar." protes Sabda dengan menatap tajam Aruna.
"Takut khilaf." Aruna pun menjawab sambil keluar mobil. Gadis itu terkikik dengan jawaban yang dia lontarkan pada Sabda. Sementara, lelaki itu masih melihat wanitanya itu hingga masuk ke dalam.
###
Dengan tergesa-gesa Aruna berjalan menuju rumah Tita, rumah yang tadi pagi dia kunjungi kini sudah sangat ramai oleh para tamu.
Gadis dengan gaun batik itu berjalan langsung menuju ke halaman belakang yang ternyata acara sudah dimulai. Bahkan, mereka sudah pada acara penyematan cincin.
Semua bertepuk tangan dengan riuh, termasuk Aruna yang baru saja datang. Dia sangat senang akhirnya Tita sukses bertunangan.
__ADS_1
Aruna melambaikan tangan saat tatapan Tita mengarah padanya. Gadis cantik dengan gaun rancangan sahabatnya itu membalas dengan senyum lebar.
Setelah MC mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang ada, Aruna pun berjalan ke depan bersamaan dengan lagu yang dinyanyikan oleh organ tunggal.
"Selamat Tita, semoga lancar sampai pernikahan."ucap Aruna kemudian memeluk sahabatnya dari kecil itu.
"Terima kasih, Run. Sudah ikut menyiapkan semuanya." balas Tita dengan wajah penuh binar bahagia.
"Kenalin ini, Mas Bagas. Maaf baru bisa ngenalin saat ini." ujar Tita dengan rasa bersalah.
"Aruna."
"Bagas"
Aruna bisa mengerti. Mereka memang terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, apalagi hubungan mereka karena perjodohan membuat Tita tidak ada kesempatan untuk memperkenalkan Bagas pada Aruna.
"Aku turun dulu, ya! Semoga selalu bahagia. " ucap Aruna.
Aruna pun meninggalkan Tita, dia ingin mencari sosok yang terlihat seperti Mama Rosa, apalagi batik yang beliau kenakan Aruna hafal betul.
Aruna berjalan menyisir tepian kolam renang yang berada di tengah tempat diadakannya acara. Sambil menolah noleh dia mencari
sosok calon mertuanya itu.
"Run... " tapi panggilan itu membuat Arun menghentikan langkahnya. Aruna sempat kaget, tapi dia dan Abimana mrmang teman sejak SMU. Jadi wajar jika bertemu lelaki bermata sipit itu di sini.
"Mas Abi, apa kabar?" tanya Aruna dengan ramah. Lelaki yang kini mengenakan blazer dipadu dengan celana jeans itu pun tersenyum, saat melihat sikap Aruna yang sama.
"Baik... " jawab Abimana dengan perasaan rindu yang sudah tak tertahan untuk gadis di depannya.
"Kamu sendirian?" lanjut Abimana.
"Iya, Mas. Tadi pagi sudah ke sini. Eh, sorenya malah telat." lanjut Aruna, dia berusaha bersikap seperti biasanya.
"Bisa kita bicara sebentar, Run. Maksudku, mencari tempat yang sedikit menyingkir." jelas Abimana, dia ingin membahas kembali hubungannya dengan Aruna. Dia masih ingin memperjuangkan gadis yang sudah lama dia cintai.
__ADS_1