
"Astaghfirullah hal- adzim... " Aruna menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia merasa tubuhnya lemah sekali setelah sepersekian menit menahan gejolak yang mendera di dada.
Bertemu dengan wanita itu selalu saja menguras emosi hingga Aruna masih merasakan tubuhnya gemetar. Diraihnya jus yang sempat dia pesan. Kemudian, menyesapnya dengan pelan agar tidak tersedak.
"Ya Allah, hamba merasa lelah." gumam Aruna dalam hati. Rasanya dia sudah lelah jika harus berputar-putar dengan masalah yang sama.
Aruna mengelus pelan perutnya. Dia berharap calon bayinya akan baik - baik saja di dalam sana. Kehamilan kali ini membuat kondisi tubuhnya sering tidak stabil. Bahkan, dia mudah sekali jatuh pingsan jika sedikit tertekan atau kelelahan.
Sejenak dia terdiam kemudian meraih ponselnya, berniat untuk memesan taxi. Tapi, banyaknya panggilan dan sebuah pesan masuk dari Sabda membuat Aruna ingin membaca pesan dari suaminya terlebih dahulu.
'Kamu dimana? Kata Mama belum sampai di sana?'
'Mungkin habis magrib, Mas, baru sampai rumah Mama'
Dua pesan dari Sabda membuat Aruna enggan untuk membalas. Rasanya masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Meskipun, di depan wanita itu Aruna berusaha baik - baik saja.
Setelah memesan taxi online. Akhirnya Aruna pun membalas pesan Sabda. Dia tidak ingin menyelesaikan semua dengan emosi. Iya, permasalahan dalam rumah tangganya memang tidak bisa diselesaikan dalam semalam. Ah, dia tidak bisa membayangkan jika suaminya menikmati hubungan itu dan melakukannya hingga berkali kali dengan perasaan cinta.
'Aku masih belanja, Mas.' balas Aruna.
Dia memang harus pandai menggenggam perasaannya, rasa yang kadang menyulut emosi, rasa tidak percaya sepenuhnya dan rasa cintanya yang masih begitu besar. Dia harus menggenggam banyak rasa hingga bisa terkontrol dengan baik agar semua tetap tenang.
Setelah hampir dua jam, Aruna sampai di rumah Mama Rosa. Kemudian di susul mobil Sabda kini masuk ke dalam garasi.
Setelah mengucap Salam Sabda masuk ke dalam rumah. Terlihat Mama Rosa sedang menyiapkan makan malam bersama asisten rumah tangganya.
"Ma, apa kabar? Aruna mana? " tanya Sabda saat melihat mamanya sedang menatap makanan di meja. Lelaki bertubuh tinggi dan tegap itu memeluk mamanya sejenak.
"Mama memintanya istirahat. Sejak datang, wajah Aruna kelihatan pucat." Mendengar kalimat mamanya, Sabda langsung meletakkan gelas yang belum diminum isinya dan berlari menaiki tangga.
__ADS_1
Berlahan dia membuka pintu kamarnya. Kamarnya terlihat hening. Terlihat, Aruna bergelung selimut.
Wajahnya memang terlihat pucat. Disingkirkan rambut poni istrinya, hingga wajah imut itu terlihat begitu tenang meskipun terlihat pasi.
"Kamu nggak enak badan?" tanya Sabda. Saat mata bulat itu menatapnya. Tapi, wanitanya itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Sabda mendaratkan ciuman di kening Aruna, "jika kamu merasa sakit, bilang Mas, ya!" bisik Sabda kemudian kembali menegakkan tubuhnya.
Lelaki itu sebenarnya merasa cukup khawatir, tapi saat berkonsultasi setiap kali mereka melakukan pemeriksaaan bulanan, dokter selalu mengatakan jika perubahan dan kondisi tidak stabil memang sering dialami ibu hamil dikarenakan perubahan hormon.
"Mas bawakan rendang dari warung nasi padang yang kamu mau." ucap Sabda. tatapannya masih menatap Aruna dengan penuh selidik.
Berlahan Aruna pun bangkit dibantu Sabda. Dia pun menatap lelaki yang duduk di sebelah Kemudian menyandarkan kepalanya di lengan besar Sabda. Hingga Sabda membalasnya dengan mendaratkan kecupan kecil di puncak kepala istrinya.
"Kenapa?" tanya Sabda masih belum hanya bisa mengusap punggung Aruna dengan satu tangan di sebelahnya.
"Hanya lelah, Mas." ucap Aruna. Dia bukan lelah fisik. Tapi lelah karena di hadapkan pada situasi yang terus menguras emosinya.
"Apa yang membuat kamu lelah. Kamu nggak boleh capek dan stress, Sayang! Pikirkan dia!" ucap Sabda dengan mengelus perut istrinya. Lelaki itu memang tidak mau lengah seperti dulu.
"Kita bersiap makan malam ya!" ucap Sabda. Aruna pun mengangguk mengiyakan.
Sebenarnya Aruna ingin menceritakan pada Sabda tentang pertemuannya pada wanita itu. Tapi dia dalam hatinya dia selalu merasa gamang.
Sabda dan Aruna turun ke lantai bawah menggunakan lift setelah Sabda membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah seharian bekerja.
"Kamu lebih ganteng dengan rambut barumu." komentar Mama Rosa membuat Aruna menatap suaminya.
"Mau dibikin kayak gimana pun kalau sudah ganteng, ya, tetap ganteng, Mam." balas Sabda dengan suara datar. Aruna memang tidak heran jika Sabda menjawabnya seperti itu.
__ADS_1
Mereka menyelesaikan makan malam dengan tenang dan dilanjutkan dengan membahas tujuan Mama Rosa mengundang mereka makan malam.
Menu malam ini memang didominasi daging dan dilengkapi dengan salad. Sabda mengatakan jika Aruna lagi ingin makan yang berbau daging.
"Ada yang ingin Mama bicarakan." ucap Mama Rosa setelah membersihkan mulutnya dengan sapu tangan.
"Sabda juga, Ma. Tapi, lebih baik Mama terlebih dahulu yang bicara." sambut Sabda.
"Perusahan Mama sedang bermasalah, proyek pembangunan resort di sebuah kepulauan kecil sedang terbengkalai, karena penduduk setempat menentang. Jika Mama tidak bisa menyelesaikannya tahun ini, mungkin akan kena pinalti yang tidak sedikit." ucap Mama Rosa dengan wajah lesunya. Aruna dan Sabda masih menyimak.
"Mama ingin kamu menghandle semuanya, Da." Wanita yang biasa tegas itu menatap putranya dengan tatapan memohon.
"Tapi Sabda tidak yakin bisa, Ma. Selama ini Sabda hanya bergelut di bidang marketing dan otomotif." ucap Sabda. Bukannya tidak yakin bisa, tapi satu sisi dia juga memikirkan Aruna yang sedang hamil dan membutuhkan perhatiannya.
Tapi, satu sisi dia juga memikirkan perusahaan mamanya. Perusahaan yang mamanya bangun mati-matian hingga wanita itu tidak punya waktu untuk keluarga. Sabda tahu, tanpa perusahaan itu mamanya juga tidak akan kekurangan, tapi keberadaan perusahaan itu adalah identitas dirinya atas kemampuan dan perjuangannya selama ini. Kenangan terbaik saat masih berjuang dengan papanya yang seorang arsitek.
"Mama berharap kamu bisa melakukannya untuk Mama. Mama tidak akan memaksa jika itu tidaklah penting. Mama mengerti di dunia ini tidak ada yang abadi. Tapi, jikalau usaha mama harus runtuh, itu setelah mama tidak ada di dunia ini, Da." pinta Rosa. Wanita itu menyadari siklus dunia memang ada. Ada yang memulai ada pula yang harus berakhir.
"Ma, Aruna hamil." ucap Sabda.
"Apa?" Mama Rosa terlihat begitu antusias meskipun Ada rasa tidak percaya setelah goncangan hebat melanda rumah tangga putranya.
"Iya, Ma. Aruna hamil dan itu yang membuat Sabda berat meninggalkan Aruna dengan kesibukan Sabda." lanjut Sabda. Tapi, Rosa merasa sudah tidak peduli. Dia hanya fokus pada berita kehamilan menantunya.
"Iya, Ma. Aruna hamil cucu Mama." lanjut Aruna untuk meyakinkan mertuanya.
"Ya Allah, selamat ya, Sayang." Rosa beranjak dari duduknya dan menghampiri Aruna. Wanita itu memeluk menantunya penuh dengan rasa haru.
"Berapa bulan?" tanya Rosa.
__ADS_1
"Tiga bulan." jawab Aruna.
"MasyaAllah... itu artinya sebentar lagi Mama akan selamatan menyambut cucu Mama. " ucap Rosa. Dia sangat bahagia hingga dia lupa pembahasan awal bersama putranya.