
Aruna mengerjapkan mata, rasanya ada yang aneh ketika bangun tidur kali ini. Badannya terasa terhimpit benda berat.
Kesadaranya mulai pulih dan menyadari jika Sabda memeluknya begitu erat. Aruna tersenyum geli menertawakan diri sendiri karena belum terbiasa dengan status baru yang ternyata dia sudah menikah.
"Mas, bangun! " Aruna menggoyang tubuh besar yang memeluknya.
"Hmmmm." Sabda hanya bergumam dan tidak bergeming sedikit pun.
Sejenak, dia menatap wajah tampan di depannya. Hidung mancung, Alis tebal dan bibir tipisnya itu. Sabda memang sosok idaman wanita, tidak hanya ganteng, lelaki yang punya karakter kuat itu juga tajir.
"Mas, Mama Rosa kan mau balik? Ayo, bangun!" lanjut Aruna berusaha menyingkirkan lengan berotot itu dari atas perutnya. Tapi percuma.
"Sudah bangun!" jawab Sabda masih dengan memejamkan mata. Dia juga tidak bergerak sama sekali membuat Aruna mendesah kesal. Jika sudah seperti ini, rasanya percuma untuk Aruna yang ingin
pergi ke kamar mandi.
"Adiknya udah bangun, sayang." lanjut Sabda. Matanya terbuka menatap Aruna dan senyum menyeringai pun nampak diantara bibir tipisnya. Rasanya begitu nyaman bangun tidur memeluk wanita secantik istrinya.
Aruna hanya mengatupkan kedua matanya dengan kuat. Rasanya lelaki di sebelahnya selalu saja hal itu yang dia bahas. Padahal, bagi Aruna yang memang tidak berpengalaman dalam hal percintaan, itu sangatlah tabu.
"Baiklah, Mas yang akan ke kamar mandi dulu!" Sabda langsung mencium pipi Aruna dan segera bangkit untuk ke kamar mandi.
Sementara, Aruna masih mematung mengusap pipinya sambil tersenyum. Dia tidak menyangka saja jika Sabda yang pertama dia lihat sangat berbeda dengan yang sudah dia kenal. Lelaki yang memberi kesan cool dan kharismatik itu kenyataannya adalah sosok yang punya pemikiran absurd.
Sabda dan Aruna keluar kamar bersama layaknya pengantin baru. Sabda benar- benar tidak ingin melepaskan Aruna. Nampak Mama Hesti sedang mempersiapkan beberapa oleh-oleh untuk besannya.
"Sudah- sudah, Jeng. Ini sudah terlalu banyak." terdengar Mama Rosa berusaha menghentikan gerakaan Mama Hesti.
"Nggak apa- apa. Ini hanya sekedarnya saja, Jeng." balas Mama Hesti pada Rosa.
Ya, dua wanita paruh baya itu sibuk dengan sendirinya tanpa menyadari Sabda dan Aruna sudah turun dan menghampiri mereka.
"Ehm... ehm... Mama jadi balik sekarang?" tanya Sabda. Tak terasa anak dan ibu sekarang sudah akur. Tidak ada kalimat dingin atau sekedar kalimat sarkas diantar mereka.
__ADS_1
"Eh, Kalian sudah bangun." balas Rosa dengan tatapan menggoda. Dia ingin meledek putranya jika saja tidak ada besannya di sini.
"Mama akan pulang sekarang! Nanti jika kalian sudah pulang, menginaplah di rumah!" pinta Rosa.
"Baik, Ma." jawab Sabda dengan mengantar mamanya berjalan ke arah mobil yang sudah siap.
Rosa memeluk putranya, kemudian Aruna dan mencium kening menantunya," Semoga kalian selalu bahagia." ucap Rosa dengan tulus. Dia selalu berharap kebahagiaan akan ada untuk keluarga yang baru dibangun putranya.
Sabda pun membuka pintu mobil untuk mamanya. Wanita anggun itu masuk ke dalam dan membuka jendela mobil. Dia melambaikan tangan ke arah Sabda dan Aruna. Mobil sedan mewah itu pun meluncur diantar pagi yang masih pekat.
"Banyak yang lewat untuk jalan santai, Sayang. Kita ikutan yuk!" ujar Sabda sambil merangkul tubuh mungil di sampingnya.
"Ih...malu, aku nggak pernah, Mas." sambut Aruna sambil menggeleng.
"Makanya dicoba!" bujuk Sabda. Akhirnya Aruna pun mengiyakan apa yang diinginkan suaminya.
Setelah berpamitan dengan Mama Hesti, mereka mulai berjalan menyusuri jalan yang cukup lenggang. Suasana masih petang dan hawa dingin masih menembus ke tulang.
Tak terasa mereka berjalan cukup jauh, hingga sampai di sekitar stadium yang biasanya cukup ramai, tapi pagi ini suasan sedikit lenggang. Di sana hanya ada beberapa orang berolahraga, pemuda yang saling bergerombol.
"Run, Mas, temani." jawab Sabda.
"Mas di sini, saja. Kita makannya di sini agar lebih nyaman karena tidak terlalu ramai." elak Aruna menahan Sabda. Dia tidak ingin Sabda ikut mengantri.
Aruna pun bergegas berjalan beberapa meter hingga sampai pada penjual bubur kacang hijau. Gadis itu memesan kacang hijau dicampur ketan hitam untuk beberapa porsi.
Dari jauh, Sabda menatap istrinya sambil tersenyum. Saat mengantri, Dia melihat Aruna menoleh ke arahnya kemudian tersenyum. Aruna memang pengertian. Dia juga tidak tega jika orang lain kesusahan. Wanita cantik dan baik, sabda merass beruntung dipertemukan pada gadis seperti Aruna.
Sebuah notifikasinya di ponselnya pun terdengar. Sabda kemudian merogoh saku hodienya untuk menemukan benda pipih tersebut.
Nathan mengirim pesan padanya. Tidak seperti biasa, temannya itu mengirim pesan, biasa juga langsung menelpon. Sabda pun membuka isi pesan tersebut.
Saat melihat foto yang dikirim Nathan, dia sempat merasakan desiran di jantungnya. Foto wanita yang menghilang dan sempat ingin dia temukan.
__ADS_1
[Tidak sengaja aku bertemu Anin. Dia ada di kota ini] terselip pesan dari sahabatnya itu.
Sejenak Sabda tertegun, hingga akhirnya dia memilih untuk menghapus foto perempuan yang pernah merajai hatinya sebelum membuat dirinya terluka.
Entah berapa tahun dia berusah mencari Anin, menelusuri jejak yang tidak dia tinggalkan sama sekali. Tapi, nyatanya dia benar-benar sudah kehilangannya, gadis itu pergi tanpa pamit. Yang dia tahu, itu karena mamanya.
"Aku sudah menikah, Aruna gadis yang baik dan tidak selayaknya aku menyakiti hatinya." pikir Sabda.
Lelaki yang sempat terlena dengan perasan masa lalu itu kembali tersadar. Ketika dia mencari keberadaan, Aruna, istrinya sudah di hadang empat berandalan.
Sabda langsung berdiri dan berjalan cepat menghampiri Aruna. Meskipun dari kejauhan, wajah Aruna sudah terlihat panik.
"Heh, jangan berbuat brengsek di sini! Dia istriku." dengan lantang suara Sabda membuat mereka menoleh ke arahnya.
Lelaki bertubuh tinggi tegap menghampiri Aruna dan menarik tubuh mungil itu di belakangnya.
"Kalian bisa memilih, pergi atau aku buat babak belur." Sabda baru saja selesai bicara bicara salah satu dari mereka maju dan melayangkan pukulan ke arah Sabda. Untung saja, Sabda dengan sigap menghindar dan memberinya satu pukulan hingga membuat berandalan itu terhuyun jatuh.
"Ayo kita pergi saja!" bisik lainnya sedangkan yang satunya membantu temannya yang terjatuh itu. Dari cara Sabda memukul, mereka tahu jika Sabda bukan lawan yang sembarangan.
"Sayang, kamu tidak apa? Maaf, Mas baru tahu jika kamu ada yang mengganggu." ucap Sabda sambil melirik ceceran bubur di bawahnya.
"Aku juga nggak tahu jika di sini banyak berandalan seperti mereka, Mas." ujar Aruna dengan melepaskan cengkeraman tangannya di baju Sabda.
Aruna kemudian menunduk, tangannya membersihkan sebelah kiri kakinya, karena dia sempat terjatuh.
"Kulitmu lecet, sebaiknya Mas gendong saja." tawar Sabda.
"Aku nggak apa, Mas. Kita langsung pulang saja." ujar Aruna. Dia berjalan dengan memegangi tangan Sabda karena kakinya sedikit nyeri.
"Mas gendong saja. Jarak ke sini sampai rumah masih lumayan jauh." Sabda langsung berjongkok. Tapi Aruna hanya mematung menatapnya. Gadis itu merasa malu, mungkin itu akan mengundang perhatian orang yang melihatnya meski suasana belum terlalu ramai.
"Ayo, Run. Kita juga harus persiapan balik." desak Sabda. Akhirnya Aruna naik ke punggung Sabda. Menyilangkan kedua lengannya di depan dan menyembunyikan wajahnya di leher Sabda.
__ADS_1
Aruna malu seperti ini, karena ini bukan drama Korea. Tapi, bagi Sabda saat sentuhan dan hembusan nafas Aruna terasa di lehernya. Dia merasa Aruna benar-benar menguji hasratnya.