Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Tegas Sabda


__ADS_3

"Astagfirullah..." Sejenak Aruna tertegun. Benarkah jika suaminya kembali bertemu dan berhubungan dengan wanita itu?


Pikirannya melayang- layang tentang Sabda. Ternyata, dia masih saja merasa terkejut dengan foto- foto kebersamaan Sabda dengan wanita itu.


"Mas Sabda benarkah kamu membohongiku?" gumam Aruna. Suaranya nyaris tidak terdengar, tentu saja dia hampir menangis.


Dia akhirnya memutuskan untuk menemui wanita itu. Ingin menuntaskan semuanya. Aruna memilih memesan taxi online. Sebelum bersiap- siap untuk pergi.


"Mbak Runa, taxi-nya sudah datang." Bu Ninik mengetuk beberapa kali pintu kamarnya.


"Iya, Bu. Sebentar!" jawab Aruna sedikit gugup. Perasaan cemas memang tidak bisa membuatnya tenang, bahkan beberapa kali dia menjatuhkan barang yang dia pegang.


Dengan tergesa, Aruna keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat menegang dengan gerakan yang tergesa-gesa, dia menuruni tangga.


"Mbak Runa, hati- hati." ujar Bu Ninik saat melihat tubuh Aruna tidak seimbang ketika menuruni tangga.


Aruna merasa jantungnya terus berdetak tak karuan. Pikirannya kembali terus berkutat tentang hubungan suaminya dengan wanita itu. Selama ini dia berharap Sabda tak lagi menemui wanita itu.


"Bu, tolong pamitkan ke Mama jika saya keluar sebentar." pinta Aruna. Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian mengiyakan permintaan Aruna meskipun dalam hatinya merasa bertanya-tanya akan kepanikan Aruna yang terlihat jelas di wajah majikannya.


"Kafe Kayangan, Pak." ucap Aruna saat dirinya baru saja duduk di bangku belakang.


Sejenak dia menyandarkan kepalanya. Isi otaknya kini berputar tentang kebenaran. Benarkah Sabda mengulang kesalahan yang sama? Tapi, foto itu bukan editan. Aruna sudah melihatnya secara cermat.


Matanya memanas membayangkan cinta masa lalu yang belum usai dari suaminya. Tangan dingin itu menyusut air yang mengembun di sudut matanya. Kemudian, Aruna mengeluarkan ponsel dan mengirimkan semua foto yang dikirim Aninditha padanya.


[ Kenapa memaksa untuk mempertahanku jika cinta masa lalumu belum usai.]


Aruna kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah mengirim pesan yang dia tulis untuk Sabda. Saat ini, menata perasaannya jauh lebih mudah dari pada pertama kalinya dia terluka.


Taxi berhenti di depan sebuah kafe yang cukup ramai. Aruna menolah-noleh mencari keberadaan wanita itu. Kakinya yang melangkah masuk pun terhenti saat ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Sabda.

__ADS_1


"Di mana, Sayang?" pertanyaan Sabda langsung terdengar ketika dia membuka panggilan dari ponselnya.


"Di kafe Kayangan, Mas." jawab Aruna dan seketika panggilan Sabda terputus.


Aruna kembali melangkah, kali ini dia mendekati wanita yang duduk di dekat jendela.


Biar bagaimana pun dia berusaha tenang, tapi jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Tentu saja wajahnya terlihat menegang, membuat wanita yang kini di hadapannya tersenyum tipis.


Aninditha tahu jika ketegangan tidak bagus untuk wanita hamil dan dia akan terus mengendalikan situasi seperti ini. Agar kondisi Aruna berlahan semakin buruk.


"Selamat datang, Aruna." Kalimat Aninditha menyambut kedatangan Aruna.


"Ada apa?" tanya Aruna. Dia berusaha menyembunyikan ketegangan dan rasa cemas yang berkecamuk dalam hatinya.


"Silahkan duduk dulu! Kita hanya perlu sedikit meluruskan sesuatu." Aninditha menanggapi kalimat Aruna. Aruna masih terdiam, itu membuat Aninditha merasa jika Aruna sedang gelisah.


"Baiklah, aku hanya ingin sedikit berbincang tentang hubungan kita. Aku, kamu dan Sabda." lanjut Aninditha.


"Maksudnya?" Aruna seperti susah untuk mengungkapkan kekesalannya pada wanita yang sering kali membuatnya emosi.


"Aku hanya tidak mengerti tentang semua ini? Apa maksud Mbak Anin mengatakan ini semua?" tanya Aruna, dia sebenarnya sudah tidak kuat untuk meledakkan emosinya. Tapi, dia tidak ingin wanita di depannya bersorak penuh kemenangan karena dirinya yang meledak. Dia juga tidak ingin jadi tontonan di tempatnya yang ramai.


"Aku hanya ingin kamu tahu. Aku dan Mas Sabda masih sering bertemu. Intinya keberadaanmu tidak ada artinya bagi kami" ujar Anin.


Aruna hanya terkekeh, dia memalingkan wajahnya dari aninditha, Rasanya dia sudah muak dengan semuanya.


"Foto ini Asli, bukan editan dengan tanggal yang jelas" jelas aninditha saat menunjukkan fotonya bertemu Sabda di apartemen.


"Haruskah aku bilang seribu kali agar kamu bisa mengerti? Buatlah Mas Sabda meninggalkan aku. Kamu bisa dengan bebas memilikinya." geram Aruna yang sudah merasa lelah menghadapi ini semua.


"Tidak akan! Dan jangan pernah berharap itu." suara bariton itu membuat keduanya menoleh.

__ADS_1


Sabda maju selangkah ke arah Aruna. Rahangnya mengeras dengan mata tajam tertuju yang pada wanita yang dulu pernah mengisi hatinya.


"Sebaiknya kita selesaikan sekarang. Jangan ganggu Aruna lagi!" ucap Sabda terdengar begitu dingin. Dia sengaja tidak menanggapi Anin selama ini agar masalah ini bisa mereda sendirinya. Tapi, kenyataannya wanita itu tidak mau berhenti sampai di situ, hal itu yang membuat Sabda menjadi geram.


"Sebaiknya seperti itu. Aku merasa kamu menghilang begitu saja dari hidupku." ucap Aninditha.


Aruna masih terdiam, saat ini dia merasa hanya sebagai orang ketiga dari kedua orang yang saling bersitegang itu.


"Menghilang darimu adalah hal yang benar. Kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi." lanjut Sabda. Sesekali dia melirik Aruna, dia hanya meyakinkan Aruna agar baik- baik saja.


"Jangan katakan jika kamu khilaf. Setelah itu, kita juga pernah bercumbu, kan?" Mendengar kalimat Aninditha wajah Sabda mulai memerah, bahkan nafasnya terdengar memburu.


Apalagi Aruna yang mendengarnya. Wanita itu masih saja terluka mendengarnya. Sedangkan Sabda masih menatap tajam wanita yang pernah dianggapnya baik.


"Setelah semua yang terjadi? Kamu akan pergi begitu saja?" Anindhita tersenyum kecut. Dia sangat kecewa dengan Sabda. Bahkan, kalimat Sabda benar-benar membuatnya sakit hati.


"Makanya kita wanita harus bisa menjaga kehormatan. Tidak ada yang menjamin harga diri seseorang kecuali diri kita sendiri." sahut Aruna. Wajah Anindhita langsung memerah. Iya, wanita yang dia benci seolah menjatuhkan harga dirinya hingga sejatuh- jatuhnya.


" Apa kamu masih percaya begitu saja dengan suamimu yang memang pernah tidur dengan perempuan lain?" sahut Aninditha tak kalah tajam. Ada nada geram yang terlontar di antara kalimatnya.


Wajah Aruna terasa memanas. Dia baru mulai menyadari beberapa pasang mata mulai tertuju pada mereka. Dia kembali menghela nafas panjang agar bisa mengurai ketegangan di hatinya.


"Aku ingatkan dirimu untuk menjauhi Aruna! Aku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari yang kamu pikir!" Seketika Sabda menoleh ke arah Aruna. Lelaki itu kemudian menggenggam tangan dingin istrinya.


"Biarkan kami tenang! Karena tidak akan mungkin aku berpaling padamu." lanjut Sabda dengan tegas.


"Lelaki yang pernah berkhianat dan kamu memaafkannya. Maka, dia akan mengulangi lagi." Anindhita mulai terdengar Arogan.


Aruna yang langsung berdiri membuat Sabda menghentikan niatnya untuk memberi penegasan pada Anindhita.


"Tidak ada habisnya kita bahas ini. Kita semua sudah tahu kebenarannya seperti apa. Mas Sabda memang pernah mengkhianati aku, tapi biarlah itu jadi urusanku dengannya. Jadi, berhentilah mengusikku! Karena aku tidak akan peduli lagi dengan semuanya." ucap Aruna mengakhiri perdebatan itu. Perutnya sudah terasa kaku dan sesekali terasa kram.

__ADS_1


"Dengarkan aku Anindhita. Jika habis wanita di dunia ini, aku tidak akan berpaling padamu. Jika kamu berani mengusik istriku lagi, maka aku tidak segan- segan menyebarkan videomu bersama Royan." ancam Sabda yang langsung berlari mengejar Aruna.


Aninditha hanya duduk terpaku. Video, benarkah Sabda mempunyai video saat dirinya bersama Royan? Dari mana lelaki itu tahu hubungannya dengan Royan? Mendengar apa yang dikatakan Sabda membuat tubuhnya terasa lemah.


__ADS_2