
"Kalian di sini? " tanya Mama Rosa saat membuka matanya, beliau melihat Aruna dan Sabda sudah ada di sampingnya. Wanita itu tersenyum pada menantunya. Aruna memang wanita yang baik.
"Mama, apa yang Mama rasakan?" tanya Aruna.
"Mama hanya pusing. Mungkin, karena setiap malam Mama susah tidur." jawab Rosa dengan nada lirih. Wanita yang biasa terlihat tegar itu pun harus jatuh sakit juga.
Aruna melirik sekilas Sabda, membuat laki- laki bertubuh tinggi itu kembali salah tingkah. Tatapan menuduh Aruna membuat wajah Sabda berubah merah.
"Mama jangan banyak pikiran. Jika Mama sakit, banyak orang yang akan sedih." ucap Aruna, tangan mungil itu mengusap lengan Rosa yang tidak diinfus.
"Bagaimana Mama tidak banyak pikiran. Mama sudah kehilangan calon cucu Mama dan pernikahan kalian terombang-ambing seperti ini." ucap Rosa dengan tatapan melamun. Dia memang sedih memikirkan pernikahan putranya dan kembalinya Aninditha membuat sebuah kemarahan yang sudah lama terpendam kini kembali tersulut.
"Maafkan Aruna, Ma." lanjut Aruna. Dia tidak tahu lagi akan mengatakan apa kepada mertuanya. Aruna juga tidak ingin memberikan janji palsu.
"Ma, Sabda akan mencari makan siang buat kita." pamit Sabda, lelaki itu langsung keluar ruangan meninggalkan dua wanita yang memang butuh waktu untuk bicara empat mata.
Atmosfir di dalam ruangan itu menjelma begitu serius. Aruna duduk di sebelah Rosa yang sedang berbaring menatapnya. Wanita itu begitu sayang dengan Aruna, Rosa juga merasakan bagaimana dikhianati dua orang yang dia percaya.
Tapi di lain sisi, dia tetaplah seorang ibu. Sosok yang selalu berjuang untuk putranya agar mendapatkan yang terbaik.
"Mama ingin meminta sesuatu padamu, Run." kalimat Rosa memecahkan keheningan diantara mereka. Aruna yang tidak mengerti maksud mertuanya, menatap lembut wanita cantik yang terbaring lemah itu.
" Mama mohon berikan Sabda kesempatan. Sekali saja, berilah kesempatan untuk pernikahan kalian." lanjut Rosa. Tatapan mereka saling bertemu. Aruna yang sedikit terkejut itu menatap bingung Mama Rosa.
"Mama bisa mengerti perasaanmu. Tidak mudah memaafkan sebuah pengkhianatan apalagi melupakannya." lanjut Mama Rosa ketika melihat Aruna tidak bergeming.
"Mama juga pernah merasakannya. Bahkan, mungkin lebih menyakitkan." Sontak saja kalimat terakhir Mama Rosa membuat Aruna mendongak. Menatap wanita yang tengah tersenyum itu dengan raut wajah tidak percaya.
"Benarkah, Ma?" lirih Aruna. Suaranya tiba-tiba menjadi serak dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sebenarnya dia sudah ingin menutup rasa sedihnya, tapi tetap saja dia masih tidak bisa menahan tangisnya. Rosa hanya menjawab Aruna dengan anggukan.
"Aku takut Mas Sabda akan selingkuh lagi." ucap Aruna dengan menatap Mama Rosa.
"Biar bagaimanapun, Mama sangat mengenal Sabda, Mama yakin dia hanya mencintaimu, Run. Jika kemarin dia terlena, dia hanya masih penasaran dengan cinta masa lalu yang belum usai." Rosa berusaha membujuk.
"Iya, kamu boleh menganggap Mama egois. Tapi, memang itulah kenyataannya. Seorang ibu akan selalu berharap yang terbaik untuk putranya." Rosa memang tidak memungkiri jika Aruna akan menganggap dirinya egois tanpa memikirkan perasaannya.
__ADS_1
Aruna masih terdiam, apalagi masih terngiang ceramah ustazah Salwa jika seorang perempuan tidak akan mencium wanginya surga jika dia menuntut cerai dari suaminya. Bagaimana dia bisa menyangkal itu? Alasan apa yang tepat untuk mematahkan dalil itu?
Aruna benar-benar dibuat bimbang. Sungguh, hanya perasaan cintanya dengan Sabda saja sudah membuat dirinya berdiri diantara rasa bimbang antara berpisah dan bercerai.
Sebelum menikah seseorang mungkin sudah berfikir ribuan kali untuk melanjutkan sisa hidupnya dengan seorang pria pilihannya. Begitupun saat memutuskan akan berpisah. Dia juga berada pada titik dilema yang luar biasa, banyak hal yang harus dia yakinkan. Tentang perasaannya, tentang emosinya, perasaan orang-orang terdekatnya dan kehidupan setelahnya.
Aruna mendesah pelan. Dia benar-benar merasa bingung. Jika dia akan memutuskan kembali pada Sabda, dia akan berada pada titik perjuangan baru. Yaitu menata hati dan perasaannya untuk bisa menerima jika pernikahan mereka pernah ternodai.
"Run, Mama mohon! Hanya satu kali kesempatan. Jika memang terjadi lagi, Mama yang akan mendukungnu untuk berpisah dari Sabda." Mama Rosa terus saja membujuk Aruna hingga menantunya akhirnya mengangguk pelan.
"Aruna akan mencoba, Ma." Rosa mencium tangan menantunya, ada jutaan kata terima kasih yang tidak mampu dia ucapkan pada menantunya.
Setelah Aruna pikir untuk menerima kembali Sabda, dia pikir, dirinya sudah pernah terluka hingga hatinya mungkin tidak bisa utuh lagi. Tapi, setidaknya dia akan mencoba untuk orang-orang yang dia sayangi.
"Jika suatu saat Mas Sabda berselingkuh lagi, Aruna tidak akan ragu untuk pergi." ucap Aruna dengan mantap.
Bagi Aruna jika Sabda memang berselingkuh dengan cinta lamanya mungkin saja lelaki itu belum bisa mencintai dirinya dengan sepenuhnya. Meski pada akhirnya Sabda memilih untuk mempertahankan dirinya.
Terkecuali jika Sabda memang tipe pria yang mudah jatuh cinta pada orang baru, mungkin Aruna akan memilih mundur. Karena itu adalah watak yang akan membuat lelaki mengulangnya berkali-kali.
Aruna merasa sudah telanjur basah menjalaninya. Dia hanya cukup sekali untuk mencoba, lebih tepatnya meyakinkan dirinya akan sifat lelaki yang sudah dia pilih menjadi imamnya.
"Mama sayang kalian. Kamu sudah Mama anggap putri Mama, jadi Mama juga akan melindungimu." Rosa menggenggam begitu kuat tangan menantunya. Banyak harapan yang dia labuhkan akan pernikahan putranya tanpa mengungkap aib lama.
###
"Terima kasih, masih memberikan kesempatan pada Mas." ujar Sabda dengan menggenggam jari- jari kecil Aruna. Hatinya begitu bahagia, hingga dia tidak lagi bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
Pagi-pagi sekali mereka pamit pada Mama Rosa jika akan pulang dan Sabda akan mengurus pekerjaannya sebentar.
"Hanya sekali." ucap Aruna.
"Aku akan mencobanya demi mereka orang-orang yang aku cintai. Meskipun cinta untukku terkalahkan dengan cinta masa lalu suamiku." sarkas Aruna. Dia sudah tidak ingin membahas lagi tentang perasaan.
Sabda mendesah pelan, dia tidak ingin mendebatkan apapun. Kenyataannya dia salah, dia tidak menyadari jika istrinya sudah menguasai perasaannya. Tapi, jika saat ini dia katakan itu, mungkin Aruna hanya menertawakan dirinya dengan anggapan sudah berbohong.
__ADS_1
Mobil berhenti pada sebuah, rumah makan yang sudah di janjikan oleh manager bank. Mereka akan bertemu untuk membahas beberapa kontrak dan kesepakatan.
"Ayo turun cuma sebentar!" ajak Sabda.
"Aku nggak enak, Mas. Ini masalah kerjaan Mas Sabda sedangkan aku hanya orang luar." tolak Aruna. Hingga akhirnya Aruna ikut turun karena Sabda terus saja membujuknya.
Sabda bisa melihat Anin dan managernya sudah duduk menunggu. Dari kejauhan Anin menatap tajam Sabda yang terus menggenggam tangan Aruna. Wajahnya terlihat memerah menahan rasa cemburu yang begitu hebat.
"Selamat siang!" ucap Sabda kemudian duduk di depan kedua partner kerjanya.
"Siang, Pak Sabda." jawab Pak Royan.
Mereka memulai untuk menyerahkan lembaran-lembaran penting sebagai bukti kerja sama diantara mereka.
Seperti apa yang dikatakan Sabda hanya sebentar saja mereka sudah selesai dengan urusan pekerjaan.
"Wah, sekarang istrinya nempel terus Pak Sabda." ucap Pak Royan dengan menatap Aruna tanpa henti.
"Iya, Pak." jawab Sabda singkat. Dia seperti enggan membahas lebih panjang lagi obrolan yang tidak penting.
"Mungkin takut suaminya melirik perempuan lain, Mungkin kan Bu Sabda." lanjut Anin. Dia seolah mengolok Aruna. Sabda hanya mengenggam tangan Aruna dari bawah meja. Dia tidak ingin menjawab agar urusan mereka tidak panjang lagi.
"Iya, Mbak. Soalnya sekarang banyak perempuan murahan yang lebih suka mengincar suami orang dari pada lelaki single." kalimat Aruna yang begitu tajam membuat wajah Anin seketika memerah. Iya, Anin tidak menyangka jika wanita anggun dengan perangai lembut itu mampu membalasnya sedemikian.
Aruna
Abimana
Sabda
__ADS_1
Anin