Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Panggilan Abimana


__ADS_3

Andrean bersama Sabda berada di kafe yang ada di sebelah butik Aruna. Dia sedang berkonsultasi tentang kantor showroom dan tawaran Mama Rosa.


"Akan aku usahakan untuk bisa menghandle dua kantor sekaligus. Tapi, tetap saja aku ingin Mas Sabda tetap memantaunya. Aku hanya menjalankan saja." ucap Andrean setelah memikirkan sejenak tawaran Sabda.


Bagi lelaki itu memang tidak mudah. Tapi, tidak ada salahnya mencoba. Dia hanya menjalankan saja apa yang menjadi arahan Sabda.


"Oh ya, Puspita sudah resign, kan?" tanya Sabda.


"Sudah, dia tidak mengatakan banyak hal tentang Abimana. Puspita hanya mengatakan semua yang dilakukan hanya karena simbiosis mutualisme." ucap Andrean. Sabda tidak terlalu peduli tentang mereka, yang penting mereka tidak mengganggu Aruna saja. Dia tidak ingin istrinya merasa tertekan karena ulah mereka.


###


Bisa bertemu dengan Tita adalah hal yang sudah dinantikan oleh Aruna. Tinggal hitungan minggu gadis itu akan mengakhiri masa lajangnya.


Aruna masih duduk di salah satu resto yan mana adalah tempat yang dia dan Tita pilih untuk janjian bertemu. Sabda sendiri yang mengantar Aruna sebelum lelaki itu bertemu rekan bisnisnya. Paling lambat dua jam Sabda akan menjemputnya lagi.


Aruna tersenyum saat melihat Tita berjalan ke arahnya. Gadis dengan tinggi semampai itu menghampiri Aruna yang datang lebih awal.


"Runa, apa kabar?" tanya Tita dengan memeluk sahabatnya. Rasa sudah kangen sekali tidak melihat wanita cantik Aruna yang terbingkai dengan jilbab merah yang menampakkan kehalusan kulitnya.


"Baik, kamu sendiri bagaimana?" Mereka akhirnya kembali duduk.


"Akhir- akhir ini aku banyak ribut dengan Mas Bagas. Dia sepertinya tidak mengerti apa yang dipikirkan wanita. Dia seperti tidak peduli dengan pernikahan kami." keluh Tita membuat Aruna tersenyum. Tita memang sangat perfectionist. Jadi Aruna yakin jika Tita pasti akan lebih bawel untuk mengurus pernikahannya.


"Ya, cowok bukankah begitu? Dia lebih senang mengurus pekerjaan dari pada pernikahan." timpal Aruna, dia pun menyesap just orange yang sudah dia pesan.


"Oh ya, apa kabar kamu dengan Mas Sabda." tanya Tita. Dia memang orang pertama yang menjadi curahan hati Aruna.

__ADS_1


"Kami sedang berusaha memperbaiki hubungan. Sebenarnya tidak mudah bagiku, Ta, tapi aku akan mencobanya. Apalagi aku sekarang sedang hamil." jelas Aruna membuat mulut Tita ternganga. Sebaik itukah hubungan mereka hingga meluncur begitu cepat calon bayi mereka.


"Kok bisa, Run? Kamu tidak diperko*sa sama Mas Sabda, kan?" Tita rasanya tidak percaya dengan kabar yang diberikan oleh Sahabatnya setelah gonjang ganjing yang terjadi dalam rumah tangga mereka.


"Husss... pelanin suaramu, Ta!" lirih Aruna membuat Tita langsung membekap mulutnya.


"Aku nggak tahu juga, Tiba-tiba hamil." cerita Aruna langsung membuat Tita tergelak. Gadis itu terpingkal- pingkal hingga beberapa pengunjung lainnya memperhatikan mereka.


"Ta, pelanin suaramu!" lirih Aruna dengan melotot ke arah sahabatnya.


"Maaf, Run. Tapi, dasarnya emang tipe orang yang suka ngotot dan semua sendiri. Dari cara dia menikung Mas Abi pun tidak bisa dipercaya." Tita berusaha meredakan tawanya. Perbincangan mereka kembali normal.


Sementara dari kejauhan, Aruna melihat Abimana masuk ke dalam resto, lelaki itu terlihat mencari keberadaan seseorang. Aruna segera menutup sebagian wajahnya dengan jilbab yang menjuntai di depan dadanya.


"Ada apa, Run?" tanya Tita begitu penasaran. Gadis itu pun menoleh. Dan ternyata Abimana sedang bertemu dengan Puspita.


"Bukan begitu, Ta. Gadis itu yang selama ini menerorku dan dia ternyata sudah lama menyukai Mas Sabda."


"Maksudnya, kamu tidak terima jika sekarang dekat dengan Mas Abi? " sela Tita. Dia tidak akan membiarkan Aruna salah langkah karena sebuah pengkhianatan. Bagi Tita, Jika memutuskan bertahan dengan pernikahannya, Aruna tidak boleh memikirkan lelaki lain.


"Bukan, Ta. Kata Mas Sabda mereka mempunyai hubungan karena saling menguntungkan. Ah sudahlah, itu urusan mereka, yang tahu detailnya hanya Mas Sabda."


"Oh ya, wanita itu kemarin mendatangiku. Dia seolah membuat posisiku sebagai orang ketiga yang masuk ke dalam hubungan mereka." curhat Aruna.


"Wanita tidak jelas! Mana bisa istri sah jadi orang ketiga? Kalau aku jadi kamu udah aku jambak- jambak, Run! Sebaiknya kamu cerita sama Mas Sabda sebelum kuntilanak itu semakin meraja lela." Tita terlihat geram. Dia merasa, Wanita itu sengaja untuk terus melukai hati Aruna.


"Aku takutnya, Mas Sabda memang masih mencintainya. Kita tidak tahu hati orang lain." ucap Aruna. Hubungan yang sudah lama kandas dan mereka ingin mengulang itu bukti betapa besarnya perasaan seseorang.

__ADS_1


Tita menatap Aruna. Dia memang tidak bisa masuk terlalu dalam untuk urusan rumah tangga Aruna, Jika selama ini dia seperti mata- mata, itu karena dia tidak rela Aruna akan disakiti lebih dalam.


"Itu terserah kamu, tapi menurutku kamu harus cerita apapun tanggapan Mas Sabda nanti, dia harus tahu setiap apa yang dilakukan wanita itu padamu. Kamu sedang hamil, jangan sampai terbebani dengan hal yang bisa membuat stress." ucap Tita panjang lebar.


Pertemuan mereka cukup lama, bahkan banyak cerita yang sudah mereka curhatkan. Aruna melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata sudah hampir jam mereka duduk di restoran ini.


Mereka memutuskan untuk pulang, saat Tita menawarkan diri untuk mengantar Aruna, bumil itu pun menolak. Selain memang akan dijemput Sabda, Aruna merasa kasihan pada Tita karena rumah mereka punya arah yang berlawanan.


Mobil Tita meluncur keluar terlebih dahulu, sementara itu dia baru saja mengirim pesan jika akan menunggu sambil membeli rujak ulek di pertigaan dekat resto, tempat dia bertemu dengan Tita.


Aruna berjalan melewati parkiran setelah beberapa menit menunggu balasan dari Sabda yang ternyata pesannya hanya di baca saja.


"Run... " suara Abimana membuat Aruna menoleh, lelaki itu menahan lengan Aruna untuk berhenti.


"Mas Abi... " Dengan terlihat sungkan Aruna meronta, melepaskan genggaman tangan Abimana di pergelangan tangannya.


"Maaf, Run. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Abimana membuat Aruna serba salah. Satu sisi dia merasa sungkan menolak lelaki yang selama ini sangat baik dengannya, di satu sisi dia takut Sabda akan salah faham ketika melihatnya dengan lelaki yang dianggap rival oleh suaminya itu.


"Ada apa, Mas. Jika tentang pekerjaan, aku sudah memberikan kuasa pada Nina untuk mengurusnya." ucap Aruna dengan tersenyum, dia berusaha seramah mungkin.


"Tentang suamimu. Apa kamu bahagia dengannya?" tanya Abimana, dijawab Aruna dengan seulas senyuman dan anggukan. Dia tidak ingin banyak bicara pada orang lain, tentang suaminya, apalagi dengan lelaki yang pernah mempunyai perasaan spesial dengannya.


"Lelaki yang berselingkuh biasanya dia akan mengulangnya lagi... " kalimat Abimana terjeda.


" Aruna..." suara bariton itu memanggil nama istrinya dengan nada dingin. Lelaki itu sudah berdiri dengan jarak dua meter dari tempat Aruna dan Abimana berdiri.


Sabda menatap dua orang itu dengan nyalang. Matanya menatap tajam Aruna yang kini berdiri di dekat Abimana.

__ADS_1


__ADS_2