
Sabda melirik Aruna yang sedang membalas pesan dari ponselnya. Meskipun, sudah mengetahui jika Aruna masih jomblo, tetap saja membuat Sabda insecure jika itu dari lelaki bermata sipit itu.
"Dari siapa?" tanya Sabda. Dia tidak menyadari keingintahuannya telah menunjukkan sikap posesif.
"Emang kenapa, Mas?" tanya Aruna. Wajah bingung Aruna membuat Sabda tersadar jika dirinya berlebihan.
"Enggak, hanya sekedar tanya saja dari pada sepi." jawab Sabda dengan pandangan lurus ke depan. Wajahnya masih dibuat setenang mungkin.
Aruna pun tak ingin menjawab lagi, dia sudah mengenal sikap Sabda yang sedikit arogan jadi enggan bagi Aruna untuk meladeninya.
Tubuhnya yang terasa lelah dan dan kenyamanan mobil mewah itu membuat Aruna tertidur. Sabda hanya menggeleng dan tersenyum tipis melihat gadis di sebelahnya terlelap.
"Gayanya saja takut, tapi masih bisa tidur." gumam Sabda dengan mengelus puncak kepala Aruna hingga Aruna menggeliat merubah posisi.
Wajah cantiknya, hidung mungilnya, dan mata bulat itu membuat Sabda sesekali meliriknya. Lelaki itu menikmati pahatan Tuhan yang sungguh indah.
Mobil memasuki komplek dan berhenti di depan rumah mereka. Meskipun begitu Sabda belum ingin membangunkan gadis itu, lelaki itu begitu terhipnotis dengan wajah polos Aruna. Sabda tanpa sadar mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Aruna. Hingga, sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depan mobilnya.
"Astaga mengganggu saja." gerutu Sabda dalam hati.
"Heh, bangun, Run." Sabda memencet hidup mungil Aruna, membuat Aruna tersentak dan bangun.
"Mas Sabda, sakit!" keluh Aruna dengan wajah cemberut sambil mengelus hidungnya.
"Katanya takut jika pergi dengan orang yang tidak dikenal. Kok, bisa tidur." ledek Sabda. Tangan Sabda terulur mengambil lumpia di jok belakang.
"Eh, Tita sudah sampai sini." lirih Aruna saat melihat mobil Tita dan sesaat kemudian gadis bertubuh semampai itu keluar dari mobilnya.
"Berapa, Mas?"
"Apanya?"
"Lumpianya" Aruna membuka dompetnya.
"Tidak usah." jawab Sabda.
"Nggak bisa begitu! Aku nggak mau..." lanjut Aruna kemudian meletakkan satu lembar ratusan.
Aruna menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu mobil. Sabda mencekal lengan kecil itu hingga gadis yang juga kekeh itu menoleh ke arah Sabda.
__ADS_1
"Ambil uangmu!" tegas Sabda, lelaki tampan itu menciptakan ketegangan.
Ah, kenapa tatapan Sabda yang seperti itu membuat Aruna tak bisa berkutik. Tatapan tajam yang selalu membuat hatinya dag-dig tak karuan.
"Aku tidak ingin terus berhutang dan merepotkan Mas Sanda." ujar Aruna dengan mengalihkan pandangannya dari lelaki yang masih menggenggam pergelangan tangannya.
"Membayarnya dengan uang, kamu seperti melecehkanku." gumam Sabda tapi penuh dengan penekanan. Sekali lagi Sabda membuat Aruna serba salah
"Terus, aku harus membayarnya dengan apa?" sungguh Aruna merasa lelaki di sebelahnya itu sudah membuat harinya terasa nano - nano.
"Menikah denganku!" lirih Sabda, lelaki itu membuat Aruna melorot.
"Becandanya berlebihan." tetap saja saat Aruna akan keluar dari mobil Sabda tetap menahannya.
"Ambil uangmu! Atau kau akan membayarnya dengan yang lain?" tatapan Sabda yang mengarah di bibir ranum miliknya itu membuat Aruna seperti ngeri. Dia langsung mengambil kembali uangnya.
"Lepas, aku sudah mengambilnya!"
Sabda pun melepaskan Aruna, lelaki itu kini tersenyum saat Aruna keluar dari pintu mobil. Dia sendiri merasa konyol dengan sikapnya. Aruna merubah segalanya dari dalam dirinya.
Saat Aruna menyapa Tita, Sabda pun wkeluar dari mobilnya. Dia menatap kedua gadis itu hingga Tita melihatnya dengan penuh tanya. Tita merasa aneh saat Aruna keluar dari mobil lelaki yang kini menyandarkan tubuh tingginya di badan mobil.
Sebelum masuk Aruna menoleh ke arah Sabda yang masih menatapnya. Melihat Aruna masih menoleh ke arahnya Sabda melemparkan ciuman jauh hingga membuat Aruna menggidikkan bahu.
Sabda terkekeh melihat reaksi Aruna. Sabda tak peduli image cool-nya harus tercoreng karena sikap genitnya. Dia merasa hatinya sangat bahagia dan itu tidak bisa dia ingkari.
###
Hari ini Abimanyu mengantarkan pesanan batik Aruna. Hal ini juga yang menjadi alasan Abi untuk bertemu dengan Aruna. Aruna mengatakan dia tidak ingin berkencan sebelum satu minggu, sebelum dia menjawab pernyataan cintanya kemarin.
"Bagaimana kakimu?" tanya Abimana saat mereka berada di dalam ruangan Aruna.
"Aku membawa makan siang untukmu!" Abimana menyodorkan kotak makanan pada Aruna, dia memang selalu tahu jika Aruna paling jarang makan siang.
"Udah baikan, Mas Abi."
"Terima kasih." lanjut Aruna dengan mengambil kotak makanan itu. Aruna tersenyum manis, lelaki di depannya memang selalu bersikap manis dan perhatian. Sekali lagi dia merasa Abimana membuatnya semakin yakin jika dicintai akan lebih bahagia.
"Oh ya acaranya Tita bagaimana jika aku menjemputmu? Aku ingin kita berangkat bersama. Bagaimana?" tawar Abimana, pertemuannya dengan Aruna tidak dia sia- siakan. Lelaki itu sudah ingin memberitahu pada semuanya , jika Aruna miliknya. Dia sudah bertekad menghadapi apapun termasuk menentang perjodohan yang ingin dilakukan keluarganya.
__ADS_1
"Boleh, Mas." ujar Aruna. Kedekatan mereka terbangun berlahan, dari zaman sekolah hingga kerja sama, keduanya memberi banyak peluang untuk bersama.
Di sebrang jalan, tepatnya di gedung lantai dua sebuah showroom mobil yang diproduksi oleh Jepang itu, seorang lelaki mengamati mobil Pajero putih dengan perasaan gelisah. Sabda tahu, jika itu mobil lelaki berwajah oriental itu.
Dengan langkah panjang dia melangkah menuju ruangan Fadhil. Beberapa kali, dia mengetuk pintu dan kemudian membukanya. Nampak, Fadhil yang sedikit terkejut mendapati sabda masuk ruangannya itu pun langsung berdiri.
"Pak Fadhil, saya ingin pihak butik membuat ukuran baju saat ini juga karena sebentar lagi saya akan keluar." titah Sabda membuat Fadhil kalang kabut. Meskipun begitu, dia mengiyakan apa yang diperintahkan Sabda.
"Kalau begitu saya telepon pihak butik sekarang!" jawab Fadhil yang merasa kali ini Sabda begitu merepotkan.
Di tengah banyaknya pekerjaan yang menumpuk, terpaksa Nina meninggalkannya untuk memberi tahu Aruna tentang perubahan waktu untuk pergi ke showroom mobil.
"Tok... tok... " Nina pun membuka pintu ruangan Aruna. Terlihat keduanya menoleh pada sosok Nina yang salah tingkah karena mengganggu acara mereka.
"Maaf, Mbak Runa, Kata pihak Showroom kita harus ke sana sekarang." ucap Nina
"Loh kenapa jadwalnya di rubah?" tanya Aruna yang merasa nggak enak juga pada Abimana.
"Nggak tahu, Mbak. Barusan mereka telepon." jelas Nina.
"Baiklah, aku akan menyiapkan sebentar apa yang dibutuhkan." jawab Aruna.
Meskipun merasa janggal tapi mereka konsumen hingga Aruna mau nggak mau hanya menyesuaikan.
"Baiklah, nanti aku telpon ya, Run." Abi pun beranjak pulang.
"Iya, Mas."
Keduanya pun keluar beriringan, di barengi Nina yang membantu Aruna, perubahan jadwal yang mendadak membuat pihak butik juga sedikit kacau.
"Mbak Runa, aku ke sana dulu." tunjuk Nina pada gedung showroom yang lengkap dengan bengkelnya. Aruna hanya mengangguk menjawab Nina.
Kini Aruna berdiri berdua dengan Abi. Abi menatap Aruna begitu lekat, dia sangat yakin, jika bisa mendapatkan gadis yang terlihat tersipu malu.
"Aku balik dulu! Jika butuh sesuatu hubungi aku saja ya!" ucap Abimana masih menatap lekat gadis di depannya. Sungguh, dia begitu engga untuk pergi kali ini.
"Baik, Mas. Mas Abi hati - hati dijalan." ujar Aruna masih menyuguhkan senyumnya yang begitu masih.
Melihat adegan yang terlihat manis itu, sosok yang berdiri di dekat jendela itu terlihat geram. Matanya menghunus tajam menatap keduanya dari kejauhan. Sungguh, Sabda merasa aliran darahnya kini seperti mendidih.
__ADS_1