
"Sepertinya ada yang diincar Pak Sabda, Pak Andrean." ujar Fadhil saat mereka duduk di ruangan Andrean. Keduanya sedang berbincang usai breafing pagi.
"Benarkah?" sambung Andrean begitu Anthusias. Andrean selalu tertarik saat membahas tentang hubungan Asmara Sabda Megantara.
Menurut Andrean, di umur 32 tahun, Sabda sudah pantas untuk mengakhiri masa lajangnya. Sebagai sepupu, Andrean berharap Sabda bisa move on dan melupakan cinta masa lalunya.
"Ada yang aneh saat Pak Sabda memintaku untuk memesan seragam di butik depan kantor. Apalagi dia meminta untuk diukur satu persatu." jelas Fadhil membuat Andrean juga merasa heran.
"Dan anehnya dia juga meminta untuk dibuatkan seragam. Padahal kita tahu, Pak Sabda paling enggan mengenakan seragam." lanjut Fadhil membuat Andrean berfikir sekali lagi. Andrean juga tahu jika kantornya sudah punya langganan konveksi.
"Ehmm... ehm... kalian mau kerja atau rumpi?" suara bariton itu membuat keduanya menoleh.
Andrean dan Fadhil hanya bisa tertawa sumbang saat melihat Sabda berdiri di ambang pintu tempat mereka berbincang. Sabda memang tegas dan disiplin dalam bekerja, bahkan dia selalu punya target pencapaiannya sendiri.
"Eh, Pak Sabda. Begini...lusa pihak butik akan mulai membuat ukuran baju." Fadhil mulai mengalihkan pikiran Sabda.
"Baguslah. Minta owner-nya langsung ke ruangan saya!" Setelah menjawab, Sabda pun meninggalkan keduanya.
"Ya... ya... gelagatnya memang aneh." gumam Andrean sambil mengangguk-angguk faham. Dia merasa senang, berita ini juga akan membuat Tante Rosa ( Mama Sabda) juga merasa lega.
Sementara itu, Sabda tengah duduk di depan kafe, dimana dia menghabiskan waktu makan siang atau sekedar menikmati secangkir kopi penghilang rasa kantuknya.
Sedari tadi dia tidak melihat sosok yang dia cari, lelaki yang masih saja memperhatikan butik sebelah pun menjadi cemas. Meskipun pikirannya mengelak untuk tidak perlu mengkhawatirkan gadis itu. Tapi, tetap saja Sabda ingin tahu kondisinya.
"Sedang mengintai siapa?" suara Andrean membuyarkan perhatian Andrean.
Sabda pun menoleh ke arah lelaki yang kini duduk di depannya. Dengan cueknya, Sabda menikmati secangkir kopi tanpa menawarkan pada Andrean.
"Apa perlu aku memberi tahu kabar ini pada Tante Rosa?" tanya Andrean setengah meledek. Lelaki seumuran Sabda itu memang saudara yang paling dekat dengan Sabda.
"Maksud, Lo?" tanya Sabda. Sabda memang tipe orang yang tidak terlalu banyak bicara.
__ADS_1
"Sepertinya sudah menjadi rahasia umum, jika kamu mengincar seseorang." Sabda tersenyum miring saat mendengar jawaban Andrean. Dia merasa banyak orang selalu ingin tahu cerita Asmaranya.
"Apa kalian tidak punya kerjaan untuk mengurusi urusan orang lain." kesal Sabda. Dia merasa apa yang dilakukannya bukan hal yang berlebihan.
Setelah menjawab pertanyaan Andrean, Sabda menoleh, tatapannya kini tertuju pada gadis yang turun dari taxi online dan berjalan dengan sedikit terpincang.
"Oh dia rupanya, memang cantik." celetuk Andrean saat menyadari Sabda menatap anthusias Aruna.
"Dia jauh lebih cantik dari Anin, meskipun tubuhnya tak seseksi Anin." lanjut Andrean yang ikut mengamati Aruna.
"Jangan membandingkan dia dengan Anin. Mereka berbeda. Lagi pula, sudah lama aku tidak ingin membahasnya lagi." jelas Sabda, dia tidak ingin mengungkit cinta masa lalunya itu. Cinta yang membuat hatinya terasa beku.
"Di usiamu yang sudah cukup matang, tidak ada lagi waktu untuk berbasa- basi. Apalagi gadis polos seperti itu, dia tidak ingin bermain- main dalam menjalin sebuah hubungan." Andrean pun bangkit, lelaki itu menepuk bahu Sabda sebelum meninggalkan sepupunya itu.
Sabda menghela nafas. Dia tahu itu, tapi masalahnya gadis itu sudah punya kekasih. Tapi bukan berarti Sabda akan melepas targetnya. Apalagi selama ini belum ada yang bisa membuat jantungnya berdebar selain gadis bertubuh mungil itu.
###
"Iya, Nin. Manda sudah datang? " tanya Aruna saat melihat Nina membuka sedikit pintu ruangannya.
"Baru saja, dia datang menggantikanku. Oh ya, jangan lupa besok ke Showroom depan untuk membuat ukuran pesanan. Mereka juga meminta Mbak Runa juga datang." ucap Nina mengingatkan. Selama Aruna sakit, Nina yang menghandle pekerjaan Aruna sesuai porsinya.
"Baiklah. Besok aku ke sana dengan salah satu orang produksi." jawab Aruna.
Kepergian Nina membuat Aruna melihat jam yang ada di mejanya. Pukul lima sore, Aruna bersiap untuk pulang. Dia tidak ingin drop lagi karena terporsir dengan pekerjaan.
Jangan lupa makan, Run.
Abi mengirim pesan lewat Whatsap, Aruna hanya tersenyum hingga kemudian membalas singkat pesan Abimana sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Dengan pelan dan sedikit tertatih Aruna berjalan keluar dari ruangan. Sebelum memesan taxi online untuk pulang ke rumah, Aruna bermaksud membeli lumpia yang ada di pertigaan jalan.
__ADS_1
Suasana semakin petang. Jalanan juga terlihat sangat lenggang. Daerah perkantoran dan jajaran pertokoan membuat suasana semakin sepi saat orang- orang mulai pulang kerja.
Kakinya terasa lelah, saat sampai di tempat penjual Lumpia. Belum lagi antrian yang bejibun membuat gadis itu menyesal untuk sampai di tempat ini. Untung saja angin bertiup dengan begitu kencang membuat rasa nyaman saat tubuhnya sedikit berkeringat.
"Eh, eh... " tubuh Aruna limbung, saat seorang anak kecil menabraknya. Kakinya yang masih terasa sakit memang belum begitu kuat menopang tubuhnya.
"Maaf, Mbak." ucap seorang wanita pada Aruna dengan terburu-buru mengejar bocah yang menabraknya.
"Kenapa tidak pesan lewat grab?" tanya Sabda sambil memegangi tubuh yang menyandar di dada bidangnya.
"Lumpia satu ini tidak di online." jawab Aruna berusaha berdiri sendiri.
"Sambil menunggu, duduklah dulu dimobilku!" tawar Sabda dengan menunjuk mobil di sebelahnya.
Aruna mengernyitkan kedua alisnya. Dia merasa heran karena sikap laki-laki di depannya itu selalu berubah-ubah.
"Tidak usah." jawab Aruna berusaha masa bodoh dan memalingkan pandangannya.
"Atau aku akan menggendongmu ke mobilku." Kalimat Sabda membuat Aruna kembali mendongak, menatap tajam wajah lelaki yang kini berdiri begitu dekat dengannya. Sikap Sabda yang terkesan seenaknya dan terlalu memaksa membuat Aruna merasa kesal. Lelaki itu memang selalu gigih dengan keinginannya.
"Pilih yang mana?" bisik Sabda dengan penekanan.
Setelah mengucapkan pesanannya Aruna pun melangkah pelan di arah mobil sedan yang terparkir di bahu jalan.
"Masuk saja! Kita akan pulang bersama." ucap Sabda dengan membuka pintu mobil bagian depan. Sabda sudah tidak peduli jika Aruna sudah punya kekasih. Perasaan yang tidak biasa membuatnya semakin yakin jika ini cinta.
"Aku tidak ingin merepotkanmu!" sindir Aruna sebagaimana kalimat itu pernah dilontarkan Sabda.
Lelaki itu hanya tersenyum menanggapinya. Dia tahu Aruna kesal, tapi dia sudah tidak peduli.
Sabda Megantara, lelaki dengan watak kerasnya itu selalu di kenal gigih dalam mendapatkan sesuatu. Sekali lagi, sabda tidak akan melewatkan kesempatan baik. Setelah sekian lama hanya Aruna yang mampu membuat jantungnya kembali berdebar dan hatinya berdesir hebat saat bertemu gadis itu.
__ADS_1