Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Pertemuan Anak Dan Ibu


__ADS_3

Malam hari, Aruna susah untuk memejamkan mata. Entah kenapa bayangan Sabda begitu mempengaruhinya. Tidak bisa dipungkiri jika sosok Sabda begitu menarik perhatian. Lelaki matang yang tegas dan tanpa basa-basi, selain fisiknya yang sangat mempesona, dia juga sangat cerdas.


Tapi semua pesona itu tidak menjamin seseorang setia dan tidak menjadi seorang pecundang. Aruna merasa dia hanya butuh seseorang yang setia, seseorang yang bisa memberinya banyak cinta, dan menua bersama dengan rasa bahagia.


Tapi bagaimana dengan perasaannya sendiri? Apa itu tidak berpengaruh? Entahlah... sekali lagi Aruna mendesah kesal. Mempertimbangkan hati dan pikiran hanya karena rasa takut tersakiti atas sebuah pengkhianatan.


"Ya Allah... " keluh Aruna kemudian bangkit dan duduk menatap lurus ke depan. Kali ini, dia benar- benar tidak bisa tidur.


Manik mata coklat itu menatap jam yang menggantung di dinding. Sudah pukul satu dini hari, tapi matanya juga enggan terpejam.


Aruna memilih ke dapur. Dia bermaksud untuk membuat secangkir susu hangat. Sebelum sampai dapur, dia menghentikan langkahnya, kemudian menoleh keluar. Suasana memang terlihat sepi, tapi ada beberapa mobil yang berjajar di depan rumahnya dan rumah Sabda. Saat, dia menajamkan pendengaran, terdengar suara beberapa suara laki- laki sedang berbincang. Aruna yakin jika Sabda masih ada tamu.


Membawa secangkir susu hangat dan menyalakan televisi, barang kali itu bisa membuatnya mengantuk.


Sementara itu, di rumah sebelah duduk empat laki- laki di lantai dua. Sabda, Hendriko, Andrean dan Nathan, kali ini Bagas tidak ikut bergabung karena harus menyiapkan acara pertunangannya dengan sang kekasih.


"Bagaimana dengan gadis yang kemarin kamu ajak ke apartemen?" tanya Hendriko masih penasaran dengan Aruna. Meskipun lelaki itu belum mengetahui namanya.


"Aruna? Kamu membawanya?" sela Andrean. Dia tidak mengira hubungan mereka sudah sejauh itu.


"Aku serius." gumam Sabda.


"Seharusnya kamu sudah mengenal Sabda. Bukankah, dia lelaki dengan sejuta cara untuk mendapatkan sesuatu." timpal Nathan yang cukup mengenal Sabda. Bagi Hendriko, Sabda memang sosok yang gigih dan cukup smart untuk mencari peluang, maka tidak heran jika dia bisa sukses dengan usahanya sendiri di usianya yang menginjak 32 tahun.


"Tidak semudah itu, Aruna berbeda." Sabda yang sedari tadi hanya diam itu pun menjawabnya. Ada rasa resah yang tidak bisa ditutupinya.


"Jangan bilang kamu ditolak ya?" tebak Hendriko begitu antusias. Rasanya mustahil jika seorang Sabda Megantara yang dia tahu saat kuliah diperebutkan banyak wanita kini ditolak seorang gadis.


"Aruna memang beda." sambut Andrean. Dia memang sedikit banyak tahu tentang Aruna. Bahkan, diam - diam sebagai sepupu dia juga membandingkan Aruna dengan Anindita mantan pacar Sabda.


"Namannya Aruna? Dia masih kuliah atau udah kerja?" tanya Hendriko yang lebih dibuat penasaran.

__ADS_1


"Dia punya butik, tepatnya di depan Showroom." jawab Andrean membuat Hendriko tidak percaya. Wajah Aruna memang sering menipu umur dia yang sebenarnya. Struktur wajah yang serba mungil membuatnya terlihat imut.


Pertemuan keempat orang itu, Sabda memang tidak banyak bicara. Dia hanya bermain dengan pikirannya sendiri. Penolakan Aruna membuat Sabda tidak berselera, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan gadis itu.


###


Seorang wanita paruh baya sedang berjalan dengan anggunnya menuju ruangan Sabda. Semua tahu, jika itu Mama Rosa, wanita yang melahirkan lelaki yang selalu jadi human of universe.


"Selamat siang, Sabda." ucap Mama Rosa setelah mengetuk pintu ruangan Sabda. Wanita yang dua lima tahun berkecimpung menjadi wanita karir membuat segala etika masih beliau terapkan.


Lelaki yang tengah menatap laptop itu pun mengalihkan pandangan pada sosok yang sudah lama tidak dia temui. Wanita yang menurutnya sudah menghancurkan perasaannya.


Hubungan Sabda dengan Rosa memang kurang baik. Sabda tidak terima karena Rosa penyebab dia kehilangan Anindita. Iya, Anindita pergi setelah di minta Rosa. Menurut Rosa, Anindita tidak layak untuk putra dan keluarganya.


"Ada apa Mama ke sini?" tanya Sabda dengan datar setelah wanita yang melahirkannya duduk di depannya.


"Apapun sambutanmu, Mama tetap mamamu Sabda. Wanita yang akan menyayangimu sepanjang hidupnya." Mendengar penjelasan Rosa Sabda hanya tersenyum kecut. Kalimat itu bagai sebuah gombalan bagi Sabda.


"Dan Mama adalah seseorang yang sudah mematahkan hatiku. Jika saja Mama tidak mengusir Anin, mungkin kita sudah bahagia." jawab Sabda dengan ekspresi datar.


Wanita hebat yang selalu ingin melindungi keluarganya itu pun memilih untuk tersenyum. Dia bisa memahami kemarahan putra tunggalnya. Sabda memang berwatak keras, bahkan setelah kemarahannya dia memilih menjauh dari dirinya dan keluarga. Hingga dia berharap ada seseorang yang bisa membuat hubungan membaik.


"Suatu saat kamu akan mengerti dengan apa yang Mama lakukan." Hanya itu yang terucap dari bibir Rosa.


"Oh ya, kenapa harus memikirkan gadis itu. Bukankah kamu sedang mendekati seorang gadis?" lanjut Rosa yang ingin segera mengalihkan pembicaraan.


"Dan aku tidak akan membiarkan Mama mengacaukan semuanya lagi." kalimat Sabda seperti sebuah ancaman. Bisa mandiri dan tidak bergantung dengan keluarga membuat Sabda bisa mengambil keputusan sendiri, tanpa diatur keluarganya.


"Kali ini Mama mendukungmu. Dia gadis yang sopan dan periang."


"Mama juga melihatnya cukup cantik. Mama harap kamu mengenalkannya pada Mama." lanjut Rosa.

__ADS_1


Setelah mendengar kabar dari Andrean jika Sabda sedang mengejar seorang gadis, Rosa begitu antusias. Dia langsung saja pergi ke butik untuk melihat sosok yang mampu mencairkan hati putranya. Dan ternyata menurut Rosa Aruna gadis yang meskipun mereka baru bertemu sekali.


"Apa Mama sudah selesai? Aku masih banyak pekerjaan." ujar Sabda. Dia tidak ingin mamanya terlalu ikut campur urusan pribadinya.


"Baiklah, Mama akan pergi sekarang. Mungkin akan ke butik depan untuk mengambil pesanan." jawab Rosa dengan santai, kemudian berdiri dan mengambil hand bagnya.


"Mama jangan mencampuri urusanku!" pinta Sabda, tapi kalimat yang dilontarkan seperti sebuah perintah.


"Mama tahu apa yang harus Mama lakukan." sahut Rosa kemudian berjalan meninggalkan putranya. Kedua anak dan ibu itu memang sama - sama m berwatak keras.


Sebenarnya bukan sebuah bualan jika Rosa belanja di butik Aruna. Hanya sebuah butik kecil bagi seorang Rosa, tapi dia sangat senang dengan produk yang disuguhkan. Apalagi pemiliknya adalah incaran putranya dia akan sangat mendukung.


"Selamat siang Bu Rosa." sapa Aruna saat keluar ruangan dan kebetulan bertemu dengan Rosa yang baru saja masuk ke dalam.


"Selamat siang Mbak Aruna. Apa pesanan baju saya sudah siap? " tanya Rosa. Wanita anggun dan berkharisma itu pun memperhatikan lagi sosok Aruna.


"Oh sudah, Bu. Silahkan ibu bisa melihatnya." Aruna pun berjalan bersama Rosa ke arah Nina yang sudah menyiapkan semuanya.


"Oh ya, kita ada produk baru. Bisa dibilang limited edition meskipun produk lokal." jelas Aruna saat menunjukkan sebuah tas yang baru saja dipromosikan.



Rosa mulai mengamatinya, tas yang menurutnya lumayan bagus, meskipun produk lokal.


"Baiklah saya mau juga yang itu." ucap Rosa dengan menunjuk tas yang cukup manis itu.


"Tapi maaf, Bu. Dua minggu baru bisa diambil, kita masih dalam proses pengerjaan." jelas Aruna.


"Baiklah. Dua minggu lagi saya akan mengambilnya. Atau Mbak Aruna bisa mengantarkan? Sekalian kita minum teh bersama." pinta Rosa. Bukan karena Aruna saja dia membeli tas itu tapi barang yang ditunjukkan Aruna memang sesuai dengan seleranya.


Mereka berbincang cukup lama, Aruna memang gadis yang menyenangkan bagi Rosa. Dia berharap putranya mampu menaklukkan gadis cantik dan ramah itu.

__ADS_1


__ADS_2