Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Diamnya Sabda


__ADS_3

"Ada apa, Mas. Jika tentang pekerjaan, aku sudah memberikan kuasa pada Nina untuk mengurusnya." ucap Aruna dengan tersenyum, dia berusaha seramah mungkin.


"Tentang suamimu. Apa kamu bahagia dengannya?" tanya Abimana, dijawab Aruna dengan seulas senyuman dan anggukan. Dia tidak ingin banyak bicara pada orang lain, tentang suaminya, apalagi dengan lelaki yang pernah mempunyai perasaan spesial dengannya.


"Lelaki yang berselingkuh biasanya dia akan mengulangnya lagi... " kalimat Abimana terjeda.


"Aruna..." suara bariton itu memanggil nama istrinya dengan nada dingin. Lelaki itu sudah berdiri dengan jarak dua meter dari tempat Aruna dan Abimana berdiri.


Sabda menatap dua orang itu dengan nyalang. Matanya menatap tajam Aruna yang kini berdiri di dekat Abimana.


"Maaf, Mas Abi...aku sudah dijemput Mas Sabda." ucap Aruna saat Sabda berjalan mendekat. Wajah Sabda terlihat memerah dengan kilatan amarah di matanya.


"Dengar! Berhentilah mendekati istri orang lain!" ujar Sabda dengan tatapan tajam ke arah lelaki yang saat ini tersenyum sinis.


"Jika kamu menyakiti Aruna, aku tidak hanya mendekatinya..." balas Abimana.


"Tapi mengambilnya darimu!" bisik Abimana saat Sabda menarik kerah bajunya.


"Mas Sabda..." Aruna menahan tangan Sabda. Dia tidak ingin terjadi keributan yang cukup memalukan dan tontonan gratis.


Sabda melepaskan Abimana dengan berat. Jika bukan karena Aruna, dia akan menghajar lelaki yang saat ini tersenyum sinis padanya.


Tanpa bicara lagi, Sabda berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Awalnya dia mengira Aruna berada di tempat penjual rujak ulek itu hingga dia memilih memarkir mobilnya di luar Area resto.


Aruna berjalan cepat membuntut di belakang Sabda. Lelaki itu terlihat masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobilnya dengan cukup keras.


Aruna masuk ke dalam mobil yang mesinnya masih mati. Aruna melirik tangan Sabda yang mencengkeram kemudi hingga buku- buku tangannya memutih.


"Katanya mau beli rujak uleg?" tanya Sabda setelah sekian lama, suaranya dibuat sedatar mungkin. Saat ini mereka berada dalam mobil dengan mesin yang masih mati.


"Nggak jadi." jawab Aruna sekenanya, dia tahu Sabda masih marah.


"Kenapa?" tanya Sabda tanpa menatapnya. Lelaki itu masih meluruskan pandangannya ke depan.


"Sudah tidak pingin." sambut Aruna masih dengan kaku.

__ADS_1


Sabda hanya mendesah, kemudian keluar dari mobil dan berjalan menghampiri gerobak penjual rujak ulek.


Melihat Sabda berjalan menuju ke arah penjual rujak uleg, Aruna pun ikut turun dan menghampiri suaminya. Dia sebenarnya memang masih menginginkannya, tapi melihat Sabda marah, dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya membeli rujak uleg.


Siang ini sangat terasa teriknya, Sabda kembali berjalan ke arah mobil dengan menenteng dua bungkus rujak uleg diikuti Aruna yang terus membuntut di belakang. Mereka masih membisu, tak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya.


Sesekali Sabda menghela nafas, mengurai sedikit demi sedikit emosi yang terasa di ubun- ubun. Kemudian, satu tangannya menjulur menekan tombol on pada audio mobilnya.


Aruna hanya menggigit- gigit ujung dari kukunya. Kebiasaan Aruna setiap kali dia cemas, khawatir dan grogi. Dia tiada henti untuk menghabiskan ujung kukunya.


Sabda meraih tangan Aruna, menggenggamnya untuk menghentikan aksi istrinya. Meskipun tatapannya ke jalanan yang ada di depan. Dia tahu, apa yang sedang dilakukan istrinya.


Sayang aku takkan pernah


Pergi meninggalkanmu


Aku bernafas untukmu


Percayalah padaku


Membuatmu bahagia


Aku bernafas untukmu


Duhai kekasihku


Sabda bernyanyi lirih mengikuti syair lagu yang kini diputar. Aruna melirik suaminya, meskipun dia sedang bernyanyi tapi wajah lelaki itu nampak terlihat datar dan enggan untuk melihatnya.


Sepanjang jalan mereka tidak saling bicara. Terlihat rumah yang paling mewah diantara jajaran rumah lainnya itu semakin dekat.


Mobil berhenti tepat di depan rumah. Aruna pun segera masuk karena dia belum melakukan Salat Dhuhur, sementara waktu Dhuhur akan segera berakhir.


"Mas, sudah Salat Dhuhur? " tanya Aruna mencoba untuk membuka percakapan. Saat mereka sama- sama berada di lantai dua.


"Sudah." jawab Sabda dengan datar. Bahkan, lelaki itu langsung masuk ke ruang kerja.

__ADS_1


Sabda memutuskan bekerja di rumah saja. Dia tidak ingin waktunya habis untuk mondar mandir di jalan.


Aruna menatap Sabda dengan perasaan yang entahlah. Wanita itu memilih untuk menjalankan, Salat Dhuhur terlebih dahulu, setelahnya dia akan berusaha untuk bicara dengan sabda setelah suaminya keluar dari ruang kerja.


Seusai Salat Dhuhur, Aruna memilih untuk membuat kue sambil menunggu Sabda. Meskipun dia merasa malas, tetap saja dia berusaha membuat sebuah kue brownies. Sesekali dia juga menoleh ke arah ruang kerja suaminya, tapi pintunya masih tertutup.


Aroma harum coklat menguar begitu tajam membuat Aruna tidak sabar untuk menikmatinya bersama Sabda. Wanita yang kini memindahkan kue ke piring itu masih berusaha mencairkan keadaan.


Tapi hingga pukul empat, Sabda tidak kunjung keluar dari ruang kerja. Dalam hati Aruna masih menyisakan rasa yang cukup mengganjal, dia merasa Sabda menyalahkan dirinya atas pertemuannya dengan Abimana.


Wanita yang kini sudah berkeringat memutuskan untuk mandi dahulu dan


Salat Ashar. Setelah itu, dia bisa menunggu suaminya dengan perasaan tenang karena sudah menjalankan kewajiban.


"Mas, di meja makan ada brownies." ucap Aruna. Ternyata Sabda sudah berada di kamar. Wajah maskulin itu nampak lebih segar, bisa terlihat jika Sabda sudah selesai Salat Ashar.


"Iya, nanti saja. Mas masih ada kerjaan." jawab Sabda kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar.


Aruna menatap punggung lelaki yang sedang berjalan keluar dan menghilang dari kamarnya. Dia tahu, meskipun Sabda menjawabnya dengan kalimat yang sedikit panjang tapi wajah datar Sabda membuat Aruna yakin jika Sabda masih marah padanya.


Setelah Salat Ashar, Aruna merapikan rambutnya dan menyapukan sedikit make up di wajahnya agar terlihat lebih segar sebelum keluar dari kamar. Wanita yang kini mengenakan dress panjang tanpa jilbab itu pun berlahan menuruni satu persatu anak tangga dan memilih duduk di ruang makan untuk menunggu Sabda.


"Kenapa aku seperti orang bersalah?" gumam Aruna saat dia masih menunggu Sabda hingga pukul lima sore lelaki itu tidak juga turun ke bawah. Awalnya dia pikir Sabda mau mencicipi kue buatannya. Tapi, lelaki itu kembali masuk ke dalam ruang kerja.


Sudah hampir satu jam, Aruna duduk di ruang makan dengan brownies di depannya. Di meja itu juga masih tergeletak rujak ulek yang belum tersentuh sejak siang tadi.


Bosan menunggu, akhirnya Aruna beranjak dari duduknya. Dia membawa brownies yang sudah dia buat dan membuangnya ke bak sampah yang ada di belakang rumah.


"Kenapa di buang?" tanya Sabda. Lelaki itu ternyata sudah berdiri di dekat meja makan dengan wajah bingung.


"Tidak enak!" ujar Aruna dengan menghela nafas, padahal dia belum mencoba sedikit pun. Rasanya dia sudah tidak tahan dengan emosi yang semakin ingin meledak di dadanya.


"Mas, belum mencobanya." ucap Sabda. Tapi, Aruna berlalu begitu saja tanpa menjawab Sabda.


Langkah kecilnya terlihat begitu tergesa, Aruna menapaki satu persatu anak tangga dengan menahan tangis. Hatinya terasa mencelos. Ada rasa sakit karena tidak dipedulikan sama sekali, sementara dia merasa tidak bersalah sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2