Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Tetangga Baru


__ADS_3

Aruna bersama Sabda sampai di rumah pukul delapan malam. Keduanya juga sempat mampir di rumah Mama Rosa untuk memberitahu kondisi calon cucunya yang sangat aktif sekali.


"Ah, semoga bayinya benar-benar perempuan." ujar Sabda saat mereka baru saja masuk ke dalam rumah mereka sendiri.


"Tapi, takutnya bisa berubah, Mas. Bagaimana jika ternyata laki- laki dan kel*minya memang belum tumbuh saja?" Aruna menjawab pertanyaan Sabda dengan menghentikan langkahnya. Dia takut Sabda tidak bisa menerima jika memang tidak seperti yang dia inginkan.


"Tidak masalah, dia akan menjadi lelaki yang kuat untuk bisa menjagamu ketika tidak ada aku." Sabda membingkai wajah mungil istrinya dan menatap mata bulat yang terlihat begitu cantik itu.


"Baik perempuan atau laki- laki Mas hanya berdoa semoga kamu dan dia sehat selalu." ujar Sabda kemudian mengelus perut istrinya yang sedikit menyembul. Dia sudah tidak sabar untuk mendengar tangis seorang bayi yang memenuhi rumah ini.


"Oh ya, Mas ambil siomay dulu di mobil." ujar Sabda, hampir saja dia lupa jika siomay yang tadi sore dibeli Aruna masih tertinggal di mobil.


Sabda langsung keluar menuju mobilnya yang masih terparkir di depan. Tidak sengaja dia melihat tetangga sebelah yang sedang menurunkan banyak barang. Terlihat seperti orang yang lagi pindahan, tapi setahu Sabda Pak Hendra dan keluarganya baru dua tahun menempati rumah itu.


Tak ingin menerka-nerka lagi, dia langsung mengambil kotak siomay yang ada di dalam mobil. Lelaki itu kemudian menoleh sekilas wanita asing yang menurunkan beberapa kardus.


Tak mau ambil pusing, Sabda kembali masuk ke dalam rumah, dia menghampiri istrinya yang sudah berada di dekat pantry.


"Sayang, di rumah Pak Hendra ramai seperti orang pindahan?" tanya Sabda sambil berdiri di dekat Aruna setelah meletakkan siomay di meja makan.


"Katanya rumah itu sudah dijual, Mas. Pak Hendra sama Bu Hendra pisahan. Jadi, anak mereka ikut Bu Astutik(Bu Hendra) balik kampung." jelas Aruna, sambil memotong sayuran. Dia memang lagi ingin memasak untuk makan malam mereka.


"Loh kenapa pisahan?" Sabda pun tercengang, dia memang tidak terlalu faham dengan lingkungannya. Padahal rumah Pak Hendra dengan rumahnya hanya berselang rumah Aruna.


"Katanya Pak Hendra ketahuan menikah lagi." terang Aruna membuat Sabda terdiam sejenak. Dia tidak menyangka jika Pak Hendra yang tipe lelaku rumahan bisa melakukan itu.


"Ternyata kamu ngikuti gosip juga ya, Run." celetuk Sabda membuat Aruna menoleh sambil tersenyum.


Cerita tentang perselingkuhan Pak Hendra memang sempat viral di kalangan ibu- ibu kompleks apalagi saat membeli sarapan.


"Kamu masak apa? Siomaymu masih ada kok." ucap Sabda saat melihat Aruna memasukkan daging yang dipotong kota- kotak ke dalam air mendidih.

__ADS_1


"Aku sudah tidak ingin makan siomay. Aku ingin masak sup buat makan malam." jawab Aruna kembali tersenyum.


"Aku ingin Mas saja yang makan siomaynya." ucap Aruna sambil meringis memamerkan deretan gigi putihnya.


"Tapi, kamu tahu kan, Mas nggak suka siomay." elak Sabda.


"Tapi aku lagi pingin lihat Mas makan siomay." desak Aruna. Dia kemudian meniriskan supnya di sebuah mangkuk dan membawanya ke meja.


"Tapi, Mas nggak suka, Sayang." tolak Sabda membuat Aruna mengerucutkan bibir.


"Ya, sudah kalau nggak mau... " Sambil mendesah Aruna meletakkan bobotnya di kursi. Wajahnya terlihat sangat kecewa.


"Iya, nanti Mas akan makan siomaynya." ujar Sabda. Dia nggak bisa jika melihat wajah cemberut istrinya.


"Ting.. tong... Ting... tong... " Bel berbunyi berulang kali membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


"Mungkin Pak Azzam, Mas." ujar Aruna karena biasanya yang bertamu lebih banyak berurusan dengan Sabda.


"Mas lihat dulu!" Sabda berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu utama.


"Sayang... ada tamu." Panggil Sabda pada Aruna, Dia mengira wanita di depannya mencari istrinya.


"Maaf, Mas. Hanya ingin ngasih ini!" Wanita itu mengulurkan sebuah bingkisan pada Sabda.


"Siapa, Mas? " teriak Aruna yang bergegas menyusul Sabda setelah mendengar panggilannya. Sabda langsung menyerahkan sebuah tas dari wanita itu pada Aruna. Sabda memilih masuk ke dalam.


"Maaf mengganggu, saya baru pindahan di rumah Pak Hendra." ucap wanita berkulit putih itu mencoba memperkenalkan diri.


"Mari silahkan duduk, Mbak." ucap Aruna mempersilahkan wanita itu untuk duduk.


"Terima kasih untuk bingkisannya." lanjut Aruna saat mereka duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan yang terjangkau dari pandangannya dengan begitu teliti. Baginya, interior rumahnya begitu mewah meski di luar nampak simple.


"Nama saya Aruna." Aruna mengulurkan tangannya.


" Eh, maaf. Nama saya Litta. Nur Litta. " jawab Litta dengan sedikit tergagap. Dia begitu mengagumi interior dan beberapa foto pernikahan Sabda dan Aruna.


"Kalau suami Mbak Aruna namanya siapa?" tanya Litta untuk memupuskan rasa penasarannya.


"Mas Sabda, Mbak. Mbak Litta mau minum apa? Jus atau teh hangat?" tanya Aruna bermaksud sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Nggak usah- nggak usah, Mbak Aruna! Saya langsung balik saja. Di rumah tidak ada siapa pun." ujar Nurlitta pada Aruna. Wanita itu pun kemudian ikut beranjak dari duduknya.


"Ohh... Mbak Litta tinggal sama siapa saja?" Aruna seperti ragu untuk menanyakan itu. Pertanyaan yang seperti terlalu dalam untuk orang yang baru kenalan. Tapi, wanita hamil itu sangat penasaran dengan sosok di depannya.


"Aku tinggal sendiri, aku belum menikah, Mbak." jawab Litta dengan rasa tidak nyaman.


"Oh, maaf, Mbak!" timpal Aruna dengan salah tingkah.


"Nggak apa- apa, Mbak. Maaf sudah mengganggu." pamit Litta. Sebelum keluar, dia sempat melihat ke dalam, mencari sosok pria yang pertama kali dia temui di rumah ini untuk berpamitan.


Setelah kepergian Litta, Aruna kembali masuk. Meletakkan bingkisannya di meja dan bermaksud mencari Sabda.


Belum juga, Aruna menaiki tangga, Sabda sudah turun dengan kaos rumahannya. Wajahnya pun terlihat segar, seperti habis mandi saja.


"Orangnya sudah pulang, sayang?" tanya Sabda saat berada di depan istrinya. Lelaki itu merangkul istrinya dan mengajaknya berjalan menuju meja makan.


"Sudah, Mas. Kita makan, yuk! Mas, katanya akan makan siomay- nya." Aruna masih mengingatkan Sabda. Sedangkan, Sabda hanya mengangguk lemah. Dia mau tidak mau menuruti apa kata bumil di depannya.


"Habis ini, nyobain supku ya, Mas!" pinta Aruna membuat Sabda menelan ludahnya.


"Ya ampun, Sayang. Kamu kira Mas ini unta yang bisa menampung makanan sebanyak- banyaknya." gumam Sabda membuat Aruna terkikik.

__ADS_1


"Mau, ya!" pinta Aruna dengan memeluk suaminya.


"Iya- ya... " jawab Sabda membuat Aruna tersenyum keki. Dia sudah merasa senang yang penting suaminya menuruti keinginannya meski dengan ngedumel.


__ADS_2