
Pagi- pagi sekali Abimana sudah bersiap. Lelaki yang selalu tampil rapi itu pun menatap dirinya di cermin. Dia kembali meyakinkan diri jika dirinya cukup menarik di mata banyak wanita. Lelaki yang saat ini mengenakan setelan blazer itu memupuk rasa percaya dirinya. Entah kenapa, sosok Aruna yang sulit untuk ditaklukkan membuat rasa percaya dirinya semakin terkikis.
Tidak ingin terlambat menjemput Aruna di klinik, Abimana pun bergegas menyambar kunci mobil dan berlari menghampiri mobil yang masih terparkir rapi di garasi.
"Mau kemana, Bi? Kok pagi-pagi sekali." tanya mamanya saat melihat Abi akan berlalu dan melupakan sarapannya.
"Mau ketemu teman, Ma." jawab Abi tidak langsung membuat Nuri percaya.
"Jangan lupa mengantar Riska ke kantornya." Nuri kembali mengingatkan, dia tidak ingin putranya melupakan gadis yang sudah menjadi pilihannya untuk menjadi pendamping Abimana.
Abimana tidak peduli. Dia pun berlalu menuju mobilnya dan meluncur ke klinik. Dia tahu pagi ini Aruna diperbolehkan pulang, sementara Tita harus bekerja. Tita memang meminta Abimana untuk mengantar pulang Aruna.
"Assalamu'alaikum... " ucap Abi ketika memasuki ruangan Aruna.
Aruna yang sudah berkemas pun dibuat heran melihat kedatangan Abi. Dia tidak menyangka jika, Abimana akan datang menemuinya saat ini.
" Kata Tita, hari ini kamu pulang, kan?" tanya Abi mana saat mendekati Aruna.
"Iya, Mas. Tinggal beresin ini saja." jawab Aruna, dia semakin salah tingkah saat perhatian Abimana semakin terlihat jelas.
"Aku akan mengantarmu pulang." ujar Abimana membuat Aruna menatapnya. Jika diberikan perhatian lebih siapa yang tidak luluh, itulah perempuan.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Aruna kembali meyakinkan.
"Tentu saja tidak. Bukankah, aku memang sudah berniat untuk menjemputmu?" tegas Abimana, sekali lagi gadis itu terbungkam. Dia tidak bisa lagi menjawab lelaki yang saat ini mengambil alih tas yang akan dibawa Abimana.
Mereka berjalan menuju parkiran. Abimana yang nampak begitu senang membuat Aruna ikut tersenyum tipis. Dia hanya berfikir, mungkinkan ini saatnya dia memutuskan sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Pajero putih itu melaju dengan tenang menuju komplek perumahan Aruna. Sedari tadi keadaan menjadi hening hingga sebuah panggilan masik di ponsel Abimana.
__ADS_1
"Iya... " jawab Abimana saat mengangkat ponselnya. Aruna hanya menoleh ke arah Abimana , gadis itu kembali pada pikiran gelisahnya.
"(...) "
"Baiklah, aku akan menemuimu saat makan siang." jawab lelaki yang saat ini langsung menutup teleponnya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis. Rumah yang hanya punya tetangga kanan dan kiri karena di depannya hanya sebuah tanah lapang yang dibuat taman kecil. Abimana kembali memperhatikan lingkungan sekitar sebelum keluar dari mobil.
Keduanya pun turun dari mobil. Saat akan membuka pintu pagar, Aruna bertemu Sabda yang membuka gerbang rumahnya. Sabda sudah bersiap akan berangkat ke kantor.
Tatapan mereka saling beradu. Keduanya, sama- sama melayangkan tatapan dingin. Aruna yang biasanya ramah pun terlihat kaku setelah pertemuan terakhir mereka.
"Run..." Panggilan Abi membuat Aruna tersadar. Aruna pun mengajak Abimana masuk ke dalam.
Sementara Sabda memindai tatapannya pada lelaki bermata sipit itu dengan rahang yang mengeras. Lelaki yang saat ini sedang memanasi mesin motornya pun hanya melihat keduanya masuk ke dalam.
Entah, kenapa dia merasa kecewa, saat melihat gadis yang sudah menarik perhatikannya sejak enam bulan yang lalu itu semakin dekat dengan lelaki lain.
Iya, sejak Aruna pertama kali membuka butik di depan Showroom mobil miliknya. Sabda mulai tertarik setiap kali melihat wajah cantik tanpa make up tebal itu. Apalagi keramahan gadis itu membuat Aruna semakin terlihat menarik dan menyenangkan bagi siapapun yang ada di dekatnya. Sabda melihat Aruna sebagai gadis yang periang dan cukup naif.
Melihat kedekatan Aruna dengan lelaki lain membuat Sabda semakin gelisah. Rasa gelisah yang berusaha dia tepis, tapi sayang, kali ini begitu sulit.
Sabda melangkah masuk ke dalam kantor, tatapan tajam yang lurus ke depan memberikan kesan yang acuh pada siapapun.
"Pak Sabda, nanti malam ada jadwal makan malam bersama Mandiri finance." ujar salah satu staf resepsionis. Saat melihat kedatangan lelaki dengan tubuh tinggi tegap itu, gadis berjilbab itu mengejar Sabda.
"Sepertinya aku tidak bisa datang. Minta Pak Andrean mewakili." jawab Sabda. Rasanya dia tidak bergairah untuk berbasa basi dengan orang lain saat ini.
"Oh baiklah... " sambut gadis itu sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Setelahnya Sabda kembali melangkah, tapi baru beberapa langkah dia menghentikan kakinya saat bertemu dengan Fadhil, bagian administrasi di kantornya.
"Pak Fadhil, kapan ada pengadaan seragam baru untuk bagian kantor dan sales marketing ?" tanya Sabda saat bertemu kepala bagian administrasi.
"Bulan depan, Pak. Apa ada sesuatu yang Bapak butuhkan?" tanya lelaki berumur 35 an tahun itu .
"Saya ingin seragamnya dipesankan di butik depan kantor." Usulan Sabda membuat lelaki itu menatap atasannya itu penuh tanya.
"Untuk harga? Aku tidak masalah berapapun. Tapi aku yakin Pak Fadhil bisa mendapatkan kesepakatan terbaik." lanjut Sabda seolah faham kebingungan lelaki berkaca mata itu.
"Ukuran bajunya sesuai dengan badan masing masing, biar hasilnya rapi." Sabda semakin membuat Fadhil termangu. Lelaki itu tidak mengerti pola pikir Sabda. Fadhil merasa kali ini Sabda terlalu ribet.
"Bisa, kan?" desak Sabda.
"Iya, Pak. Akan saya usahakan." jawab Fadhil dengan rasa ragu dalam batinnya.
Sabda pun kembali melangkah meninggalkan Fadhil yang masih menatapnya penuh tanya. Fadhil merasa heran, tidak biasanya lelaki tegas dengan pemikiran yang simple itu mengurusi hal sepele seperti itu.
###
Setelah kepergian Abimana, Aruna semakin gelisah. Pernyataan cinta Abimana dan mengajaknya menikah semakin membuat gadis yang sedang bimbang itu semakin gelisah.
Sebenernya hal ini yang Aruna tunggu, kepastian dari Abimana tentang perasaannya dan ketegasannya akan hubungan mereka. "Beri aku waktu satu minggu untuk menjawabnya, Mas." Hanya kalimat itu yang mampu Aruna berikan untuk jawaban untuk Abimana.
Aruna semakin gelisah. Bayangan Sabda seolah tak bisa luput dari benaknya. Pertemuannya yang hanya beberapa kali seolah mampu menghipnotis perasaan gadis yang saat ini duduk di sofa dekat jendela kamarnya.
Tapi, Aruna bukan tipe gadis yang ingin memenangkan perasaannya. Dia kembali teringat kalimat Sabda saat berada di klinik. Bagi Sabda jika dirinya sangat merepotkan, bahkan Sabda juga tidak kembali lagi meski hanya untuk menanyakan keadaannya. Lelaki itu terlampau cuek.
"Issshhh... Kenapa juga aku berharap padanya? Bahkan kita tidak berteman." Aruna kembali tersadar, kali ini dia semakin merasa pikirannya semakin konyol.
__ADS_1
"Ada istilah lebih baik dicintai dari pada mencintai. Lagi pula, sebuah kelembutan dan perhatian akan membuat seseorang jatuh cinta. Apa lagi aku yang tidak ingin merasakan sebuah pengkhianatan." gumam Aruna. Dia masih ingat bagaimana ibunya menangis sendirian di dalam kamar kala ayahnya tidak pulang ke rumah. Setiap mengingatnya, dia merasa sangat sedih. Padahal, saat itu Aruna masih sangat kecil.