Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Tak Seindah Yang Terlihat


__ADS_3

"Tok...tok... tok..." suara ketukan diiringi suara handle pintu yang bergerak membuat Aruna terkesiap dan menoleh.


"Mas Sabda?" panggil Aruna begitu ragu dengan jantung yang berdetak dan ingin meloncat saja.


"Run, ini Mas. Bukain pintunya!" teriak Sabda dari luar. Mendengar suara Sabda, Aruna bergegas membuka pintunya. Aruna memang sengaja mengunci pintu kamar setelah kepergian Sabda.


Sabda langsung masuk ke dalam dan membuka jaketnya. Wajahnya masih lembab dengan keringat. Lelaki itu terlihat lelah.


"Mas, kok sampai larut?" tanya Aruna langsung membuntut di belakang suaminya. Meskipun sempat dilanda rasa cemas, kini dia merasa lega yang teramat sangat saat melihat Sabda kembali dengan selamat.


"Tadi saat pulang dari tempat lokasi keributan, ban mobil kempes di jalan. Nanang langsung Mas ajak jalan kaki saja. Besok biar diurus lagi." ucap Sabda kemudian mengambil handuk untuk mandi, keringat sudah membuat tubuhnya terasa lengket.


"Oh..." Bisa terlihat oleh Sabda saat Aruna menarik nafas lega.


"Kamu mengkhawatirkan Mas, Run?" Sabda tersenyum menggoda saat, kemudian mencubit hidung mungil istrinya.


"Please, jangan labil, Mas!" cebik Aruna terlihat sedikit kesal. Kenapa juga hal seperti itu masih di pertanyakan.


Sabda terkekeh senang, dari sorot mata dan kecemasan yang dia lihat pada istrinya, itu artinya cinta Aruna masih sangat besar untuknya. Jika Aruna mengatakan dia labil mungkin tidak salah. Ketakutannya akan kehilangan Aruna membuat Sabda Megantara menjadi sangat posesif.


Setelah beberapa menit membersihkan diri, Sabda keluar dari kamar, terlihat Aruna sudah meringkuk memunggunginya.


Lelaki yang kini hanya menggunakan kaos singlet dan boxer itu merangkak ke atas tempat tidur, mencoba mendekati istrinya yang dia yakin belum terlelap.


"Sudah tidur?" lirih Sabda sambil mencium bahu Aruna yang terlihat terbuka. Aruna memang hanya mengenakan piyama dengan model tali di pundak.


"Ayo, kita olahraga sebentar!" ujar Sabda sambil tersenyum menggoda saat melihat mata bulat Aruna terbuka.


Aruna mengubah posisi, saat tubuh kekar itu mengungkungnya, tubuh mungil yang semula berbaring miring kini menjadi terlentang.


Aruna yang akan bicara kembali terbungkam saat bibir tipis Sabda mem*gut bibirnya. Sepasang mata keduanya yang kini bicara, Aruna bisa mengerti saat ini Sabda menginginkan dirinya.


Sabda begitu mahir membuat Aruna terbuai dengan sensasi nikmat yang dia berikan. Lelaki itu tetap sama, setiap sentuhannya selalu membuat Aruna merasakan kehangatan hingga membuatnya melayang.

__ADS_1


Dengan perut yang membuncit, Aruna semakin terlihat memukau di mata Sabda, lelaki yang tengah dimabuk cinta itu dengan hati-hati melakukannya, hingga dia memilih posisi yang aman untuk calon anak dan bayinya.


Sabda memeluk Aruna dengan begitu posesif setelah percintaan panas keduanya, Mereka menghabiskan malam indah pertama untuk Aruna di tempat terpencil ini dengan gelora asmara yang semakin menggebu.


Matahari terlihat menyembul dengan warna jingga yang terlihat indah, Aruna masih mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk.


Beberapa menit yang lalu keduanya baru saja selesai melakukan Salat Subuh, mereka bangun di waktu subuh yang hampir selesai.


"Besok kalau kita ke kota, Mas akan membeli AC dan hairdryer." ucap Sabda saat melihat Aruna kesusahan mengeringkan rambut. Minggu depan listrik pun sudah bisa mereka nikmati.


"Mas Sabda, sudah mau berangkat?" tanya Aruna saat melihat Sabda sedang menyisir rambut dan berpenampilan rapi.


"Iya, Arslan sudah menunggu di depan." lanjut Sabda.


"Sepagi ini?" timpal Aruna dengan rasa tidak percaya.


"Hmmm," jawab Sabda sambil meletakkan sisirnya.


"Kita keluarnya bareng, Mas. Aku ingin jalan- jalan." pinta Aruna. Dengan meletakkan handuk dari kepala dan menyisir rambutnya dengan cepat.


Dress warna ungu muda yang dipadu dengan jilbab ungu tua membuat wajah segar Aruna terlihat semakin cerah. Hanya memoles bibirnya dengan lipstik yang tipis, kecantikan Aruna sudah terlihat sempurna


"Kamu sangat cantik, Sayang." Spontan kalimat itu terlontar dari bibir Sabda. Tatapannya begitu mengagumi kecantikan istrinya yang mungil itu.


"Ayo, aku sudah siap, Mas!" balas Aruna, setiap Sabda memujinya Aruna semakin salah tingkah dibuatnya.


Mereka keluar dari kamar. Rumah sudah sangat rapi sementara itu di meja sudah ada sarapan dan segelas susu hamil dan secangkir kopi.


"Sudah ada sarapan, Mas?!" ujar Aruna sedikit kaget saat melihat meja makan.


"Iya, Mbak Sulis tadi yang menyiapkannya. kemarin, Mas juga memberikan susu hamil agar disiapkan setiap pagi dan malam." jelas Sabda.


"Aku bisa membuatnya sendiri. Terus di sini, aku ngapain? jika semuanya di layani." gumam Aruna. Kemudian meminum susu hamilnya.

__ADS_1


"Kamu cukup melayani, Mas." bisik Sabda dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Aruna. Lelaki itu benar-benar terlihat bersemangat pagi ini.


Kali ini hanya Sabda yang menikmati sarapannya, Aruna hanya menunggui Sabda karena susu hamil sudah cukup membuat perutnya kenyang untuk sementara.


Alena Pov


Aku kembali ikut Mas Arslan setelah pertengkaran kami semalam. Aku ingin menginap di rumah orang tuaku yang ada di daerah proyek yang sedang ditangani Pak Sabda.


Aku ingin sekali bercerai dengan Mas Arslan karena selingkuhannya saat ini juga sedang hamil dan menuntut untuk dinikahi. Rasanya aku sudah tidak tahan lagi.


Setiap kali melihat Mas Arslan, setiap kali itu mengingat pengkhianatannya. Untuk itu, aku akan menginap di rumah orang tuaku bersama anak- anak untuk sementara waktu.


Aku masih duduk bersama dua putriku di depan rumah pemukiman, sedangkan Mas Arslan masih berbincang dengan Nanang, asisten Pak Sabda sambil menunggu lelaki yang membuatku kagum itu keluar dari rumah.


Seketika aku terkesiap. Lelaki bertubuh tinggi dan tegap itu merangkul seorang wanita cantik dan anggun itu dengan begitu posesif.


Wanita yang terlihat masih sangat muda itu tersenyum padaku saat dia memergoki aku menatapnya. Aku yakin dia istri Pak Sabda.


Dia melangkah ke arahku, setelah membisikkan sesuatu pada Pak Sabda. Dan seperti biasa, lelaki itu menatap tajam ke arahku dengan wajah yang datar dan kemudian mengangguk.


"Assalamu'alaikum, Mbak." sapanya padaku, kemudian menoel pipi putri bungsuku yang berdiri di dekatnya. Dia wanita yang sangat ramah dan cantik, pantas saja Pak Sabda begitu setia dengannya.


"Waalaikum salam." jawabku masih dengan terbawa kekagumanku padanya.


"Kenalkan, saya Aruna. Istri Mas Sabda." lanjutnya.


"Saya Alena. Istri Mas Arslan." jawabku kemudian aku tersenyum membalas senyum tulus di wajah cantiknya.


"Kapan sampai di sini?" tanyaku basa-basi, Aruna wanita yang sangat luar biasa, apalagi dress panjang dan jilbabnya yang menutup seluruh aurat membuat wanita itu terlihat istimewa.


"Baru kemarin. Mbak Alena, tinggal di daerah sini?" tanyanya membuat obrolan kami mengalir begitu saja.


"Bukan, orang tuaku yang tinggal di sini. Kami hanya akan menginap di rumah mereka." jawabku singkat. Aku merasa minder saat berada di dekat Aruna.

__ADS_1


Obrolan kami mengalir begitu saja, dia wanita yang sangat ramah. Kalau boleh jujur aku merasa iri pada mereka. Pak Sabda dan Aruna adalah pasangan yang serasi, mereka terlihat saling mengisi dan setia.


Sementara, pernikahanku dan Mas Arslan semakin memanas setelah semalam aku baru tahu jika selingkuhan Mas Arslan sedang mengandung anak Mas Arslan. Duniaku rasanya sudah berakhir seketika.


__ADS_2