Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menunggui Sabda


__ADS_3

"Aku membuat kue, meski aku tidak ingin melakukannya. Semua itu agar bisa membuat kemarahan Mas mereda. Aku menunggu Mas, hingga bolak balik melihat pintu ruangan kerja. Tapi, aku benar- benar tidak dianggap. Padahal aku nggak salah." Aruna masih menangis, dia kesal dengan kelakuan Sabda yang cukup egois.


Sabda masih mengusap lembut punggung istrinya. Lelaki itu merasa jika Aruna seperti ini karena perubahan hormon saat hamil. Biasanya wanita yang kini dalam pelukannya itu selalu bersikap tenang.


"Mas tadi ingin mencicipi kuenya, tapi Mas pikir akan membereskan dulu pekerjaan Mas." jelas Sabda. Dia merasa bersalah sekali saat mengingat Aruna membuang hasil jerih payahnya.


Dia membiarkan Aruna sejenak diam dalam pelukannya. Dia ingin istrinya tenang untuk melerai semua emosinya.


"Pernahkah Mas mencintaiku tulus untuk sejenak?" pertanyaan Aruna membuat hati Sabda tercubit. Bagaimana bisa istrinya berfikir seperti itu? Dia tidak menyangka jika Aruna meragukan perasaannya selama ini.


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." lirih Sabda. Lelaki dengan otot-otot keras itu mempererat pelukannya.


"Aku ingin dicintai seperti Mas mencintai Mbak Anin, seperti Mas yang tidak bisa melupakannya, yang bisa merubah duniamu, Mas." lirih Aruna wajahnya masih tenggelam dalam dada bidang Sabda.


Sabda semakin terkejut saat istrinya mengungkap perasaannya. Sebegitu dalamnya keraguan Aruna padanya. Bagaimana bisa dia berfikir seperti itu?


Sabda mengendurkan pelukannya, memberi jarak agar dia bisa melihat mata yang masih berair itu.


"Dengar Aruna Putri Handoyo. Mas tidak ingin mencintaimu seperti cara Mas mencintai orang-orang di masa lalu Mas. Kamu tidak perlu merubah dunia Mas, agar tahu seberapa besar Mas mencintaimu." Kalimat Sabda terjeda. Saat matanya menatap mata sendu istrinya, hatinya saat ini merasa ngilu yang teramat sangat.


"Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Run. Kamu tidak hanya merubah duniaku, tapi aku ingin berjalan bersamamu karena kamulah duniaku." ucap Sabda dengan menatap mata Aruna untuk meyakinkan istrinya.


"Aku tidak ingin Mas memperjuangkan aku karena hanya bertanggung jawab karena ikatan suci ini saja." lanjut Aruna.


"Arunaaaaa... seburuk itukah hubungan kita? Bagaimana kamu bisa bertahan seperti ini?" tanya Sabda dengan geram. Lelaki yang itu mempertajam kalimatnya agar Aruna tidak salah faham.


"Beberapa kali wanita itu menemui ku, Mas." lirih Aruna. Dia ingin Sabda tahu semuanya. Apapun itu, meskipun akan dikatakan labil.


"Anin?" Sabda kembali meyakinkan. Dan Aruna mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Apa yang dia katakan padamu?" Sabda mulai tahu Anin yang sebenarnya. Anin yang dia anggap wanita polos dan yang begitu gigih untuk meraih kesuksesannya, tapi nyatanya dia selalu ingin merusak ketenangan istrinya.


"Mas tidak pernah mencintaiku. Mas hanya menghormati pernikahan kita dan rasa tanggung jawab saja. Intinya aku hanya sebuah pelarian saja. " Kalimat Aruna terjeda dia kembali menangis membuat wajah Sabda mulai memerah.


"Wanita itu juga mengatakan jika Mas melakukan hubungan badan dengannya tidak hanya sekali. Benarkah itu? " Aruna kembali terisak. Dia tidak mampu meneruskan kalimatnya. Sedangkan Sabda yang sedang mendengarnya semakin tersulut emosi.


Rahang lelaki itu semakin mengeras. Dia tidak menyangka jika selama ini Anin selalu memprovokasi istrinya. Ah, bodohnya dia yang pernah menganggap wanita itu masih polos dan sangat baik.


"Mas hanya sekali melakukannya. Malam itu seseorang mengantarkan Mas ke kamar, saking mabuknya, hingga pandangan Mas kabur. Dalam kamar itu aku melihatmu dan aku melakukannya...Mas hanya mengingat itu." Ya terpaksa Sabda menjelaskan kejadian itu. Dia memang tidak menguasai semua ingatannya pada malam itu.


"Demi Allah, Mas mencintaimu. Tidak ada yang bisa memaksa Mas untuk memilihmu kecuali perasan cinta Mas." ujar Sabda. Dia tidak ingin Aruna salah faham lagi.


"Jika masalah waktu. Tidak sulit untuk jatuh cinta padamu. Tidak perlu waktu yang lama untuk mencintaimu. Kamu wanita yang baik dan cantik." ucap Sabda. Dua hal itulah yang membuat seseorang tidak bisa mengelak dari pesonanya Aruna.


Aruna makin terisak, kenapa ada kejadian itu. Pengkhianatan itu seperti noda yang sangat sulit untuk di hapus dalam pernikahan mereka.


Malam ini, Aruna tertidur di dekat Sabda. Lelaki itu terpaksa harus menyelesaikan pekerjaannya karena minggu depan dia sudah siap untuk turun menggantikan posisi Mama Rosa.


Pukul dua belas malam, lelaki yang kini memijat pangkal hidungnya karena merasa lelah menatap layar laptop, menghentikan kesibukannya.


Ditatapnya Aruna yang meringkuk di sebelahnya. Wajah cantik yang terlihat sendu, membuat Sabda mengusapnya lembut. Kemudian kecupannya beralih pada perut yang sedikit membuncit itu.


"Bagaimana kamu bisa meragukan cinta Mas, Run. Mendapatkan dirimu saja susah, apalagi mempertahankan dirimu sangat sulit. Kesalahan kemarin memang noda untuk pernikahan kita, tapi bagi Mas, itu adalah cara Tuhan memberi tahu sebesar apa aku mencintaimu." Sabda bermonolog dalam hatinya.


Dia kemudian mematikan laptop dan TV yang sempat di tonton Aruna. Lelaki itu pun beranjak untuk menggendong Aruna dan memindahkannya ke kamar.


####


Abimana tertegun di dalam apartemennya. Dia menatap foto gadis dengan seragam putih Abu-Abu.

__ADS_1


Aruna. Gadis itu adalah Aruna saat masih SMA. Gadis manis dengan senyum ceria itu sudah mengambil hatinya.


Bagaimana dia bisa menerima jika Gadis itu memilih lelaki lain. Dia sudah menunggunya selama bertahun-tahun untuk mendapatkannya malah harus berakhir dengan rasa kecewa.


Terdengar helaan nafas berat dari lelaki berkulit putih itu. Dia sudah memanfaatkan situasi antara Sabda dan mantannya, tapi tidak juga dia bisa mendapatkan gadis yang dia cintai.


" Aruna. Bagaimana aku bisa melupakanmu dengan mudah? Aku sudah cukup lama mencintaimu." gumam abimana dengan rasa kecewa. Apapun yang sudah dia lakukan, tetap saja tidak bisa mendapatkan gadis yang sudah dia cintai. Dia rasanya tidak sanggup melepaskan Aruna.


Suara bel membuyarkan lamunannya tentang Aruna. Lelaki yang kini mengenakan kaos rumahan dan celana pendek itu berjalan membuka pintu.


Arimbi dan Amanda sudah berdiri di depan pintu. Abimana menatap dua gadis itu secara bergantian. Sudah pukul sembilan malam, tapi Arimbi masih berkeliaran.


"Bang, anterin kita pulang, ya!" ucap Arimbi saat Abimana mempersilahkan dia masuk.


"Kamu malam-malam berkeliaran. Apa mama tidak mencarimu?" tanya Abimana.


"Aku dan Amanda habis ngerjain tugas di tempat temanku di lantai 35. Karena sudah malam, aku mampir ke sini." ucap Arimbi. Mereka terlalu terbawa serius saat mengerjakannya hingga tidak menyadari waktu.


"Minta dianterin Bang Abi." lanjut Arimbi. Sementara Amanda hanya diam saja. Dia melah sedang memperhatikan apartemen mewah milik Abimana.


"Krrruuukk... Kruk... " suara perut Amanda membuat Abimana dan Arimbi menoleh ke arah gadis yang sedang tersenyum kaku memamerkan deretan giginya.


"Ayo, Abang antar. " Abimana langsung mengambil kunci mobilnya. Dan bersiap mengantar Amanda Dan Arimbi.


"Kalian mau makan apa?" ucap Abimana saat mereka berada di lift.


Amanda dan Arimbi saling bertukar pandang. Sementara, Amanda langsung menggeleng. Dia merasa sungkan setiap kali bertemu Abimana pasti dibelikan makan.


"Nggak apa- apa. Dari pada kamu kelaparan nanti." sahut Abimana saat melirik keduanya yang masih terdiam.

__ADS_1


__ADS_2