Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Keputusan


__ADS_3

Setelah mengantar Sisil dan Anin ke rumah sakit, Sabda memutuskan untuk segera pulang, setelah Sisil mendapatkan penanganan tentunya.


Dia memang tidak tega melihat Anin keteteran merawat putrinya sendiri. Sejak dulu, sejak Mama Rosa membawa Anin dalam rumahnya, Sabda selalu tidak tega dengan wanita berwajah polos itu.


Di dalam mobil yang meluncur begitu tenang, hatinya terus saja merasa gelisah. Dia teringat kalimat-kalimat yang dilontarkan Aruna sebelum dia menemui Anin.


Dia menghela nafas panjang, untuk memberi rongga ruang pada dadanya yang sedari tadi terus berdebar.


Pukul sebelas malam, mobil mulai masuk ke dalam garasi. Rumahnya terlihat hening dengan lampu yang masih menyala semuanya. Apa Aruna belum tidur? Pikir Sabda kemudian masuk ke dalam rumah.


Pria itu mencari keberadaan istrinya di ruang tengah dan kemudian pergi ke dapur. Tapi, tidak ada. Dia melihat di meja masih ada es cream yang sudah mencair. Biasanya Aruna akan langsung membersihkan meja dan dapur setelah mereka makan.


Hatinya semakin gelisah, lelaki yang kini meletakkan kunci mobil di meja makan itu pun segera berlari naik ke atas. Sabda berniat mencari Aruna ke kamar mereka.


"Ceklek" dengan tergesa-gesa Sabda membuka pintu kamar. Kamar terlihat sangat rapi, seolah belum ada yang menyentuh selimut dan kasur atau barang lainnya.


Dia mulai gelisah mencari keberadaan istrinya. Langkahnya yang setengah berlari menuruni tangga membuat suara yang menggema di rumah yang sangat terang dan sunyi.


"Aruna... " panggil Sabda. Dia pun bermaksud untuk mencari keberadaan Aruna di rumah sebelah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat kamar tamu yang setengah terbuka.


Lelaki yang kini berjalan masuk ke kamar itu pun terhenti tepat di depan pintu. Tatapannya tertuju pada tubuh mungil yang tertidur di bagian pinggir tempat tidur dengan kedua kaki yang masih menggantung.


Berlahan Sabda mendekat ke arah tempat tidur di mana Aruna terlihat memejamkan mata dengan begitu tenang, meskipun Sabda bisa melihat wajah itu sangat pucat. Bahkan, istrinya masih mengenakan baju yang sama seperti saat dia akan pergi.


Sabda mengangkat dan meluruskan kaki Aruna yang masih menggantung. Kemudian dia duduk di sampingnya. Lelaki itu menatap istrinya dengan perasan bersalah. Beberapa bulan dia fokus dengan urusannya hingga terasa abai dengan wanita yang begitu penurut itu.


Sabda Pov

__ADS_1


Aku melihat wajahnya terlihat begitu pucat. Entah sedang sakit apa, Aruna selalu menolak saat aku ingin mengajaknya periksa. Tapi, meskipun begitu dia tetap secantik bidadari, wajahnya dan juga hatinya. Dia wanita yang sangat baik. Aruna, dia adalah wanita yang kupilih menjadi istriku untuk mengobati rasa patah hatiku.


Wanita yang tidak pernah menuntut apapun dariku, bahkan dia menanggapi emosi dan kecuekanku dengan begitu sabar. Tapi akhir- akhir ini dia yang cerewet itu berubah menjadi pendiam.


Bahkan, kata-kata terakhir saat Anin menelpon, jika kondisi Sisil drop seperti teka teki yang membuatku takut. Entah apa yang terjadi dengan istriku hingga dia begitu berubah. Aku mulai mengenali perubahan itu meskipun masih terlihat samar.


Aku juga bisa merasakan jika dia sudah menjaga jarak denganku. Entah kenapa hatiku menjadi gelisah melihat sikapnya yang begitu tenang. Sikap tenangnya itulah yang menimbulkan rasa bersalah pada wanitaku.


Author Pov


Lelaki yang kini betah menatap wajah cantik istrinya itu pun mengulurkan tangan mengelus pipi halus Aruna.


Aruna mengerjapkan mata dengan pelan, menatap sejenak sosok yang ada di depannya. Tapi mata indah itu segera mengatup kembali. Dia sudah tidak peduli lagi dengan kehadiran lelaki yang sudah mematikan rasanya.


Sabda belum menyadari jika istrinya sempat tidak sadarkan diri saat dia tinggalkan sendiri. Aruna yang sadar dengan sendirinya, dengan tertatih dia masuk di kamar tamu karena kamar itu yang sangat mudah dijangkau olehnya.


###


Aruna memasukkan sebagian baju dan barangnya ke dalam koper. Setelah Salat Subuh, dia menelpon Mama Hesti jika dirinya ingin pulang.


Aruna tidak menceritakan apa yang sudah terjadi. Biarlah nanti saat dia sudah di sana, dirinya akan bicara dengan pelan pada Mama Hesti.


Sejenak gerakan tangannya terhenti saat pikirannya tertuju pada dua orang, Mama Hesti dan Mama Rosa. Dia mungkin akan bicara pada Mama Rosa terlebih dahulu sebelum bertemu Mama Hesti. Dia tidak tahu apa reaksi dari kedua wanita itu, tapi keputusannya sudah bulat.


"Run... " panggil Sabda dengan wajah kagetnya. Lelaki itu tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan istrinya dengan koper dan barang miliknya.


"Kamu mau kemana?" tanya Sabda, dia masih bingung dengan apa yang akan dilakukan istrinya.

__ADS_1


"Sebentar, Mas. Aku akan menyelesaikan ini dulu. Kita akan bicara." Kalimat Aruna benar- benar seperti teka teki untuk Sabda.


"Ada apa, Run?" sekali lagi Sabda bertanya. Hatinya mulai dilanda rasa gelisah. Tapi Aruna tidak menjawab, wanita itu masih sibuk dengan kopernya.


"Ayo kita sarapan. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk, Mas." ucap Aruna kemudian menarik tangan Sabda untuk keluar kamar dan menuju meja makan yang sudah penuh dengan makanan.


Aruna mengambilkan nasi dan lauk di piring Sabda. Dia pikir ini terakhir dia akan melayani Sabda seperti ini.


"Kamu tidak makan? "tanya Sabda dengan menatap Aruna dengan sorot mata penuh selidik.


"Aku nanti saja, Mas." ucap Aruna membuat Sabda merasa Aneh. Tapi, rasa penasaran membuat Sabda menyelesaikan sarapannya dengan cepat.


Aruna pun segera mengambil piring Sabda dan membersihkan sekalian, "Run... " protes Sabda karena terlalu lama menunggu.


Jika dirinya merasa penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Aruna. Berbeda dengan Aruna yang sedang meyakinkan hati akan keputusan yang akan dia ambil.


Sabda terus saja memperhatikan Aruna yang kembali mengambil duduk tepat di depannya. Sejenak Aruna terdiam dengan jari jemari yang saling tertaut di atas meja.


Jantungnya yang terus saja berdetak tak beraturan membuat Aruna kembali menyapa mata tajam Sabda. Mata yang selalu membuat hatinya berdebar.


"Aku ingin kita berpisah." ucap Aruna dengan suara tegas.


Seketika Sabda terdiam. Dia merasa terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan istrinya. Aliran darahnya seperti berhenti seketika. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan istrinya.


"Aku ingin kita bercerai." ulang Aruna membuat wajah Sabda seketika memerah. Apa yang baru saja dia dengar tidaklah salah.


"Run... "

__ADS_1


"Aku sudah memikirkan lama. Dan berkali-kali aku sudah meyakinkan keputusan ini." sela Aruna di antara kalimat yang akan dilontarkan Sabda. Aruna memang sudah tidak ingin dibujuk lagi.


__ADS_2