Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Hampir Pingsan


__ADS_3

"Sudah lama aku mencinta, Pak Sabda!" lirih Puspita dengan semakin mempererat pelukannya di tubuh Sabda.


"Tok.. tok.. "


"Ceklek. " Suara pintu terbuka. Masih dengan memegang handle pintu, Aruna berdiri dengan perasaan yang cukup terkejut. Rasa kaget yang sangat luar biasa membuat tubuhnya serasa oleng.


Seketika Aruna merasa kepalanya berputar dan pandangannya pun berlahan kabur. Dia mencoba untuk bertahan dengan mempererat pegangannya di daun pintu.


"Aruna..." Dengan tak kalah kaget, Sabda langsung mendorong tubuh Puspita hingga gadis itu jatuh di lantai.


Sabda menangkap tubuh mungil Aruna yang akan luruh jika saja dia terlambat untuk menangkapnya.


Saat melihat Aruna yang sudah terdiam dengan memegang kepalanya, Sabda tahu jika istrinya mulai merasa pusing. Kehamilan memang membuat kondisi Aruna tidak stabil.


"Run... Aruna!" Lelaki yang dilanda rasa panik itu pun menggendong istrinya menuju ruangannya. Sumpah demi Tuhan, dia takut kejadian buruk di masa lalu akan menimpanya lagi.


Direbahkan tubuh Aruna di sofa. Sabda segera mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan di sekitar hidung istrinya.


"Sayang..." panggil Sabda.


"Bangun, Run." lanjutnya sambil terus menggosok tangan dingin istrinya untuk memberi kehangatan. Sedangkan matanya tidak lepas dari mata yang masih mengatup rapat.


Beberapa menit kemudian, mata indah itu mengerjap. Menatap nanar Sabda yang tengah menggenggam tangannya. Dia menarik tangannya dari genggaman Sabda. Air matanya pun terus menetes karena rasa marah dan kecewa.


"Apa yang kamu lakukan, Mas? Benar ternyata kata orang jika tukang selingkuh itu tidak ada obatnya." Aruna berusaha bangkit untuk duduk meski dengan susah payah. Tatapan kecewa dia layangkan pada sosok di sampingnya yang masih menatap sendu.


"Astaga, Sayang. Kamu salah faham." Dengan pelan Sabda mencoba untuk menenangkan Aruna, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.


"Salah faham. Apa aku terlalu bodoh untuk mengartikan semuanya? Kamu keterlaluan, Mas." Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mulai menangis sesenggukan. Sedangkan, Sabda mulai blingsatan untuk menenangkan Aruna.


"Sayang, kita putar ulang CCTV yang ada di ruang meeting agar kamu bisa melihatnya." Sabda memeluk istrinya dan mengusap lembut pundak yang masih bergetar karena isak tangis.


Sabda mengambil ponselnya, dia mulai membuka rekaman CCTV ruang meeting yang terhubung dengan ponselnya.

__ADS_1


"Sayang... " Sabda duduk di sebelah Aruna, tangannya memeluk tubuh mungil di sampingnya. Berlahan rekaman itu berjalan.


Aruna memang melihat rekaman itu dari mereka melakukan meeting hingga selesai, kemudian di ruangan itu tinggal Sabda dan gadis itu, semua terlihat dengan jelas hingga membuat wajah Aruna memerah karena rasa malu.


"Mas Sabda... " Aruna menatap Sabda dengan rasa bersalah. Dia sudah mengatai suaminya dengan kata-kata yang buruk. Sekarang dia yang merasa buruk karena yang dia lihat tidaklah seperti kenyataanya.


"Maafkan aku, Mas. Aku... " Sabda menutup mulut istrinya dengan satu jarinya. Berlahan Sabda mengikis jarak diantara mereka dan mengecup bibir mungil dengan begitu dalam.


"Yang penting kamu dan bayi kita baik- baik saja!" ucap Sabda, kemudian memeluk Aruna, wanita yang ingin dia jaga benar-benar. selain untuk menebus salahnya tapi juga karena dia memang mencintai wanita cantik dan baik hati seperti Aruna.


"Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu dan dia. Bikinnya saja dengan proses yang cukup berat dan banyak syarat." Sabda mengelus perut datar Aruna. Harapan terbesar untuk mengikat dan menguatkan hubungannya dengan Aruna adalah nyawa yang ada di perut istrinya.


"Mas Sabda... " lirih Aruna dengan malu- malu.


Melihat Aruna yang masih terlihat pucat Sabda hanya memesan makanan yang diinginkan istrinya. Mereka memutuskan makan siang di kantor. Sementara untuk urusan Puspita Sabda meminta Andrean yang mengatasinya.


Lelaki itu meminta sepupunya untuk menyelidiki lebih lanjut hubungan Puspita dengan Abimana dan Aninditha. Sungguh keterlaluan sekali gadis yang dia anggap perempuan baik- baik itu ternyata yang selalu memperkeruh masalah.


"Aku belum bisa memberitahu sekarang. Semua masih dalam penyelidikan orang-orang suruhannya Mas." jelas Sabda. Dia mengecup lembut puncak kepala istrinya yang bersandar di lengannya.


Mungkin karena kehamilan atau perubahan hormon, Aruna mudah sekali berpindah mood. Dia mudah marah, sensitif, bahkan tidak malu untuk bersikap manja.


###


Malam ini sekitar pukul enam event Fashion show akan dimulai, untuk itu setelah Salat Ashar Aruna baru pergi ke mall untuk melihat persiapan event. Wanita itu benar-benar terlihat begitu anggun dengan make up sedikit menyala untuk menutupi wajahnya yang terlihat pucat.


Ponsel yang berbunyi membuat Aruna membuka hand bag miliknya dan mengambil benda pipih yang terus saja bergetar. Sabda sedang menelponnya. Hari ini lelaki itu sibuk mengurus kantor cabang.


"Assalamu'alaikum, Mas." ucap Aruna saat membuka panggilan dari Sabda.


"Waalaikum salam. Sayang, jangan terlalu capek. Mas nggak mau terjadi hal buruk padamu dan calon bayi kita!" ucap Sabda yang langsung to the poin dari sebrang. Lelaki itu seharian entah berapa kali menelpon Aruna agar tidak terlalu capek karena Sabda tahu jika hari ini akan ada event penting untuk karir istrinya.


"Iya, Mas. Aku baru sampai mall, ini saja aku masih duduk di lantai dua sambil minum jus." ucap Aruna membuat lelaki yang ada di seberang itu bernafas lega.

__ADS_1


"Nanti saat pulang, Mas langsung ke sana!" ucap Sabda setelah itu dia menutup panggilannya.


Sebenarnya tidak ada yang banyak dilakukan Aruna kecuali memantau jalannya acara. Semua juga sudah diserahkan pada team EO dan beberapa orang dari butik terutama Nina dan Amanda.


Acara berlangsung dengan meriah, semua berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan. Fashion show kali ini bertemakan 'Religi and Tradisi' memang bukan event yang besar, tapi cukup berarti karena ini pertama kali butik milik Aruna menyelenggarakan event seperti ini. Aruna merasa lega meskipun sedikit tegang dan lelah.


"Astagfirullah..." ucap Aruna, tubuhnya mulai keluar keringat dingin saat namanya mulai dipanggil. Sejenak dia mengumpulkan tenaga.


"Bismillahirohmannirrokhim." lirih Aruna. Kemudian berjalan dengan anggunnya dengan dikawal beberapa model yang telah memperagakan hasil rancangannya.


Senyumnya manis mengembang begitu lebar saat para tamu bertepuk tangan menyambutnya. Dan ada yang membahagiakan dirinya saat Sabda suda berdiri diantara tamu undangan.


Lelaki itu baru saja datang, bahkan dia belum sempat mencari tempat duduk. Tapi, ada yang menarik perhatian Sabda saat Aruna menggenggam kencang tangan salah satu modelnya. Lelaki bermata tajam itu segera mengikuti istrinya sampai di belakang panggung.


"Aku ingin minum." pinta Aruna setelah berada di belakang panggung.


Nina mengulurkan sebotol minum yang ada di tangannya, "Mbak, duduk dulu!" ucap Nina dengan menyodorkan bangku plastik pada Aruna. Aruna memang merasa tubuhnya sedikit gemetar.


"Sayang... " Sabda menghampiri Aruna. Lelaki itu terlihat cemas saat melihat wajah Aruna berkeringat. Keringat besar- besar yang artinya Aruna sedang tidak sehat terlihat di kening istrinya.


"Nin... urus semuanya. Aku akan membawa Aruna keluar." ucap Sabda kemudian membawa istrinya keluar dan masuk ke resto terdekat.


Sabda langsung memesan minuman hangat. Lelaki itu menatap tajam Aruna. Dia sudah bilang untuk tidak terlalu lelah tapi kenyataannya dia menemukan istrinya hampir pingsan.


Sabda mengusap wajah Arun dengan sapu tangan untuk menghilangkan keringat, sedangkan Aruna menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Dia memang merasa lebih baik saat jauh dari keramaian.


"Minum dulu!" Sabda menyodorkan segelas susu hangat yang dipesan untuk wanitanya. Aruna menyesap minuman hangat itu hingga tinggal separo.


"Kamu sudah makan?" tanya Sabda membuat Aruna mengingat jika dari siang tadi dia belum makan. Sebelum acara dia hanya minum just orange saja.


"Sayang... " panggil Sabda membuat Aruna menggeleng pelan.


"Aku baru merasa lapar, Mas." lirih Aruna membuat Sabda hanya mendesah. Lelaki itu memanggil pelayan untuk memesan makanan yang diinginkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2