Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Peresmian


__ADS_3

Sabda menoleh ke arah gerbang rumahnya yang dibuka oleh Aruna. Dia melihat istrinya mengenakan bergo dan piyama panjangnya saat keluar rumah.


Sabda yang baru saja berolahraga pagi itu pun berlari ke arah Aruna. Dia ingin tahu kemana Aruna akan pergi.


"Mau kemana, Sayang?" tanya lelaki itu saat melihat Aruna hendak melangkah.


"Aku mau beli nasi uduk di tempat Bu Asmi. Aku malas membuat sarapan, Mas." jawab Aruna melihat badan suaminya sudah basah oleh keringat.


"Ayo, Mas, temani." ucap Sabda membuat Aruna menatap sosok di depannya dan kembali berfikir lagi.


Sabda terlalu seksi dalam kondisi basah dengan keringat. Sedangkan rumah Pak Rt ada di sebelah rumah Bu Asmi. Takutnya remaja itu akan melihat pesona dari suaminya.


"Nggak usah, Mas. Aku pergi sendiri saja. Lagian lumayan dekat." elak Aruna padahal dia hanya tidak ingin Sabda bertemu dengan gadis yang umurnya di bawahnya empat tahun dari umurnya.


"Kamu takut, Mas, akan bertemu anak Pak Rt?" tembak Sabda langsung ke inti. Lelaki itu langsung tertawa saat tidak mendapatkan jawaban istrinya. Padahal Sabda hanya khawatir padanya yang habis sakit.


"Bukan begitu, Mas." ucap Aruna dengan salah tingkah. Dia tidak bisa mencari alasan yang lebih baik.


Akhirnya mereka berjalan bersama menuju gang sebelah. Aruna memilih jalan kaki agar tubuhnya terasa lebih segar karena siklus oksigen di tubuhnya lancar.


"Keadaanmu bagaimana? Sudah merasa sehat belum?" tanya Sabda saat mereka berjalan bersama.


"Aku merasa lebih baik. Mungkin kemarin kadar gulaku drop, Mas. Nyatanya, setelah minum coklat hangat aku merasa lebih segar." jelas Aruna. Pagi buta dia memang sudah minum dan ngemil yang berbau coklat, oleh- dari mertua.


"Tapi, hari ini kamu istirahat saja di rumah. Jangan ke butik dulu!" titah Sabda. Aruna tidak ingin membantah suaminya, tapi dalam hatinya dia bisa menyelesaikan pekerjaannya di rumah.


Suasana masih terlalu pagi dan sepi. Sabda berjalan dan menggenggam tangan istrinya dengan bebas, tanpa ada banyak pasang mata yang menatapnya penuh selidik.


"Besok kamu bisa menemani, Mas, saat peresmian kantor cabang baru?" tanya Sabda, dia berharap Aruna bersamanya saat potong pita besok.


"Insyallah bisa, Mas." jawab Aruna. Bagi Aruna suatu kebanggaan bisa menemani suaminya dalam acara penting.


Tak terasa mereka sampai di depan warung Bu Asmi. Beliau satu- satunya warga komplek yang jualan makanan matang di pagi hari.

__ADS_1


"Eh, Mbak Runa. Pengantin baru, makanya kemana-mana berdua." sapa salah satu ibu- ibu yang tinggal dilingkungan dekat rumahnya.


"Iya, Bu." jawab Aruna dengan tersipu malu.


Sabda yang menunggu di pinggir jalan pun hanya melirik istrinya yang mulai berinteraksi dengan Bu Asmi sendiri.


Dia kembali memperhatikan istrinya yang tengah berbaur dengan pembeli lainnya. Entah kenapa dia merasa ada yang berbeda dengan Aruna. Wajah lesu dan tubuh mungil yang bertambah kurus itu terlihat lebih menarik meski berbalut piyama longgar.


"Mas, sudah." Aruna kembali menghampiri Sabda yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Ayok... " Sabda menyimpan ponselnya di saku dan mengambil tas kresek hitam yang tadinya dibawa istrinya.


Aruna membiarkan Sabda yang menenteng belanjaannya dan satu tangan besar itu merangkul bahu kecilnya sepanjang jalan.


###


"Mas, bagaimana? Aku sudah cantik?" tanya Aruna. Sejak menikah dengan Sabda dia sangat memperhatikan penampilannya. Apalagi hari ini, dia akan di samping Sabda dan menjadi pusat perhatian tentunya.


"Maksudnya, masih terlihat pucat?" Aruna memperjelas pertanyaannya. Saat sempat melihat wajahnya yang pucat, dia menyapukan make up yang sedikit tebal dengan warna yang soft.


"Cantik. Kamu mengerti, kan?" sambut Sabda tidak bisa lagi berkomentar. Wanita memang seperti itu, pikirnya.


Tapi, memang itulah kenyataannya. Aruna memang punya wajah cantik dengan tampilan yang anggun meskipun tubuhnya mungil tapi tidak menghilangkan kecantikan yang terpancar dari sosok Aruna Putri Handoyo.


Mereka sudah bersiap dengan baju yang senada. Aruna membawakan blazer milik Sabda saat berjalan menuju mobil. Lelaki itu sebenarnya enggan mengenakan blazer karena Aruna terus memaksa karena acara hari ini adalah acara penting.


Akhirnya lelaki yang mengenakan celana jeans warna hitam itu pun meng- iyakan saja. Keduanya tampil begitu sempurna.


Mobil meluncur dengan santai.Tempat tujuannya tidaklah butuh waktu yang lama. Hanya empat puluh lima menit, mereka sampai di sana.


Showroom terlihat ramai. Memang tidak sebesar kantor pusat, tapi Sabda berharap kantor barunya akan memberikan keuntungan yang tidak kalah dari kantor pusat.


"Selamat siang, Pak Sabda!" sambut beberapa orang yang menghampiri Sabda, saat lelaki itu turun dari mobil.

__ADS_1


MC mulai membuka acara, memberi sambutan singkat sebelum Sabda. Hingga akhirnya Sabda sudah siap dengan mike di tangan. Lelaki yang kini menjadi pusat perhatian itu mulai memberi ucapan terimakasih dan arahan.


Sambutan dari Sabda yang cukup singkat pun telah selesai. Sabda memang tidak suka bicara yang terlalu berbelit-belit. Kemudian, dia memanggil Aruna untuk berdiri di sampingnya karena sebentar lagi akan dilakukan gunting pita. Dia ingin istrinya di sampingnya.


Semua bertepuk tangan dengan riuh. Para tamu undangan dan para karyawan memberi selamat pada Sabda.


"Selamat, Pak Sabda. Anda selalu membuat iri banyak kaum laki-laki." seorang kepala cabang bank swasta menyalami Sabda.


"Ah, Pak Rudi ini berlebihan." balas Sabda.


"Saya bersungguh-sungguh, Pak. Karier bagus dan punya istri cantik yang mendampingi. Sudah cukup sempurna, Pak." lanjut lelaki yang perkiraan berumur empat puluhan tahun.


Di sudut ruangan Anindita menatap Sabda dengan penuh kekaguman. Dia akan menunggu tamu lain yang sedang memberi selamat, sebelum dirinya siap menghampiri Sabda sebagai perwakilan dari finance tempatnya bekerja. Bila harus jujur, dia juga gugup akan bertatap muka dengan lelaki yang masih menempati hatinya.


Para tamu sudah mulai menikmati hidangan hingga wanita itu bersiap menyapa Sabda. Dengan dada yang berdebar dan langkah yang sedikit meragu, Anindita berjalan menuju arah Sabda berdiri.


"Selamat Pak Sabda atas keberhasilannya."


Suara itu, Sabda masih ingat betul siapa pemiliknya hingga dengan cepat dia menatap sosok wanita yang sudah lama dia cari itu sudah berdiri di depannya.


"Anin... " Iirihnya tapi masih terdengar jelas. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Sungguh dia tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan gadis di masa lalunya.


"Apa kabar, Da?" tanya Anindita dengan sapaan yang lebih santai.


Sabda memperhatikan sekali lagi wanita yang tujuh tahun menghilang dari hidupnya memang tak ada yang berbeda. Cuma dia lebih terlihat matang dan tenang.


"Baik, kamu? " Sabda terlihat salah tingkah. Dia tak mampu mengontrol gejolak yang ada dalam dirinya.


"Baik, sekali lagi selamat ya. Nggak nyangka kamu sesukses ini." ucap Anin berusaha mengakrabkan. Sementara, Sabda hanya tersenyum, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Padahal dulu, kamu paling malas belajar bahkan jarang mengerjakan tugas kuliah." Anin berusaha mencairkan situasi sementara Sabda hanya tersenyum. Dia masih tidak percaya jika akan menemukan Anin dengan situasi yang sudah berubah.


Sabda baru menyadari jika seseorang sudah menatapnya penuh tanya. Aruna masih mencoba mengerti semuanya meskipun dia merasa kedua orang yang ada di dekatnya itu saling menatap dengan sorot mata yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2