Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Pertemuan Dua Wanita


__ADS_3

Aruna membuka matanya. Dia menatap mata Sabda yang kini juga menatapnya. Mata tajam yang akhir- akhir ini terlihat sendu dan penuh rasa bersalah.


"Apa kamu belum bisa memaafkan, Mas?" tanya Sabda. Mata yang selalu menatapnya penuh permohonan membuat sisi lain dari hati Aruna kembali terenyuh. Dia kembali teringat akan pesan Bu Ambar 'komunikasikan semua dengan baik'


"Aku sudah memaafkan, Mas. Apa Mas benar-benar mencintaiku?" tanya Aruna dia memang masih ragu dengan perasaan Sabda padanya.


"Apa kamu tidak merasakan bagaimana Mas berjuang untuk memperbaiki semuanya? Apa kamu tidak percaya dengan yang Mas lakukan?" tanya Sabda. Sabda yakin Aruna menyadari semuanya tapi dia berusaha menutup mata karena rasa trauma.


"Apa kita perlu untuk konseling?" tanya Sabda.


"Aku sudah lebih baik, Mas. Kita akan berjuang bersama." jawab Aruna.


Bagi Sabda konseling seperti itu memang kadang dibutuhkan. Karena terkadang kita memang butuh beberapa pemikiran dari sudut pandang yang berbeda dan lebih tepat, untuk menentukan kemana kita melangkah. Tapi jika Aruna menolak tidak masalah bagi Sabda, setidaknya dia merasakan hati Aruna yang mulai menghangat.


"Kruk... kruk... " bunyi perut Aruna terdengar membuat keduanya tertawa. Tawa pertama dari mereka setelah ketegangan yang diciptakan dari masalah yang sedang melanda rumah tangga mereka.


"Kita makan di luar saja, ya!" ajak Sabda yang diikuti dengan anggukan Aruna.


Aruna kembali memungut handuk yang tadi sempat dia pakai, dengan tergesa dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Sejenak Sabda tertegun dengan menghilangnya bayangan Aruna. Hatinya sedikit lega, meskipun dia belum bisa memiliki hati istrinya dengan sempurna. Tapi, Aruna sudah bisa diajak berkomunikasi. Mungkin, seperti istilah kita tidak akan bisa mengembalikan pecahan kaca yang sudah pecah tapi kita bisa membuatnya menjadi sesuatu yang lebih indah.


Jalan raya masih saja terlihat ramai, pukul sepuluh malam Aruna dan Sabda berkeliling menggunakan sepeda motor. Sabda sengaja menggunakan motornya untuk mengingat saat mereka baru kenalan.


"Kamu mau makan apa?" teriak Sabda.


"Terserah Mas Sabda saja." pekik Aruna karena suara motor dan berisiknya kendaraan yang lain membuat Aruna mengeraskan suaranya.


Sabda menarik lengan Aruna agar lebih mempererat pelukannya. Dia sengaja melajukan motornya semakin jauh dari rumah. Dia ingin sekali menikmati masa seperti ini bersama istrinya.


Sabda berhenti di depan gerobak penjual sate tepatnya sate ayam. Sabda sengaja menghindari sate kambing untuk saat sekarang. Menu satu ini juga yang menjadi sejarah awal dia mendekati Aruna.

__ADS_1


Mereka pun turun dari motor. Sabda menggandeng Aruna untuk mencari duduk. Mereka memilih duduk di sebuah tikar yang ada di bawah pohon palm.


"Di depan komplek juga ada banyak penjual sate ayam, kan, Mas?" selidik Aruna , dia selalu saja tidak mengerti pola pikir suaminya.


"Aku hanya ingin jalan-jalan mengulang seperti saat kita awal- awal bertemu!" jawab Sabda.


"Lelaki keras kepala yang menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan keinginannya." sahut Aruna. Itulah kesan pertama untuk Sabda.


"Karena aku jatuh cinta pada gadis yang sulit ditaklukkan!" jawab Sabda.


Aruna tidak menjawab. Dia menjadi salah tingkah dan bingung harus menjawab apa. Wajah merona Aruna tidak bisa disembunyikan lagi, membuat Sabda tersenyum.


"Pesanannya Mbak, Mas." penjual Sate itu menyodorkan dua piring sate dan dua gelas es teh.


"Mas bahagia kita bisa seperti ini lagi. Mas ingin kita berjuang bersama-sama." pinta Sabda. Dia merengkuh tubuh mungil itu saat melihat senyum merekah di bibir ranum Aruna.


"Aku sudah lapar, Mas." ucap Aruna merasa malu karena beberapa orang sedang memperhatikan mereka.


Menikmati malam bersama dengan cara yang sederhana. Sabda dan Aruna dari awal memang punya cara sendiri, Dia lebih senang menikmati suasana dengan cara mereka sendiri.


"Dari tadi siang aku belum makan, Mas." jawab Aruna saat dia baru saja menghabiskan makanannya. Sabda hanya menanggapinya dengan senyum.


Aruna mengernyitkan kedua alisnya saat melihat Anin keluar dari sebuah apotek yang ada di sebrang jalan dari tempat mereka duduk.


Aruna kemudian melihat Sabda yang masih menikmati makanannya. Sesaat kemudian pandangannya kembali beralih pada wanita berambut panjang yang berdiri di pinggir jalan.


"Mas, wanita itu bersama siapa malam- malam begini?" gumam Aruna membuat Sabda menoleh ke arah tatapan mata Aruna.


Di sebrang, sebuah mobil sedan berhenti di depan wanita itu. Dia tidak tahu perempuan apa laki- laki yang sedang mengendarainya.


"Biarkan saja, dia sudah tidak ada urusannya dengan kita." ucap Sabda yang kembali menikmati makanannya. Lelaki itu terlihat lahap dengan dua porsi yang dia pesan untuknya sendiri.

__ADS_1


Aruna terdiam, dia kembali memperhatikan suaminya. Benarkah Mas Sabda benar-benar sudah tidak peduli dengan wanita itu? Atau hanya berpura-pura? Hingga saat ini Aruna tidak tahu perkembangan hubungan mereka.


"Mas tidak ada hubungan dengannya. Jangan berfikir macam-macam. Percaya saja sama Mas." ucap Sabda, dia sudah menyelesaikan makan malamnya.


Sabda kembali menatap Aruna dengan tatapan penuh selidik. Dia tidak ingin Aruna kembali terbawa rasa sedih dengan melihat Anin.


"Mas ingin kita punya baby lagi." ucap Sabda ingin mengalihkan pembahasan.


Aruna mengambil es teh dan kembali menyesapnya untuk menghilangkan salah tingkah karena tidak bisa menjawab pertanyaan Sabda.


###


Anin melihat Sabda dan Aruna berjalan bersama di pusat perbelanjaan. Dia hampir tidak percaya jika hubungan mereka sebaik itu. Iya, dari wajahnya keduanya mereka terlihat baik- baik saja dan bahagia.


Sabda mengambil belanjaan Aruna dan meninggalkan istrinya yang hanya membawa satu paper bag dan hand bag. Anin bisa melihat Aruna mencium punggung tangan suaminya.


Wanita berambut panjang dengan stelan baju kerja yang seksi itu berjalan mendekati Aruna yang sedang menelpon seseorang.


"Bisakah kita bicara sebentar?" suara itu membuat Aruna menoleh. Dia kemudian mengakhiri panggilannya saat melihat Anin berbicara dengannya. Tentu saja ada rasa terkejut dalam diri Aruna.


"Silahkan." jawab Aruna singkat. Mereka berjalan menuju restoran cepat saji yang paling dekat dari tempat mereka saat ini.


"Silahkan apa yang ingin Mbak Anin bicarakan?" ucap Aruna berusaha untuk tenang. Padahal rasanya tangannya sudah gatal untuk menggampar wanita di depannya.


"Kamu tahu hubunganku dengan Sabda?" Aruna mengangguk.


"Aku dan Sabda sudah lama saling mencintai. Bahkan, meski waktu sudah memisahkan kami cukup lama, tapi kenyataannya kami masih saling mencintai." jantung Aruna mulai tidak beraturan. Ada emosi yang ingin meledak di dalam sana.


"Benarkah Mas Sabda masih mencintaimu?" sarkas Aruna.


"Aku sangat yakin. Hubungan kami sudah terlalu jauh. Bahkan, dia sempat melupakan dirimu sebagai istrinya bukan? Pasti kamu faham maksudku."

__ADS_1


Seketika wajah Aruna memerah, dia masih saja terkejut. Tidak menyangka jika mereka sudah sejauh itu bermain di belakangnya. Tubuhnya sedikit bergetar dengan kedua telapak tangan yang sudah terasa dingin. Ingin sekali dia menangis seketika. Tapi, ditahan sekuat tenaga agar masih terlihat baik - baik saja di depan wanita itu.


"Ambil saja Mas Sabda, jika dia memilihmu!" tantang Aruna penuh penekanan. Dia kembali mengambil hand bag dan paper bag kemudian dia pergi meninggalkan Anin yang sedang mengepalkan tangannya di atas meja.Jika bukan di tempat umum dia akan berteriak dan mencaci Aruna agar wanita itu mau menjauh dari Sabda.


__ADS_2