
"Run, apa kamu tidak bisa memaafkan Nak Sabda? Biar bagaimana pun setiap rumah tangga selalu ada cobaannya." ucap Hesti saat menemani Aruna yang sedang menyelesaikan desain gaun pesanan salah satu putri dari pejabat daerah.
"Entahlah, Ma." jawab Aruna singkat otaknya memang sulit untuk memutuskan sesuatu. Dia selalu terombang ambing dalam dilema antara perasaan dan logika.
"Kenapa tidak mencoba memperbaiki saja dari pada mengakhirinya. Aku lihat Nak Sabda juga sungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan kalian." bujuk Hesti. Dia merasa sedih jika rumah tangga putri tirinya yang baru seumur jagung harus berakhir.
"Entahlah, Ma. Aruna seperti trauma saja! " jawab Aruna dengan mendesah lemah.
"Tapi kamu masih punya kewajiban sebagai seorang istri, Run. Akan berdosa jika tidak memberikan haknya." lanjut Hesti. Aruna baru tersadar, iya memang masih punya kewajiban terhadap Sabda jika masih seperti ini. Sabda belum juga menjatuhkan talak padanya.
Terlihat mobil milik Sabda berhenti di halaman depan. Sudah hampir dua bulan lelaki itu menepati janjinya untuk sering mengunjunginya, meskipun dia harus menghadapi Aruna yang sangat irit bicara, bahkan terkesan menghindar darinya.
"Assalamu'alaikum... " ucap Sabda melihat Aruna ada di teras samping. Lelaki itu memilih untuk langsung menemui istrinya di sana.
"Waalaikum salam... " jawab dua wanita itu hampir bersamaan.
Sabda menyalami ibu mertuanya, dan kemudian menghampiri Aruna dan membuat wanita itu mencium punggung tangan suaminya. Biar bagaimana pun Aruna masih menghormati Sabda.
"Mama tinggal ke dalam dulu, ya!" pamit Hesti kemudian berjalan ke belakang.
"Aku bikin teh dulu, Mas!" Dia sebenarnya ingin sekali menghindari Sabda. Tapi lelaki itu mencekal tangan Aruna.
"Jangan menghindari Mas terus menerus, Run. Kita perlu bicara!" ujar Sabda dengan tatapan mengiba. Lelaki itu seolah merasa lelah dengan sikap Aruna.
Aruna melepaskan genggaman Sabda. Dia pun kembali duduk. Mereka terdiam, Sabda yang terus menatap Aruna membuat Aruna sesekali memalingkan wajah.
"Sampai kapan kamu menyiksa Mas Seperti ini, Run?" ucap Sabda langsung pada intinya.
"Aku sudah mengatakannya, Mas. Aku ingin berpisah. Aku pergi bukan untuk Mas Sabda kejar. Tapi, aku benar-benar sudah lelah dan sangat terluka, apalagi setelah kehilangan janinku." Aruna menatap balik Sabda. Wajah memelas Sabda membuat Aruna rasanya tidak kuat untuk terus menatapnya.
__ADS_1
"Mas tidak akan melepasmu! Mas Mencintaimu." Sabda menatap tajam Aruna. Dia seolah sudah kehilangan cara untuk membujuk wanita yang ternyata punya sisi yang cukup alot.
Aruna hanya mendesah. Dia merasa sudah lelah untuk berdebat dengan Sabda. Lelaki di depannya itu memang sangat keras kepala sedari dulu.
Kehadiran Mama Hesti dengan membawa dua cangkir teh mengalihkan sejenak obrolan mereka.
"Nanti makan malam di sini, kan?" tanya Mama Hesti membuat Aruna menatap tajam Sabda. Aruna berharap jangan sampai Mama Hesti menawarinya untuk menginap di sini.
"Iya boleh, Ma. Tapi saya tetap pulang nanti." jawab Sabda. Dia bisa mengerti Aruna belum ingin bersamanya.
"Baiklah, Mama ke belakang dulu!" pamit Hesti kembali ke dapur. Dia akan mulai menyiapkan apa yang dimasak untuk makan malam nanti.
"Oh ya, Mas belum Salat Ashar. Mas akan salat Ashar dulu!" ucap Sabda, membuat Aruna menatap penuh selidik lelaki yang menurutnya tidak pernah melakukan Salat itu sebelumnya.
"Mas Boleh numpang mandi?" tanya Sabda. Aruna hanya mengangguk, dia merasa kasihan saat Sabda bertanya seperti itu. Tapi, dia juga tidak bisa memberinya harapan lagi.
Aruna memang takut, takut pengkhianatan itu terulang lagi. selain dia belum tahu perkembangan hubungan Sabda bersama Anin. Dia juga takut karena banyak wanita modelan Anin yang siap menggoda lelaki beristri.
Tapi, lelaki itu langsung membuka kemejanya di situ juga, bukannya di kamar mandi. Jelas saja tubuh tegap dengan otot perut yang sudah terbentuk membuat jantung Aruna kembali berdebar. Meskipun dalam benaknya bertanya apakah tubuh tegap dan atletis itu masih miliknya atau sudah dibagi dengan wanita lain.
Rasa itu selalu membayang, rasa dan pikiran yang hanya digenggamnya dan belum mampu untuk dia tanyakan. Dia tidak ingin terluka lagi karena jawaban suaminya sendiri.
"Aku keluar dulu, Mas." ucap Aruna kemudian meninggalkan Sabda yang masih menatapnya. Dia tahu Aruna masih enggan untuk melihatnya.
###
Anin kebetulan melihat Sabda yang sedang mengunjungi stand pameran penjualan yang sedang ditunggui team sales marketing yang sedang bertugas.
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan pada sales yang berjaga. Sabda pun meninggalkan standnya. Lelaki bertubuh tinggi dengan wajah tampannya kini berjalan menuju parkir.
__ADS_1
"Sabda... " panggil Anin.
Wanita itu mencoba untuk meraih dan menggandeng tangan Sabda tapi oleh Sabda dilepasnya jari-jari lentiknya yang menaut di lengan kokohnya.
"Kenapa kamu menghindariku?" tanya Anin membuat Sabda menghentikan langkahnya.
Ini mungkin kesempatan Sabda untuk menjelaskan dan mengakhiri semuanya.
Kedua orang itu masuk ke dalam sebuah coffeeshop dan memilih tempat duduk yang sedikit lenggang dari orang. Iya, Sabda memang harus menyelesaikan semuanya.
"Kenapa kamu menghindar dariku?" Anin mengulang pertanyaannya.
"Aku mencintai istriku. Jadi aku tidak ingin kita sedekat ini, karena itu hanya menyakiti Aruna." ucap Sabda langsung berterus terang.
"Apa maksudmu? Setelah garangnya seorang Sabda Megantara di malam itu, kamu ingin membuangku?" Anin mulai mempertajam lontaran kalimat untuk mengingatkan Sabda akan perbuatannya pada malam itu.
"Aku minta maaf. Tapi kita memang tidak ada komitmen, Nin." ucap Sabda.
"Brengsek kamu, Da. Kamu membuangku setelah kamu mereguk manisku. Kamu juga sudah membuat sisil berharap jika kamu akan selalu menemaninya." lanjut Anin diantara ledakan tangisnya.
"Aku mencintai Aruna. Tolong biarkan aku menata kembali masa depan dan rumah tanggaku." jawaban Sabda membuat Anin menangis dan menatapnya tajam. Wanita itu sangat kecewa dengan apa yang dikatakan Sabda.
Dia berharap pertemuannya dengan Sabda akan melanjutkan cinta masa lalunya yang belum usai. Iya, dia memang mencintai Sabda. Tapi, waktu tidak pernah berpihak padanya.
Sabda terdiam, dia menyadari beberapa orang sedang menatap dirinya dan Anin, apalagi Anin terlihat jelas sedang menangis.
"Maafkan aku." ucap Sabda. Dia mungkin menjadi orang yang paling egois saat ini. Tapi dia harus memberi batasan, agar tidak terjadi kesalahan yang kedua.
Sabda yakin jika memang harus melakukannya sebelum semuanya bertambah runyam. Jika kemarin dia selalu melakukan banyak hal untuk Anin, memberikan banyak waktunya, membantu dalam sisi financial, dan memperhatikan Sisil hingga Aruna tersisihkan, itu karena rasa bersalahnya karena kejadian malam itu. Kejadian yang berada di luar kesadarannya.
__ADS_1
Setelah tangis Anin mereda, mereka memutuskan untuk pergi dengan sendiri - sendiri meninggalkan caffee shop.