Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Sudah Menikah


__ADS_3

Entah karena sudah merasa terlalu lama Aruna tidak bertemu suaminya hingga akhir- akhir ini dia begitu nyaman mengenakan kemeja Sabda yang nampak kedodoran seperti saat ini.


Setelah Salat Subuh, Aruna memilih untuk turun ke lantai pertama, rumah nampak sepi tapi rasa lapar mulai terasa melilit di perut.


"Kamu sudah bangun, Run?" tanya Rosa yang sudah mengenakan training itu menghampirinya.


Sering melihat ibu- ibu seusianya yang berolahraga jalan cepat di Boulevard yanga ada depan rumah putranya membuat Rosa ingin bergabung.


"Lapar, Ma. Runa ingin buat susu dulu." sambung Aruna dengan meracik susu dalam gelas.


"Mama, mau teh?" tanya Aruna.


"Nggak usah, nanti Mama Minta sama Bu Ninik. Sekarang Mama akan olahraga." sambung Rosa.


Dia begitu bersemangat. Setelah sekian tahun berkubang dengan kesepian dan pekerjaan, kini beliau menikmati masa tuanya. Rosa begitu menikmati suasana pagi ini, udara yang segar, mentari yang masih samar- samar menunjukkan sinarnya dan sapaan orang orang seusianya membuat Rosa begitu bahagia.


Aruna tertegun memikirkan permintaan Sabda, agar dirinya mau ikut bersamanya. Apalagi Mama Rosa yang mendukung dirinya agar ikut aja bersama Sabda dengan alasan agar tidak terjadi hal buruk karena hubungan jarak jauh.


Ponsel Aruna berdering. Wanita yang masih mengenakan kemeja kedodoran itu mengangkat panggilan video dari Sabda. Aruna juga sempat merasa heran karena tidak biasanya Sabda bisa melakukan video call.


"Assalamu'alaikum, Mas." sapa Aruna. Wanita itu tersenyum saat melihat wajah Sabda. Aruna bisa melihat kumis dan jambang yang terlihat lebih ketara dari pada sebelum dia pergi.


"Waalaikum salam, Sayang." Sabda langsung memamerkan deretan giginya saat melihat senyum yang sudah sangat dia rindukan.


Hanya melihat wajah cantik itu tersenyum rasanya seperti mendapatkan setetes air di saat dahaga. Iya, hanya setetes tidak lebih karena dia harus menahan banyak hal sebelum bertemu istrinya.


"Mas, dimana? Kok, bisa video call?" tanya Aruna, dia membawa ponselnya dan segelas susu yang baru saja di buat itu ke taman belakang.

__ADS_1


"Mas sekarang berada di kota. Mas dan Nanang sedang belanja kebutuhan sehari-hari dan mencari tempat untuk kamu tinggal, jika nanti kamu mau ikut Mas." jelas Sabda.


Aruna menautkan kedua alisnya, dia merasa heran ketika mendengar Sabda menyiapkan semua untuk dirinya di sana, sementara dirinya belum memberikan keputusan. Banyak yang harus dia persiapkan jika ikut Sabda ke luar pulau, termasuk untuk meninggalkan butik.


"Mas, nggak bisa terlalu lama jauh dari kamu, Run." lanjut Sabda membuat Aruna tersenyum. Long distance relationship membuat Aruna merasa dirinya dan Sabda seperti anak remaja yang baru pertama kali pacaran.


"Kapan, Mas Sabda menjemputku? Minggu depan Tita nikah, Mas." tanya Aruna secara tidak langsung dia pun telah menyetujui permintaan Sabda.


"Minggu depan. Kita akan menghadiri pernikahan Tita bersama- sama." tegas Sabda.


Lelaki yang masih menyimpan rindu yang begitu menggebu itu hanya tersenyum saat menyadari jika yang dikenakan Aruna adalah kemejanya.


"Pasti kamu lagi kangen Mas kan, Run." tebak Sabda.


"Nggak, kok. Biasa saja." jawab Aruna malah membuat Sabda tersenyum. Sejak, pengkhianatan itu Sabda memang tidak pernah lagi mendengar kata cinta atau rindu yang diucapkan oleh Aruna untuknya.


Terkadang Sabda merasa Aruna masih belum bisa menerima hubungan mereka dengan perasaannya. Sejak awal setelah masalah itu terjadi, dirinyalah yang selalu memaksa Aruna untuk tetap bertahan dengannya meski dengan menggunakan berbagai macam cara.


###


Sabda dan Arslan berada diantara buruh kasar yang sedang menyelesaikan sebuah bangunan yang sudah dirancang oleh Arslan


Sebagai Arsitek Arslan menjelaskan satu persatu rancangannya pada Sabda. Dia ingin semua rancangannya terwujud sesempurna mungkin.


Dari kejauhan, Alena menatap dua pria yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya. Sabda dan Arga kembali ke pemukiman, setelah berkutat di bawah terik matahari yang cukup menyengat.


Wanita cantik dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas kepalanya itu semakin mengagumi Sabda. Selain apa yang ada di diri Sabda, cara Sabda menjaga jarak dengan perempuan membuat Alena semakin tertarik.

__ADS_1


"Mungkin minggu depan saya pulang untuk menjemput istri saya dan membawanya ke sini." ucap Sabda setelah mereka berada di depan rumah pemukiman sementara.


"Maksud saya untuk tinggal di kota ini, selama saya berada di sini." ujar Sabda sambil tersenyum.


Arslan tersenyum mendengarnya. Berbeda dengan Alena, dia tidak menyangka jika Sabda sudah menikah. Wanita yang mulai tertarik dengan rekan kerja suaminya itu sedikit kecewa.


"Jadi, Pak Sabda sudah menikah?" sela Alena diantara obrolan mereka. Wanita itu hanya ingin meyakinkan saja.


"Sudah, bahkan istri saya sedang hamil, Bu Alena." sahut Sabda sambil tersenyum, lelaki bertubuh tinggi itu hanya melayangkan tatapan sekilas pada Alena untuk menghormati keberadaannya diantara obrolan mereka.


Setelah perbincangan seputar masalah pribadi. Akhirnya, Alena dan Arslan berpamitan untuk pulang.


Mobil Fortuner itu melaju menjauh dari lokasi pemukiman pekerja proyek. Nanang dan Sabda memutuskan duduk sejenak untuk bersantai setelah semua pekerjaan mereka selesai.


"Saya lihat Bu Alena dengan Pak Arslan tidak harmonis ya, Pak Sabda. Seperti, nggak ada chemistry gitu." celetuk Nanang membuat Sabda menoleh pada lelaki yang duduk di sebelahnya. Sabda yang awalnya memikirkan Aruna pun mulai beralih pada asistennya.


Meskipun membenarkan ucapan Nanang, Sabda tidak lantas menjawab. Dia merasa itu bukan urusannya.


"Akhir- akhir ini Bu Alena lebih sering datang ke sini." lanjut Nanang dengan tatapan menerawang mengingat seringnya Alena mengunjungi proyek sendirian atau berjalan sendiri di pantai yang dekat dengan lokasi proyek tanpa Arslan.


"Mungkin karena keluarga Bu Alena ada di sini. Makanya, dia sering datang ke sini." sambut Sabda dengan mengipasi tubuhnya dengan sobekan kardus. Jika seperti ini Sabda seperti pegawai biasa, hanya saja lelaki itu memiliki wajah paling tampan dan barang yang dia kenakan terlalu mahal untuk ukuran pegawai proyek biasa.


"Tapi sepertinya Bu Alena dengan Pak Arslan sedang ada masalah, Pak Sabda." Nanang kembali teringat sikap Arslan dan Alena yang terkesan berjarak.


"Kamu ini mikirnya kayak perempuan. Ayok, Salat Ashar dulu! Keburu waktunya habis." ajak Sabda, kemudian melangkah meninggalkan Nanang yang menatapnya heran.


Dia tidak menyangka jika Sabda begitu taat menjalan agama. Selain itu, Sabda juga terlihat easy going dengan kehidupan yang seadanya. Padahal menurut cerita dari teman kantornya, jika Sabda memang sudah menjadi anak orang kaya sejak lahir.

__ADS_1


Melihat Sabda menghilang dari pandangan, Nanang pun mengejar masuk untuk segera menunaikan Salat Ashar.


Terlihat Sabda masih khusus menjalankan salat saat lelaki hitam manis itu selesai mengambil wudhu. Nanang pun menunggu Sabda hingga salam.


__ADS_2