Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menggenggam Rasa 1


__ADS_3

Abimana benar- benar terpukul dengan pengakuan Aruna. Entah berapa lama dia menggenggam perasaan cinta untuk Aruna, hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Tapi nyatanya semua akan sia-sia.


Abi terus saja menyesap rokok yang entah sudah keberapa. Lelaki yang sebelumnya tidak merokok itupun menghabiskan waktu ditemani puluhan batang rokok.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu, Run?" lirihnya, matanya pun mengembun, bahkan di sudut matanya sudah meneteskan air bening yang menggambarkan betapa rapuh dirinya saat mengingat kebenaran itu.


"Aaarrghhhhh.... " teriak Abimana dengan mengusap wajahnya secara kasar.


Suara bel berbunyi memaksa Abi untuk beranjak dari tempat duduknya. Sebenarnya, saat ini dia enggan untuk bertemu dengan seseorang. Tapi suara bel yang tiada henti membuatnya harus membukakan pintu.


"Papa... " ujar Abimana saat melihat sosok berkaca mata yang sangat dia hormati.


"Silahkan masuk, Pa." lanjut Abi mempersilahkan lelaki yang selalu jadi panutannya untuk duduk.


"Kenapa harus seperti ini? Papa mengerti perasaanmu tapi tidak seperti ini." ujar Hendra setelah mengedarkan pandangannya dan kini mata lelaki paruh baya itu fokus pada balkon dimana Abi menghabiskan waktunya setelah bertemu Aruna.


Abi terdiam, dia tidak bisa menjawab kalimat papanya. Dia tahu semua ini tidaklah berguna. Tapi, dia butuh sesuatu yang bisa memberinya sedikit kelegaan. Iya dadanya terasa sesak setiap mengingat dia sudah kehilangan gadis yang dia cintai selama ini.


"Setiap orang pasti akan melalui fase seperti ini, Bi. Bedanya setiap orang memang berbeda menyikapinya dan kadarnya memang berbeda." ujar Hendra dengan hati-hati. Beliau sangat prihatin melihat kondisi putranya.


Abimana anak yang penurut. Bagi Hendra Abi adalah putra yang bisa dia banggakan. Hendra tidak ingin Abimana semakin terpuruk karena perasaannya.


"Abi tahu, Pa. Abi hanya butuh sedikit ruang untuk bisa bernafas." ujar Abi. Dia juga tidak ingin larut dalam situasi yang buruk terus menerus.


"Baiklah. Papa akan jamin, mamamu tidak akan menggangu atau memaksamu lagi." lanjut Hendra.


"Oh ya, Ari juga sudah kangen abangnya." lanjut Hendra. Lelaki itu tahu jika Abimana juga sangat merindukan Arimbi, gadis centil yang sering dipanggil Ari memang sudah tidak melihat abangnya beberapa minggu ini.


Abimana hanya manggut-manggut. Dia menyadari jika hidupnya tidak hanya tentang perasaannya saja. Ada orang lain yang juga ada dalam hidupnya.


"Baiklah, papa pulang sekarang! Mamamu pasti akan mengomel jika Papa pulang terlambat." Hendra menepuk bahu putranya bermaksud menguatkannya, sebelum dia pulang.


####

__ADS_1


Malam ini adalah malam yang paling membuat gugup Sabda selama hidupnya. Lelaki itu sudah siap dengan setelan jas dan duduk bersebelahan dengan gadis cantik berkebaya putih.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Aruna putri Handoyo bin Handoyo dengan mas kawin uang sebesar dua ratus dua puluh dua ribu dibayar tunai." ucap Sabda dengan lantang dan penuh ketegangan.


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah... " Semua yang ada di ruangan itu pun bernafas lega terlebih kedua mempelai.


Aruna mencium punggung tangan Sabda dan Sabda pun mencium kening Aruna, gadis yang sekarang sah menjadi istrinya. Saat kedua mata mereka saling beradu, saat itu pula senyum terbit dari bibir keduanya.


Acara sederhana itu diadakan di rumah Aruna yang rencananya hanya untuk bertunangan dan kenyatannya mereka sah menjadi suami istri.


"Selamat, Mbak Aruna, Mas Sabda, semoga menjadi keluarga yang bahagia, sakinah mawardah warrohma." salah satu tetangga yang diundang memberikan selamat pada pengantin baru dan diaminkan yang lainnya.


Mama Hesti memang mengundang tetangga terdekat untuk menyaksikan pernikahan Aruna.


"Terima kasih atas doanya dan terimaksih sudah bersedia datang, Ibu, Bapak." balas Sabda dengan begitu ramah. Lelaki itu memang pintar membawa situasi. Meskipun dia termasuk tipe irit bicara, tapi Sabda juga bisa sangat ramat dan cepat membaur dengan masyarakat.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam dan itu membuat para tamu pun mulai berpamitan.


" Sabda, Runa, Mama Istirahat dulu, ya! " pamit Rosa karena besok beliau harus kembali pagi- pagi sekali.


"Iya, Ma." jawab keduanya hampir bersamaa.


"Mari, Jeng Hesti!" lanjut Rosa perpamitan pada sang besan.


"Iya silahkan, Jeng." jawab Hesti.


Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kamar masing- masing. Begitupun Sabda dan Aruna mereka terlihat berjalan menaiki tangga menuju kamar Aruna.


"Mas kamarnya tidak sebesar dan sebagus kamar, Mas." ucap Aruna saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar. Bukannya Sabda belum pernah masuk ke dalam kamar tapi semua itu Aruna katakan setelah melihat dan merasakan kamar Sabda yang cukup bagus dan luas.

__ADS_1


"Nggak masalah, Sayang. Yang penting ada kamu!" Lelaki itu berjalan mendekati Aruna yang berdiri di depan cermin.


Tangannya merengkuh tubuh mungil yang masih berbalut kebaya. Dia seolah tidak menyangka jika Aruna sekarang menjadi istrinya.


"Mas tidak menyangka bisa memilikimu. Saat pertama melihatmu yang hampir menabrak Mas dengan membawa setumpuk baju, Mas sudah jatuh hati padamu." cerita Sabda.


Lelaki itu mulai mengenang pertama kali bertemu Aruna. Tepatnya saat Aruna mulai pindahan dan menata butik barunya.


Arina terdiam, bukannya dia tidak mendengar cerita Sabda. Bahkan, dia sangat ingat lelaki bertubuh tinggi yang seolah sengaja menghadang langkahnya. Tapi saat ini Aruna sedang menenangkan degupan jantungnya karena ini pertama kalinya seorang lelaki memeluk tubuhnya begitu mesra.


Melihat Aruna yang hanya terdiam dan menunduk membuat Sabda mengernyitkan kedua alis. Dia menatap heran Aruna dari cermin sebelum memutar tubuh istrinya untuk saling berhadapan.


"Run, kenapa diam saja?" tanya Sabda sambil membingkai wajah cantik Aruna.


"Wajahmu juga memerah." lanjut Sabda membuat Aruna salah tingkah.


"Pasti sudah mikir malam pertama, kan?" goda Sabda.


"Ih, apaan sih, Mas Sabda." lanjut Aruna sambil mencubit kecil perut Sabda. Sabda terkekeh saat melihat Aruna yang malu- malu dan salah tingkah.


"Sayang... " Sabda mulai bersikap aneh. Tatapan mendamba pun terlihat dari sorot matanya. Lelaki itu pun semakin mengikis jarak diantara keduanya.


"Cup..." satu kecupan singkat mendarat di bibir mungil Aruna.


Kemudian berganti dengan ******* yang membuat Aruna menahan tubuh keras Sabda yang semakin menempel.


"Mas... " lirih Aruna sedikit terengah saat berhasil menghentikan ******n Sabda. Aruna dibuat panas dingin lelaki yang hampir menguasainya.


"Aku sedang menstruasi, Mas." lirih Aruna mssih dengan wajah merah merona. Dia semakin gugup setelab ciuman pertamanya.


"Kamu bohong, kan? Kamu hanya belum siap, kan?" tanya Sabda hampir tidak percaya. Dia juga bisa merasakan betapa gugupnya Aruna.


"Tadi pagi, aku baru mens, Mas." lanjut Aruna dengan lirih. Wajahnya mendongak matanya menatap mata tajam lelaki yang kini menunduk membalas tatapannya dengan kening mengernyit.

__ADS_1


"Baru tadi pagi, Run?" Pertanyaan Sabda membuat Aruna langsung mengangguk. Dalam hati Sabda merutuki kesialannya, itu artinya dia harus menunggu beberapa hari lagi.


"Ayo, Mas bantu aku melepas sanggulnya!" pinta Aruna kemudian duduk di depan cermin. Sabda hanya menghela nafas lemah, kemudian menuruti apa yang diminta istrinya.


__ADS_2