
Sabda dibuat penasaran dengan apa yang di bicarakan Aruna dan Abi. Lelaki itu akhirnya mendengus kesal dan menutup laptopnya.
Sejak Aruna bicara dengan Abimana, Aruna belum memberi kabar pada Sabda. Bahkan, Sabda mengirim beberapa pesan pun belim dibaca oleh Aruna.
"Astaga, Runa. Kenapa kamu mendadak menyebalkan jika sudah seperti ini." gerutu Sabda dia kemudian melangkah ke gudang untuk mencari sesuatu.
Baru saja Aruna keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang sudah lengket kembali segar. Gadis itu, mengenakan piyama celana pendek berbahan satin.
Malam ini dia merencakan tidur lebih awal setelah menikmati mie instan. Setelah merapikan rambutnya dan mengenakan cream malam, dia berjalan menuju dapur. Mie Instan dengan telur dan sawi hangat- hangat, pasti akan terasa nikmat apalagi cuaca memang terasa lembab.
"Bughh.... " terdengar seperti sesuatu yang jatuh membuat Aruna menghentikan gerakannya mengaduk telur dalam mie yang sudah hampir matang.
Hening. Tak ada suara lagi. Aruna tak lagi menghiraukannya, dia pikir itu hanya perasaannya saja. Gadis itu kemudian meniriskan mie yang sudah matang ke dalam mangkuk.
"Ah, kenapa perasaanku menjadi tidak enak begini." gumam Aruna dalam hati. Tapi, selama tinggal di sini masih aman saja. Bahkan, dia belum dengar cerita ada perampokan atau apalah.
Setelah meletakkan mie di meja makan dia mengambil segelas air yang hampir saja dia lupakan.
"Pyaaaar.... "
"Aaaaapppp..... " langsung saja Sabda membekap mulut Aruna yang nyaris berteriak. Jantung Aruna hampir copot bahkan dia telah menjatuhkan gelas yang sudah berisi air putih.
Saat berbalik dan akan kembali ke meja makan, ternyata Sabda sudah berdiri tepat di belakangnya. Dan itu yang membuat jantung Aruna terasa hampir copot.
"Husss... jangan berteriak, Sayang. Nanti kita bisa diarak warga." lirih Sabda.
Nafas Aruna terengah saat Sabda melepaskan bekapan tangan dari mulutnya. Gadis itu hampir saja dibuat mati berdiri oleh kekasihnya karena rasa kaget. Dia tidak menyangka jika Sabda bisa masuk ke rumahnya. Padahal lampu ruang depan sudah dia padamkan.
Tanpa peduli Sabda yang menatapnya tak berkedip, Aruna memunguti pecahan gelas yang sudah dia jatuhkan karena rasa kaget.
"Mas Sabda, apa yang ,Mas, lakukan hingga bisa masuk ke sini? " ucap Aruna sambil mengambil sapu dan membersihkan pecahan kaca yang sangat kecil-kecil.
__ADS_1
"Seperti anak kecil saja. Nggak jelas sikap Mas ini. Absurd banget." lanjut Aruna gadis itu terus saja mengomel meluapkan rasa kesal dan rasa kaget yang belum sepenuhnya menghilang.
"Seksi. Bagus bentuknya." gumam Sabda membuat Aruna mendelik.
"Mas Sabda!" geram Aruna saat tersadar jika dia mengenakan piyama celana pendek dengan atasan dengan model tali di pundak.
Aruna langsung berlari ke kamar membuat Sabda kembali tersadar atas keindahan yang selalu menjadi rabaan pikirannya. Ah, tentu saja dia pernah berfikir kotor meraba setiap inci tubuh Aruna. Bukankah hal itu sangat wajar, saat apa yang selalu ditutup malah justru membuat rasa penasaran.
"Sayang, jangan lama- lama di dalam!" ucap Sabda berada di depan pintu kamar Aruna, lelaki itu berusaha menekankan suaranya takut di dengar tetangga sebelah rumah Aruna.
"Run... Mas sudah tidak tahan. Jangan lama-lama." goda Sabda dengan menggidikkan bahu, padahal memang benar, bahkan adik kecilnya belum sepenuhnya tertidur saat melihat kulit halus dan tubuh kencang Aruna.
"Mas Sabda, pulang saja! Aku tidak mau kita melakukan hal yang jauh, jika Mas tidak bisa menahannya." jawab Aruna dengan mengontrol suara dan debaran di jantung yang semakin tidak karuan.
"Sayang, kita harus bicara dulu." jika dibecandain terus, bisa saja Aruna memang tidak mau keluar dari kamar
"Mas janji nggak akan aneh-aneh. Run, keburu didengar tetangga." lanjut Sabda.
"Mas ingin bicara." Sabda langsung berjalan mendahului menuju dapur, mencari wastafel. Lelaki itu mencuci mukanya sekaligus membasahi seluruh rambutnya agar otaknya kembali lurus.
"Mas, mau bicara apa? Mas Sabda duduk di sana saja." tunjuk Aruna pada bungku di depannya. Tentu saja itu karena Aruna merasa insecure pada lelaki yang kadang sikapnya tidak jelas menurutnya.
Bukannya menjawab Sabda malah menarik mangkuk mie yang ada di depan Aruna dan mulai menyuapnya.
"Mas... " desah Aruna mulai kesal. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sabda sungguh keterlaluan.
"Sayang, kita akan memajukan pernikahan kita." mendengarnya Aruna melotot ke arah Sabda.
"Menikah itu bukan permainan, Mas. Apa mas hanya mempermainkanku?" lanjut Aruna dengan menatap Sabda penuh tanya.
"Justru karena aku yakin kamu yang terbaik untukku, aku ingin secepatnya. Aku akan bilang ke Mama. Kita menikah secara siri saja dan diresmikan sebelum resepsi, karena persiapan resepsi memang fix bulan depan. Maka kita resepsi dimana Mama sudah menentukan. Besok aku akan bertemu, Mama." jelas Sabda tanpa basa-basi.
__ADS_1
Aruna terdiam, dia justru menitikan air mata. Hatinya justru terasa tidak menentu, saat lelaki di depannya ini memutuskan sesuatu dengan begitu mendadak.
"Run, apa Mas salah? Jika Mas takut kehilanganmu? Apa Mas salah jika Mas mengantisipasi kita berbuat yang tidak kamu inginkan?" Sabda mencoba untuk meyakinkan Aruna.
"Apa kata Mama Rosa dan Mama Hesti, kenapa serba mendadak seperti ini? Apa Mas sudah meyakinkan perasaan Mas?" Aruna tidak ingin sebatas rasa obsesi yang sedang menguasai Sabda hingga memutuskan semua ini.
"Kita sudah dewasa, kita sudah tahu apa yang mesti kita lakukan." bujuk Sabda, saat ini wajahnya terlihat serius. Sabda dengan kalimat tegasnya.
Aruna hanya mengangguk. Iya, dia hanya pasrah semoga pernikahannya akan menjadi ladang pahala dan bahagia.
"Mas, aku belum memakannya." Aruna langsung menarik mangkuk mienya saat melihat Sabda menikmati mienya dengan rakus.
"Aku akan membuatkannya untuk Mas Sabda jika mau." tawar Aruna dengan menyuap mienya.
"Nggak usah, Sayang. Mas akan balik takut khilaf kelamaan lihat kamu yang seksi." Sabda beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Aruna yang menunduk menyeruput kuah mie.
"Mas balik dulu! Jangan tidur larut ya." Sabda mengecup puncak kepala Aruna.
"Mas Sabda, lewat mana tadi?" tanya Aruna yang ikut berdiri.
"Itu.... " Sabda menunjuk taman kecil yang ada di belakang rumah Aruna.
"Astaghfirullah, Mas." decih Aruna dengan mata melotot.
"Mas pinjam kursi! Tangga gantungnya nggak sampai bawah tadi." Sabda berjalan ke belakang rumah.
Dia mengangkat meja bundar yang ada di teras belakang dan Aruna membawakan kursi kecil yang akan mereka tumpuk untuk memanjat Sabda.
"Jangan seperti itu lagi, lantai dua cukup tinggi, Mas. Masak pengantin baru kakinya patah." Aruna masih kesal bisa bisanya Sabda melakukan itu. Padahal dia belum sempat saja membuka ponsel untuk membaca pesan yang masak.
"Jangan khawatir sayang, Mas, jago manjat,. Apalagi manjat dua gunung Semeru. Hahahaa. " mendengar jawaban Sabda Aruna mencubit perut keras Sabda. Sunggu menyebalkan jika Sabda sudah seperti ini
__ADS_1