
Malam ini Aruna terlihat sangat gelisah. Sudah beberapa kali dia mengganti posisi tidurnya. Tubuhnya merasa sangat pegal semua apalagi di bagian betis.
"Apa ada yang sakit?" tanya Sabda ketika dia bangkit dan duduk dengan memperhatikan Aruna yang tidak mau tenang.
Wanita itu membuka matanya, menatap Sabda yang juga sedang memperhatikan dirinya. Aruna hanya mendesah pelan. Dia merasa berlebihan hanya karena semua tubuhnya pegal dia harus mengeluh pada suaminya.
"Aku tidak bisa tidur, Mas." ucap Aruna.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Sabda dengan tatapan penuh selidik.
"Aku nggak tahu, cuma nggak bisa tidur!" jawab Aruna. Dia kemudian ikut bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Sudah pukul satu. Nggak bagus ibu hamil begadang." bujuk Sabda agar Aruna mau kembali tidur.
"Tubuhku merasa pegal semua, Mas. Apalagi bagian betis." ucap Aruna. Dia mulai menceritakan apa yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
"Tiduran saja. Mas akan memijat kakimu." Sabda kemudian menggeser tubuhnya ke kaki Aruna. Berlahan dia memijat lembut kaki Aruna setelah istrinya memposisikan diri untuk tiduran.
Lelaki yang sebenarnya masih merasa mengantuk itu pun terus memberi pijatan lembut. Sabda pun mulai menghentikan pijatannya setelah Aruna mulai terlelap. Lelaki itu pun kembali menarik selimut dan ikut tidur.
###
"Lepaskan Mas Sabda, Mbak." ucap Ana saat menemani Anin di teras rumah. Ana sebenarnya tidak suka cara Anin yang bisa menghancurkan rumah tangga orang lain.
Anin menoleh ke arah Ana. Saudaranya itu tidak pernah tahu tentang dirinya dan tidak mengerti tentang perasaannya pada Sabda.
Sore itu setelah sebulan kepergian Sisil masih membuat Anin termenung. Wanita itu merasa hidupnya sangat buruk. Kehilangan Sisil itu artinya dia kehilangan satu- satunya keluarga dan harapannya.
"Aku merasa Tuhan tidak adil saja!" sahut Anin. Sementara Ana langsung menatapnya.
"Tidak ada satupun yang aku inginkan yang diberikan oleh Tuhan." lanjut Anin.
Ana hanya terdiam. Dia merasa Anin hanya tak pandai bersyukur, andai saja dia bisa mengendalikan ambisinya. Mungkin akan berbeda cerita.
__ADS_1
"Masih banyak yang lebih menderita dari kita, Mbak." ujar Ana dia masih menjaga omongannya agar Anin tidak tersinggung.
"Aku tidak menyangka Sabda memilih wanita yang baru dalam hidupnya." ucap Anin dengan tatapan menerawang. Dia kini membahas hubungan Sabda dan Aruna.
Rasanya dia ingin kembali memutar waktu sepuluh tahun yang lalu. Dua remaja yang seharusnya jatuh cinta pada waktu yang tepat.
Dia yakin, awal tujuan sahabat ibunya yaitu Rosa membawanya ke rumah mereka agar dekat dengan Sabda. Tapi, saat itu Sabda adalah pemuda yang cuek dan masih ingusan, hingga dia tidak menyangka Sabda bisa sukses seperti ini.
"Aruna hamil 3 bulan, Mbak. Mereka terlihat bahagia." ucap Ana dia berharap Anin berhenti mengusik kehidupan cinta masa lalunya itu.
Anin tersenyum getir. Sabda yang sempat kembali terlena dengannya membuat Anin yakin jika lelaki itu masih menyimpan cinta untuknya. Hanya saja status mereka yang membuat Sabda harus bertanggung jawab dengan istrinya.
Anin merasa sangat mengenal Sabda. Cowok brandalan yang tetap punya rasa tanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan dan dia putuskan.
"Kamu tahu, An. Dia dulu, sering mengajakku touring. Dia terlihat berandalan dan tak peduli dengan kuliah. Tapi, kenyataannya dia lulus tepat waktu dengan nilai yang tidak terlalu buruk." mendengar cerita sepupunya Ana hanya terdiam.
"Dia begitu melindungi dan menjagaku. Ah, hanya saja cinta itu hadir di waktu yang kurang tepat." lanjut Anin, seolah terbawa suasana dengan cinta masa lalunya yang belum usai terhadap Sabda Megantara.
" Terkadang kenangan memang terkesan lebih manis dari kenyataan, Mbak. Tapi, memperbaiki masa depan itu jauh lebih baik dari pada tenggelam dengan masa lalu." jawab Ana. Gadis itu sebenarnya tidak pernah setuju dengan apa yang dilakukan Anin.
###
"Rambut baru, Mas?" tanya Aruna saat melihat Sabda datang dengan rambut cepaknya.
"Ganteng, nggak?" tanya Sabda dengan menaik turunkan alisnya.
"Jelek!" goda Aruna.
Sabda langsung membalikkan tubuh. Dia menarik pinggang wanitanya hingga Aruna kini duduk di atas pangkuannya.
"Coba katakan lagi!" Sabda masih mengunci tubuh mungil Aruna. Keduanya tertawa-tawa larut dalam candaan yang tidak bermutu itu.
"Kok perutnya belum kelihatan?" tanya Sabda dengan mengelus lembut perut istrinya. Dia sudah membayangkan punya bayi yang akan segera lahir dan meramaikan suasana rumah mereka.
__ADS_1
"Dulu juga Mas nggak nyadar padahal istrinya sudah hamil berbulan-bulan." sambut Aruna membuat Sabda menatapnya. Rasa bersalah kembali hadir kala mengingat masa- masa itu.
"Maafkan Mas." lirih Sabda membuat suasana kembali hening.
"Ayo, Mas cepat berangkat. Nggak usah ngebut di jalan." ucap Aruna menormalkan suasana. Dia bisa melihat penyesalan di dalam mata Sabda.
"Oh ya, Mas. Nanti aku ke rumah Mama Rosa duluan saja. Biar bisa menemani Mama dulu!" ucap Aruna saat dia kembali berdiri dari pangkuan Sabda.
"Baiklah, hati-hati. Pulang kerja Mas akan langsung ke sana." jawab Sabda
Aruna membawa tas laptop milik Sabda. Wanita yang mengenakan piyama itu pun ikut mengantar suaminya berangkat kerja.
###
Pukul tiga sore Aruna memutuskan untuk mampir ke mall dulu, mencari makanan ringan dan buah untuk dibawanya ke rumah Mama Rosa.
Wanita yang mengenakan longdres dengan motif salur itu pun terus mendorong troli untuk mengantri di kasir. Dia hanya membawa oleh- oleh secukupnya saja.
Setelah melakukan pembayaran, Aruna berhenti sejenak mengambil ponsel di dalam tasnya untuk memesan taxi.
"Bisa kita bicara sebentar!" Mendengar kalimat itu, Aruna pun menoleh menatap sosok yang masih dia kenal dengan fasih itu berdiri di dekatnya.
"Apa ada yang penting?" tanya Aruna. Perasaannya sudah tidak biasa. Dia merasa setiap bertemu Anin hatinya harus bersiap menerima sesuatu yang tidak mengenakkan hati.
"Kita bisa mencari tempat minum dulu." ajak Anin. Wanita berambut panjang itu masuk ke dalam coffee shop. Mereka memilih bangku yang ada di sudut ruangan agar tidak mencolok oleh pengunjung lainnya.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan tentang hubunganku dengan Sabda." ucap Anin. Seketika wajah Aruna terasa memanas. Entah apalagi yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Aruna hanya bisa menghela nafas untuk merespon kalimat Anin.
"Ada apa lagi, Mbak?" Aruna sebenarnya sudah lelah berurusan dengan wanita yang kini duduk di depannya.
"Apa kamu masih bisa menerima Sabda?" Dia sudah mengkhianatimu sejauh itu. Bahkan, Kamu pasti tahu jika kami sudah melewatkan malam bersama. Mengungkapkan perasaan cinta yang sudah lama kami rasakan."ujar Aninditha. Seketika wajah Aruna memanas. Darahnya seketika berdesir hebat saat mendengar pengakuan itu.
"Iya kami melepas rindu yang selama ini tertahan karena keberadaanmu. Kami melakukannya hingga berulang kali." lanjut Anin.
__ADS_1
Terdengar Aruna sedang menghela nafas. Wanita hamil itu ingin melonggarkan rongga dadanya yang terasa sesak. Ingin dia meledakkan tangis seketika di sana tapi, sekuat tenaga dia begitu menahannya.
"Jika kalian tidur bersama berpuluh kali, itu pun artinya sama. Aku tetap dipertahankan sebagai istri sah. Kami tidak hanya berseng*ama mengumbar cinta dan na*su, tapi kami juga beribadah dan aku yakin yang kami lakukan adalah bentuk cinta karena Mas Sabda mempertahankan diriku tanpa aku harus mengemis pada wanita lain." kalimat terakhir Aruna membuat Anin semakin ingin meledak. Wanita itu bergegas pergi sebelum mereka terlihat menegang dan menjadi pusat perhatian orang lain.