Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Pilihan


__ADS_3

"Aruna ingin bercerai dengan Mas Sabda, Ma." lirih Aruna yang tetap membuat hati Sabda merasa nyeri ketika mendengarnya.


Begitupun Rosa, kalimat Aruna benar- benar membuatnya terkejut, bahkan tubuhnya terasa limbung. Separah apakah masalah dalam rumah tangga putranya? Pertanyaan itu membuat Rosa tertegun.


Rosa berusaha menguasai dirinya. Kalimat Aruna seolah membawanya pada masa lalu yang sangat menyakitkan. Perceraian yang bisa dia hindari demi seorang Sabda tapi hatinya tetap saja masih terluka jika mengingat semuanya.


"Sabda, sebaiknya! kamu pulang, ganti baju dulu! Mumpung Mama masih di sini untuk menjaga Aruna!" titah Rosa.


Ada yang ingin dia bicarakan dengan menantunya. Hanya berdua tentang urusan hati perempuan. Hati yang terluka karena sebuah pengkhianatan.


"Oh ya, bawakan baju Aruna sekalian! Dia juga butuh untuk berganti." lanjut Rosa mengingatkan.


"Baik, Ma." jawab Sabda singkat. Kemudian lelaki itu menghampiri Aruna yang masih duduk bersandar pada bed.


"Mas, pulang dulu!" pamit Sabda dengan mengelus bahu kecil istrinya. Tapi cuma direspon anggukan pelan oleh Aruna.


Sabda melangkah meninggalkan ruangan itu dengan langkah gontai. Rasanya dia hampir tidak percaya, hari ini dia kehilangan calon bayinya.


Sopir Mama Rosa mengantar Sabda pulang. Selain gelisah memikirkan masalah hari ini. Sabda juga berharap mamanya tidak akan tahu siapa yang berada diantara masalah keluarganya, hingga membuat Aruna meminta cerai padanya.


###


Berita ledakan mobil membawa Abimana ke butik Aruna. Untung saja dia masih punya hubungan kerjasama hingga dia punya alasan untuk datang ke butik milik Aruna.


Sebenarnya, sejak Aruna menikah, Abimana tak lagi datang ke butik karena dia memang menghindar dari Aruna. Dia tak ingin menambah masalah dalam kehidupannya dan Aruna. Meskipun, dia tahu jika hubungan mereka sedang mengalami goncangan hebat.


Dengan langkah tergesa dia membuka pintu kaca itu. Langsung saja dia menghampiri Amanda dan Nina yang masih sibuk dengan beberapa catatan di depannya.


"Selamat sore?" sapaan Abimana membuat kedua gadis itu menoleh.


"Iya-Mas Abi, mau nge-check barang?" tanya Nina karena untuk urusan gudang Nina memang lebih menguasai.

__ADS_1


"Iya, bagaimana?" Abimana bertanya balik. Sambil menoleh kesana- kemari mencari keberadaan Aruna.


"Mbak Aruna-nya tidak ada, Mas. Lagi di rumah sakit. Tapi bukan karena kecelakaan." ucap Amanda menyahut begitu saja. Kali ini gadis itu bagaikan peramal, karena sudah memperhatikan gerak gerik Abimana.


"Oh... " jawab Abimana dengan salah tingkah. Dia seperti kepergok melakukan kesalahan.


"Mas Abi, ini salinan laporan barang sekaligus kwitansinya." Abimana menerima apa yang di sodorkan Nina. Padahal, sebenarnya dia hanya ingin menanyakan kabar Aruna.


"Aruna sakit apa? Di rawat dimana? " tanya Abimana untuk menghapus rasa penasarannya.


"Mbak Runa keguguran, dia di klinik bersalin, Permata Bunda." jawab Amanda masih dengan menatap laptop miliknya. Gadis itu memang begitu antusias dengan pekerjaannya karena banyaknya chat dari pelanggan.


"Baiklah kalau begitu, ini saya bawa dulu. Terima kasih atas informasinya." ucap Abimana padahal lelaki itu sudah tidak lagi fokus pada cabang pabrik di kota ini.


Sore itu, dia menyusuri jalanan untuk kembali ke kantor. Pikiran kembali menerka- nerka. Beberapa informasi yang dia dapat, Sabda tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Wanita itu juga dia kenal saat dia berada di salah satu Bank yang merupakan induk dari kantor finance-nya.


"Apa aku menolak tawaran Papa mengurus pabrik yang ada di kotanya Eyang." gumam Abimana dalam hati. Dia rasanya memang tidak rela jauh dari Aruna meskipun wanita itu sudah menjadi istri orang lain.


###


Dengan berlahan Sabda membuka pintu ruangan. Terlihat Aruna sudah tertidur dan Mama Rosa masih sibuk dengan ponselnya.


Wanita berumur itu kemudian membuka kacamata bacanya dan meletakkannya di meja saat melihat kedatangan Sabda.


"Siapa perempuan itu?" Suara dingin Mama Rosa terdengar begitu mengerikan. Dia tak lagi bisa menyembunyikan kemarahan yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.


"Jawab, Da!" desak Mama Rosa dengan penuh penekanan.


"Anin, Anindhita." mendengar jawaban putranya wajah Rosa mendadak memerah menahan amarah.


"****** kecil itu ternyata."

__ADS_1


"Oh bukan, mungkin sekarang dia sudah profesional." Rosa meralat apa yang baru saja dia ucapkan.


"Ma, Anin bukan seperti itu. Sabda cuma membantunya, dia merawat putrinya yang terkena cancer, Ma." ucap Sabda membuat Rosa semakin geram.


"Kalau begitu lepaskan Aruna. Selesaikan cintamu yang belum usai itu." Mama Rosa menarik nafas panjang mengurai sesak di dalam dadanya. Kilatan- kilatan masa lalu kembali menghantui.


Meskipun bicara seperti itu Rosa tidak akan pernah rela putranya jatuh pada wanita yang pernah dia pungut itu. Bahkan, sekuat tenaga dan sebisa mungkin dia menekan Aruna agar memberi kesempatan pada putranya, meski dengan batasan tertentu.


Sabda menatap sendu mamanya. Dia tidak bisa berkata apapun pada Mama Rosa. Bertahun-tahun dia sudah bermusuhan dengan mamanya karena Anin, jadi kali ini dia tidak ingin membuat hubungan itu kembali retak.


Ponsel Sabda berdering, Mama Rosa melirik layar ponsel putranya saat lelaki itu meletakkannya di meja.


Aninditha


Nama yang selalu membuat wanita berumur itu serasa naik darah. Iya, Sabda membiarkan panggilan itu terus berbunyi.


"Mama, akan pulang. Sekarang tinggal kamu yang memutuskan, meneruskan cinta lamamu atau melepaskan Aruna." ucap Mama Rosa. Wanita itu mengambil hand bag miliknya dan kemudian berjalan keluar.


Semarah- marahnya beliau pada putranya, Mama Rosa tetap berharap Sabda memilih yang baik dan tepat.


Di dalam ruangan itu, Sabda mendekati Aruna yang masih memejamkan mata. Tangannya mengambil jari- jari lentik itu dan menggenggamnya begitu erat. Seperti halnya saat Aruna menginginkan bercerai, dia akan tetap mempertahankan sekuat tenaga pernikahan ini.


"Maafkan, Mas." ujar Sabda kemudian mengecup tangan istrinya.


Merasakan pergerakan di sebelahnya, Aruna mulai terbangun. Wanita itu merasa tubuhnya jauh lebih segar. Meski, perasaannya masih belum menentu.


"Sayang, kamu butuh apa?" tanya Sabda membantu Aruna untuk bangun. Jika panggilan itu dulu begitu membuatnya berbunga- bunga tapi tidak untuk saat ini. Panggilan 'Sayang' yang dilontarkan suaminya hanya sebatas pemanis belaka.


Melihat Aruna menatap ke arah kamar mandi membuat Sabda mengerti jika istrinya ingin ke sana.


"Kamu ingin mandi?" tanya Sanda membuat Aruna mengangguk.

__ADS_1


"Sebentar!" ucap Sabda membawa peralatan dan baju istrinya ke dalam kamar mandi terlebih dahulu.


Sabda menggendong Aruna ke kamar mandi. Tatapan mereka saling beradu. Aruna merasa, kenapa dia masih saja berada pada posisi membutuhkan Sabda? Lelaki yang sudah melukainya dan ingin sekali dia tinggalkan.


__ADS_2