
Aruna bersiap untuk pergi ke rumah Zoya. Dia hanya ingin melanjutkan obrolan yang sempat tertunda sebelumnya. Bukannya bermaksud untuk mengumbar aib keluarga, tapi dia juga butuh untuk mendapatkan solusi dari sudut pandang dari orang yang dianggapnya sangat bijaksana.
Sebelumnya, Aruna sudah membuat janji dengan Zoya. Tapi pada Sabda, dirinya hanya mengatakan jika akan keluar menemui pelanggan butik yang akan memesan baju untuk seragam keluarga.
Wanita yang kini sudah menenteng beberapa parcel yang akan di bawanya berkunjung ke rumah Zoya , itu masuk ke dalam taxi.
Taxi berhenti tepat di depan rumah mewah bercat putih itu. Wanita dengan tampilan stylish itu kemudian melangkah masuk setelah security mengantarnya hingga ke dalam.
"Assalamu'alaikum, Bu Zoya." sapa Aruna saat melihat Zoya berjalan mendekat ke arahnya.
"Waalaikum salam, Mbak Runa. Mari ke belakang saja, biar bisa santai." ajak Zoya membuat Aruna mengikutinya berjalan ke gazebo belakang. Zoya memang sangat ramah sekali.
"Santai saja, Mas Hans masih di kantor. Jadi, kita bisa ngobrol dengan leluasa." lanjut Zoya. Mereka berdua kini duduk di gazebo yang ada di dekat kolam renang.
"Bagaimana berkembangan hubungan Mbak Aruna dan Mas Sabda?" tanya Zoya mengawali obrolan yang lebih serius setelah mereka sedikit berbas-basi.
Aruna memang menghubungi Zoya dan mengatakan ingin melanjutkan curhat yang kemarin.
Sejenak atmosfer dalam ruangan mendadak menjadi tenang. Zoya memberikan waktu untuk Aruna agar sedikit tenang.
"Sekarang apa yang Mbak Aruna harapkan dari pernikahan itu?" tanya Zoya. Aruna tak mampu menjawab.
"Apa Mbak Aruna bertahan karena permintaan Mama mertua?" lanjut Zoya. Sebagai seorang yang sudah punya banyak pengalaman, Zoya bisa mengerti perasaan Aruna.
Awalnya Aruna yang berusaha tenang, kini tiba- tiba menjadi terisak. Isak tangis yang sudah lama dia tahan kini mulai terdengar jelas.
Zoya mendekati Aruna, memeluk wanita mungil itu seperti putrinya sendiri. Zoya yang pernah mendengar cerita latar belakang keluarga Aruna membuat wanita yang berhati lembut itu merasa terenyuh.
Dia juga teringat akan Alexa, Aruna tak beda dengan Alexa yang tumbuh bersama Mama tiri, hanya saja beda cerita. Zoya mengusap bahu yang bergetar hebat itu, hingga berlahan menjadi tenang.
"Apa Mbak Aruna masih mencintai Mas Sabda?" tanya Zoya berusaha membuka perasaan yang pernah ada.
Aruna meregangkan pelukan Zoya. Dia menatap wanita yang kini tersenyum padanya.
__ADS_1
"Saya sangat mencintai Mas Sabda." Entah kenapa pertanyaan Zoya membuat Aruna kembali bisa merasakan perasaannya. Perasaan yang selama ini tertutup dengan rasa kecewa dan marah yang begitu hebat.
"Tapi saya sulit untuk membuang rasa kecewa saya." lanjut Aruna.
"Dalam pernikahan membutuhkan dua hal yang penting yaitu perasaan dan tujuan. Jika hanya perasaan saja kita akan mudah bosan dan cepat kecewa. Tapi, jika kita hanya punya tujuan saja maka kita akan cepat lelah. Tidak ada yang salah dengan kata 'Cinta' yang sebagian orang akan mengatakan itu hal yang cukup naif." Zoya tersenyum ketika melihat Aruna sedikit baik.
"Sekarang jika keputusan Mbak Aruna memberi kesempatan pada Mas Sabda dan Mbak Aruna masih mencintai Mas Sabda. Cobalah menggeser sedikit rasa kecewa dan marah, buang berlahan- lahan perasaan itu, anggap saja kalian memulai sesuatu yang baru, orang yang baru tapi dengan perasaan cinta yang sama seperti dulu." lanjut Zoya.
"Saya bisa mengerti, Bu." jawab Aruna. Setelah, sesaat terdiam meresapi apa yang di katakan Zoya.
"Apalagi menurut Mbak Aruna suami sudah mulai berubah. Jadi, dukung dia dan tentukan tujuan dari pernikahan kalian. Cobalah untuk memaafkan pasangan kita jika kita masih mau bertahan dan mencintai."
"Saya tahu tidak mudah melupakan semuanya. Tapi bertahan dengan perasaan kecewa juga tidak akan baik, apalagi Mbak Aruna memutuskan untuk memberi kesempatan. Jadi lepaskan semua rasa yang membuat sakit. Kita fokus pada peran kita saja. Menikah untuk beribadah dan memainkan peran yang terbaik dalam hidup kita karena kelak semua akan dipertanggung jawabkan." Kalimat Zoya terasa mengena di hati Aruna. Dia mulai menyadari jika banyak hal tidak hanya tentang perasaan dan egonya saja.
Zoya merasa lega saat melihat senyum tipis dari bibir wanita cantik di depannya. Itu artinya Aruna bisa memahami dan menerima apa yang dia maksud.
"Saya bisa mengerti dan saya akan mencobanya." jawab Aruna.
"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Semoga Allah selalu memberikan hati yang lapang untuk ikhlas memaafkan siapapun apalagi pasangan kita, orang yang kita cintai." Zoya menggenggam tangan mungil itu dengan begitu hangat.
Panggilan Sabda menghentikan obrolan mereka yang tak terasa cukup lama. Hari ini Aruna merasa sangat lega. Bertemu orang yang baik dan bijaksana baginya adalah rejeki tersendiri.
"Saya pamit dulu, Bu. Terima kasih banyak atas wejangannya." tutur Aruna seraya bersalaman dan memeluk Zoya. Dia merasa begitu nyaman dengan Zoya.
"Sama-sama, Mbak Aruna. Hati-hati! Lain kali main - main saja, jangan sungkan." jawab Zoya sambil mengusap lengan Aruna.
Zoya menatap kepergian Aruna bersama taxi yang sudah Aruna pesan. Wanita yang cerdas dan rapuh, kesan yang diberikan Zoya pada Aruna.
Taxi berhenti tepat di depan rumah Sabda. Lelaki itu terlihat berjalan dengan mengenakan baju koko dari arah Masjid.
"Maaf, Mas. Aku terlambat! ucap Aruna kemudian mencium punggung tangan Sabda. Mereka masuk ke dalam rumah bersama- sama.
"Tadi Pak Azam mampir sebelum ke masjid, jadi Mas bareng saja sekalian salat jamaah." ucap Sabda kemudian memilih duduk di sofa ruang tengah yang menyambung dengan ruang makan.
__ADS_1
"Untuk apa Pak Azam mencari, Mas?" tanya Aruna, Sabda merasa cara Aruna berkomunikasi jauh lebih baik.
"Masjid mau mendirikan TPQ, jadi Pak Azzam meminta Mas menjadi donatur tetapnya." jawab Sabda, sambil mendekati Aruna yang sedang menaruh buah di meja makan. Dia memang mengatakan pada Sabda jika dia habis belanja.
"Itu jauh lebih baik, dari pada untuk menghidupi janda beranak, ujung-ujungnya malah tambah dosa." sindir Aruna tanpa melihat Sabda. Sabda hanya menatap Aruna karena kata- katanya.
"Aku pernah melihat slipnya." ucap Aruna membuat Sabda mengernyit. Dia tak pernah menyangka Aruna akan tahu semuanya. Iya, dia pernah mentransfer Anin lewat ATM saat Sisil harus dikemo dan wanita itu mengeluh tidak punya uang.
"Mungkin bagi Mas tidak seberapa uang dua puluh juta itu. Tapi, aku nggak tahu berapa lagi yang Mas transfer tanpa sepengetahuanku untuk wanita itu." Mendengar kalimat Aruna Sabda tidak ingin menjawab, dia takut akan kembali menyakiti perasaan Aruna.
Meski sebenarnya dia ingin mengatakan jika dia pernah tiga kali mentransfer Anin termasuk yang kepergok oleh Aruna. Lelaki itu memilih untuk memeluk tubuh mungil itu.
"Mas, aku akan Salat dulu!" ucap Aruna sambil melepas lengan besar yang merangkul tubuhnya dari belakang.
"Kamu sudah Salat?" Aruna pun mengangguk.
"Kita nyari makan di luar saja ya!" teriak Sabda saat Aruna menaiki tangga.
Sabda memilih untuk menyalakan televisi dan mengambil ponsel yang tergelatak di meja
makan. Jika dulu, dia tidak bisa lepas dari ponselnya sekarang lelaki itu menaruhnya sembarangan.
Dia bermaksud menyusul Aruna ke dalam dan berganti pakaian, "Mas... " pekik Aruna kaget saat pintu kamar terbuka Aruna hanya mengenakan handuk kecil yang melilit di tubuhnya. Setelah Salat Magrib dia memutuskan untuk mandi.
"Niatnya, Mas mau ganti baju!" ucap Sabda sambil berjalan mendekat ke arah Aruna yang kini malah menatapnya.
"Tapi, jika sudah begini. Mas tidak bisa berubah haluan... " lirih Sabda. Pandangannya berubah, sorot mata yang penuh damba hingga dia mengikis jarak diantara mereka.
Aruna menahan Sabda saat sentuhan lelaki itu sudah terlalu jauh. Kilatan-kilatan bayangan wanita itu dan suaminya kembali terlintas.
"Mas aku belum ingin hamil." ucap Aruna membuat Sabda mengerti dia mencari ko*d*m yang sudah dia siapkan sejak Aruna memintanya.
Aruna mulai berjuang menghilangkan pikiran-pikiran buruk diantara sela waktu Sabda mengenakan kontrasepsi. Seperti apa kata Zoya, diniatkan saja untuk ibadah.
__ADS_1
Lelaki itu kemudian melanjutkan kegiatan panas mereka tanpa peduli waktu. Cara Sabda membawa percintaan mereka membuat Aruna merasa dipuja dan di mengerti. Keduanya merasa diawang -awang merasakan nikmat dan kepuasaan yang membawa mereka pada rasa lelah.