Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Pesan Gambar


__ADS_3

"Kalian menginap saja di sini?" pinta Mama Rosa saat beliau sampai di rumah. Pukul tiga sore beliau baru dijemput Sabda dari rumah sakit setelah mendapatkan izin pulang dari dokter.


"Nanti aku bicarakan dengan Mas Sabda, Ma." ucap Aruna.


"Ayo, Aruna antar Mama untuk istirahat." lanjut Aruna dengan menggandeng Mama Rosa menuju kamarnya yang terletak di lantai dua dengan menggunakan lift.


"Terima kasih, Sayang. Sabda, mana?" tanya Rosa.


"Mas Sabda katanya mau istirahat sebentar. Kasihan dari kemarin, Mas Sabda belum istirahat, Ma." ujar Aruna saat mereka berjalan masuk ke dalam kamar yang sangat mewah itu.


Aruna merasa kamar suaminya sudah cukup mewah tapi kamar Mama Rosa jauh lebih mewah dan nyaman. Mungkin karena almarhum papa mertuanya adalah seorang arsitek.


"Mama ingin memelukmu!" ucap Rosa.


"Terima kasih sudah mau memberikan Sabda satu kesempatan. Semoga kalian selalu bahagia." bisik Rosa kemudian memberikan jarak antara dirinya dan Aruna. Wanita itu tersenyum melihat ketegaran hati menantunya.


"Mama istirahat, ya! Aruna akan melihat Mas Sabda dulu." pamit Aruna membuat Rosa tersenyum. Dia sangat bahagia, dalam hatinya berharap Tuhan akan mengikis rasa sakit menantunya dan menggantikan dengan semua kebahagiaan.


Setelah menyelimuti Mama Rosa, Aruna keluar dari kamar, Aruna memilih kamar Sabda yang juga berada di lantai dua agar tidak membuatnya naik turun.


Aruna membuka pintu kamar dengan berlahan, agar tidak menimbulkan suara. Kamar terlihat kosong, bekas seprai yang sebagian terlihat kusut membuat Aruna yakin jika ranjang itu sempat digunakan untuk tidur.


"Sayang... "Mendengar suara Sabda, Aruna langsung menoleh. Sabda sudah terlihat segar dengan baju koko dan sarung yang dia kenakan.


"Mas habis Salat Ashar. Kamu nggak salat?" tanya Sabda mendekati Aruna yang masih mematung. Lelaki itu merangkul bahu kecil itu kemudian memberikan ciuman kecil di kepala Aruna.


"Aku sedang menstruasi, Mas." jawab Aruna membuat Sabda mengernyitkan dahi. Sabda merasa rencananya belum berhasil.

__ADS_1


"Kapan?" tanya Sabda seolah tak percaya. Karena baru kemarin malam mereka melakukan hubungan badan dan sekarang Aruna malah menstruasi.


"Oh ya, hari ini kita menginap atau pulang, Mas?" tanya Aruna saat Sabda berganti baju koko dengan kaos polo berwarna putih dipadu bawahan celana pendek warna coklat.


"Nanti, kita pulang saja." jawab Sabda kemudian membaringkan kembali tubuhnya di atas bed.


Diantara obrolan mereka terdengar suara notifikasi ponsel Aruna. Wanita itu berjalan mendekati Sabda yang masih terbaring untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di dekat suaminya.


Aruna langsung membuka kiriman gambar dari seseorang. Sejenak dia menahan nafas, matanya terpejam memberi jeda untuk membuat pikiran dan perasaannya agar tetap waras.


Seseorang mengirim foto Sabda dan Anin. Terlihat wanita itu memeluk tubuh suaminya begitu erat dan foto kedua wanita itu memeluk lengan Sabda dengan kepala bersandar di bahunya.


Aruna masih ingat jika tidak salah gambar yang diambil adalah saat sore itu Aruna akan menemui Sabda dan memutuskan untuk kembali begitu saja saat melihat adegan romantis sekaligus menyakitkan itu.


"Sayang..." panggil Sabda, lelaki itu langsung bangkit dan mendekat ke arah Aruna yang tengah terdiam dengan wajah yang terlihat sendu. Hingga, wanita berbibir mungil itu kemudian memilih untuk mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.


"Astaga... " Sabda meraup wajahnya dengan kasar saat melihat gambarnya bersama Anindhita. Dia langsung menghapus gambar dirinya dari ponsel wanita yang kini hanya terdiam.


Rahangnya mengeras dengan wajah memerah. Sabda terlihat menahan emosi saat melihat fotonya sendiri. Rasanya dia ingin menghajar orang yang ingin memperkeruh keadaan mereka.


"Maafkan, Mas!" ucap Sabda kemudian melorotkan tubuh. Rasa ketakutan akan bukti pengkhianatannya membuat Sabda langsung bersimpuh dengan memeluk perut wanitanya.


"Maafkan, Mas!" lirih Sabda. Suaranya terdengar mengiba. Sabda merasa cemas akan tindakan yang akan Aruna ambil.


"Aku sudah pernah melihatnya langsung, saat sore itu wanita itu berada di ruangan Mas Sabda." ucap Aruna dengan suara yang cukup datar. Mungkin, inilah yang namanya mati rasa. Dia sudah tidak bisa lagi mengungkapkan perasaannya.


Sabda melepaskan pelukannya, dia memberi jarak untuk bisa melihat mata istrinya. Iya, air muka itu terlihat datar saja. Tapi, sorot mata Aruna menyimpan luka yang begitu dalam.

__ADS_1


"Iya, jangan khawatir karena melihatnya secara langsung itu lebih menyakitkan, Mas." Saat melihat senyum getir di wajah Aruna, Sabda malah merasa sangat buruk.


Lelaki itu rasanya tidak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah sendu di depannya. Rasa bersalah yang begitu besar membuat mata lelaki itu mengembun.


"Kuharap tidak ada foto lain yang lebih dari yang pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak tahu, apa aku bisa bertahan atau tidak jika aku melihat yang lebih dari hari ini." Sabda tak mampu lagi mengatakan apapun dia hanya bisa menatap wanitanya dengan wajah mengiba, hingga dia akhirnya kembali memeluk lembut Aruna.


"Mas tidak tahu lagi cara meminta maaf padamu, Run. Tapi, percayalah ke depannya Mas akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan kita." bisik Sabda dia tidak bisa menahan air mata yang menetes di belakang Aruna.


"Aku hanya ingin Mas membuktikan semua omongan Mas." lanjut Aruna. Dia tahu akan konsekuensi atas keputusannya untuk bertahan dengan Sabda. Seperti inilah, permasalahan mereka tidak akan tepat saat dia suda memaafkan Sabda.


###


Sesuai permintaan Aruna, Sabda mampir untuk membeli lumpia, kue kesukaan istrinya. Antrian yang lumayan ramai membuat Sabda menarik Aruna berada di dekat mobilnya.


"Om Sabda." suara gadis kecil membuat Sabda menoleh. Sisil kini berjalan bersama dengan sepupu Anin yang pernah dilihat Aruna saat mereka bertemu di mall.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Sabda, dia tidak ingin melibatkan anak kecil.


"Beli ice cream. Om Sabda kenapa tidak pernah datang ke rumah? Padahal Sisil ingin main sama, Om." ucap gadis kecil itu dengan begitu polos. Sementara, Sabda malah menatap Aruna yang tersenyum hambar.


"Sisil, Om Sabda sibuk. Kan, Tante sudah bilang Sisil bisa main sama Tante." ucap Sepupu Anin. Gadis itu yang sering menemani bocah itu.


"Om Sabda sering main ke rumah Sisil ya? Terus Om Sabda ngapain aja? " tanya Aruna dengan tersenyum. Diapun menunduk dengan mata melirik Sabda.


"Iya dulu! Om Sering bermain dengan Sisil saat datang ke rumah." ucap bocah itu. Aruna pun hanya mengangguk. Selama ini dia pun sebenarnya sudah tahu jika Sabda sering menghabiskan waktu bersama Anin di setiap pulang kerja.


"Mbak kami permisi ya!"pamit saudara Anin dengan menggandeng tangan Sisil yang terlihat enggan.

__ADS_1


__ADS_2