
Di dalam mobil keduanya masih terdiam, Aruna mengalihkan pandangan keluar jendela. Ada yang mengganjal dalam hatinya, rasa bersalah pada Abimana. Meskipun dia belum berkomitmen dengan lelaki yang selama ini begitu perhatian dengannya itu. Bagi Aruna, meminta Abi menunggu sama aja memberikan harapan yang tak pasti kepada lelaki itu.
Siang yang terik kemudian berganti dengan mendung, Sabda sesekali melirik gadis yang ada di sebelahnya. Terkadang dia sadar, dirinya terlalu egois jika menginginkan sesuatu. Dan yang semakin membuat aneh, rasa ingin memiliki Aruna terlalu menguasainya.
"Jika kamu keberatan kita bisa putar balik dan kembali ke kantor." ucap Sabda memecahkan keheningan diantara mereka. Saat melihat wajah ceria itu berubah sendu dengan tatapan yang kosong, Sabda tidak tega untuk menguasai gadis di sebelahnya.
"Tidak usah, perjalanan kita sudah jauh. Lagi pula aku sudah tidak ingin berhutang lagi." jawab Aruna, dia menyadari jika sedan warna hitam itu sudah meluncur jauh.
"Kamu tidak ingin tahu kita akan kemana?" tanya Sabda mencoba mencairkan suasana. Dia tahu Aruna marah dengannya.
"Buat apa? Toh, itu akan percuma. Lagi pula aku tahu Mas Sabda yang banyak uang tidak akan menculikku, dan tidak akan.... " kalimat Aruna menggantung, sindiran yang di lontarkan gadis itu membuat Sabda terkekeh. Aruna gadis mungil yang selalu membuat Sabda semakin tertarik dengannya. L
Jalan terlihat sepi, siang juga menjelma petang karena gerimis mulai mengguyur, suasana semakin terasa hening setelah keduanya terdiam dalam kebisuan.
Mobil membelok pada tempat parkir sebuah rumah makan yang cukup indah. Meski, dalam rintik gerimis Aruna bisa melihat suasana yang begitu syahdu. Rumah makan yang di desain menyatu dengan aliran sungai, bahkan suara deras air terdengar begitu sangat merdu.
"Kita sudah sampai. Tapi, jangan keluar dulu!" Lelaki itu mengambil payung dan keluar membukakan pintu mobil untuk Aruna.
"Maaf, semua di luar kendaliku." lirih Sabda sambil membungkuk saat Aruna tidak juga keluar.
"Kenapa?" tanya Aruna bingung saat melihat wajah yang biasa tegas dan angkuh kini mendadak berubah merasa bersalah.
"Gerimis." jawab Sabda.
Bukan itu yang membuat Aruna terdiam sejenak. Tapi, semesta seolah membuat dirinya dekat dengan orang yang sebenarnya ingin dia hindari. Berjalan dengan lelaki itu dalam satu payung. Itu yang membuatnya enggan.
__ADS_1
"Ayo! Sebelum hujan semakin deras." desak Sabda. Lelaki itu tidak mengerti apa yang sedang diresah oleh gadis yang begitu ragu untuk keluar. Tapi bagi Aruna ini adalah penebusan hutangnya.
"Ada payung lagi?" Mendengar pertanyaan Aruna, Sabda mengernyitkan dahi. Dia baru mengerti arah pikiran gadis yang saat ini menatapnya sendu itu.
"Runa, sayang... aku bukan penjual payung. Apa kamu ingin aku basah kuyup memperdebatkan hal tidak penting." cecar Sabda yang mulai gemas, sedangkan Aruna malah meliriknya tajam yang menunjukkan protes dengan panggilan yang di ucapkan lelaki yang masih membungkuk di pintu mobil.
"Baiklah kalau kamu tidak mau." Sabda pun mulai kesal karena tubuhnya mulai terasa basah, tapi Aruna masih terlihat bimbang.
"Tunggu!" Aruna pun segera turun, mereka mulai melangkah dalam satu payung menuju rumah makan yang terlihat ramai pengunjung.
"Jangan mepet-mepet, Mas." protes Aruna tapi tak digubris oleh Sabda. Lelaki itu, dia sudah basah dan tidak ingin Aruna juga basah terkena tetesan air.
Jarak rumah makan dan parkiran sekitar lima belas meter membuat mereka berjalan dengan cepat.
"Mana yang basah?" Sabda memeriksa bagian tubuh Aruna saat sampai di tempat tujuan. Sedangkan Aruna hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Menu di sini, ikan air tawar dan ayam. Tapi yang rekomended, ikan sidat dimasak ala masakan Jepang." jelas Sabda. Dia melihat Aruna yang terlihat canggung.
"Aku ikut Mas Sabda saja." jawab Aruna sambil mengusap terus kedua tangannya karena rasa dingin.
"Kamu di sini saja. Aku akan memesan makanan dan mengambil jas yang ada di mobil." Sabda pun berjalan menuju meja kasir membuat pesanan dan kemudian berjalan menuju mobil.
Gerimis memang diluar rencana Sabda. Saat mereka berangkat, cuaca masih begitu cerah hingga dia memutuskan untuk mengajak Aruna makan siang di tempat yang jauh dari keramaian kota.
"Pakai, jas ini agar sedikit menghangatkan." Sabda menggantungkan jasnya di bahu kecil Aruna.
__ADS_1
Gadis itu menatapnya, tatapan yang menunjukkan perasaannya yang semakin bimbang dan rasa bersalah. Semakin dia merasa bahagia dengan perhatian yang diberikan Sabda, disaat itulah ada rasa bersalah pada Abimana. Menggenggam kedua rasa yang membuat batinnya merasa tak menentu.
"Kamu akan kembali ke rumah atau butik?" tanya Sabda dengan mendudukkan bobotnya pada sebuah bangku.
"Butik saja. Aku tidak mau ada gosip miring tentang kita." jawab Aruna. Dia merasa tidak enak dengan tetangga sekitar.
Sabda masih terdiam, dia tidak menjawab Aruna, hingga seorang pramusaji membawa pesanan mereka.
Keduanya masih menikmati ikan Sidat di masak unagi don. Sabda menambahkan beberapa potong ke mangkuk Aruna dengan alasan agar bisa tumbuh tinggi membuat Aruna mencebikkan bibir kemudian menjawab ledekan Sabda," Justru yang kecil banyak dicari seperti barang antik." mendengar jawaban Aruna membuat Sabda tersenyum menatap begitu dalam gadis manis di depannya.
"Dan susah banget ditangkap." lanjut Sabda yang tidak digubris lagi oleh Aruna. Gadis itu menikmati makanannya sambil menunggu hujan yang berlahan mereda.
"Setelah ini aku tidak berhutang lagi dengan Mas Sabda. Dan jangan membuat aku berhutang lagi karena mungkin aku tidak bisa membayarnya!" Aruna mengakhiri makan siangnya. Dia mustahil bisa menghabiskan waktu bersama dengan lelaki lain dia sudah bersama dengan seseorang. Q
"Baiklah, itu artinya kamu bersedia menikah denganku." jawab Sabda sambil tertawa membuat Aruna mendesah.
"Maksudnya?" Aruna mengernyitkan dahinya. Entah, seperti apa pola pikir lelaki di depannya itu.
"Hanya diantara suami istri yang tidak ada hutang piutang, benar, kan?" tanya Sabda dia kembali membuat Aruna merasa bingung. Aruna merasa Sabda sedang becanda, tapi lelaki itu juga tak kalah serius. Rasanya dia benar - benar merasa dipermainkan.
"Jangan suka becanda seperti itu! Bisa saja aku menganggapnya serius." Aruna ingin mengakhiri candaan konyol dari lelaki yang memang diincar banyak gadis. Bagi, Aruna dia tidak ingin banyak berharap.
"Aku tidak becanda." jawab Sabda. Wajahnya kemudian terlihat sangat serius.
"Aku tidak mau bersaing dengan banyak wanita. Karena aku tak cukup punya banyak rasa percaya diri untuk melakukannya." ujar Aruna kemudian menyesap minuman dingin.
__ADS_1
"Dan sebaiknya kita jangan terlalu dekat. Aku bukan tipe orang suka bermain-main. Semua urusan diantar kita selesai jadi biarkan aku fokus dengan hidupku." lanjut Aruna. Lelaki itu menatap tajam Aruna, rahangnya mengeras. Ada rasa kecewa setelah pernyataan Aruna.
Itu artinya Aruna telah menolaknya. Sabda Megantara hari ini pertama kalinya dia di tolak.