Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Ingin Pulang


__ADS_3

Alena mengantar Aruna kembali pulang. Setelah pertemuan pertama dengan Aruna, Alena yang masih tinggal bersama tantenya itu, mengajak Aruna untuk menikmati es kelapa muda di tepi pantai tentu setelah mendapatkan izin dari Sabda.


Alena sengaja mengajak bertemu Aruna karena dia merasa berbicara dengan Aruna merasa nyaman. Wanita yang umurnya lima tahun di bawahnya itu sangat dewasa. Aruna memang tidak terlalu banyak berkomentar, tapi justru itu yang membuat Alena merasa nyaman, dia hanya ingin mendapatkan orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Semoga bisa ketemu di acara gathering familinya, Pak Gerald." ucap Alena. Padahal dia sendiri tidak tahu, bisakah dia datang sebagai istrinya Arga atau Arga akan datang bersama selingkuhannya itu.


Setelah, mobil Pajero putih itu menghilang dari pandang, Aruna langsung masuk ke dalam. Dia ingin istirahat saja saat ini setelah hampir setengah hari Alena mengajaknya jalan.


Dibukanya pintu kamar. Ternyata Sabda sudah tidur pulas hingga terdengar suara dengkuran halus memenuhi kamar sempit itu.


Aruna berjalan pelan mendekati lelaki yang kini telentang dengan tela*njang dada. Dengan sangat hati-hati dia duduk di pinggir tempat tidur, matanya tidak lepas dari wajah tampan suaminya.


Ada riuh yang menyeruak di hatinya. Jika sedang tertidur seperti ini, Aruna merasa hatinya penuh haru saat menatap wajah Sabda.


Jika mengingat perjalanan kisah cinta mereka, memang sangat dilematis. Hampir menjadi istri lelaki lain, sebuah pengkhianatan dan berjuang untuk bisa memaafkan dan dimaafkan.


"Kenapa menatap, Mas, seperti itu?" tanya Sabda kemudian membuka matanya dan tersenyum saat melihat wajah merona Aruna.


"Heran saja, tumben sekali Mas Sabda pulang lebih awal?" sambut Aruna saat salah tingkah karena tatapan Sabda.


"Capek banget aku, Run!" jawab Sabda sambil tersenyum. Berlahan, menarik Aruna agar tidur di sebelahnya.


"Sampai kapan kita di sini, Mas?" tanya Aruna dengan menatap wajah Sabda.


"Kenapa? Kamu tidak kerasaan?" Sabda balik bertanya. Dia tahu istrinya belum bisa menyesuaikan diri.


"Aku meninggalkan butik terlalu lama." jawab Aruna beralasan, dia hanya kangen dengan butik.


"Tidak lama, proyek ini, kan, tinggal meneruskan. Lagian, Mama punya orang- orang yang cukup kompeten seperti Pak Aldo, Nanang dan Agus." jawab Sabda kemudian mengecup kening istrinya.


"Sekalian ganti suasana, Run." lanjut Sabda.l

__ADS_1


"Berarti aku lahiran di sini? Kita juga belum persiapan perlengkapan bayi." ujar Aruna dengan lesu.


"Kamu catat saja apa yang dibutuhkan, saat pulang nanti, kita akan beli semuanya. Insyaallah, kita di sini tidak sampai lahiran." lanjut Sabda. Dia juga ingin anak istrinya mendapatkan fasilitas kesehatan yang bagus saat lahiran nanti.


"Mas tahu, Mbak Alena akan bercerai?" tanya Aruna.


"Tahu."


"Arga yang cerita. Tapi, kita hanya orang luar. Tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangga mereka di dalamnya." ujar Sabda kemudian memeluk tubuh mungil di sebelahnya.


Tangannya mengelus perut yang menyembul mencari gerakan si jabang bayi yang begitu aktif. Bagi Sabda inilah tujuan hidupnya saat ini.


"Kalian prioritasnya Mas." bisik Sabda membuat Aruna tersenyum. Kalimat itu seolah membuatnya kembali terjatuh pada cintanya Sabda Megantara.


"Kenapa.rambutnya nggak di potong? Ini yang depan udah panjang." protes Aruna dia tidak ingin Sabda berambut panjang lagi. Jari- jari kecil Aruna masih menyisir rambut depan Sabda.


"Emang dibuat model gitu. Biar mirip Refal Hadi." lanjut Sabda sambil terkekeh. Aruna hanya bisa mencebikkan mulut saat mendengar jawaban Sabda. Tapi, mau di model apapun rambutnya bagi Aruna Sabda masih tetap terlihat keren.


Semua seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Tawa Aruna membuat Sabda merasa hatinya adem. Sabda berharap Aruna tidak lagi menyimpan luka karena pengkhianatan yang pernah dilakukannya.


###


Fadhil dan Andrean baru saja menyelesaikan briefing pagi rutin. Penjualan yang menurun membuat Andrean selalu merasa emosi. Dia baru tahu rasanya menjadi Sabda, yang terkadang dia merasa hanya bisa menuntut. Tapi, seperti inilah rasanya.


"Kapan kamu menikah? Kenapa tidak mengikuti jejak Sabda. Di butik depan ada dua gadis yang sepertinya masih jomblo." goda Fadhil membuat Andrean menarik nafas berat. Lelaki itu kadang keterlaluan saat menggodanya.


"Sebentar lagi! Nggak usah mengkhawatirkan aku." jawab Andrean sekenanya. Lelaki itu segera merapikan mejanya karena hari ini dia akan mengunjungi showroom cabang yang ada di kota yang berbeda.


"Serius, aku tunggu undangannya secepat mungkin." timpal Fadhil sambil terkekeh.


Andrian keluar dari ruangan meeting, dia pun berjalan menuju parkiran. Tapi, kedua matanya mengernyit saat melihat Rosa dengan elegannya berjalan menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Apa kabar, Tan?" sapa Andrean saat Rosa membuka kaca mata hitam di depannya.


"Baik? Ayo kita mengobrol." ujar Rosa membuat Andrean segera membawa Rosa ke dalam ruangannya.


"Sabda sudah tahu jika penjualan mobil menurun drastis?" tanya Rosa, dia langsung ke kantor saat mendengar curhatan Andrean agar Sabda segera pulang.


"Iya sudah tahu,Tan. Dia masih santai, katanya di bulan- bulan tertentu memang penjualan menurun. Tapi, jika dipegang Mas Sabda langsung, biasanya nggak se- drastis ini, Tan." Andrean merasa tidak enak. Sabda dan Tante Rosa sudah memberikan kepercayaan padanya. Jadi, dia harus jadi orang uang di percaya dan bertanggungjawab.


"Berarti kamu tidak usah panik. Lagi pula Sabda tidak lama di sana." ujar Rosa. Rosa senang, jika Sabda mempunyai orang seperti Andrean itu artinya, usahanya akan bisa lebih berkembang lagi.


"Tante sudah mengirim beberapa tenaga yang cukup kompeten agar Sabda di sana tidak terlalu lama dan proyek segera selesai." jelas Rosa.


"Hubungan Sabda dan Aruna juga butuh selingan. Mereka perlu healing sejenak, meskipun fasilitas di sana tidak memadahi. Tapi, di sana punya nuansa baru untuk mereka." lanjut Rosa. Dia sengaja melakukan semua ini, agar hubungan Aruna dan Sabda kembali seperti semula, sebelum kehadiran Aninditha.


"Wanita itu sudah menikah, Tan." ujar Andrean.


"Tante sudah tahu. Dan kuharap dia benar-benar menghilang dari kota ini." ujar Rosa yang sebenarnya sudah tahu jika Aninditha sudah pindah dari kota ini setelah menikah dengan Royan. Dia seolah bersembunyi dari banyak orang yang mengenalnya.


Rosa hanya ingin menutup semua tentang Aninditha dari keluarganya. Aninditha membuat Aib untuk keluarga Rosa meskipun itu juga kesalahan suaminya juga.


###


Sejak tadi rasanya Sabda ingin segera pulang dari proyek. Dia ingin memberitahu Aruna jika minggu depan mereka akan pergi ke kota.


Langkahnya sedikit berlari, setelah turun dari mobil, Sabda langsung menghampiri segerombolan orang di depan rumahnya.


"Ada apa, Mbak Sulis?" tanya Sabda begitu penasaran.


"Mbak Aruna sejak pagi belum kembali, Pak Sabda." jawab Mbak Sulis dengan wajah cemas.


"Kami sudah mencarinya di sekitar lingkungan proyek. Tapi, Mbak Aruna tidak ketemu." lanjut salah seorang lelaki yang berdiri diantara tiga orang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2