Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Salah Tuduh


__ADS_3

"Ihhh...Mbak Runa, kenapa mondar mandir kayak setrikaan. Bumil nggak boleh capek capek, lo! " omel Amanda saat gadis itu lelah sendiri, ketika melihat Aruna terlihat gelisah.


"Nda, anterin aku pulang yuk!" ucap Aruna membuat Amanda mengernyitkan dahi dengan tatapan penuh tanya.


"Ngapain juga ke sini, Mbak? Kayak numpang lewat saja!" celetuk Amanda kemudian memanggil anak baru untuk berjaga di meja kasir sambil menunggu jadwalnya Nina.


"Manda... aku di rumah galau. Terus di sini malah tambah galau. Entahlah... " ucap Aruna kesal. Dia kemudian berhenti di depan meja kasir menatap Amanda yang mulai membereskan barang- barangnya.


"Oh ya, kita ketempat rujak es cream saja." ralat Aruna membuat gadis di depannya membulatkan bibirnya. Dia merasa kali ini sikap Aruna tidaklah jelas.


Mereka akhirnya keluar, Nina yang sebentar lagi sampai butik sudah mengabari Aruna.


Siang beranjak menuju sore itu masih menunjukkan gagahnya sinar mentari yang cukup menyengat. Amanda melajukan motornya dengan tenang menuju kedai rujak es cream.


"Mbak, tapi aku takut ntar kena marah Mas Sabda." ucap Amanda saat mereka sampai di kedai yang ramai pengunjung.


"Mas Sabda nggak tau, lagian dia juga sedang bersenang-senang." ucap Aruna berusaha baik- baik saja.


Gadis berkulit putih itu menstandarkan motornya sementara Aruna masuk terlebih dahulu untuk memesan es cream dan rujak es cream.


"Mbak, dibungkus aja, ya! Terus aku anterin Mbak Aruna pulang." Amanda tahu Sabda over protect terhadap Aruna sejak wanita yang mengenakan pasmina biru itu sedang hamil.


"Manda kenapa, kamu jadi tidak asyik begitu. Malah patuhnya sama Mas Sabda." gerutu Aruna. Dia bertambah kesal dengan Amanda yang sangat tidak kooperatif.


Aruna akhirnya mengalah, dia tahu Amanda tidak nyaman jika bersamanya di kedai ini. Dengan terpaksa dia harus membungkus pesannya itu.


Amanda akhirnya mengantar Aruna pulang. Membawa bumil satu itu membuatnya sangat berhati-hati. Sabda yang selalu mewanti - wanti untuk hati- hati membuat Aruna seperti berlian yang harus dijaganya dengan segenap jiwa raga.


"Mbak, maaf ya! Aku takut Mas Sabda marah." ucap Amanda berterus terang saat mereka sudah tiba di depan rumah Aruna. Sabda memang tipikal orang yang punya berkarakter kuat hingga apa yang dia katakan bisa berpengaruh pada orang lain.


"Nggak apa- apa, aku malah bisa tidur. " ucap Aruna. Dia bisa melihat wajah Amanda yang serba salah.


Aruna menaruh satu bungkus di gantungan motor Amanda membuat gadis itu tersenyum kaku.


"Aku balik ya Mbak, masih ada kelas soalnya." ucap Amanda membuat Aruna mengangguk.

__ADS_1


"Hati-hati." jawab Aruna dengan melambaikan tangan mengiringi kepergian Amanda.


Masih membawa bungkusan yang berisi rujak es cream. Aruna memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Bukan rumah berlantai dua tapi rumahnya sendiri. Dia ingin menyapa ikan-ikannya yang sudah lama tidak dia lihat


Hatinya masih saja gelisah. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya dan wanita itu. Apakah mereka memang masih menjalin hubungan tanpa sepengetahuan dirinya atau ada sesuatu yang penting.


Dengan menyiapkan rujak es cream Aruna termenung menatap polah gesit ikannya yang lari kesana kemari.


Sesekali dia melirik jam yang ada dipergelangan tangan. Sudah pukul lima sore tapi Sabda belum juga Mengabarinya hingga membuat dirinya ingin menangis saja.


Dia membuang nafasnya dengan kasar kala pikiran buruk tentang Sabda dan Anin terus menghinggapi otaknya.


Aruna terus saja menatap ikan- ikan itu dengan pikiran menerawang. Kedua tangan memeluk kakinya yang ditekuk. Apalagi suara gemericik air membuatnya tidak menyadari jika seseorang sudah berdiri di belakangnya.


Sejak tadi Sabda berdiri bersandar pada pintu dengan kedua tangan masuk ke dalam saku. Lelaki itu begitu betah memandang wanitanya yang terlihat termenung.


Hingga akhirnya dia memilih untuk mendekatinya, berjongkok dan memeluk tubuh mungil itu dari belakang.


"Mas Sabda, kapan pulang?" tanya Aruna seperti salah tingkah karena kaget dengan kehadiran Sabda yang tidak dia sadari.


"Tidak enak." jawab Aruna sekenanya. Dia tidak tahu harus membuat alasan apalagi.


Lelaki yang masih mengenakan kemeja kerja itu pun ikut duduk di belakang istrinya, " tidak enak rujaknya atau hatinya." bisik Sabda lagi. Dia mulai bisa memahami perbedaan mood Aruna.


"Run... " panggil Sabda. Lelaki itu begitu hati- hati jika akan membahas satu hal ini.


"Apa, Mas." jawab Aruna masih melempar makanan ikan ke kolam.


"Coba lihat, Mas." titah Sabda membuat Aruna menoleh ke arah Sabda.


"Mas ingin bicara serius." lanjut Sabda. Aruna merasa jantungnya berdebar. Entah kebenaran apa yang ingin Sabda sampaikan tapi kenyataannya jantung masih tidak aman.


Aruna menggeser sedikit duduknya kemudian menatap wajah tampan suaminya.


"Kamu masih tidak percaya Mas?" Kalimat Sabda membuat Aruna merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Sisil meninggal. Berhubung ada acara, Mas meminta Andrean dan beberapa sales sebagai perwakilan kantor." ucap Sabda, dia bisa membaca Aruna pasti berfikir hubungan dirinya dan Anin.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun, semoga Mbak Anin selalu diberi ketabahan." Kali ini Aruna menyingkirkan egonya. Dia juga bisa membayangkan bagaimana kehilangan seorang anak. Kehilangan calon anak saja rasanya dia sulit bernafas apalagi seumuran Sisil yang mungkin lucu- lucunya.


"Mas tidak takziah bukan karena aku kan?" tanya Aruna dengan perasaan tidak nyaman.


Sabda menggenggam tangan Aruna, " Bukan, Mas memang ada pekerjaan penting. Dan jika datang sendiri Mas nggak enak. Jadi sekalian nggak datang." lanjut Sabda membuat Aruna mengangguk. Dia bisa melihat kesungguhan di mata Sabda.


###


Sabda masih mengotak atik laptopnya di dalam kamar. Ada beberapa laporan yang belum sempat dia lihat di kantor hari ini dan memutuskan untuk memeriksanya di rumah.


"Sayang, ada telpon." teriak Sabda saat ponsel Aruna sedari tadi tidak berhenti berbunyi. Sedangkan Aruna terasa lama di kamar mandi.


"Iya, Mas." teriak Aruna bergegas keluar kamar mandi dengan handuk kimononya.


"Tita." gumam Aruna kemudian mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.


"Assalamualaikum, Ta." ucap Aruna.


"Waalaikum salam, Run. " balas Tita. Aruna pun berjalan menjauh dari Sabda dia memilih untuk duduk di balkon.


"Run, apa kabar?" tanya Tita.


"Baik, Ta." jawab Aruan singkat.


"Oh ya, kamu tahu jika putrinya Anin meninggal?" tanya Tita dengan hati- hati.


"Iya aku tahu dari Mas Sabda. Tadi saat pulang kerja Mas Sabda cerita." ujar Aruna.


"Ohhh, aku dikasih tahu Mas Bagas. Tadi sempet cekcok aku karena jadwalnya ketemu EO malah Mas Bagas melayat bersama teman kantornya." jelas Tita dengan yang masih terdengar kesal.


" Sabar, Ta. Kalau mau nikah banyak ujiannya. Persiapan mental saat sudah menikah." goda Aruna sambil terkekeh. Dia hafal Tita, gadis itu memang cepat sekali ngambek.


Kedua wanita itu menghabiskan waktu untuk sekedar bergosip dan curhat. Hingga, akhirnya mereka berhenti saat Sabda meminta secangkir kopi.

__ADS_1


__ADS_2