
Sabda pulang dari kantor, langsung menaiki tangga mencari keberadaan istrinya. Saat membuka pintu kamarnya terlihat Aruna sedang menunaikan Salat Magrib.
Lelaki yang kini tersenyum tipis itu mulai memelankan gerakannya agar ibadah Aruna tidak terganggu.
Dia merebahkan tubuhnya yang sudah terasa lengket itu dengan pelan di kasur dengan posisi tidak beraturan. Dengan bertumpu pada kedua lengan yang di tekuk sebagai bantalan, Sabda ingin memejamkan mata sejenak. Rasa lelah setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan, membuat Sabda tidak sulit terlelap.
"Mas Sabda... " panggil Aruna dengan suara lirih. Kediaman Sabda membuat Aruna tahu jika Sabda benar-benar terlelap. Sejenak dia duduk di samping Sabda yang masih memejamkan mata.
"Kenapa tidak mandi dulu, Mas? " gerutu Aruna, dia tahu Sabda tidak akan mendengar omelannya.
Dia memberikan waktu untuk Sabda melepaskan rasa lelah. Aruna pun beranjak pergi, niatnya ingin membuat makan malam. Tapi, tangan besar itu melingkar di pinggang kecil dan menahannya agar tidak menjauh.
"Mas Sabda... " Aruna menoleh sambil tersenyum. Sabda menatapnya tajam, tatapan rindu yang menginginkan untuk dilampiaskan.
Lelaki dengan sorot mata penuh cinta itu menarik lengan Aruna hingga tubuh mungil itu terjatuh di atas dada bidangnya.
Rasa gugup mulai menjalar di tubuh Aruna. Bahkan, desiran aneh mulai berkembang liar di sepanjang tubuhnya. Masih dengan perasaan yang sama saat rengkuhan lembut lengan kokoh itu mendekapnya.
Sabda mulai mencium puncak kepala wanitanya. Jantung lelaki itu mulai berdebar merasakan rasa yang penuh gejolak dan penuh hasrat.
Masih dengan malu-malu Aruna pun hanya bisa menurut, membiarkan Sabda melakukan apa yang ingin dilakukan meski rasa gugup kembali menyergapnya.
"A- aku...takut." ucap Aruna lirih saat Sabda mulai menciuminya. Mencumbunya dengan rakus. Gadis itu mencoba mengatakan apa yang di rasakannya.
"Pelan- pelan... " lirihnya menghentikan gerakan suaminya. Sabda kemudian membalik dan menindih tubuh kecil istrinya.
Lelaki dengan mata berkabut dan penuh damba itu pun mengerti. Sabda tidak lagi menjawab, tapi gerakannya yang berganti dengan penuh kelembutan itu menandakan lelaki yang penuh hasrat yang menggebu itu sudah mengerti.
Mereka menghabiskan beberapa jam, untuk mereguk indahnya cinta. Saling memberikan kenikmatan untuk mengungkapkan cinta dari setiap sentuhan yang halal.
__ADS_1
"I love you, Aruna." lirih Sabda dengan penuh penekanan saat pelepasan semua hasratnya itu memberikan rasa nikmat yang tiara tara.
"I love you too... " balas Aruna, meskipun tubuhnya terasa remuk dengan rasa perih yang sedikit tersisa di bagian intinya. Tapi, Aruna masih tersenyum, setiap sentuhan penuh kelembutan yang diberikan suaminya menggambarkan banyak cinta yang mengikis rasa perih untuk pertama kalinya.
Sejenak keduanya kembali terlelap. Tubuh besar itu memeluk tubuh mungil Aruna dengan posesif.
Sabda Megantara, lelaki yang membuat Aruna semakin jatuh cinta hingga terdalam. Dia merasakan hidupnya begitu sempurna ketika bersama lelaki yang saat ini memeluknya begitu erat.
Pergerakan kecil membuat Sabda terbangun. Aruna berusaha melepaskan tangannya, tapi lelaki itu tak bergeming. Dia masih ingin merasakan kehangatan bersama wanitanya. -
"Mas aku lapar, aku harus memasak untuk makan malam." ucap Aruna membuat Sabda membuka kedua kelopak matanya.
Lelaki itu hanya menatap Aruna, hingga wajah istrinya kembali merona, " Kamu begitu seksi." ucap Sabda, dia masih terbayang betapa sempurnanya Aruna memberikan malam pertama mereka.
Aruna tidak menjawab, dia masih merasa malu dengan apa yang sudah terjadi. Wajahnya terasa memanas setiap melihat tatapan Sabda yang penuh binar rasa bahagia.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Sabda saat Aruna mulai beranjak duduk. Dia seolah belum terima mengakhiri semuanya.
"Kita makan di luar, yuk!" ajak Sabda yang begitu bersemangat. Dia tidak tahu apa yang dirasakan istrinya.
"Mas akan membantumu ke kamar mandi." Sabda kembali mengenakan boxernya dan akan mengangkat tubuh Aruna.
"Mas sudah lihat semuanya!" ucap Sabda saat melihat keraguan pada tatapan Aruna.
Sabda pun menggendong Aruna. Seperti yang sempat dia rasakannya saat puncak pergumulan panas mereka, bercak darah yang tercecer kini mewarnai seprei berwarna cream itu.
Aruna pun keluar dari kamar mandi sambil celingukan, mencari keberadaan Sabda. Tapi ternyata lelaki itu sudah tidak ada di kamar.
Setelah berganti, Aruna pun duduk di meja riasnya. Menatap wajahnya yang kembali bersemu merah saat mengingat kejadian tadi. Dia sudah tidak perawan lagi, rasanya memang ada yang berbeda yang dia rasakan setelah ini.
__ADS_1
"Sayang, sudah selesai?" Sabda langsung nyelonong masuk dengan tubuh yang masih basah dan handuk yang melilit di pinggang.
Aruna tidak menjawab, dia masih terkesima melihat tubuh tegap dengan otot keras yang begitu tadi begitu memujanya. Sekali lagi dia tersipu, desiran itu kembali terasa kala melihat tubuh seksi suaminya.
"Kenapa? Mau lagi?" tanya Sabda seolah memergokinya berbuat yang memalukan.
Sabda mengambil kaos dan mengenakannya," Mas Sabda kenapa gantinya tidak di dalam, si?" rutuk Aruna saat Sabda membuka lilitan handuk di depannya.
"Kelamaan, Sayang. Lagian kamu sudah melihat semuanya." ujar Sabda sambil menyelesaikan berganti pakaian.
Dia pun mendekati Aruna yang malah sibuk mengomentari dirinya. Sementara, rambut basahnya masih tergelung dengan handuk.
"Ayo cepat, aku bantu mengeringkan rambutnya." lanjut Sabda membantu menggosok rambut Aruna dengan handuk. Sementara Aruna mulai menghidupkan hairdryer. Lelaki itu terlihat begitu bersemangat dengan binar di wajahnya setelah kebutuhan biologisnya tersalurkan dengan kepuasan.
Mobil Sedan membelok diantara penjaja makanan yang ada di pinggir jalan. Pukul sebelas malam membuat merekà tidak bisa memilih harus makan dimana. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ketempat segerombolan pedagang kaki lima yang mangkal.
"Kita beli soto saja ya, Mas?" tanya Aruna sebelum mereka turun dari mobil. Sabda hanya mengangguk, dia memang bukan pemilih makanan.
"Kamu tidak apa jalan ke sana? Atau aku panggil saja mereka untuk membawanya ke sini? " tanya Sabda, dia khawatir jika istrinya masih merasa sakit.
"Kita kesana saja, sambil menikmati suasan." ujar Aruna kemudian turun dari mobil. Sabda meraih jaket yang ada di bangku belakang. Bersiap jika Aruna merasa kedinginan karena saat ini memang musim dingin.
Mereka memilih duduk lesehan, sebelumnya Sabda menggantungkan jaketnya di bahu kecil Aruna membuat Aruna menyambutnya.
"Sudah pesan?" tanya Sabda memilih duduk di samping istrinya.
"Sudah, aku pesan sama." ucap Aruna sambil tersenyum.
Hal yang disukai Sabda adalah sikap Aruna yang begitu manis. Aruna wanita yang penuh kelembutan meskipun sesekali sikapnya begitu tegas dengan pilihannya.
__ADS_1
Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan mereka. Seolah meyakinkan kebenaran tentang sosok yang dilihatnya saat ini. Sosok yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilihatnya tapi masih mengisi relung hatinya.