
Di apartemen Bagas, mereka kini berkumpul. Bagas, Hendriko, Nathan, Sabda dan saat ini Andrean pun ikut nimbrung setelah sekian lama mereka tidak berkumpul.
"Aku tidak minum alkohol." ucap Sabda saat Hendriko menawarinya minuman.
"Yang bener?" Nathan merasa tidak percaya apa yang baru saja di ucapkan Sabda. Bahkan, lelaki berkulit putih itu tertawa sinis.
"Iya serius, aku sudah nggak minum." tegas Sabda.
Nampak yang lainnya terlihat kecewa. Tapi, Sabda tetap teguh pada pendiriannya. Dia tidak ingin otaknya di luar kendali dan melakukan kesalahan yang jauh lebih buruk.
"Apa karena kejadian malam itu antara kamu dengan si mantan." celetuk Bagas. Dia nggak menyangka Sabda benar-benar berubah. Semua teman Sabda kasusnya dengan Aninditha.
"Ya, salah satu alasannya itu. Kedua memang haram, kan? Aku mau hidup yang benar, sebentar lagi aku akan jadi Ayah." ujar Sabda. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan yang terbaik buat keluarganya.
"Rasanya enak mana, Da?" celetuk Nathan membuat Sabda tersedak saat dirinya meneguk soft drink yang baru saja diambil dari lemari pendingin. Lelaki itu begitu gatal untuk menggoda Sabda.
"Tapi aku kira Anin bukanlah wanita yang baik." ucap Andrean seketika, saat dia melihat Sabda serba salah. Dari dulu Andrean memang tidak menyukai Aninditha.
"Aku sudah tidak peduli." timpal Sabda. Kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku harus pulang! Aruna pasti menungguku." ucap Sabda. Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dia yakin Aruna sudah menunggunya.
Mereka membiarkan Sabda pulang lebih dulu. Jika mengingat seperti apa Sabda dulu, lelaki itu memang banyak berubah. Bahkan, bisa dikatakan 180°.
Sabda berjalan menelusuri lorong lantai apartemen, dia kemudian masuk ke dalam lift. Betapa kagetnya lelaki itu saat Anin sudah berada di dalam lift itu.
"Apa kabar, Da?" sapa Anin.
"Baik." jawab Sabda dengan singkat, lelaki itu sibuk mengalihkan tatapannya dari wanita dengan dress seksi di sebelahnya.
"Kamu beda, Da. Bahkan, kamu tidak bisa menyembunyikan salah tingkahmu." ujar Anin. Sabda masih membiarkan wanita itu bicara.
__ADS_1
"Aku kangen kamu!" lirih Anin mencoba kembali meruntuhkan hati Sabda. Dulu, setiap kali, sikap Anin yang cukup manis dan wajahnya yang sendu selalu membuat Sabda tak bisa mengelak.
"Kita sudah menjalani hidup kita masing-masing." ucap Sabda tanpa menoleh ke wanita yang menatapnya begitu lekat.
"Mungkin kamu seperti itu. Tapi, aku tidak bisa membohongi diri sendiri jika aku tetap merindukanmu, Da." lirihnya. Wajahnya pun terlihat mengiba dengan tatapan yang sangat sendu.
Mereka terdiam sejenak. Sabda memang tidak ingin menjawab kalimatnya. Lift pun terbuka. Dan Sabda melangkah keluar, tapi wanita itu mencekal lengan Sabda hingga membuat Sabda menghentikan langkahnya.
Saat Sabda melepaskan lengannya dari genggaman Anin dan tanpa menoleh ke- arah wanita yang kini ada di belakangnya. Anin pun melangkah menghadangnya.
"Da, kita bisa seperti dulu, tanpa istrimu tahu. Aku rela jika harus menjadi yang ke-dua tanpa siapapun tahu." Anin menghadang langkah Sabda. Sedangkan Sabda melihat orang-orang sekitar yang mulai memperhatikan dirinya.
"Aku tidak bisa! Aku mencintai Aruna." jawab Sabda.
"Aku tahu cintamu pada Aruna lebih besar. Tapi, aku yakin pasti masih ada sisa rasa yang dulu. Aku bisa berada di sisimu, tanpa istrimu tahu, Da."
"Maksudmu apa?" Sabda menatap tajam.
"Aku harus segera pulang. Lain kali kita memang harus bertemu untuk menyelesaikan ini." ujar Sabda. Dia mulai tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sekitar.
"Aku mencintaimu, Da." lanjut Anin sebelum Sabda meninggalkannya.
Suara lembut, tatapan mengiba dan wajah sendu itu selalu saja membuat banyak lelaki takluk pada wanita itu. Tapi, hari ini dia memohon cinta pada lelaki yang benar-benar dia cintai. Ya, meskipun saat ini Anin berhubungan dengan lelaki lain, itu karena terpaksa. Terkadang dia juga membayangkan jika lelaki itu adalah Sabda.
Sabda berlalu begitu saja, dia tidak ingin berkutat dengan masa lalu yang memang sudah berlalu.
Mobil sedan berwarna hitam itu melaju menembus jalanan kota yang masik cukup ramai. Iya, butuh waktu dua puluh menit Sabda untuk sampai di rumahnya yang sedikit menyingkir dari keramaian kota.
Sabda keluar dari mobil yang terparkir di depan rumah. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul setengah sepuluh lebih, dia yakin Aruna sudah tidur.
Sambil berlari kecil, Sabda menaiki tangga rumah. Lelaki dengan kaki jenjangnya itu pun melangkah menuju kamar.
__ADS_1
"Ceklek... " Sabda membuka pintu. Ternyata Aruna masih duduk di pinggir tempat tidur.
Aruna sendiri tidak menyangka Sabda pulang lebih cepat dari perkiraannya. Biasanya saat bertemu teman- temannya Sabda akan pulang sekitar tengah malam.
"Belum tidur, sayang." ucap Sabda menghampiri Aruna dan mendaratkan kecupan singkat di kepala istrinya.
"Nggak bisa tidur, Mas." ucap Aruna. Aruna mengendus ada aroma yang berbeda dari tubuh suaminya.
"Kenapa?" tanya Sabda sambil membuka kancing kemeja dan meletakkannya di keranjang di sofa.
Aruna masih terdiam, dia mulai mengamati tubuh suaminya, otot yang terlihat keras dengan punggung lebar membuat tubuh tinggi Sabda terlihat seksi. Aruna menyadari jika suaminya memang sangat menarik.
"Sayang..." panggil Sabda saat melihat Aruna termenung, lelaki itu kembali mendekat dan memilih duduk di samping Aruna.
"Mas kok bau aneh, kayak alkohol kalau nggak salah. Apa Mas Sabda minum lagi?" ujar Aruna, bau tajam yang melekat pada tubuh Sabda membuat ibu hamil yang sensitif dengan Aroma sesuatu itu mendadak curiga.
"Nggak, Sayang." jawab Sabda, tapi Aruna masih menatap suaminya dengan tatapan penuh selidik.
"Astaga, Runa. Tadi memang teman-teman Mas pada minum, tapi Mas tidak ikut minum. Dan nathan menumpahkan minumannya di bajunya Mas." ujar Sabda kemudian mendekatkan dadanya yang shirtless itu ke wajah Aruna. Nathan memang tidak sengaja menumpahkan minumannya di dada Sabda.
"Hmmm.... " jawab Aruna. Dia malah merasa jantungnya berdebar saat wajahnya berjarak tipis dengan tubuh seksi Sabda. Bahkan, aroma keringat lelaki itu seperti memabukkan Aruna.
Sabda mendesah saat melihat Aruna masih terdiam. Lelaki itu membingkai wajah mungil wanitanya itu dengan lembut. sejenak, dia menatap mata bulat Aruna kemudian berlahan dia mencium bibir Aruna dengan lembut dan dalam.
"Bau alkohol?" Sabda, lelaki itu kembali membuat Aruna berdesir, apalagi ketika menyentuh kulit dada suaminya.
Aruna hanya menggeleng. Saat akan beralih, Sabda malah menahannya. Kali ini dia yang terbawa suasana karena ciuman lembut yang baru saja dilakukannya.
"Boleh ya!" Sabda mulai menyentuh kancing piyama Aruna membuat Aruna menganggu begitu saja.
Lelaki itu kembali mencium istrinya dengan tangan mulai bergerak liar memberi sensasi yang memabukkan untuk Aruna. Sabda kembali membawanya mereguk indahnya nirwana. Keduanya sama-sama menikmati setiap sentuhan cinta hingga keduanya mereguk kepuasan yang nikmat.
__ADS_1